Impoten Husband

Impoten Husband
Babi dan belut


__ADS_3

Mobil yang di bawa asisten Jio sedari tadi berpacu dengan waktu. Keberadaan Moa sudah terpantau di layar monitor mobil dimana wanita itu tengah ada di area peternakan kuda yang tadi Ebner lalui.


Dari dalam mobil yang melintas, Zhen melihat tiga mobil dengan keadaan sekarat berada di luar jalan dengan pengemudi yang tewas berdarah.


Kening mereka membekas lobang peluru dan cipratan darah di kaca depan.


"Apa dia terluka?" Tanya Zhen datar tapi tersembunyi kekhawatiran.


"Tidak. Moa penembak handal tapi, jika berhubungan dengan peledak dia termasuk gila," Resah Ebner sampai terus menelfon Moa tapi tak di angkat.


Zhen diam. Kebisuannya adalah salah satu bentuk pengendalian diri atas tindakan heroik Moa.


Tak lama berselang, mobil yang di kemudikan asisten Jio sudah sampai ke peternakan kuda yang termasuk luas dengan hutan lebat di sekeliling tempat ini.


Asisten Jio memelankan laju kendaraan seraya melihat kiri kanan dimana ada lapangan rumput hijau luas berpagar di kiri kanan mereka.


"Ponselnya ada di sekitar sini, tuan!"


"Terus maju!" Titah Zhen membuka kaca jendela mobil.


Mata mereka memindai permukaan jalan yang hanya bisa di lalui satu mobil. Semakin masuk ke dalam mereka di suguhkan oleh kandang-kandang kuda yang berderet rapi dengan tumpukan jerami di beberapa tempat.


"Berhenti!!" Suara Zhen membuat asisten Jio menginjak rem.


Mobil berhenti dan pandangan mereka tertuju pada Zhen.


"Tuan!"


"Itu jejak ban mobilnya!" Ucap Zhen melihat ke arah tanah kering yang samar-samar menunjukan bekas ban mobil yang masih baru.


"Bagaimana kau tahu jika itu ban mobil Moa? Bisa saja mobil para pekerja di sini." Ebner tak percaya.


"Jioo!!" Panggil Zhen tak peduli pada Ebner yang di buat emosi.


Asisten Jio kembali melajukan mobilnya mengikuti arahan Zhen yang benar-benar teliti mengantar mereka ke gudang pakan kuda yang bertingkat ke atas.


"Kalian turun. Susuri bangunan ini!"


"Tuan! Kau tak bisa di tinggal sendirian," Jawab asisten Jio menatap Zhen dari kaca spion namun ekspresi wajah beku itu membuatnya tak lagi bicara.


Ebner sudah turun lebih dulu di ikuti asisten Jio.


"Keluarkan kursi rodaku!"


Asisten Jio tak bisa menolak. Ia segera mengeluarkan kursi roda Zhen dari bagasi mobil lalu membantu pria itu keluar.


"Tuan! Saya akan kembali secepatnya."


"Cari dia sampai di temukan!" Titah Zhen tak peduli tentang dirinya.


Asisten Jio mengangguk. Setelah memposisikan Zhen secara aman, ia segera pergi mengitari bagian luar bangunan ini sedangkan Ebner sudah lebih dulu berkeliling.


Tinggallah Zhen sendirian. Matanya melihat ke arah jalan yang tadi mereka lalui sampai memperkirakan bagaimana proses mobil itu bisa masuk ke sini.


"Jejaknya menghilang di sekitar sini. Ponsel Moa juga ada di titik yang sama. Tapi, dimana mobil itu?!" Gumam Zhen melihat tak ada bekas kerusakan apapun di sekitar gudang ini.


Zhen memeriksa bagian depan gudang dengan kursi rodanya yang di desain khusus memudahkannya bergerak.


Dari pengamatan jeli Zhen, ia melihat pintu gudang ini cukup lebar untuk di lalui mobil dan jejak ban yang tadi hilang kembali ia lihat.


"Di dalam," Gumam Zhen segera mendorong pintu kayu itu hingga deretan kotak jerami dan peralatan peternakan langsung menyapanya.


Sebuah ruangan lumayan luas tapi yang menjadi perhatian Zhen adalah beberapa kotak jerami yang berantakan di lantai menuju ruangan lain di dalam sana.


"Moa!" Gumam Zhen tak berpikir dua kali untuk membawa kursi rodanya masuk.


Gudang ini luas dan bertingkat. Ada beberapa tangga menuju lantai atas berbahan kayu dan selebihnya dinding yang terbuat dari tumpukan jerami kering.


"Menyerahlah!!"


Suara seseorang yang familiar terdengar di telinga Zhen yang ada di balik dinding jerami ini.


"Menyerah dan bantu aku membebaskan putriku!"


Zhen bergerak ke arah pinggir pembatas dinding jerami dan melihat ke arah asal suara.


Zhen terkejut sesaat kala melihat Moa yang bersandar ke mobil di kelilingi oleh para pria berbadan kekar seperti pengawal dan di hadapannya ada seorang pria paruh baya yang sangat Zhen kenal.


"Dario!" Geram Zhen dengan kedua mata berkobar amarah.


Yah, yang sekarang mengepung Moa adalah Dario ayah kandung Cellien yang kemaren berselisih dengan Zhen di dapartemen kepolisian.

__ADS_1


Moa terlihat baik-baik saja bahkan pose wanita itu membuat siapa saja jengkel. Kedua tangan terlipat di depan dada seraya bersandar ke body mobil yang tadi ia kendarai seakan tak ada rasa takut sama sekali.


"Jadi kau yang menyewa jasaku?" Tanya Moa beralih memelintir ujung rambutnya dengan wajah cantik santai nan angkuh.


"Yah, tapi kau justru berkhianat padaku!" Tuan Dario emosi.


"Siapa yang berkhianat, Hm?" Tanya Moa tersenyum nakal dengan satu alis terangkat.


Tuan Dario diam. Ia sangat yakin Moa tak bisa lari dari sini apalagi, peledak yang tadi ada di mobil sudah di tempelkan ke punggungnya.


"Nyali-mu sangat besar. Tapi, sangat di sayangkan kau akan mati disini jika tak menuruti perintahku."


"Ouhh, aku sangat takut," Desis Moa pura-pura bergidik lalu ia tertawa terbahak membuat para bawahan tuan Dario saling pandang merasa Moa tak normal.


"Ayolah! Kau pikir dengan uang yang kau kirim padaku itu cukup? Jangan terlalu banyak bermimpi, tua bangka!"


"Kauu.."


Para bawahan tuan Dario nyaris ingin menyerang Moa tapi terhenti kala tangan tuannya sudah terangkat pertanda berhenti.


Dario menatap Moa intens. Dari informasi yang ia dapat sebelum menyewa MAWAR PUTIH saat itu, Moa sudah menyelesaikan misi sebanyak 20 kali tanpa gagal. Wanita ini tak bisa di remehkan.


"Berapa uang yang kau mau?"


"Kau ingin membayar ku lagi?" Tanya Moa dengan binaran serakah terpancar di matanya.


Zhen yang melihat dari jauh tentu saja mengepal. Raut wajah dingin dan terlihat tak suka melihat Moa begitu rakus.


"Katakan! Apa yang kau mau?" Tanya tuan Dario.


"Emm..seluruh hartamu, bagaimana?"


"Tuan!! Dia sudah keterlaluan!!" Sambar salah satu bawahan tuan Dario yang panas melihat keangkuhan Moa.


Melihat itu Moa justru semakin gencar membuat ulah.


"Jika tak sanggup, aku tak memaksa. Lagi pula, Babi jantan itu memang lebih kaya darimu," Santai Moa memainkan ujung kuku cantiknya yang tak sepanjang dulu lagi.


"Kau bisa meminta yang lain. Akan-ku berikan!"


"Yang lain?" Gumam Moa berpikir. Ia berjalan mondar mandir di sekitar mobil.


"Kalau begitu, berikan aku uang 10 kali lipat dari yang kau transfer padaku!"


"10 kali lipat???" Para bawahan tuan Dario yang belum pernah melihat uang sebanyak itu jadi pucat.


"Yah, aku rasa itu mudah untuk orang seperti tuan kalian!" Imbuh Moa beralih memandang tuan Dario dengan sangat licik.


Pria paruh baya itu cukup lama terdiam. Dari sorot matanya, Moa sadar jika pria ini tak sebodoh itu memberinya 10 milyar dolar tapi Moa tetaplah belut yang lincah.


"Baik. Aku setuju!"


"Kirim sekarang!"


"Selesaikan tugasmu maka akan ku kirim!" Jawab tuan Dario membuat Moa membelo jengah.


Ucapan pria ini mengingatkannya pada Zhen dan ia agak kesal.


"Baiklah, tak masalah!"


"Sekarang kau.."


"Tapi,..."


Moa menyela kalimat tuan Dario lalu berjalan lebih dekat hingga keduanya bisa menatap lekat satu sama lain. Bukan posisi intim tapi lebih pada aura kesepakatan.


"Aku ingin tanya satu hal!"


"Aku akan menjawabnya," Gumam tuan Dario terlihat terkesima dengan kecantikan Moa yang mengulur kedua tangannya ke bahu pria itu.


Zhen yang ada di belakang sana benar-benar sudah mendidih dan meledak-ledak di tempat.


"Kenapa kau begitu ingin melenyapkan babi jantan itu?"


"Dia sudah memenjarakan putriku dan menghina keluarga kami," Jawab tuan Dario geram tapi ekspresi wajahnya melemah saat Moa mengusap dadanya sensual.


"Kau memang sangat sempurna. Tak hanya cantik tapi juga mematikan," Desisnya terhanyut.


"Tentu. Hanya saja, aku yakin tak hanya itu, bukan?" Moa terlihat begitu mahir memikat seseorang.


"Menurutmu?"

__ADS_1


"Ntahlah, terkadang aku berpikir jika kau punya niat lain," Gumam Moa membuat tuan Dario tersenyum penuh kekaguman.


Kedua tangannya terangkat ingin menyentuh pinggang Moa yang menepis anggun namun tak menghilangkan sensasi menggodanya.


"Katakan padaku, siapa tahu aku akan bersemangat, hm?"


"Kau sangat pintar. Dengan menghabisi Zhen maka hartanya akan di wariskan pada Zoe. Jika begitu, kami akan berpeluang untuk ambil bagian, bukan?!"


Moa seketika tertawa bahagia diikuti tuan Dario yang senang saat Moa menyukai itu. Tapi, Zhen yang mendengar alasan tuan Dario justru merasa sangat muak.


"Aku suka itu. Dia juga pria yang menyebalkan dan pantas segera di kubur."


"MOA!" Geram Zhen menggertakan giginya terkatup rapat.


Moa kembali menjaga jarak dengan tuan Dario yang sudah terpengaruh akan pesonanya. Pria paruh baya itu berjalan mendekat sampai Moa tertahan di body mobil.


"Kau sangat cantik dan aku siap melayani-mu!"


"Apa kau cukup kuat?" Tanya Moa dengan wajah menggoda tuan Dario yang semakin terpancing.


Saat keduanya benar-benar dekat, Zhen yang melihat itu sudah tak tahan dengan gebuan emosi yang meluap-luap sekaligus rasa panas membakar jiwanya.


"MOAAA!!!" Bentak Zhen menyita perhatian mereka.


Tuan Dario terkejut melihat Zhen ada di belakang sana sementara Moa justru mendengus.


"Babi sialan!" Umpat Moa kala bawahan tuan Dario bergerak ke arah Zhen.


Tak ingin rencananya gagal, Moa segera menarik tengkuk tuan Dario dan di hantamkan ke kaca mobil.


"Kau.."


"Maaf, kau bukan tipe-ku," Santai Moa mengedipkan satu matanya pada tuan Dario yang syok.


"Kau!! Kau menipuku!!"


"Tidak juga," Jawab Moa tersenyum kecil tapi eskpresi wajahnya sontak berubah sangat cepat menjadi datar.


"Zoe adalah calon menantuku. Dan kau tak PANTAS menyebutnya!"


Kaki jenjang Moa terangkat menerjang perut tuan Dario yang terhantam na'as ke body mobil.


"B..bunuh mereka!" Lirihnya tak mampu berdiri lagi.


Para bawahan tuan Dario sudah mengepung Zhen yang juga tak bisa di remehkan. Ayunan kaki dan tangan yang mengarah padanya bisa di telak mundur dalam sekali tangkisan tangan.


"Sisakan untukku!!"


Moa mengambil balok kayu yang ada di samping kotak jerami dan menghantamkan benda itu buas ke area kepala bawahan tuan Dario.


"Kau jangan berpura-pura!!" Emosi Zhen pada Moa seraya memelintir keras salah satu tangan yang tadi ingin memukulnya hingga patah.


Sementara Moa tak menyisakan satupun bawahan tuan Dario yang bertebaran di lantai berdebu ini.


"Ayolah! Jangan terbawa perasaan," Jengah Moa berbalik menatap Zhen yang memandangnya penuh amarah.


"Kau memang sangat MURAHAN!!"


"Murahan seperti ini, tak pernah di sentuh laki-laki!" Geram Moa melempar balok kayu asal tapi Zhen tak percaya itu.


Keduanya terlibat pertengkaran sampai Zhen melihat tuan Dario mengeluarkan pistol yang mengarah pada Moa.


"Matilah kalian berduaa!!!" Teriaknya melepaskan tembakan keras.


Zhen segera menarik lengan Moa jatuh ke atas pangkuannya menghindari peluru yang langsung mengenai dinding jerami.


Berada di pangkuan Zhen membuat Moa terdiam karena kedua mata mereka sudah bertemu bahkan tangan Moa refleks memeggang bahu kokoh itu.


Untuk sesaat keduanya mematung terkunci dengan pandangan masing-masing. Moa meremas bahu Zhen karena semakin lama di pandang maka keduanya semakin hanyut terlalu jauh.


Namun, mata Moa tak sengaja melihat tiga dron yang terbang di atas langit-langit bangunan ini.


"Babi!"


"Belut! Kau.."


"Menunduk!!!" Teriak Moa mendorong kursi roda Zhen jatuh hingga keduanya terguling di lantai tepat di balik susunan kotak-kotak kayu jerami di belakangnya di iringi dengan suara ledakan dari arah mobil tadi.


Zhen sontak langsung memeluk Moa dan menyembunyikan kepala wanita itu ke dalam belahan jasnya.


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2