Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 87


__ADS_3

“Mas...”


Bibir Sian bergetar, air matanya terus mengalir, tubuhnya terus bergetar hebat karena merasa sangat ketakutan. Dia berusaha berbicara kepada Bara, tetapi dia malah tidak mendapatkan respons apa pun dari suaminya itu.


“Hahahaha...ini sangat menarik sekali, ternyata kalian berdua saling kenal. Beritahu saya hubungan apa yang kalian berdua miliki?”


Ketua dari sekelompok tentara tersebut menyadari akan situasi dan hubungan yang di miliki para sanderaan nya itu. Namun, dengan sangat tenang Bara menatap ke arah pria yang berbicara tersebut.


“Apa yang kau katakan, saya tidak mengenali perempuan itu. Saya bahkan menyesal telah menolongnya, jika bukan karena menolong dia saya mana mungkin mau mati sia-sia seperti ini di tangan kalian.”


Dengan lantangnya Bara menepis apa yang di duga oleh pria tersebut.


“Mas...”


Dengan pelan Sian memanggil suaminya itu, dia tidak akan mengira jika suaminya berbicara seperti itu. Karena tidak percaya dia terus berbicara kepada Bara. Namun, tetap saja Bara tidak meresponsnya. Bara malah semakin mengabaikannya. Tanpa bergeming sedikit pun seakan pria itu tidak peduli sama sekali dengan istrinya.


Air mata Sian semakin mengalir saat melihat tatapan mata Bara yang sangat dingin terhadapnya. Ia bisa melihat jika suaminya itu memang tidak peduli kepadanya.


“Mas...ada apa dengan mu? Ini aku Sian.”


Bara hanya menatap sekilas kepada Sian yang semakin menangis di hadapannya.


“Dokter, sepertinya dia memang tidak mengenali dokter sama sekali, biar saya membatu dokter untuk mengetahui apakah benar dia tidak mengenali dokter sama sekali.”


Perlahan Sian mengangkat kepalanya untuk menatap ke arah pria yang meletakan senjata di atas kepalanya itu. Namun, belum sempat ia menatapnya. Buk! Pria itu menghantam Sian tepat di kepalanya dengan menggunakan senjata. Setelah mendapat hantaman di kepala, Sian mengangkat kepalanya menatap Bara. Perlahan penglihatannya mengabur karena pukulan tersebut. 

__ADS_1


“M-mas...”


Bara menggempal kedua tangannya melihat Sian di pukul. Walaupun begitu dia tetap tidak bergeming dan tetap terlihat seakan tidak peduli sama sekali.


Melihat Bara yang tetap tenang, pria itu kembali menghantam kepala Sian dengan sangat keras. Sehingga kepala Sian mengeluarkan banyak darah yang mengalir di wajahnya.


Seketika Bara naik pitam. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi, ia tidak bisa berpura-pura lagi saat melihat istrinya terluka. Darah yang mengalir dari kepala istrinya membuat Bara langsung menarik pisau yang tersembunyi di sepatunya. Dengan sangat cepat Bara langsung menikam dua tentara di belakangnya hingga tewas.


“Akhirnya kau bereaksi juga, bagaimana rasanya melihatnya seperti ini?”


Pria itu juga mengeluarkan pisau dan mendekatkan pisau itu di leher Sian.


“Jika kau berani mengoreskan pisau itu padanya, aku berjanji akan membuat mu menderita berkali lipat dari itu!”


Suara Bara terdengar sangat mengerikan, tapi pria itu hanya tersenyum sinis meremehkan apa yang di kata Bara padanya. Pria itu malah semakin mendekatkan pisau itu ke leher Sian hingga membuat luka kecil. Melihat semua itu membuat Bara semakin naik pitam, saking marahnya Bara tidak sadar jika dia meremas kuat pisau di tangannya itu sehingga terluka. Perlahan ia berdiri dengan tangan yang berlumuran darah karena menggenggam pisau di tangannya.


“Maksudnya seperti ini?”


Pria itu semakin membenamkan mata pisaunya di leher Sian. Ia tahu betul jika dokter dan pria yang di hadapannya ini saling mengenal, hanya saja dia tidak bisa membuktikannya. Namun, kali ini ia berhasil membuat Bara tidak bisa mengelak lagi. Rencana berhasil membuat Bara menunjukkan wajah kekhawatirannya terhadap Sian.


“Berani sekali kau melukainya!!” Teriak Bara sembari melemparkan pisau di tangannya ke arah pria tersebut. Memiliki mata yang jeli pria itu berhasil mengelak dan pisau itu berhasil menusuk tajam di leher pria lain di belakangnya hingga tewas.


Tidak bisa diam saja, ketua dari sekelompok bayaran tersebut langsung menyeret tubuh Sian ke belakangnya dan kemudian memperintahkan bawahannya untuk menembak semua anggota tim yang bersama Bara.


“Bunuh mereka semua!”

__ADS_1


Duar!! Duar!! Tembakan demi tembakan yang mulai beradu. Hal yang pertama kali Bara lakukan saat situasi seperti itu, dia langsung berlari ke arah Sian. Demi untuk menyelamatkan istrinya Bara harus menghadapi ketua dari tentara bayaran tersebut.


Sebaliknya Sian tak sedikit pun bergerak dari tempatnya, dia terus menunduk sembari menutup kedua telinganya dengan menggunakan tangannya. Bara yang sejak awal melihat istrinya itu terluka sekarang dia harus melindunginya dengan berada di dekatnya walaupun dia harus menghadapi semua musuhnya hanya dengan menggunakan satu pisau yang dia miliki sekarang.


Melihat Bara hanya memanggang sebuah pisau. Ketua dari tentara bayaran tersebut melepaskan senjata dari tangannya. Pria itu juga malah menggunakan sebuah pisau untuk melawan Bara.


“Sebagai pemimpin dari kelompok ini, saya juga akan menggunakan sebuah pisau untuk bertarung, kau sendiri tahu peraturan di dunia kita, jika seorang pemimpin harus adil dalam sebuah pertarungan untuk membuktikan kualitas dari seorang pemimpin.”


Bara sangat mengetahui peraturan yang di ucapkan oleh pria di hadapnya itu. Di mana seorang pemimpin dari anggota tim masing-masing saat bertemu di sebuah pertarungan, mereka harus setara. Jika di satu pihak tidak menggunakan senjata makan di pihak lain juga sama. Siapa yang memenangkan pertarungan ini maka pihak yang kala harus mundur dan melepaskan semuanya.


Sebelum bertarung satu lawan satu. Bara menyobek bagian ujung bajunya untuk membalut luka di tangannya. Walaupun terasa sangat sakit, Bara harus menahannya karena dia harus memenangkan pertarungan ini untuk melindungi istri dan anggota timnya. Jika kalah dalam pertarungan ini Bara tidak yakin mereka bisa selamat, karena jumlah anggota timnya sangat sedikit di bandingkan anggota tim musuhnya.


Setelah selesai membalut luka di tangannya. Bara mulai memegang pisau dengan benar dan kuat. Dalam hitungan detik sebuah mata pisau sudah melayang ke arah wajah Bara. Namun, dengan cepat Bara menghindar dan menyerang balik lawannya. Mata pisau tajam Bara menyerang terus menurus dan melukai lawannya. Begitu juga dengan mata pisau lawannya yang sudah berlumuran darah segar, yang tak lain adalah darah milik Bara. Tak hanya sebatas itu saja, saking cepatnya serangan lawang membuat Bara kewalahan. Hingga membuat dirinya tergores mata pisau lawan berkali-kali.


“Hanya sebatas itu saja kemampuan yang kau miliki?”


Senyum tipis yang meremehkan Bara itu terlihat puas karena menganggap Bara bukanlah tandingannya.


“Kau jangan senang dulu, pertarungan ini belum selesai.”


Bara menyekat darah di wajahnya sembari bernafas berat karena kehabisan tenaga.


Sejujurnya saat ini Bara sedang mengulur waktu, dia sengaja mengalah di pertarungan tersebut. Jika sudah pada waktunya Bara berencana menyelesaikan pertarungan dengan cepat dan mengalahkan lawannya itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2