
Malam ini semakin larut. Setelah kembali dari sidang perceraian Zhen dan Cellien tadi Moa kembali ke apartemen membawa baby Zoe.
Nyonya Ming sudah kembali ke negaranya. Wanita paruh baya itu tak bisa berlama-lama di sini karena harus mengurus kediaman keluarga Ming apalagi tuan Hupent perlu di awasi.
Alhasil, jadilah Moa dan baby Zoe hanya berdua di dalam kamar sedangkan Zhen belum pulang sejak tadi siang pergi mengurus pekerjaan atau apapun itu Moa tak ambil pusing.
"Tidurlah! Kenapa masih membuka mata?" Bisik Moa sadar jika baby Zoe belum tidur.
Si kecil itu sangat nyaman berbaring di pelukan Moa dengan wajah terbenam ke dua gunung kembar penuh Moa di balik lapisan gaun malamnya
Yah, Moa sangat tak biasa tidur dengan pakaian tertutup atau beraktifitas. Hanya karena Zhen tak suka ia memakai pakaian seksi saat di luar jadilah Moa melepaskan keinginannya dengan mengekspose tubuh ketika di kamar.
"Singa!"
"Hm? Apa?" Tanya Moa masih berbaring menyamping.
"Daddy!"
"Dia masih di luar. Nanti pasti akan pulang. Sekarang tidurlah, jika tidak. Akan ada singa yang mencarimu!" Bisik Moa hingga baby Zoe semakin menelusup ke dalam pelukannya.
Wajah Moa seketika datar. Ia mengamati setiap sudut ruangan yang sudah berganti barang baru namun, kenangan disini masih tetap sama bukan?! Zhen akan semakin mengingat wanita itu.
"Kenapa juga aku peduli?! Bukan urusanku dia masih mengenang wanita itu atau tidak," Umpat Moa memilih untuk memejamkan mata segera tidur.
Keduanya tak seperti orang asing. Moa memeluk baby Zoe seperti anaknya sendiri sampai tak ada cela untuk mengambil baby Zoe darinya.
Setelah beberapa lama pintu kamar terbuka. Tampaklah seorang pria berkursi roda dengan wajah tampan lelah namun datar seperti biasa di suasana remang malam ini.
Sorot netra elangnya langsung tertuju ke arah ranjang dimana siluet tubuh seorang wanita terbalut selimut tengah memunggungi arah pintu.
Lama Zhen memandangi lekukan tubuh Moa yang masih tampak segar dan menggugah padahal sudah di balut selimut hingga suara pintu balkon berderit karena angin langsung menyadarkannya.
"Kebiasaan," Gumam Zhen agak kesal kala pintu balkon tak di tutup.
Sebelum pergi Zhen menutup pintu kamar lalu bergerak ke arah balkon. Tirai-tirai yang berhembus karena desakan angin dingin yang masuk membuatnya menoleh kembali ke arah ranjang.
Moa mengeratkan selimut pertanda terusik dengan angin ini. Zhen segera menutup pintu kaca balkon dan merapikan tirai yang tadi bergerak mengganggu.
"Dimana Zoe?!" Gumam Zhen pada dirinya sendiri.
Kursi rodanya bergerak ke dekat ranjang melihat jika Moa tertidur lelap dengan wajah damai yang mempesona. Saat tatapannya turun ke arah belahan dada wanita itu Zhen sontak membuang pandangan.
"Dia memakai pakaian kurang bahan lagi," Gumam Zhen setengah mengumpat. Bahu mulus putih tanpa cacat Moa sangat mengundang.
"Daddy!"
Suara baby Zoe menarik perhatian Zhen. Si kecil itu perlahan menarik diri dari dalam dekapan Moa yang tadi menyembunyikan tubuh mungilnya.
__ADS_1
Dengan pakaian balita dengan bentuk bintang itu baby Zoe duduk stabil.
"Daddy!"
"Belum tidur?" Tanya Zhen mengulur kedua tangannya.
Baby Zoe merangkak mendekati Zhen hingga langsung di angkat ke pangkuan pria gagah itu.
"Daddy! Singa.."
"Kenapa? Singa-mu tidur?" Tanya Zhen melirik Moa yang masih terlelap. Baby Zoe mengangguk memeluk dada bidang Zhen walau tak bisa melingkar sepenuhnya.
"Maaf. Daddy terlalu sibuk sampai tak ada waktu bermain dengan Zoe." Mengusap kepala putrinya penuh kasih.
"Daddy!"
"Hm?" Zhen menunggu suara baby Zoe yang mulai bicara sepatah dua patah kata yang sering dia dengar.
"D..daddy! Singa ...tidur."
"Karena singa sudah tidur seharusnya baby.." Zhen menjeda kalimatnya agar baby Zoe melanjutkan.
"T...tidur!"
"Pintar! Sekarang tidurlah. Daddy mau mandi!" Pinta Zhen kembali menaikan baby Zoe ke atas ranjang.
Si kecil itu merangkak kembali masuk dalam pelukan Moa yang merasa terusik dengan sosok mungil yang kembali mendekap dadanya.
"Kau sudah pulang?"
"Hm."
Zhen menjawab seadanya. Ia pergi ke walkcloset menghindari Moa yang menyipitkan kedua matanya.
"Pria ini memang aneh," Gumam Moa merasa Zhen sangat dungu. Penampilannya malam ini tergolong seksi dan menantang tapi tetap saja, Zhen seperti tak berminat padanya.
Karena tak mau ambil pusing, akhirnya Moa kembali memejamkan mata. Posisi terlentang dengan baby Zoe ada di ketiaknya.
Tentu saja dengan posisi itu dada Moa akan semakin terpapar jelas. Gaun malam itu memiliki renda dada yang rendah. Dua tali tipis di bahu hingga sebagian bra-nya berwarna hitam kontras dengan kulit putih itu terpampang menggoda.
Zhen yang baru keluar walkcloset setelah meninggalkan sepatu, jam dan aksesorisnya tentu terpaku kosong.
"Shitt!" Umpat Zhen kasar segera membawa kursi rodanya ke kamar mandi.
Moa tak sadar itu. Ia masih ingin kembali tidur walau suara pintu kamar mandi dibuka tutup masih terngiang di telinganya.
"Babi," Gumam Moa acuh.
__ADS_1
Sementara Zhen di dalam kamar mandi luas sana segera melepas jas dan kemeja hingga hanya menyisakan bawahan yang masih terbalut celana kerja.
Wajah Zhen cukup merah karena kulitnya putih jadi terlihat jelas.
Menatap sejenak wajahnya di arah kaca wastafel lalu segera pergi ke arah shower. Karena tak mau berpikiran negatif dan kotor Zhen segera melepas celananya menyisakan boxer lalu berusaha berdiri untuk melatih otot kakinya.
"Aku tak bisa terus ada di kursi ini," Gumam Zhen memaksakan kedua kakinya untuk berpijak ke lantai.
Ada perubahan yang signifikan sejak beberapa bulan lalu ia di rawat di rumah sakit. Kedua kakinya tak lagi mati rasa atau sakit berlebihan hingga Zhen optimis ingin sembuh.
Kedua lengan yang tadi bertumpu ke kedua lengan kursi roda perlahan berpindah ke arah pinggir bathub.
Kedua kaki Zhen sudah bisa berdiri tapi masih belum stabil. Tubuhnya yang gagah dan atletis membungkuk menahan berat agar kedua kakinya stabil.
"Shitt!" Umpat Zhen saat merasa nyeri hebat menghantam seluruh persendiannya.
Keringat dingin keluar tapi tak bisa meruntuhkan niatnya untuk kembali ke kondisi semula.
Zhen tak sadar jika sedari tadi Moa melihat dari sela pintu. Usaha dan kegigihan Zhen terlihat mendominasi membuktikan betapa besar keinginan pria itu untuk sembuh dan tekanan yang dia rasakan.
"Aku tak tahu seberapa berat masalahmu di keluarga Ming sampai kau tak pernah lelah untuk mencoba," Batin Moa jadi ingat perkataan nyonya Ming.
Apa keluarga Zhen begitu jahat? Apa ayahnya sangat kejam sampai ingin menghabisi anak sendiri?!
Pertanyaan itu terus terlintas di pikiran Moa sampai ia mengambil nafas dalam. Terus memantau Zhen dari sela pintu melihat jika pria itu sudah jatuh beberapa kali ke lantai tapi dia tetap kekeh mencoba berdiri lagi.
Sampai pada percobaan kelima, Zhen bisa berdiri stabil tak lagi berpeggangan ke bathub.
"A..aku bisa," Gumam Zhen dengan wajah berbinar tak berlebihan.
Moa ikut tersenyum tipis. Ia tahu jika ia membantu maka Zhen akan menolak mentah-mentah. Apalagi, setelah beberapa hari yang lalu Zhen mengajak menikah dan di tolak pria itu langsung berubah semakin tak tersentuh.
"Aku yakin. Kau bisa melakukan apapun yang mustahil di lakukan orang lain," Gumam Moa sangat lirih.
Zhen hanya bisa berdiri stabil dan itu pencapaian luar biasa dalam waktu cukup singkat. Hanya saja, untuk melangkah Zhen belum bisa melakukan itu karena terlalu beresiko.
Melihat Zhen yang mandi dengan usahanya sendiri tentu saja Moa senang. Namun, kala melihat tubuh kekar Zhen di aliri air dengan begitu seksi tanpa sadar membuat Moa lemas.
"Dia memang sangat sempurna," Gumam Moa tanpa sadar mengigit bibir bawahnya jadi terpancing hasrat.
Zhen punya tubuh atletis dengan bahu lebar dan dada bidang yang mampu membuat para wanita ingin bersandar di sana. Otot-otot perut melilit tak berlebihan di tambah pinggang kokoh dan kedua kaki jenjang yang sangat pas tak bisa di bantah.
Jika di bandingkan dengan Ebner, tentu pria itu kalah jauh. Zhen memang sangat memikat dan pantas Cellien tergila-gila padanya.
"Sudah puas memandangiku?"
Duarr...
__ADS_1
....
Vote and like sayang