
Niat hati ingin menolak tapi kenyataanya Zhen benar-benar tak bisa mandi sendirian. Zhen bisa membuka semua pakaiannya tapi, untuk meraih shower, handuk dan banyak hal lagi itu tak mungkin.
"Begini saja! Akan saya siapkan peralatan mandinya dan tuan bisa melepas pakaian sendiri. Bagaimana?"
"Hm," Gumam Zhen seadanya.
Moa meraih shower dan di letakan di pinggir bathub. Ia juga mendekatkan kursi di kamar mandi yang biasa Zhen duduki saat mandi.
"Selesai? Ada lagi?"
"Tidak ada."
Jawaban Zhen terkesan dingin tapi Moa tak peduli. Ia berjalan keluar kamar mandi membiarkan Zhen melakukan semuanya sendiri.
Selepas kepergian Moa barulah Zhen menghela nafas berat.
"Kau harus mengandalkan diri sendiri," Gumam Zhen meraih lengan kursi itu lebih dekat.
Zhen mulai berusaha pindah dari kursi rodanya menuju kursi khusus kamar mandi. Namun, tampaknya hari ini nasib Zhen tak cukup bagus.
Lantai yang licin karena sisa shampo baby Zoe tadi membuat keempat kaki kursi oleng, tubuh Zhen yang setengah lumpuh sontak jatuh.
Namun, sebelum Zhen membentur lantai kamar mandi, ada dua tangan jenjang dan kuat seseorang yang segera menahan bahunya.
"Kau.."
Tanpa banyak bicara, sosok itu membantu Zhen duduk di kursi kamar mandi lalu meminggirkan kursi roda Zhen agar tak basah.
"Ini.."
"Lepas, pakaiannya!" Pinta Moa berdiri dengan wajah tanpa ekspresi.
Tadi ia tak benar-benar keluar karena tak yakin Zhen bisa mandi sendiri. Ia akui jika tubuh pria itu kuat untuk menopang berat badannya tapi, dengan kondisi kamar mandi yang basah dan cukup licin itu tak memungkinkan.
"Tidak perlu. Ini.."
Kesabaran Moa sudah habis total. Ia segera menarik kaos yang di pakai Zhen sampai pria itu terkejut akan aksi brutal Moa.
"Kau!! Kau mau apa, ha??!"
"Aku sudah cukup bersabar untukmu," Gumam Moa bercampur geram menarik lepas kaos di tubuh Zhen.
Saat atasannya sudah tak lagi berpenghalang, tubuh atletis dengan bahu kokoh dan pemandangan seksi ini benar-benar membuat Moa gelap mata.
"Tahan!" Batin Moa mengepalkan kedua tangannya yang sangat gatal untuk meraba perut berotot milik Zhen dan dada bidang jantan yang mulus tanpa bulu namun melemaskan tungkai.
"Ehemm!" Dehem Moa mengibas wajahnya agak panas mengambil shower di pinggir bathub.
"Ini!"
"Berbalik!" Titah Zhen sudah kepalang tanggung menyuruh Moa keluar.
Moa memberikan shower pada Zhen lalu menjaga jarak dalam dua langkah seraya berbalik badan.
"Jangan coba berbalik!"
"Cih, sangat percaya diri," Gumam Moa mengumpat.
Terdengar suara percikan air di belakang dan Moa acuh. Zhen menarik celananya turun sampai ke betis dan menyisakan boxer.
Saat Zhen ingin melepas habis celana itu tiba-tiba saja benda itu terjepit ke kaki kursi yang ia duduki.
"Shitt!" Umpat Zhen kasar.
Sesekali Zhen melirik waspada Moa tapi, tampaknya wanita itu benar-benar tak punya niat buruk padanya.
"Sudah selesai?"
"Belum."
Moa terus menunggu. Air shower yang menyala terus mengalir di pangkuan Zhen masih berusaha melepas celana di betisnya.
__ADS_1
"Jangan mulai lagi," Gumam Zhen kala kursi itu tak stabil jika ia membungkuk.
"Sudah?"
"Jika malas menunggu, kau bisa keluar!!" Emosi Zhen karena tak kunjung bisa melepas celananya.
"Zoe masih ada di atas ranjang. Cepatlah!"
"Belut sialan!" Umpat Zhen dapat di dengar Moa yang seketika berbalik ingin menyembur namun..
"BERBALIK!!" Suara Zhen keras menutupi area bawahnya kala Moa mematung.
"A..kau..kau bisa?"
"Tutup matamu!" Tegas Zhen benar-benar gelagapan. Moa spontan menutup kedua matanya dengan keringat dingin muncul begitu juga Zhen yang jantungan.
"A..aku hanya ingin membantu. Kau tak perlu sampai berteriak!"
"Sialan," Umpat Zhen sudah seperti anak perawan di depan Moa.
"Apa yang bisa-ku bantu?"
Zhen mengambil nafas dalam-dalam bersandar ke kursinya. Tatapan pasrah itu Zhen hunuskan pada Moa yang masih belum membuka mata.
"Berjongkok!"
Moa menurut. Ia berjongkok tanpa membuka mata.
"Lalu?"
"Mendekatlah!" Titah Zhen tak punya pilihan lain.
Moa mendekat dan berjongkok di hadapan Zhen yang memijat pelipisnya pusing. Shower yang menyala itu sudah membasahi setengah tubuhnya jadi, jika Moa membuka mata maka tatapannya langsung terarah pada bagian inti Zhen yang menonjol namun tak aktif.
"Peggang kakiku!"
"Kenapa?"
"Celananya tersangkut ke ujung kaki kursi!" Jawab Zhen mengarahkan Moa dengan suasana hati campur aduk.
"Jangan diam sana!! Kau pikir aku punya mata batiin?!" Ketus Moa kesal.
"Tundukan kepalamu!"
"Babi jantan menyusahkan," Gumam Moa menunduk.
"Buka matamu!"
Moa membuka matanya dan melihat pinggir celana yang terjepit di bawah kaki kursi. Dengan agak kasar Moa menyentak pinggir celana itu hingga Zhen sedikit oleng.
"Kau tak bisa pelan, ha??!"
"Dasar, tak tahu terimakasih," Ketus Moa menatap tajam kedepan.
Sontak saja kedua matanya langsung menyorot bagian inti Zhen dengan sangat dekat. Bahkan, Moa tak percaya jika semenonjol ini padahal belum bangun dan pertanyaannya, bagaimana ukuran benda itu jika benar-benar aktif?!
Zhen yang sadar kemana arah pandangan Moa sontak langsung menutup bagian intinya dengan kedua tangan.
"APA YANG KAU LIHAT?!!" Marah Zhen bukan main sampai shower itu jatuh ke lantai.
Moa mengusap tengkuknya canggung. Tiba-tiba saja ia jadi agak tak terkendali padahal ia sudah sering melihat tubuh polos para pria.
"Kau!! Kau keluar!! Cepat keluar!!"
"Santai, jangan seperti anak perawan," Jengah Moa berdiri.
Zhen menatap tajam Moa seakan ia benar-benar tak suka saat tubuhnya di lihat sembarangan.
"Apa yang kau tunggu?" Beradu pandangan sengit dengan Moa.
"Sampai kapan kau akan berpura-pura?"
__ADS_1
Zhen menaikan satu alisnya agak sinis. Moa segera bersidekap dada dengan tatapan datar.
"Kau hanya seorang baby sitter tapi sikapmu sudah seperti MAJIKAN."
"Babysitter?" Tanya Moa meloloskan kekehan kecil namun wajahnya segera berubah dingin dengan sorot mata membunuh.
"Sudahi permainanmu. Itu MENJIJIKAN," Desis Moa membuat Zhen terdiam.
Moa tak lagi membuat alasan dari perubahan sikapnya seperti biasa dan lagi, Moa terang-terangan bicara kasar padanya.
"Aku diam bukan berarti tidak tahu. Kau hanya terlalu percaya diri."
"Lalu?" Tanya Zhen dengan wajah serius. Ia bisa melawan hawa mendominasi yang di kobarkan Moa bahkan, keduanya punya nyali yang besar.
"Tuan Zhen yang terhormat. Apa kau pikir aku tak tahu letak kamera yang kau pasang di kamar mandiku?"
Zhen tak terkejut. Wajahnya masih tak berekspresi lebih membuat seringaian licik Moa muncul perlahan duduk di pangkuan Zhen yang tenang.
"Sayang sekali, aku sangat tak suka jika seseorang sudah melihat seluruh tubuhku," Desis Moa duduk bersilang anggun dengan satu tangan terangkat membelai rahang tegas Zhen sensual.
"Dan itu, berlaku juga UNTUKMU!"
Keduanya bersitatap keras dengan sorot mata membunuh.
"Dan aku menunggu momen ini. Asisten kepercayaanmu sudah pergi dan siapa yang akan membantumu, hm?" Licik Moa tak terduga.
Moa sadar jika selama ini Zhen tahu ia bukan babysitter yang asli. Dengan karakter Zhen yang disiplin dan tegas, ia tak akan mentolerir kesalahan sekecil-pun tapi saat itu berbeda.
Zhen seakan menutup mata padahal jelas, Moa yakin Zhen tak semudah itu di tipu. Moa yang liar dan Zhen yang picik, keduanya saling berperang dalam diam.
"Tenang saja. Aku tak akan melukai putrimu. Aku baik, bukan?" Desis Moa dengan jari mengetuk-ngetuk halus dagu tegas Zhen yang segera menggenggam tangannya.
"Kau sangat percaya diri."
"Tentu, kenapa tidak?!" Jawab Moa tersenyum dengan aura yang menggoda.
Satu tangannya yang terulur bebas menelusup ke sela leher Zhen mencapai tengkuk kokoh itu. Posisi mereka sangat intim apalagi dada sekang Moa menempel ke dada bidang Zhen yang basah.
"Aku tak suka di perintah. Kau pria pertama yang berani membuatku cukup kewalahan dan berbanggalah dengan itu."
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Zhen tak berkedip atau mengalihkan pandangan dari wajah Moa yang begitu dekat dengannya.
Bahkan, hembusan nafas keduanya saling berbenturan dan kedua bibir berjarak 5 senti.
Moa meremas tengkuk Zhen kuat dengan tangan yang tadi membelai rahang tegas pria tampan ini mulai turun ke leher Zhen.
"Untuk apa-ku beritahu?"
"Kau yakin?" Tanya Zhen dengan sudut bibir sensualnya terangkat licik.
Sontak Moa menarik diri dari Zhen dengan tatapan menajam.
"Kauu.."
"Tuan!!" Suara asisten Jio muncul.
Moa terkejut. Asisten Jio membawa handuk yang segera menutupi bawahan Zhen. Pandangan Moa beralih pada pintu kamar mandi dimana sudah banyak pengawal yang mengacungkan senjata padanya.
Seketika darah Moa mendidih ke ubun kembali menatap membunuh Zhen yang menyeringai puas.
"Siapa yang sebenarnya terjebak, hm?!"
"Kauuu!!!" Geram Moa ingin menyerang Zhen tapi asisten Jio sigap mengunci kedua tangannya di belakang punggung.
"Sialan!!! Aku benar-benar ingin menghabisi mu!!"
"Bawa dia!" Titah Zhen pada asisten Jio yang menyeret Moa keluar.
Sebenarnya asisten Jio tak pergi kemanapun. Sedari tadi mereka menunggu waktu untuk menangkap Moa secara real karena Zhen tak bisa tinggal diam dengan kejadian di dapartemen kepolisian kemaren.
Moa harus di ajak bekerja sama jika tidak, ia tak akan segan membunuh wanita itu.
__ADS_1
....
Vote and like sayang