Impoten Husband

Impoten Husband
Tak bisa menahan lagi!


__ADS_3

Kepergian Moa tadi benar-benar menjadi pukulan berat untuk Zhen. Dia hanya diam di apartemen sampai larut malam belum keluar sama sekali.


Zhen tahu Moa pergi ke sebuah resort yang masih ada di Shanghai atas laporan Bastian. Ia juga mengirim beberapa bawahan menjaga mereka sedangkan dirinya tengah merenung sendiri di ruang kerja miliknya.


Sunyi dan sangat kosong. Tak ada suara apapun yang terdengar kecuali detikan jarum jam di dinding dan semilir angin malam dari fentilasi.


"Aku merindukan mereka," Gumam Zhen tak nyaman dengan suasana ini.


Biasanya ruangan akan ramai dengan suara anak-anak dan omelan Moa tapi sekarang, semuanya jadi sangat sunyi dan tak hidup.


Zhen merasa lebih buruk dari saat ia memupuk obsesi untuk menghancurkan keluarga Pathros.


"Tuan!"


Bastian datang mengetuk pintu yang tak di kunci.


"Masuk!" Dingin Zhen masih belum beranjak dari kursi kerjanya.


Bastian masuk dan mendekati meja kerja Zhen.


"Tuan! Saya sudah mendapatkan rekaman yang tuan inginkan!" Menyodorkan flashdisk pada Zhen yang segera menerimanya.


Zhen menghubungkan benda itu dengan laptop miliknya hingga melihat rekaman lama dimana Cellien dan Hupent melakukan adegan panas yang bergairah.


"Mereka saling kenal sebelum nona Cellien bertemu dengan anda, tuan! Menurut analisis sebelumnya, nona Cellien adalah suruhan tuan Hupent untuk memata-matai anda. Itu karenanya semenjak kalian menikah, banyak data perusahaan yang bocor ke tangan perusahaan lain menggagalkan proyek kita."


Zhen mengepalkan tangannya kuat. Cellien benar-benar sudah sangat membuat ia muak. Ternyata selama ini ia memelihara ja**lang sialan.


"Sebarkan rekaman ini ke media. Sensor wajah Hupent karena akan mempengaruhi kehormatan keluarga Ming!"


"Saya mengerti tuan," Jawab Bastian segera menghubungi jaringan luas mereka terutama di bidang Media.


Zhen diam menyaksikan rekaman itu sampai habis dan hanya ada rasa jijik melihat Cellien bergerak erotis di tubuh tua bangka itu.


"Akan-ku balas lebih dari yang kau bayangkan," Geram Zhen benar-benar benci mendarah daging.


Namun, saat merenung sejenak Zhen jadi memikirkan baby Zoe. Yah, bohong jika ia tak sakit setiap berlaku kasar pada anak itu.


Bagaimana-pun Zoe sudah bersamanya selama satu tahun lebih dan tahun ini Zoe akan berumur 2 tahun. Zhen jadi ingat jika hari ulang tahun Zoe sudah ia lewatkan beberapa waktu lalu.


"Aku tak bisa hidup sendiri," Gumam Zhen sangat sadar akan kesepian ini.


Setiap membentak anak itu maka jantungnya juga akan terasa di remas-remas tapi, ego Zhen terlalu tinggi untuk melepas amarahnya.


"Apa mereka sudah tidur?!"


Zhen jadi merindukan keluarga kecilnya itu. Ia membuka ponsel dan mencari nomor Moa di sana.


Sudah 50 kali Zhen menghubungi Moa sedari siang tapi tak di angkat wanita itu. Sepertinya Moa memang benar-benar sudah marah padanya.


Tak ingin putus asa, Zhen kembali memulai panggilan tapi nihil. Hanya suara operator yang menjawabnya.


"Besok aku akan menjemput kalian," Gumam Zhen tak tahan hidup seperti ini.

__ADS_1


Ditinggal setengah hari saja sudah membuat ia kelimpungan. Dimana mata memandang akan terasa hampa dan kosong seperti telah kehilangan sesuatu yang melengkapi sebelumnya.


"Tuan!"


Bastian yang kembali masuk karena tadi menelfon. Zhen menyandarkan kepalanya ke kursi menatap datar Bastian.


"Laporan baru?"


"Marco sudah di luar, tuan!" Ucap Bastian hati-hati takut Zhen akan marah karena beberapa hari ini Zhen cukup membuat mereka seperti di medan perang.


"Dia ingin menemui, tuan!"


"Biarkan dia masuk!" Titah Zhen seadanya.


Bastian mengangguk segera membuka pintu dimana sosok pria yang selalu ingin bersaing itu masuk tanpa permisi.


Marco menatap Zhen dengan seringaian penuh arti. Ia duduk di kursi depan meja dengan aura sama-sama mendominasi ruangan ini.


"Sebaiknya aku mencari aman," Batin Bastian keluar dari ruangan membiarkan dua pimpinan berkuasa itu menyelesaikan perang dinginnya dengan jantan.


"Aku dengar Moa pergi darimu."


"Banyak lalat yang mengerumuni makananku," Tegas Zhen menatap tajam Marco seakan salam sapa itu sangat mengganggunya.


"Zhen! Tak-ku sangka kau hanya menyembunyikan sisi gelapmu padahal sebenarnya, kita tak jauh berbeda. Moa hanya terpikat dengan kehangatanmu dulu," Pancing Marco yang tahu semua hal karena ia tak akan ketinggalan sama sekali.


Zhen diam tapi aura wajahnya sudah begitu beku siap menendang Marco dari tempat ini.


"Apapun yang terjadi itu bukan urusanmu."


"Pemburu handal mencari peluang mengambil MAKANAN lawanku," Imbuhnya menyukai wajah panas Zhen yang biasanya selalu tenang tapi sekarang mulai tak bisa berdiam diri.


"Kenapa? Dulu kau sangat percaya diri. Apa karena Moa tak ingin lagi bersamamu?"


"Omong kosong," Desis Zhen masih dengan posisi bersandar menatap penuh intimidasi pada Marco.


"Aku kenal karakter pemberontak istrimu. Dia tak akan mudah di taklukan tapi.."


"Bicaralah semau mu. Ku pastikan kau akan mendekam di penjara malam ini!" Sela Zhen penuh dengan keseriusan.


Marco menyunggingkan senyum getir. Zhen memang tak berubah hanya saja pria ini jadi lebih tak berperasaan dari sebelumnya.


"Baiklah. Karena Moa memilih pergi darimu jadi aku bisa bersaing, bukan?"


"Cobalah jika bisa!" Jawab Zhen menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi hingga wajah tampan menakutkan itu sudah lebih dulu mengklaim hak miliknya atas Moa.


Melihat keseriusan Zhen yang tak main-main tentu saja Marco tertantang. Apalagi, mendengar Zhen yang kacau beberapa hari ini membuatnya bersemangat.


"Moa itu memang sangat keras tapi dia punya sisi keibuan yang khas. Kau mencampakkan putrinya maka aku akan sukarela menjadi daddy baru untuk Zoe!"


"Sialan kau!!" Geram Zhen melempar laptopnya ke arah Marco tapi sigap di tepis kasar oleh lengan kekar pria itu sampai jatuh ke lantai.


Rekaman yang tadi masih berjalan dapat di lihat oleh Marco. Eskpresi pria itu datar dan ada sorot tak suka melihat rekaman menjijikan ini.

__ADS_1


Namun, sedetik kemudian ia melirik Zhen dengan seringai mesum.


"Boleh-ku simpan untuk bahan?"


"Cih, seleramu memang rendahan," Ketus Zhen tak peduli itu.


Marco hanya membual. Ia mengeluarkan rokok dari balik jaketnya lalu melemparkan satu pada Zhen yang menangkapnya tenang.


"Soal ayahku kau benar. Dia tak bersalah!"


"Hm. Kau yang buta," Gumam Zhen menyodorkan ujung rokoknya pada Marco yang menyalakan pemantik.


"Kau sama saja. Buktinya sekarang kau sendirian disini." Tersenyum puas setelah membakar ujung rokok itu.


Zhen hanya memberi senyum meledek kembali bersandar di kursinya menyesap rokok itu santai diantara sela jarinya. Terlihat sangat seksi dengan kancing kemeja terbuka dan rambut acak-acakan namun penuh pesona.


"Jarang-jarang presdir kaya raya bisa merokok santai seperti ini. Kau tak takut Moa marah?" Goda Marco karena tahu Zhen tak pernah merokok bahkan ini pertama kalinya.


Jika dia merokok berarti hidupnya memang sedang kacau dan tak stabil seperti biasa.


"Hanya ingin mencoba," Jawab Zhen tapi ntahlah, ia seperti hanya ingin melakukan apapun yang sebelumnya tak pernah ingin ia lakukan.


"Mau mencoba hal yang lebih menarik?" Tawar Marco tapi Zhen hanya memberi pandangan malas.


"Besok aku akan mulai mengejar, Moa!"


"Sialan!!" Umpat Zhen melempar berkas di meja ke kepala Marco yang terkekeh puas berdiri.


"Syukurlah kau masih hidup. Aku pulang dulu. Jangan terlalu memikirkan soal amarahmu, atau Moa akan jatuh ke tanganku!"


"Pergilah!! Merusak mataku saja!!" Maki Zhen membiarkan Marco pergi.


Moodnya benar-benar buruk apalagi Moa tak disini. Biasanya hanya wanita itu yang akan jadi obat ajaib untuknya.


Selepas kepergian Marco tiba-tiba saja Zhen merasa aneh dengan dirinya sendiri. Tatapan heran Zhen mengacu pada rokok di sela jarinya.


"Kenapa aku merokok??!" Gumam Zhen membuang benda itu ke lantai lalu menginjaknya sampai padam.


Zhen mendengus. Ia mengacak rambutnya frustasi karena Moa masih belum mau menjawab panggilannya.


"Tidak bisa. Aku tak tahan seperti ini," Gumam Zhen bangkit beriringan dengan pintu yang terbuka memperlihatkan Bastian yang masuk disertai wajah panik.


"Tuan!"


"Ada apa?" Tanya Zhen mempunyai firasat buruk.


"Nona Zoe demam tinggi. Dia menangis semalaman, tuan!"


Sontak Zhen terkejut dan segera pergi dengan langkah besar. Walau sekuat tenaga ia membenci anak itu tapi saat mendengar kabar ini Zhen tak bisa mempertahankan egonya lagi.


"PERSETAN DENGAN AYAH KANDUNGMU!"


....

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2