Impoten Husband

Impoten Husband
Melepaskan celana?


__ADS_3

Pagi ini Moa juga belum kembali. Baby Zoe yang sudah biasa bermain dan di urus oleh wanita itu jadi terasa bosan dan terus mencari.


Bahkan, saat sarapan pagi ini baby Zoe yang duduk di atas meja makan  terus melihat ke sekeliling tapi tak ada sosok Moa sama sekali.


"Makanlah!" Ucap Zhen menyodorkan mangkuk bubur anak seusia baby Zoe yang lengkap dengan nutrisi untuk balita.


Baby Zoe diam. Ia menatap bubur di atas meja lalu beralih pada piring Zhen.


"Singa!"


"Mau di suapi?" Tawar Zhen tapi baby Zoe mengerijab polos lalu melihat ke arah pintu masuk ruang makan.


"Si..nga!" Menunjuk ke arah sana.


"Zoe! Makanlah!" Pinta Zhen lembut mengusap kepala baby Zoe yang mendorong mangkuk itu menjauh darinya.


Sontak Zhen terdiam merasa jika putrinya benar-benar ketergantungan pada Moa. Sedari semalam Zoe terus mencari Moa bahkan, ia bangun tengah malam memanggil wanita itu dan nihil, Moa juga tak datang lagi.


"Daddy!!"


"Makanlah dulu, nanti kita cari singa-mu!" Ucap Zhen beralih menyuapi baby Zoe.


Saat sendok itu nyaris menyentuh bibir mungil baby Zoe, suara pekikkannya langsung membuat Zhen tersentak.


"Singaa!!"


Baby Zoe buru-buru merangkak turun dari meja. Zhen yang sigap khawatir putrinya jatuh segera meletakan sendok itu lalu membawa baby Zoe ke pangkuannya.


"Ada apa? Kau.."


"Singa!" Gumam baby Zoe masuk ke dalam kaos yang Zhen pakai dan bersembunyi dari sosok di dekat pintu masuk ruang makan.


Zhen menoleh, matanya terpaku saat melihat Moa berjalan mendekat dengan pakaian suster yang berbeda.


"Tuan!"


"Kenapa kau kembali?!" Ketus Zhen dengan wajah datar acuh tak acuh. Padahal, semalam ia juga menunggu kedatangan wanita ini.


"Maafkan saya, tuan! Ada urusan mendesak jadi harus pulang."


"Jika kau tak niat bekerja lagi, sebaiknya bicara langsung," Tegas Zhen membuat Moa membelo jengah.


Malas meladeni Zhen, Moa beralih pada baby Zoe yang bersembunyi di balik pakaian Zhen. Kedua kaki mungil itu masih terjulur keluar tapi, baby Zoe sudah berusaha bersembunyi dengan baik, sangat menggemaskan. Pikir Moa geli.


"Apa nona kecil belum makan?"


"Kau bisa lihat sendiri," Ketus Zhen saat Moa melihat mangkuk bubur yang masih utuh.


Tahu alasan baby Zoe bersembunyi, Moa segera berpura-pura mencari dan berjalan di sekeliling meja makan.


"Dimana kelinci kecil-ku?! Dia sangat pandai bersembunyi."


Zhen hanya diam melihat Moa menggeser kursi meja makan lalu berputar di sekelilingnya. Yang jelas, Zhen merasakan baby Zoe semakin merapat padanya.


"Kelinci keciil!! Bersembunyi Lah dengan benaar atau..."


Moa menjeda kalimatnya lalu menyibak baju kaos Zhen yang terkejut namun tawa baby Zoe membuatnya meredam amarah.


"Aku menemukanmu!" Desis Moa berjongkok di depan Zhen dengan satu tangan masih memeggang pinggir kaos Zhen yang ia tarik ke atas dada.


Posisinya, Zhen memang agak menyerong.


"Singa!"


"Hm? Masih ingin bermain?" Tanya Moa mencolek hidung mungil baby Zoe tapi, segera terdiam melihat tampilan perut berotot dan dada bidang Zhen tepat di hadapannya.


Seksi, atletis dan jantan. Itulah yang dapat menjabarkan tubuh pria ini.


Mata Moa jadi memanas tanpa sadar menegguk ludahnya berat. Ia mengerijab beberapa kali lalu memandang Zhen yang justru juga mematung.


"A..ayo makan!" Gugup Moa segera menggendong baby Zoe lalu duduk di kursi meja makan.


Zhen buru-buru memperbaiki pakaiannya dan berdehem kecil menormalkan ekspresi wajah canggung dan kaku ini.

__ADS_1


"Duduk yang benar, bisa makan sendiri?"


"Dia..dia harus makan dengan benar. Lebih baik suapi saja," Ucap Zhen agak canggung menyodorkan mangkuk bubur ke arah Moa yang mendudukan baby Zoe ke atas meja.


"Apa tak ada kursi makan anak disini?"


"Dia tak suka makan di kursi," Jawab Zhen kala Moa mengambil alih mangkuk bubur itu.


Baby Zoe tiba-tiba jadi penurut dan tak banyak tingkah. Ia menerima suapan yang Moa berikan dengan lahap.


"Coba  makan sendiri!"


"S..singa!" Gumam baby Zoe ingin memasukan tangannya ke dalam mangkuk tapi Moa segera menepisnya halus.


"Coba makan sendiri!"


Moa mengajarkan baby Zoe memeggang sendok plastik bubur lalu mengarahkan ke mulut si kecil itu dengan telaten.


Tanpa Moa sadari, Zhen melirik dengan tatapan yang lembut dan sedikit kagum. Walau Moa masih jauh dari kata babysitter yang profesional tapi, terlihat jelas semakin hari ada kemajuan.


Saat baby Zoe beralih menyodorkan sendok ke bibir Moa, disitulah sudut bibir Zhen terangkat kecil kembali mengaduk-aduk makanan di piringnya.


"Nona saja yang makan."


"Ma..kan.."


Baby Zoe masih memaksa hingga dengan pasrah Moa menerima suapan bubur itu. Karena tangan baby Zoe masih kaku, tentu saja bibir Moa belepotan karenanya.


"Sudah, habiskan buburnya! Nanti kita bermain lagi!" Ucap Moa seraya mengambil serbet di dekat piring Zhen lalu mengusap bibirnya.


Baby Zoe melanjutkan makan walau masih berantakan tapi ia terlihat menggemaskan dengan suapan besar itu.


Namun, Zhen melihat masih ada sisa bubur di sudut bibir Moa.


"Itu.."


"Apa?" Tanya Moa kala Zhen menunjuk ke arah bibirnya.


Moa kembali mengusap bibirnya lalu menatap Zhen seakan minta pendapat.


"Masih?"


"Hm, ini.."


Zhen mengulur tangannya mengusap sudut bibir Moa yang mematung. Untuk sesaat kedua mata mereka saling bertemu dan bersitatap dalam.


Zhen bisa melihat keindahan mata emerald milik Moa yang juga mengagumi ketampanan Zhen. Bulu mata lentik, hidung mancung dan porsi wajah yang pas membuat wanita manapun akan memujanya.


Deggh...


"Jantungku!" Batin mereka berdua kala degupan jantung itu terasa cukup keras.


Jari Zhen terhanyut mengusap bibir lembut Moa yang terasa kenyal dan hangat. Benar-benar terawat.


"Daddy!"


"Uhuuk!" Zhen tersedak liurnya sendiri kala baby Zoe menumpahkan bubur ke pangkuannya.


Moa-pun segera sadar buru-buru bangkit dari kursi dan melihat mangkuk bubur itu sudah di lantai dengan celana Zhen yang kotor.


"Zoe!" Gumam Zhen menatap pasrah baby Zoe.


Si kecil itu justru tersenyum geli tanpa rasa bersalah mengigit sendok di tangannya.


"Tuan! Saya akan panggilkan asisten Jio untuk.."


"Tidak perlu! Dia sedang tak di kota ini," Jelas Zhen seraya memundurkan kursi rodanya.


Asisten Jio tadi pagi sudah berangkat menemui klien mereka di luar kota. Karena Zhen tak bisa bepergian jauh dulu, jadilah ia yang akan mewakili sang tuan dalam berbagai kegiatan jauh.


Mendengar penjelasan Zhen tentu saja Moa jadi agak ragu. Biasanya asisten Jio yang mengurus keperluan pria ini tapi..


Sudahlah, itu bukan urusanku, pikir Moa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Saya akan bersihkan tubuh nona kecil lebih dulu."


"Hm," Gumam Zhen membiarkan Moa membawa baby Zoe ke kamar Zhen, yang juga menjadi kamar baby Zoe.


Zhen menghela nafas berat. Matanya turun melihat jari tangannya yang tadi mengusap bibir Moa dan ntah kenapa, bibir wanita itu terasa sangat lembut, kenyal dan sensasinya menggoda iman lelaki.


"Kenapa kau jadi memikirkannya?!" Gumam Zhen menggeleng kecil.


Karena tak mungkin beraktifitas dengan tubuh kotor seperti ini, Zhen akhirnya menyusul Moa ke kamar.


Setibanya di sana, Zhen melihat pintu kamar mandi sudah terbuka lebar dimana Moa tengah memandikan baby Zoe di dalam bathub.


"Sudah? Jangan lama-lama bermain air nanti perutmu akan membesar, mau?"


Baby Zoe menggeleng. Moa tersenyum kecil melihat ke arah lemari kaca kamar mandi tapi tak ada handuk baby Zoe di sana.


"Dimana handuknya?!" Tanya Moa dari kamar mandi.


Zhen yang mendengar segera melihat ke arah ranjang dimana tadi ia memandikan baby Zoe tapi lupa menaruhnya kembali.


"Handuk nona.."


"Sebentar!" Jawab Zhen segera mengambil handuk itu lalu menggerakan kursi rodanya masuk ke kamar mandi.


"Ini!" Menyodorkan pada Moa.


"Tuan mandilah!"


"Hm," Singkat Zhen agak canggung bicara dengan Moa.


Baby Zoe tak begitu peduli akan interaksi mereka. Kelinci kecil itu lebih asik bermain air karena ia sudah bisa berenang walau masih labil, tentu saja itu berkat didikan Moa.


"Daddy!!"


"Cepat berpakaian!" Ucap Zhen kala baby Zoe sudah ada di gendongan Moa yang membalutkan handuk itu dengan telaten.


Setelah selesai, ia berjalan keluar kamar mandi dan tak berinisiatif bertanya pada Zhen untuk menawarkan bantuan.


"Tunggu disini, aku ambil pakaianmu."


Moa mendudukan baby Zoe di atas ranjang lalu ia pergi ke kamar ganti. Ruangan yang luas dengan banyak lemari dan gantungan baju berisi pakaian bermerek.


Brughh..


Suara keras dari arah kamar mandi mengejutkan Moa. Ia segera keluar tanpa membawa pakaian baby Zoe yang menatap polos ke arah pintu kamar mandi.


"Kauu..!!" Moa terkejut saat Zhen jatuh dari kursi rodanya.


Tanpa pikir panjang Moa mendekati area bathub. Untung Zhen sempat menahan tubuh dengan satu tangan jika tidak, kepalanya akan membentur pinggir bathub.


"K..kakiku!" Zhen merasa kedua kakinya terasa sakit terutama di area lutut yang tadi terbentur.


"Apa salahnya meminta bantuan jika kau memang tak bisa," Geram Moa kelepasan emosi tapi ia tetap membantu Zhen kembali duduk di kursi roda dengan susah payah.


Zhen agak malu akan omelan Moa.


"Lantainya terlalu licin," Gumam Zhen tapi Moa acuh.


Moa mengambil nafas dalam-dalam agar tak emosi. Ia kelepasan tadi hingga bicara kasar.


"Maaf, tuan! Sekarang, katakan! Apa yang bisa saya bantu?"


"Tidak perlu, aku.."


"Saya akan bantu lepaskan celana, tuan!"


Degg..


Zhen sontak meneggang tapi eskpresi Moa biasa saja. Biasa di luar tapi Moa cukup gugup saat membayangkan pemandangan apa lagi yang akan membuatnya mimisan.


...


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2