Impoten Husband

Impoten Husband
Kecurigaan Moa


__ADS_3

Pagi ini Ebner datang ke apartemen karena panggilan dari Moa. Ebner cukup syok tapi, Moa berjanji akan menjelaskan padanya saat sudah bertemu.


"Apa yang terjadi?" Tanya Ebner sudah di biarkan masuk oleh pengawal menemui Moa di ruang makan.


Moa terlihat akrab bercengkrama dengan baby Zoe bahkan, ia duduk di samping seorang pria muda dewasa yang tampan dengan wajah mulus namun tegas itu.


"Kau duduk dulu!"


"Moa!" Gumam Ebner berjalan mendekati kursi Moa.


Zhen hanya melirik dari ekor mata dan tetap melanjutkan makan sepiring sub obat dan menu sarapan paginya.


"Moa!" Suara rendah Ebner tapi waspada pada Zhen.


"Duduk dulu. Apa kau sudah makan?"


"Moa! Ayo bicara!" Ajak Ebner benar-benar tak tenang menatap Moa.


Moa sangat cantik dengan balutan celana panjang berbahan denim dan bandeau di bagian dada menyempurnakan blazer santainya.


"Duduklah dulu!"


"Kau.."


Moa menarik kursi di dekatnya hingga Ebner dengan pasrah duduk walau ia masih tak mengerti akan semua ini.


"Baiklah, sebelum membahas hal yang membosankan lebih baik kita makan."


"Makaan!!" Seru baby Zoe seperti biasa stand-by di atas meja dengan bubur dan potongan buahnya.


Moa tersenyum kecil kembali duduk dan senyum itu dapat di lihat oleh mata Ebner yang seketika termenung.


"Ini! Kau pasti hanya makan roti tadi-kan?" Tebak Moa mengambilkan piring dan mengisinya dengan makanan berat.


"Seperti biasa."


"Makanlah! Ini makanan orang kaya, kau jangan melewatkan kesempatan," Ucap Moa menyerahkan piring itu dengan lirikan mata menyindir pada Zhen.


Zhen sama sekali tak terpengaruh. Ia masih makan dengan tenang walau memang agak risih melihat Ebner.


"Bisa jelaskan sekarang?"


"Seraya makan!"


Ebner mengangguk. Moa hanya minum segelas jus apel membiarkan Ebner makan beberapa suap dulu dan barulah ia memulai.


"Rencana berbalik!"


"Maksudmu?" Dengan kunyahan halus menatap heran Moa lalu melirik Zhen.


"Aku sudah putuskan untuk bekerjasama dengan Zhen untuk.."


"Ikut aku!"


Moa tersentak saat Zhen berdiri dan menarik lengannya menjauh dari meja makan. Zhen hanya diam memandang datar dan kembali fokus pada makananya.


"Moa! Kau jangan main-main."


"Kapan aku mau bermain?!" Tanya Moa bersidekap dada berdiri di sudut ruang makan.


Ebner sejenak melihat Zhen yang memunggungi mereka lalu beralih memeggang kedua bahu Moa penuh keraguan.


"Moa! Kau tak bisa bekerjasama dengan pria seperti itu."


"Kenapa? Setelah-ku lihat dia tak terlalu buruk. Uang-nya banyak," Jawab Moa santai menepis halus kedua tangan Ebner dari bahunya.


Mendengar jawaban Moa, rasa cemas dan khawatir kian membumbung tinggi bahkan ia jadi resah.


"Ini bukan soal uang. Dia punya banyak musuh dan masalahnya tak main-main. Jika kita ikut campur maka, akan terseret lebih jauh."


"Ebner! Bayarannya sangat besar, selain itu dia juga punya pengaruh luas. Jika nanti ada masalah aku bisa memanfaatkan dia," Jawab Moa berusaha meyakinkan Ebner yang sejak pertama benar-benar kekeh tak ingin Moa berurusan dengan Zhen.

__ADS_1


"Moa! Dia bermasalah dengan ayahnya sendiri dan tak itu saja. Zhen juga penerus Group Ming yang merampas pasar luas di wilayah bisnis internasional dan kau tentu tahu jika orang-orang terdekatnya akan terkena masalah besar dan.."


"Kita tak perlu ikut campur dengan urusan keluarga mereka. Aku hanya menjalankan misiku saja," Sela Moa benar-benar sudah nekat.


Melihat Moa sangat bertekad tentu saja Ebner merasa gelisah.


"Karena uang?"


"Hm, apalagi?!" Santai Moa seperti tak ada beban.


Namun, Moa terdiam saat Ebner memeggang kedua bahunya. Moa melihat pancaran kekhawatiran sekaligus ketegasan di mata Ebner.


"Tak perlu sampai seperti ini. Kita tak kekurangan uang dan aku berjanji akan mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk kau dan Noah."


Ucapan Ebner membuat kedua mata Moa mengerijab. Zhen yang mendengar perkataan Ebner seketika menyunggingkan senyum remeh seakan tak percaya itu.


"Moa! Aku mohon, kali ini turuti aku. Ayo kita pulang!"


"Ebner!" Lirih Moa agak malas tapi Ebner tak mau melepas genggamannya ke bahu Moa.


"Aku serius. Noah sangat menantikan mu. Uang, aku akan mencarinya. Kau.."


Tiba-tiba saja terdengar suara sendok yang jatuh. Keduanya menoleh tertuju pada Zhen yang meraih sendok yang jatuh ke lantai memecah perdebatan mereka berdua.


Setelah itu, Moa kembali bicara.


"Ebner! Aku tak bisa membebankan semuanya padamu. Biaya rumah sakit dan pengobatan Noah adalah yang utama dan kau.."


"Moa!" Lirih Ebner dengan tatapan lemah tapi Moa menggeleng.


"Tidak. Dia putraku dan aku tak bisa lepas tanggung jawab!" Tegas Moa segera kembali ke meja makan.


Ebner menghela nafas sesak dengan berat hati mengikuti Moa.


"Sesuai rencanamu tadi malam. Kita akan membuat rekayasa pembunuhan."


"Hm," Gumam Zhen hanya melirik acuh tapi wajahnya serius.


"Jika kau tak ingin ikut aku tak memaksa. Kau.."


"Bicaramu sudah semakin melantur," Ketus Ebner tampak marah saat Moa mengatakan itu.


Moa tersenyum kecil sementara Zhen memutar bola matanya malas.


"Aku akan ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Kalian bisa ambil posisi!"


"Aku mengerti," Jawab Moa segera pergi keluar ruang makan untuk bersiap.


Tinggallah Zhen, Ebner dan baby Zoe yang justru menatap Ebner dengan rona penasaran pada jambang tipis pria itu.


"Setelah ini selesai, jangan menekan Moa lagi!"


"Aku tak punya urusan denganmu," Jawab Zhen angkuh mengusap mulutnya dengan serbet tanpa mandang Ebner yang mendidih.


"Kau siapa dan seberapa besar kekuasaanmu tak akan bisa menyentuh, Moa! Dia segalanya bagiku!"


"Aku tak peduli."


Kali ini jawaban Zhen benar-benar membuat Ebner emosi. Kedua tangannya mengepal dengan mata mengigil marah.


"I..tu.."


Suara imut baby Zoe menyita perhatian Ebner yang menoleh.


"Kau punya putri yang cantik. Aku rasa, ISTIRMU juga sama," Tekan Ebner sontak membuat ekspresi wajah Zhen berubah sebeku mungkin.


Ebner merasakan perubahan aura di disini tapi jika menyangkut Moa, ia tak akan segan melawan siapapun.


"Ebneer!!"


Suara Moa memanggil. Ebner bergegas pergi tapi ia sukses mengusik ketenagan Zhen yang tak suka putrinya di bawa-bawa.

__ADS_1


"Kau ingin mencari masalah denganku?!" Gumam Zhen meremas kepalan tangannya sendiri.


.....


Moa yang sudah bersiap dalam perjalanan turun ke lantai bawah seketika di buat heran dengan aroma belerang yang cukup menyengat di beberapa sudut.


"Ebner!"


"Apa?" Tanya Ebner menatap wajah cantik Moa yang masih memakai pakaian sama tapi ia berkacamata.


"Kau mencium sesuatu?"


Ebner mengendur angin di udara seraya melewati lorong menuju lift sudah keluar dari ruangan Zhen.


"Aroma belerang?"


"Yah, samar-samar tercium di lantai ini," Gumam Moa menunggu di depan lift yang tertutup.


Ebner melihat kiri kanan. Kedua tangannya meraba dinding beton berlapis kaca di samping mereka dan Moa berjongkok mengusap lantai dengan dua jari.


"Debu?" Ebner berjongkok di dekat Moa kala dua jari lentik itu tertempel debu putih.


"Ternyata, apartemen sebesar ini juga sangat kotor," Ledek Ebner tapi wajah Moa serius.


"Bukan!"


"Lalu?"


"Ini belerang gunung," Jawab Moa membuat Ebner terdiam.


Pintu lift terbuka dan sontak mereka menatap kedepan. Seorang pengawal yang keluar memakai jas lengkap dan kacamata hitam melewati mereka.


Mata Ebner dan Moa mengikuti arah kepergian pria itu sampai Moa melihat telapak sepatu pria itu juga di penuhi serbuk yang sama.


"Dia pengawal disini?"


"Telapak sepatunya ada serbuk belerang."


"Moa! Serbuk ini jatuh di lantai dan siapapun yang menginjaknya pasti akan membekas di telapak sepatu mereka kau.."


Moa tanpa mempedulikan ucapan Ebner segera bangkit dan berjalan cepat mengejar pria tadi sudah berbelok terhalang dinding penghubung.


"Kemana dia?!" Batin Moa saat sudah tiba di depan pintu ruangan Zhen yang di jaga dua pengawal lain.


"Nona! Ada masalah?" Tanya mereka pada Moa yang tampak mencari seseorang.


"Apa tadi ada pengawal yang lewat disini selain kalian?"


Sebelum menjawab mereka saling pandang dan menggeleng.


"Pagi ini kami yang bertugas, nona! Sedari tadi tak ada pengawal lain yang naik ke sini."


Jawaban mereka sungguh membingungkan Moa. Jelas-jelas pria itu tadi mengarah ke sini dan lantai ini khusus untuk Zhen. Tak mungkin ada tempat lain lagi.


"Dimana dia?"


"Lenyap," Gumam Moa menatap ke arah pintu masuk yang di jaga dua pengawal ini.


Moa memindai lantai lebar yang ada di hadapan mereka lalu belokan lantai menuju tangga darurat dan letaknya sebelum pintu ruangan.


"Moa! Kita pergi sekarang?"


"Yah," Jawab Moa kembali ke arah lift yang ada di belokan sebelah kiri. Lantai apartemen ini memang cukup luas dan banyak seluk-beluk ruangan yang tak begitu Moa kenal.


Dari arah tangga darurat sana, tampaklah seorang pria yang tadi di cari Moa tengah bersembunyi di atas tangga darurat.


Keringat membanjiri leher dan degupan jantungnya membuktikan betapa gugup ia saat Moa tadi mencarinya.


"Wanita ini sangat merepotkan. Dia bisa saja menghancurkan rencana kami," Gumam pria itu memberi pesan pada rekan-rekannya agar mengurus Moa lebih dulu.


...

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2