Impoten Husband

Impoten Husband
Pesan misterius


__ADS_3

Mereka sudah ada di ruang pemeriksaan medis yang tampak sangat lengkap. Zhen sudah di baringkan ke bangkar yang masuk ke sebuah mesin sensor berbentuk tabung sedangkan dokter Petter melihat dari layar monitor.


Moa ada di dekat dokter Petter sementara asisten Jio jangan harap akan sudi berdekatan dengan Moa. Pria jangkung berkumis tipis itu tetap kokoh berdiri di dekat kursi roda Zhen tak jauh dari mesin sensor.


"Implan tulang pada kedua kaki tuan sudah bisa beradaptasi dengan cepat. Saya tak menyangka akan seperti ini padahal sebelumnya kedua kaki tuan sangat parah."


"Lalu, apa dia akan bisa berjalan?" Tanya Moa penasaran tapi cukup berharap.


"Kemungkinannya lebih besar dari saat pemeriksaan sebelumnya. Kita akan lakukan pengujian."


Moa mengangguk santai. Bangkar Zhen sudah keluar otomatis hingga dokter Petter berjalan mendekati pria gagah itu.


"Bagaimana perasaan anda? Tuan!"


"Kedua kakiku nyeri," Jawab Zhen di bantu duduk di atas bangkar tak bersepatu.


Zhen melirik Moa datar tapi keduanya sama-sama tak berminat menyapa.


"Implan tulang yang di pasang di kedua kaki tuan itu beradaptasi dengan cepat. Untuk menahan bobot tubuh, saya rasa tak ada kendala tapi, sekarang saya akan menguji keaktifan saraf-saraf kaki tuan lebih dulu."


Dokter Petter menaikan celana kerja Zhen sampai ke lutut hingga betis kekar berbulu gagah itu membuat Moa sedikit malu memandang.


"Saya akan mencubit sedikit dan jelaskan, apa ada yang di rasakan?!"


"Hm."


Dokter Petter mencubit bagian betis Zhen tak begitu kuat tapi tak ada reaksi apapun. Dokter Petter menambah tenaga hingga kulit Zhen yang putih agak merah dengan gelenjar nyeri sedikit merambat.


"Bagaimana tuan?"


"Hanya sedikit nyeri."


"Tuan bisa gerakan jemari kaki secara pelan?" Pinta dokter Petter dan Zhen melakukannya dengan baik.


Ia berusaha menggerakan jemari kakinya sampai samar-samar mata jeli dokter Petter bisa menangkap gerakan halus itu.


Namun, siapa sangka Moa justru tak sabaran. Ia melesat ke dekat bangkar dan mencabut tiga helai bulu kaki Zhen yang terkejut menyentak kakinya.


"Kauuu!!!"


"Moaa!!" Geram asisten Jio tapi Moa menyeringai menunjukan tiga helai bulu kaki kokoh Zhen sudah ada di tangannya.


"Tes-mu terlalu lembut. Lihat, saat-ku tarik bukankah kakimu merespon?"


"Kauu!!" Asisten Jio benar-benar naik pitam. Namun, saat melihat wajah dokter Petter berbinar seperti menemukan harapan jadilah rasa marah itu di pendam.


"Tuan! Kaki anda beraksi spontan. Ini kemajuan yang luar biasa di luar dugaan!"


"Benar, bukan?! Tanganku memang ajaib," Timpal Moa menunjukan wajah bangga akan diri sendiri.


Zhen hanya diam. Keterkejutan yang di rasakan tadi secepat mungkin berubah jadi tenang.


"Berapa lama lagi aku akan seperti ini?"


"Jika tuan selalu mau melatih saraf dan otot kaki pasti bisa cepat. Ini hanya beberapa bulan dan sudah mendapatkan hasil yang signifikan," Jelas dokter Petter ikut bahagia akan hal itu.


Zhen hanya menghela nafas. Bukan berarti ia tak senang tapi, kemajuan ini belum cukup untuknya.


"Tuan! Saya akan selalu membantu tuan." Asisten Jio tahu pikiran Zhen yang tak sabaran.


"Baiklah. Saya akan membuat rekap medis untuk hari ini dan beberapa metode perawatan di rumah. Tuan bisa membiasakan diri lebih dulu."


Dokter Petter mengambil hasil pemeriksaan di monitor tadi lalu pergi keluar ruangan untuk membuat jadwal dan beberapa metode sederhana.


Tinggallah Moa dan dua pria berkewarganegaraan China ini.


"Pergi ke perusahaan dengan kondisi seperti ini akan memancing banyak kesempatan untuk musuhku," Gumam Zhen merasa waktu kesembuhannya terlalu lama padahal itu sudah sangat cepat.


"Tuan! Saya akan mewakili tuan datang ke perusahan. Mereka.."


"Jika seperti itu, mereka akan semakin menganggap jika Zhen benar-benar sekarat," Sela Moa mengerti kegusaran Zhen yang terpendam.

__ADS_1


Tak ada seorang selain pihak rumah sakit, kepolisian dan orang terdekat Zhen-lah yang tahu soal kelumpuhan itu. Zhen benar-benar menjaga jika kondisinya tak tersebar bebas karena akan berdampak lebih buruk dari ini.


"Jika terus seperti ini maka, perusahaan akan di ambil alih."


"Tunggu!" Moa menyela dan duduk di kursi roda Zhen yang tengah ada di atas bangkar. Mereka saling berhadapan tanpa ada segan dari Moa tapi menyulut amarah asisten Jio.


"Itu kursi roda tuankuu!!"


"Diamlah. Aku tak mengajakmu bicara," Jengkel Moa mengacuhkan asisten Jio yang mengepal.


"Zhen! Kau hanya terlalu berlebihan menganggap kondisimu saat ini. Apa salahnya kau tunjukan pada mereka jika dalam keadaan lumpuh-pun posisimu tak bisa di gantikan?!"


"Kau belum paham masalah keluarga Ming. Di perusahaan atau kediaman, yang kuat akan berkuasa dan melihat tuanku seperti ini, mereka akan melakukan penyerangan besar," Jelas asisten Jio memahami Zhen.


Tapi, Moa tak berpikir begitu. Ia punya prinsip dan kepercayaan diri itulah yang membuat Moa hidup sampai saat ini.


"Baik jika begitu. Tapi, aku tanya padamu sekarang. Apa kau merasa keadaanmu menyedihkan?"


Zhen diam setia dengan wajah tanpa ekspresi itu tapi asisten Jio yang menyahut.


"Kau.."


"Diam! Aku bertanya pada babi ini," Ketus Mos tak bisa di kalahkan oleh asisten Jio.


"Jika kau merasa lemah dan tak mungkin bisa bertahan jika dalam keadaan seperti ini maka teruslah bersembunyi sampai mereka membuat rencana lebih detail lagi. Dan sampai saat kau sembuh, mereka sudah menjalin konspirasi besar dan siap melawan mu."


Kalimat rinci dan berani Moa sukses membuat Zhen mematung. Seketika pikirannya di buat terbalik dan kacau namun ada pertimbangan yang hebat.


"Jujur. Di mataku kau sangat berbahaya. Tak peduli dengan kedua kakimu di kursi roda yang penting otakmu masih berjalan. Buktinya tak ada yang bisa membunuhmu sampai sekarang, bukan?!" Tanya Moa membangkitkan semangat Zhen yang semula terjerumus pada kelumpuhannya.


Zhen mulai memandang Moa berbeda tapi ada kekaguman di balik tatapan datarnya. Moa yang sadar itu sontak tersenyum penuh kemenagan.


"Bagaimana? Apa aku sudah puitis?"


"Cih," Decih Zhen membuang pandangan ke arah lain.


Tapi, aura wajahnya sudah lebih ringan dan tak begitu memikirkan soal kelumpuhan lagi.


"Tak masalah. Selagi aku ada, siapa yang akan berani menyentuhmu?!" Menaik turunkan alisnya menggoda Zhen yang tak menunjukan reaksi tapi ia memendam.


"Ini, tuan! Semuanya sudah rinci dan tuan tak perlu melakukan pemeriksaan setiap minggu lagi. Kita akan pantau dari bulan depan." Menyerahkan berkas-berkasnya pada Zhen.


Asisten Jio mengambil alih semua data itu sampai tersedak saat Moa angkat suara.


"Bagaimana dengan bagian tengahnya?"


"Tengah?" Gumam dokter Petter agak heran tapi segera mengerti dengan senyum gelinya.


"Masalah organ reproduksi tuan sebenarnya belum bisa kami simpulkan. Hanya saja, tuan harus melatih aktifitas seksual mandiri karena itu cukup rumit."


Zhen hanya mendengar tapi Moa yang lebih serius. Ntah apa yang ada di kepala belut betina ini sampai begitu rinci menanyakan keadaan alat vitalnya.


"Baiklah! Ada lagi yang perlu saya lakukan untuk tuan hari ini?" Tanya dokter Petter sopan.


"Tidak."


"Ya sudah, semuanya sudah saya tulis di rekap medis tuan dan semoga akan jauh lebih baik."


Zhen hanya mengangguk datar. Moa bangkit dari duduknya sigap membantu menurunkan kedua kaki Zhen untuk belajar berdiri dulu.


"Tenang saja. Selama kau mau membantuku semua urusan akan mudah," Bisik Moa memang bergerak hanya ada maunya.


Dokter Petter tersenyum kecil. Kedua tangan Zhen masih memeggang pinggir bangkar dengan kedua kaki menjuntai ke permukaan lantai.


"Hati-hati. Jika jatuh kau akan menimpaku."


"Diamlah," Gumam Zhen membiarkan Moa memeggang bahunya. Zhen mencoba berdiri tapi kakinya tak terbiasa hingga nyaris jatuh.


"Tuaan!" Asisten Jio tersigap tapi Moa sudah lebih dulu memeluk Zhen cepat agar tak terdorong ke depan.


Kedua dada bulat sekang Moa yang terbalut kaos pendek sebatas pusat itu membenamkan wajah tampan Zhen dengan posesif. Aroma mawar putih yang harum dan keempukan dua aset berharga Moa ini benar-benar membuat siapapun nyaman.

__ADS_1


Empuk, kenyal dan padat. Pantas baby Zoe nyaman tidur di dada Moa karena lebih menenagkan, pikir Zhen tiba-tiba jadi mesum.


"Ehemm!" Dehem asisten Jio menyadarkan mereka berdua.


Moa kembali berdiri stabil sementara Zhen kilat menormalkan wajahnya yang tadi terhanyut.


"Kursi rodaku!" Ucap Zhen seakan tak terjadi apapun.


Asisten Jio membawa kursi roda Zhen mendekat tapi kedua matanya mengintimidasi Moa yang acuh.


"Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Wanita licik."


Zhen tak menggubris umpatan asisten Jio karena rasanya ia juga belum lupa akan moment ambigu tadi.


Drett..


Ponsel Zhen berdering. Ada panggilan dari nyonya Ming yang tiba-tiba menelfon.


"Ada apa? Mom!"


"Zhen! Dimana Moa?"


Pertanyaan itu membuat Zhen melirik Moa yang masih berdiri di dekat bangkar didudukinya.


"Dia disini. Ada apa?"


"Soal pernikahan kalian akan di adakan besok."


Sontak Zhen terkejut segera menoleh pada Moa yang menampilkan senyum santai. Senyuman yang seakan-akan terencana.


"Pernikahan?"


"Yah. Moa sudah setuju, bukan?! Mommy juga akan menyiapkan pernikahan kalian di altar besok. Ingat! Jangan menolak lagi."


Zhen mematikan sambungan dan tak percaya ini. Moa bertindak terlalu cepat bahkan sampai menghubungi mommy nya.


"Kau gila?"


"Menurutmu?" Tanya Moa masih menampilkan senyum yang sama.


"Aku masih dalam proses bercerai."


"Aku tak peduli. Kesepakatan dan kenyataan hidup itu berbeda. Urus masalahmu dan aku hanya menjalankan tugasku," Jawab Moa berjalan pergi.


"Aku sudah menjalankan tugaskuu!! Sekarang giliranmu!!" Seru Moa dari luar pintu.


Zhen diam tapi mulutnya tak bisa berkata-kata banyak. Mengatur wanita seperti Moa memang butuh kesabaran yang tinggi.


"Tuan! Pikirkan dua kali. Tuan mau hidup dengan wanita gila itu?! Bisa saja hari-hari tuan akan lebih buruk." Asisten Jio bertambah tak suka.


"Tapi, menurut saya nona Moa itu baik. Pengetahuannya soal medis juga lumayan membantu."


Dokter Petter menimpali tapi segera diam kala asisten Jio memandangnya sinis.


.....


Sementara Moa. Ia ada di depan rumah sakit melihat ke sekeliling banyak pengawal Zhen dan lingkungan ini aman.


Namun, Moa selalu merasa jika mereka ini sedang di awasi. Dia rasa Zhen juga tahu itu tapi, kenapa Zhen tak bergerak?!


"Aku harus lebih berhati-hati. Tak bisa mengungkapkan keadaan Noah secara jelas pada siapapun. Mereka bisa berbalik menyerang putraku," Gumam Moa dengan wajah serius.


Drett..


Satu pesan masuk ke ponsel Moa. Wanita cantik bermata emerald indah menajam kala melihat ada nomor asing yang masuk ke layar ponselnya.


KENAPA KAU IKUT CAMPUR?! TINGGALKAN KELUARGA MING!


Pesan ini seperti di kirim oleh seseorang yang mengenal Moa. Tapi, apa mungkin Ebner?


Biasanya pria itu selalu terus terang dan tak mungkin dia.

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2