
“Akhirnya kalian keluar juga, kita sudah lama menunggu kalian untuk makan bersama.” Ucap Liora dan yang lainnya yang sudah menunggu di meja makan dari sejak tadi.
Bara dan Sian saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Mereka berdua pun bergabung duduk di meja makan sembari berpegangan tangan. Setelah duduk, sekilas Bara menatap istrinya sesaat dan kemudian dia mengatakan sesuatu kepada keluarganya.
“Ada yang ingin kami beritahukan kepada kalian semua,” ucap Bara dengan tatapan mata penuh keyakinan. Sebaliknya, Sian terlihat menunduk ke bawah tidak mau memperlihatkan wajahnya itu kepada keluarganya saat Bara ingin mengatakan sesuatu kepada keluarganya itu.
“Kalian ingin memberitahukan apa kepada kami semua?” tanya Paridipa sembari meletakan sendok makannya di atas piring.
“Aku ingin memberitahukan jika kami ingin berbulan madu di Bali minggu depan.” Ucap Bara yang berhasil membuat semua keluarganya terkejut senang.
“Apa? Apakah kalian berdua serius?” tanya Liora yang tidak percaya. Begitu juga dengan Vian dan Paridipa. Mereka semua sangat terkejut dengan perkataan Bara barusan.
“Bara, bagaimana bisa kamu membujuk Sian mau pergi berbulan madu dengan mu?” tanya Vian yang masih tidak percaya.
“Aku tidak perlu memberitahu bagaimana bisa aku membujuknya, tapi yang peting Sian mau pergi berbulan madu bersamaku.” Jawab Bara.
“Benar, mama setuju denganmu Bara. Yang penting minggu depan kalian pergi berbulan madu dan buatlah adik untuk Raihan.” Timpal Liora dengan tersenyum lebar.
Wajah Sian semakin memerah merona saat mendengarkan perkataan Liora. Untuk mengangkat kepalanya saja Sian tidak berani, apalagi untuk menatap wajah keluarganya itu.
“Kalau begitu mulai minggu depan Raihan menginap sama nenek Vian saja ya? Biar mama dan papa Raihan konsentrasi bikin adiknya, oke.” Kata Vian yang langsung mengundang lagak tawa di meja makan.
Semuanya tertawa mendengarkan perkataan Vian barusan, sedangkan Sian semakin mengunci mulutnya dan semakin menundukkan kepalanya.
“Sayang kenapa terus menunduk seperti itu?” tanya Bara yang tidak peka sama sekali jika saat ini istrinya itu sedang menahan malu.
“Dia pasti sedang malu tu, udah biarkan saja dia seperti itu Bara.” Ucap Vian yang sudah tahu jika anaknya itu sedang menahan malu.
“Eng.....” suara Sian yang ingin menangis.
“Tu kan, benar kata mama.” Ucap Vian mencibir anaknya sendiri.
“Mama jahat,” kata Sian sembari mengangkat kepalanya menatap ke arah mamanya Vian.
“Ih, udah bersuami saja masih suka mengambek. Ngak cocok lagi, udah tua.” Vian kembali menggoda anaknya itu.
__ADS_1
“Hahaha...” semua yang ada di meja makan tertawa melihat ibu dan anak itu.
“Udah-udah jangan ngambekan lagi, Sini mas peluk.”
Bara yang berada di samping Sian langsung menarik kepala istrinya itu bersembunyi di dadanya. Kemudian Bara juga mengecup puncak kepala istrinya itu dengan mesra.
“Raihan ayo tutup matamu sekarang, jangan lihat mama dan papa mu itu.” Ucap Liora yang langsung menutup mata Raihan yang duduk di sampingnya itu.
Bara malah tersenyum melihat reaksi keluarganya itu. Dia malah sengaja bermesra-mesraan dengan istrinya itu di depan keluarganya.
“Ehem...Bara, jika ingin bermesra-mesraan lebih baik kamu bawa istrimu ke dalam kamar saja. Jangan di sini, kami mau makan bukannya untuk melihat kalian berdua.” Ucap Paridipa dengan nada suara tenang dan berwibawa.
“Baiklah kalau begitu,” Bara langsung mengendong istrinya itu untuk meninggalkan meja makan.
“Mas Bara.” Sian terkejut tubuhnya sudah berada di dalam gendongan suaminya itu.
Bara menyunggingkan bibirnya tersenyum kepada Sian. Kemudian dia melangkahkan kakinya pergi ke kamar.
***
“Mas, Villa-nya mewah sekali. Tidakkah mas merasa Villa ini terlalu besar untuk kita berdua?” Sian terlihat kehabisan nafasnya setelah memutari seisi apartemen mewah yang mereka tempati sekarang.
Bara pun datang memeluk Sian dari belakang.
“Menurut mas, Villa ini sangat cocok untuk kita berdua.” Ucap Bara meletakan dagunya di atas bahu istrinya itu.
“Cocok sih cocok mas, tapi sepertinya Villa ini sangat mahal mas.”
“Sayang tidak perlu khawatirkan masalah uang, yang penting kita bisa nyaman dan aman saat berbulan madu di sini.” Bisik Bara di telinga Sian.
“Ngomong-ngomong soal uang, ada yang ingin aku tanyakan sama mas Bara?”
“Bertanya tentang apa?” tanya Bara balik yang masih betah memeluk istrinya itu dari belakang.
“Selama ini mas Bara selalu bilang melakukan perjalanan bisnis, tetapi yang aku tahu sekarang mas Bara adalah seorang abdi negara. Namun, dari yang aku lihat dari sejak tadi mas Bara sangat berpengalaman tentang banyak bisnis dan banyak orang yang mengenal mas Bara, dan mereka juga memanggil mas Bara dengan sebutan tuan Haru bukannya nama mas adalah Bara?” akhirnya Sian menanyakan apa yang selama ini ia ingin tanyakan kepada suaminya itu.
__ADS_1
Bara melepaskan pelukannya dan mengajak istrinya itu duduk di sofa di dekat mereka berdiri. Setelah mereka duduk, Bara menatap Sian sangat serius dan kemudian dia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
“Sesungguhnya selama ini mas menjalankan misi menyamar sebagai pebisnis di jepang. Selama tiga tahun mas menyamar, lama-lama perusahaan yang mas bangun dari bawah kini benar-benar sukses dan berkembang di jepang. Dan nama Haru yang tadi mereka ucapkan adalah nama samaran mas sebagai pebisnis di jepang.”
“Memang misi apa yang mas lakukan di jepang sehingga mengharuskan mas menyamar sebagai pebisnis di jepang? Dan kenapa mas hampir saja kehilangan nyawa jika memang misi yang mas lakukan benar-benar menyamar sebagai pebisnis di sana?” tanya Sian penasaran.
Perlahan Bara memegang tangan Sian dengan lembut.
“Maaf sayang, mas tidak bisa menjawab pertanyaan mu barusan. Mas tidak bisa membocorkan semua misi yang di berikan negara kepada mas. Jadi maafkan mas karena tidak bisa memberitahukan semuanya kepada mu sayang.” Sekilas Bara mencium punggung tagan kanan Sian.
“Jika memang seperti itu, mas tidak perlu meminta maaf. Aku tidak apa-apa jika mas tidak bisa menjawab pertanyaan ku barusan, tapi yang penting aku ingin mas Bara selalu berhati-hati selama menjalan misi.” Ucap Sian memahami posisi suaminya itu saat ini.
Bara tersenyum kepada Sian. “Terima kasih sayang, mas janji akan selalu berhati-hati saat menjalankan misi.” Ucap Bara yang langsung menarik Sian ke dalam pelukannya.
“Sama-sama mas.” Jawab Sian yang juga membalas pelukan suaminya itu.
Beberapa detik mereka berpelukan, Bara langsung mengangkat tubuh Sian ke atas dengan kedua tangannya melingkar kuat di pinggang istrinya itu di atas dadanya.
“Mas Bara, jangan tiba-tiba mengangkat aku seperti ini.” Kata Sian yang berada di atas Bara.
Bara mendongkak melihat istrinya itu. Tangan kokohnya terus menahan tubuh istrinya tetap berada di atasnya.
“Mas, turuni aku sekarang juga.” Pinta Sian kepada Bara.
Bara hanya menyunggingkan senyumannya melihat Sian yang berada lebih tinggi darinya. Tanpa menurunkan Sian, Bara langsung melangkahkan kakinya sembari menahan tubuh Istrinya itu tetap berada di atas tubuhnya menuju ke kamar. Namun, sebelum masuk ke kamar, Sian terlebih dulu berhasil turun dan kemudian dia berlari meloloskan dirinya dari suaminya itu.
"Sayang, kamu mau pergi ke mana?" teriak Bara.
"Aku mau ke pergi ke kamar mandi mas."
"Kenapa ke kamar mandi?"
"Tentu saja untuk mandi, memangnya apa lagi." jawab Sian. kemudian dia menutup pintu kamar mandinya dan menguncinya.
.
__ADS_1
Bersambung...