Impoten Husband

Impoten Husband
Dia harus membayarnya!


__ADS_3

Kekacauan yang tadi menimpa markas Marco bisa dikendalikan dalam beberapa jam kemudian. Kerugian besar menimpa mereka bahkan pengedaran di sejumlah wilayah di terhenti karena pasokan sudah tak ada lagi.


Yah, Moa memang disalahkan dalam hal ini. Marco harus bertemu para kliennya yang protes akan kegagalan distribusi serta bahan edar yang tak memadai.


"Kenapa bisa begini? Bukankah biasanya kalian memasok sangat banyak dan terjamin sampai pada kami?" Protes Mr Bobs nama samaran transaksi mereka.


Marco diam tapi wajah datarnya tak meminta permohonan atau sekedar maaf. Mereka tengah ada disebuah pelabuhan besar pinggir kota dan tepat ada di dalam sebuah kapal menengah yang di jaga oleh anak buah Mr Bobs.


Marco hanya datang dengan Mubai karena tipe-nya memang tak suka banyak pengikut yang pergi seperti pria gempal perokok berat ini.


"Aku tak bisa menjelaskan secara rinci. Ada masalah dan itu sudah di atasi!" Tegas Marco tak memohon lebih.


"Kembalikan uang yang sudah ku berikan sebelumnya! Kalian memang sudah tak layak diajak bertransaksi!" Sarkasnya berani karena mengira Marco tengah ada masalah besar jadi bisa bermain dengan pria ini.


"Kau meminta uangmu?" Tanya Marco dan Mubai hanya diam bersitatap tajam dengan dua anak buah Mr Bobs yang ada di belakang kursi pria itu.


"Tentu. Kalian tak bisa memberi kami barang dan kembalikan uang itu."


"Sudah berapa lama berbisnis denganku dan kau juga masih belum paham rupanya," Gumam Marco dengan kaki masih bertopang angkuh melihat ke sekeliling dimana banyak yang mengintai nyawanya.


Mr Bobs diam. Ia sebenarnya menunggu saat terlemah Marco untuk bisa ia serang karena pria ini terlalu angkuh dan licik.


"Aku minta kembali uangku dan jika tidak kau.."


Marco membalikan meja itu dan Mubai sigap menembak dua bawahan di belakang Mr Bobs yang terkejut hebat kala Marco segera menarik tengkuknya berdiri dan mengacungkan pistol ke pelipis.


"Menekan-ku, hm?" Desis Marco menekan ujung pistolnya yang siap meledak membuat Mr Bobs gemetar berkeringat dingin.


Bawahannya yang tadi juga ingin menembak seketika terhenti kala melihat tuannya sudah di sandra.


"Jatuhkan pistol kaliaan!!" Keras Mubai berdiri di belakang Marco agar tak ada yang menyerang dari belakang.


"Jatuhkan atau kepalanya meledak!" Desis Mubai lagi.


"J..jatuhkan!" Pinta Mr Bobs gemetar pada anak buahnya yang segera menjatuhkan pistol.


Belum sempat pistol itu menyentuh lantai, ledakan peluru di pistol Marco sudah melesat ke kepala mereka masing-masing hingga tempat itu menjadi ladang mayat dalam sekejab.


Mr Bobs yang melihat itu semakin memucat karena anak buahnya sudah tak ada lagi yang berdiri.


"B..Bos! Kau..kau jangan gegabah. Aku tak akan meminta uang itu dan..dan aku.."


Marco menyeringai iblis dan menembak pelipis Mr Bobs hingga kaos yang ia pakai langsung terciprat darah segar sampai ke dagu tegasnya.

__ADS_1


"Ini, bos!" Mubai memberikan sapu tangan pada Marco yang mengambil benda itu.


"Bereskan mayat ini. Jangan sampai terendus polisi!"


Mubai mengangguk segera menghubungi anggota mereka ke sini. Marco menepi di pinggir kapal mengusap lelehan darah di dagu dan membuang kaos yang sudah tak layak pakai di tubuhnya ke dalam laut.


Tubuh atletis itu terpampang sempurna dan ada tato di bagian bahu, punggung dan lengannya yang berbentuk seperti kobaran api bermakna khas.


Namun, tangan Marco menyentuh area perut sebelah kiri dimana masih ada bekas luka tusukan dari Moa beberapa minggu lalu.


"Sampai kapanpun aku tak akan melepaskan mu," Desis Marco tak peduli akan kekacauan ini.


Justru, karena Moa yang sulit ditaklukan-lah ia semakin menginginkan wanita itu.


********


Moa masih ada di dalam ruangan dingin ini. Darah di pelipisnya sudah mengering dan wajah Moa cukup pucat karena ia tertekan sekaligus tak mau makan.


Pikirannya selalu tertuju pada Noah. Yah, jika ia mati disini Moa sangat bersyukur karena akan menemani putranya dan tak akan melihat anak itu kesakitan lagi.


"Maafkan aku," Gumam Moa bersandar ke dinding yang terasa sangat dingin baginya.


Apalagi, Moa hanya memakai kaos kebesaran dengan daleman di dalam tanpa celana apapun. Hanya ini yang ia pakai karena Marco kerap ingin melecehkannya dan memaksa memakai pakaian lebih seksi dari itu.


"Kenapa gasnya bocor??? Bukankah sudah di atasii!!"


"Gasnya bocor? Lagi?" Tanya Moa bingung.


Tak hanya itu saja. Sebenarnya bukan Moa-lah yang membocorkan gas itu karena dia setelah di kurung disini tak bisa keluar membakar apapun.


Moa hanya membunuh setiap petugas yang mengantarkan makanan padanya dan soal kebakaran, sistem yang rusak dan sebagainya di markas ini Moa tak merasa melakukannya setelah di kurung.


"Cepat tangani masalah ini jika tidak, bos akan menghabisi kita!!"


"Siall!! Gas itu sudah menyebar!"


Moa berdiri menempelkan telinganya pada pintu besi ini. Suara keramaian di luar masih sayup-sayup terdengar padahal Moa mengira kekacauan tadi sudah berhenti karena hening tapi ternyata ini di luar dugaannya.


"Aku harus memanfaatkan kerusakan ini untuk keluar!" Gumam Moa segera memukul-mukul pintu itu.


Dari cela fentilasi di atas. Masuklah gas yang membuat Moa menutup hidung karena gas ini akan merusak sistem pernafasan jika di hirup terlalu lama.


"Keluarkan akuu!!" Teriak Moa memukul-mukul pintu itu.

__ADS_1


Moa menahan nafas lalu mengambil kursi yang semula ia duduki. Dengan sekuat tenaga Moa menghantamkan benda itu ke pintu agar sistem penguncian ink akan bertambah rusak san eror.


Benar saja, gas yang memenuhi ruangan membuat dada Moa terasa terbakar tapi ia lega kala pintu itu terbuka sendirinya.


Tak butuh waktu lama bagi Moa langsung keluar dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Gas yang keluar dari kebocoran pipa disini kembali menyebar dengan alarm yang berbunyi berulang kali.


Mesin monitor bicara agar mereka segera keluar karena tingkat bahaya sudah naik menjadi darurat Emergency.


"Keluaar!!! Cepat keluaar!!"


Carlos yang terlihat mengamankan para team beda yang ada dan para penjaga menyerbu ke area ruangan yang terdapat pipa bocor.


Moa memanfaatkan keributan ini untuk menyelinap keluar. Ia yang gesit dan lincah tak menabrak satu-pun anak buah Marco yang berlarian menyelamatkan diri.


"Aku harus cepat sebelum pria stres itu kembali," Gumam Moa pergi ke beberapa block lorong yang tak di jaga.


Namun, Moa masih ingat tujuannya datang kemari yaitu dokter Wen. Langkahnya menelan karena merasa gagal jika kembali dengan tangan kosong.


"Aku tak boleh keluar jika tak membawa obat untuk putraku."


Moa segera berbalik pergi dan mencari ke sejumlah ruangan yang ada. Ia mengobrak-abrik tempat itu dan terkadang sengaja melepas beberapa tabung yang siap meledak jika di pakai sembarangan.


"Apa memang tak ada disini?" Gusar Moa setengah frustasi.


Ia keluar ruangan itu lalu masuk ke ruangan lain dan nihil. Ia hanya membuang waktu dan tenaga apalagi energinya terkuras habis dan belum makan apapun sejak pagi.


"Sia!! Jika memang harus mati, aku akan menyusul putraku!" Geram Moa segera mengambil besi yang ada di salah satu ruangan medis lalu menghantamkan benda itu ke aliran pipa besar di dinding.


Ia benar-benar menggila seakan tak peduli akan mati disini. Yang jelas, jika putranya tak selamat maka tak satupun orang yang ada disini akan hidup.


"Sialaaan!!!" Maki Moa menghantam untuk ke lima kalinya hingga pipa itu bocor sempurna.


Tawa Moa pecah. Sudut matanya berair, antara senang dan sedih bercampur aduk karena sebentar lagi ia akan bisa menemani putranya.


"Seperti ini tak buruk. Dia tak akan kesakitan lagi dan aku juga akan tetap selalu disisinya," Gumam Moa berdiri dengan pandangan mulai kabur karena gas itu juga ia hirup.


Lama kelamaan tubuhnya kehilangan daya dan Moa terhuyung tumbang tak bisa menopang tubuh sendiri.


Namun, sebelum tubuhnya membentur lantai dengan keras, siluet bayangan seseorang datang dengan cepat menangkap pinggang Moa dengan ekspresi wajah tampan sudah mendidih dan mengerikan.


Jantungnya berdegup kencang melihat luka di pelipis dan wajah pucat Moa sudah kehilangan kesadaran.


"Dia akan membayar setimpal untuk ini!" Geramnya mengetatkan rahang erat bahkan sorot matanya berubah sangat menakutkan.

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2