Impoten Husband

Impoten Husband
Kenakalan Moa


__ADS_3

Dalam situasi genting ini Moa berhadapan langsung dengan anak buah Marco dan pria itu juga sudah datang menatap licik Moa dengan pandangan kemenangan.


Tak hanya Marco. Disana juga ada Carlos dan Mubai kaki tangannya yang menatap remeh Moa.


"Sudah bilang, bukan? Kau tak akan bisa lari dari sini," Desis Marco mengibarkan peperangan langsung dengan Zhen yang bisa melihat situasi di sana dengan jelas.


"Kau cukup pintar bisa menemukanku dalam waktu secepat ini," Ujar Moa tersenyum santai tapi kakinya mendorong dokumen dan album yang ia ambil tadi kebawah lemari agar tak ketahuan.


"Bawa dia!" Titah Marco hingga Carlos si pria berkepala plontos segera mendekati Moa berniat menarik lengan wanita itu tapi dengan angkuh Moa tepis.


"Aku bisa berjalan sendiri."


"Wanita aneh," Ketus Carlos mulai tak menyukai Moa yang melenggang santai padahal banyak pistol yang mengarah padanya.


Moa berdiri tepat di hadapan Marco dan helaian rambut panjang Moa menutupi earpich bagian telinganya sebelah kiri.


"Dimana dokter Wen?" Tanya Moa pura-pura tak tahu tentang kenyataan yang baru saja ia temukan.


"Menurut-lah. Aku akan memberikan pria itu padamu!"


"Baik," Sahut Moa tak keberatan.


Marco mengisyaratkan para bawahannya menurunkan senjata dengan ujung jari.


"Kalian pergilah!"


"Baik, bos!" Jawab mereka pergi tapi Carlos dan Mubai tinggal masih menatap Moa dengan pandangan masing-masing.


"Kalian juga!"


"Bos! Kau yakin tak memenjarakan wanita ini? Dia terlihat sangat lincah," Seru Carlos merasa Moa bukan wanita sembarangan.


"Itu keputusanku! Kalian pergi!"


"Santai, bos! Kami tak akan menganggu kesenanganmu," Desis Mubai tersenyum menggoda Moa lalu pergi dengan Carlos yang masih melempar pandangan tak suka pada Moa.


Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Moa menatap datar kedua netra hitam tajam milik Marco begitu juga sebaliknya.


"Kau pakai lensa?"


"Ini mata asliku!" Jawab Moa karena sadar jika Marco pasti ingat jika saat di club itu matanya emerald dan bukan coklat seperti ini.


"Ouh. Tapi, aku suka warna matamu malam itu," Jawab Marco dengan jari terangkat ingin mengusap pipi Moa namun belut betina itu mundur.


"Aku tak suka di sentuh."


"Tapi kau kekasihku," Gumam Marco gencar memojokkan Moa seperti bidadari idamannya.


Zhen yang melihat itu tentu saja mengepal. Tapi, ia sadar jika menyuruh Moa memberontak maka itu akan membuat Moa dalam bahaya.


Sekuat mungkin Zhen menahan emosinya dan berusaha berpikir logis dan tenang. Pandangannya tak teralih sedetik-pun dari layar laptop padahal sudah dinihari.


Moa yang tampak menunjukan pertahanan kuat tentu saja membuat Marco enggan untuk memaksanya.


"Baiklah. Ikut aku!" Ingin membawa Moa pergi.


"Satu informasi penggerak kakiku!" Ucap Moa benar-benar pandai bernegosiasi.


"Kau ingin membuat kesepakatan?" Tanya Marco menaikan alis sinis.


"Yah. Jika kau mau. Jika tidak, aku tak memaksa."


"Kau tak takut aku penjarakan?" Tanya Marco tapi tawa getir Moa meruak.


"Jangan membuat lelucon. Aku suka di penjara apalagi area yang sempit dan panas," Jawab Moa dengan kerlingan mata cukup menggoda Marco.


Yah, sekarang ia tak punya jalan lain selain memancing pria ini untuk jatuh kedalam perangkapnya.


"Moa! Jangan menggodanya!" Suara marah Zhen hanya dapat di dengar oleh Moa tapi wanita itu acuh.


Jawaban Moa yang mengarah pada sesuatu yang fulgar dan sensitif tentu saja sukses menarik perhatian Marco.


"Hukumanmu adalah menemaniku di ranjang."


"Pelayananku tak gratis," Jawab Moa menyeringai.


Marco segera menarik Moa menuju area khusus dimana mereka bertemu tadi. Tapi, bukan ruangan tempat berdebat pertama kali melainkan ada lagi sebuah ruangan yang terletak paling ujung.


"Awasi dia. Jangan sampai kau di kurung di kamar!"


"Aku tak masalah," Gumam Moa tapi bisa di dengar Zhen yang semakin di buat darah tinggi.


Marco menempelkan telapak tangan kanannya di dinding baja ini hingga terlihatlah tombol sensor otomatis yang membuka pintu.


"Sangat canggih. Pasti biaya membuat ini mahal."


"Kecil bagiku!" Jawab Marco membawa Moa ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Moa menyentak tangannya dari peggangan Marco dan menatap kagum pada sebuah kamar luas dengan dinding di depan terbuat dari kaca memperlihatkan panorama laut dalam yang jelas dari sini.


"Bagian ini dekat dekat laut. Kita tepat di bawahnya!" Ucap Marco berdiri di belakang Moa berniat mencari kesempatan memeluk wanita itu tapi ia nyaris terhuyung kedepan memeluk angin karena Moa gesit beranjak mendekati dinding kaca.


"Luar biasa! Ini sangat indah dan mahal," Decah Moa menempelkan kedua tangannya ke kaca tebal itu dan melihat panorama indahnya karang dan banyak ikan kecil sekaligus belut laut yang menghampiri kaca.


"Cih. Apa hebatnya itu?! Cepat pulang. Aku akan buatkan kamar di bawah samudra untukmu!" Suara ketus Zhen membuat sudut bibir Moa terangkat.


"Tapi, dia memang lumayan. Boleh aku selingkuh?"


"Coba saja. Aku tak akan segan mengebom tempat itu," Jawab Zhen kala Moa berbisik pelan padanya.


Marco tak menghiraukan gelagat Moa karena wanita itu seperti hanya bicara dengan para ikan dan belut yang menempel di kaca.


Sedetik kemudian ekspresi Moa serius kala merasa Marco sudah ada di belakang tubuhnya dengan jarak 1 meter.


"Apa-kau baru kali ini melihat pemandangan bawah laut?" Tanya Marco dapat di dengar Zhen.


"Jangan meladeninya. Itu hanya modus pria mata keranjang!"


Moa benar-benar tergelitik dengan umpatan dan makian Zhen di jam segini-pun belum juga tidur.


"Jika kau mau. Aku-akan mengajakmu berkeliling besok!"


"Boleh!" Jawab Moa berbalik karena itulah yang ia tunggu.


"Kau begitu ingin tahu seluruh lekuk markas-ku ternyata?" Desis Marco membaca isi pikiran Moa.


"Tentu saja. Aku ingin mencari dokter Wen dan harus menemukannya."


Raut wajah Marco yang semula santai berubah datar. Sorot matanya terlihat menyimpan kemarahan yang terpendam tak luput dari penyelidikan Moa.


"Bersihkan dirimu. Akan ada pelayan yang mengantar pakaian!"


Setelah mengatakan itu, Marco langsung pergi tanpa pamit.


Moa memandanginya lalu menyelidiki kamar ini.


"Ada cctv! Kecuali di kamar mandi!" Ucap Zhen tahu arti tangkapan mata Moa.


"Tentu saja. Dia bukan seorang babi mesum yang memasang cctv di kamar mandi seorang wanita."


Jleb..


Sindiran Moa sukses membuka luka lama. Sudut bibir Moa terangkat berjalan ke arah pintu kamar mandi menduga Zhen tertusuk dalam.


"Lihat ke kaca!"


"Kenapa?"


"Bisa tidak kau jangan selalu memancing emosiku?!" Jengkel Zhen membuat Moa terkekeh kecil mengarahkan pandangannya ke kaca wastafel.


Seketika pantulan wajah dan setengah tubuh Moa terlihat hingga mata Zhen memanas kala Moa hanya memakai tank top ketat membentuk bulatan aset kembarnya yang sempurna dan memamerkan bahu putih mulus itu.


"Dimana jaket mu??"


"Kau yang suruh aku melemparnya tadi. Jangan pura-pura lupa," Ketus Moa menggulung rambutnya ke atas hingga tampilannya di cermin sangat hot.


Zhen yang melihat itu hanya bisa mengatur nafas ingin meminum vodka tapi sudah kosong. Pandangan Zhen beralih ke sofa dimana asisten Jio tidur di sana karena di acuhkan Zhen sedari tadi.


"Kenapa? Istri keduamu menganggu?"


"Omong kosong," Decah Zhen kembali menatap layar laptop.


Moa terlihat melepas tank topnya hingga hanya memakai bra sport yang tampak sesak menampung dua aset kembar itu.


Zhen berulang kali menelan ludah karena ia benar-benar akan melahap benda itu jika bisa di gapai olehnya.


"Tadi aku mengambil isi dokumen itu dan satu foto keluarga di sana!"


Moa meletakan kertas yang ia sobek tadi di atas meja wastafel serta foto di sebelah kanan.


Foto itu mengabadikan 5 orang pria dewasa berbeda usia, 2 wanita paruh baya dan satu wanita tua.


Tapi, fokus Zhen dan Moa pada pria tinggi berbadan cukup kurus dengan kacamata yang ada di tengah-tengah.


"Ini foto keluarga dokter Wen?" Tanya Moa dan Zhen belum menjawab seperti masih mengenali satu persatu wajah di foto itu.


"Sepertinya iya. Wanita tua dan pria seumuran dengannya itu adalah orang tuanya dokter Wen. Mereka yang kemaren menjemput bahan makanan yang diantar anggota Marco!"


"Lalu, yang lain itu siapa?" Tanya Moa menelisik.


"Bisa jadi kerabatnya yang juga pernah di laporkan anggotaku," Jawab Zhen membantu Moa memahami foto itu.


"Disini tak ada Marco. Apa hubungan keluarga mereka baik-baik saja?"


"Dia terlihat marah saat kau menyebut nama ayahnya. Bisa jadi, mereka terlibat pertikaian hingga Marco berbuat keji."

__ADS_1


"Hm. Aku berencana untuk lebih lembut padanya agar bisa untuk.."


"Kau hanya boleh melembut padaku!" Tanpa sadar kalimat itu keluar membuat senyum di bibir Moa menipis sedangkan Zhen mengusap wajahnya kasar karena sudah keceplosan.


"M..maksudku aku suamimu. Dia orang asing dan tak berhak kau menurut padanya!" Elak Zhen agar tak terlalu malu pada Moa yang sudah tahu betul maksud Zhen.


"Babi!" Panggil Moa menatap kaca wastafel hingga Zhen bisa memandang jelas wajah cantiknya.


Sungguh, Zhen sangat merindukan wanita ini tapi ia gengsi mengakuinya. Keangkuhan dan kepercayaan diri seorang Zhen Xiveng Ming sudah mencapai lipatan langit ke tujuh.


"Kau pasti merasa kehilangan-ku bukan?" Seringai Moa merusak momen haru ini.


"Tidak. Aku hanya risih karena Zoe selalu menanyakan-mu!"


"Benarkah?"


"Hm. Aku tak merasa kehilangan sama sekali. Justru aku senang karena dompetku aman," Jawab Zhen membuat Moa terkekeh kecil mendengarnya.


"Egomu sangat tinggi tuan babi. Kau yakin tak akan menangis setelah kehilanganku, hm?"


"Tidak akan. Tapi, berpikirlah dua kali dalam bertindak jika tak ingin hancur di tanganku," Desis Zhen terkesan acuh tapi mengintimidasi Moa yang menelan ludah.


"Aku ingin mandi. Kau ingin lihat?" Goda Moa sengaja melepas bra nya hingga dua aset gembar yang sangat seksi itu menyapa kaca wastafel.


"Shitt!!" Umpat Zhen kala bagian bawahnya bereaksi.


Moa mendengar umpatan Zhen hingga yakin pria itu kacau sekarang. Merasa tertantang untuk membuat Zhen frustasi, tentu saja Moa semakin gencar menggoda Zhen.


Ia berbalik mengunci pintu kamar mandi lalu kembali menatap kaca dengan jiwa nakal yang mendominasi.


"Kau ingin lihat film pendek?"


"M..Moa! Kau jangan macam-macam," Desis Zhen duduk dengan gelisah karena celananya mulai terasa sempit dan sesak.


Mendengar keluhan Zhen, bukannya berhenti Moa semakin menjadi. Ia membelai tubuhnya sendiri dengan bibir bawah di gigit sensual dengan wajah cantik melemah seperti menikmati belaian seseorang.


"Shittt ****!!" Umpat Zhen segera melempar kaleng vodka yang berantakan di lantai ke arah asisten Jio yang terperanjat dari tidurnya.


"T..tuan!" Masih belum mengumpulkan nyawa sepenuhnya.


"Keluar dan kunci pintunya!!" Titah Zhen hingga tanpa bertanya lagi asisten Jio keluar dengan sempoyongan karena masih setengah sadar.


"Kau sudah sendiri?" Tanya Moa dengan suara dibuat selembut dan syahdu mungkin memancing hasrat sang suami.


"Cepatlah mandi! Jangan membuat ulah," Pusing Zhen serba salah. Di acuhkan sayang dan ditonton semakin menyakitkan adik kecilnya.


"Tutup saja laptop mu. Apa susahnya, hm?" Meremas dadanya sendiri dengan satu tangan melepas bawahannya.


Kerongkongan Zhen benar-benar kering melihat ini. Bahkan, isi kepalanya tiba-tiba buyar dan hanya memikirkan satu hal.


MEMBOBOL MOA..


"Akhss Zheen!"


"****!! Sialaann kau!!" Umpat Zhen memukul peggangan kursi bertambah panik sekaligus frustasi.


Mendengar umpatan Zhen seketika Moa tertawa puas menjulurkan lidahnya ke kaca mengejek Zhen.


"Sudahlah. Aku tak rela memberi tontonan gratis padamu!" Decah Moa tanpa rasa bersalah setelah membuat babi jantan itu tak bisa tidur atau memejamkan mata.


"Cepatlah mandi! Jangan biarkan monyet itu mengintip mu!"


"Aku lepas lensanya, ya?" Pamit Moa karena merasa risih.


"Tak mungkin aku pakai juga sampai pagi," Imbuhnya membuat Zhen menghela nafas.


"Lepas saja saat kau benar-benar ingin tidur. Besok, akan ada Bastian yang akan menemui mu. Dia bawahanku yang akan memberikan lensa baru!"


"Hm. Baiklah," Singkat Moa mulai mandi tapi meletakan earpich nya di atas wastafel.


Zhen bersandar melihat guyuran shower dan air yang menetes di lengan Moa. Namun, tiba-tiba ia kembali tercekat kala Moa kembali menggodanya dengan melihat ke arah dua aset kembar itu dan mulai menyabuninya dengan penuh kenakalan.


"Tunggu saja bagianmu," Desis Zhen tak akan melepaskan Moa jika ia benar-benar sudah bisa berjalan dan akan ia gempur sampai kehabisan tenaga.


Di tempat yang berbeda.


Tuan Hupent tengah ada di kota kecil masih di wilayah China karena ia tak bisa melakukan penerbangan ke luar negara. Polisi sekarang tengah memburunya dan nomor Ming Yue juga tak aktif.


"Shitt! Aku tak bisa selalu bersembunyi disini," Batin tuan Hupent bersembunyi di salah satu pemukiman warga yang terpelosok.


Zhen sialan!! Tunggu saja balasan dariku. Tak akan-ku biarkan kau lolos.


Batin tuan Hupent benar-benar membenci anak laki-lakinya yang pembangkang itu. Pasti Ming Yue sudah lebih dulu Zhen urus agar tak dekat dengannya.


"Kau tak tahu saja jika aku masih punya banyak senjata menghancurkan- mu. Lihat saja nanti."


...

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2