
Operasi berjalan dengan lancar dan Zhen sudah di pindahkan ke ruang rawatnya. Namun, siang ini Zhen tak ingin di rawat di ruangan khusus karena menurutnya luka itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan apalagi, ia ingin segera bergabung dengan anak-anak dan istrinya.
"Tuan! Tapi, luka operasi anda masih basah dan.."
"Hanya luka kecil, tak perlu di pikirkan," Jawab Zhen seraya mencabut selang infus di tangannya.
Zhen membuka satu persatu kancing pakaian rawatnya hingga tubuh kekar itu tampak gagah walau ikatan perban di perut masih rapi dan baru.
"Tuan! Ponsel anda semalaman berdering. Nona Moa menelfon tapi saya tak berani mengangkatnya!" Jelas dokter Petter menunduk kala Zhen berganti pakaian.
Walau mereka sesama pria tetap saja, tubuh atletis dan kokoh itu sangat membuat jiwa muda para lelaki iri apalagi dokter Petter sudah berumur.
"Dimana Jio?"
"Asisten Jio setelah mengantar anda ke depan pintu ruang operasi tak lagi terlihat. Pagi ini juga tak ada."
Ucapan dokter Petter menghentikan tangan Zhen yang tengah memakai satu persatu kancing kemejanya.
Raut wajah tampan datar itu tak bisa di tebak sama sekali tapi dokter Petter tak mau ikut campur.
"Kalau tak ada lagi yang tuan butuhkan, saya pamit pergi."
"Hm."
Dokter Petter keluar dengan helaan nafas lega. Zhen duduk di tepi ranjang melipat lengan kemejanya ke siku hingga mempertontonkan lengan kekarnya yang sempurna.
Cukup lama Zhen menatap lurus kedepan dengan tangan merapikan pakaiannya sampai pintu ruangan terbuka memperlihatkan Yoshep.
"Kau tertembak? Kenapa masih hidup? Seharusnya aku punya peluang menggantikan-mu jadi suami Moa," Kelakar Yoshep mendekati Zhen yang hanya melirik datar.
Yoshep duduk di sofa dalam ruangan ini sementara Zhen masih di tepi ranjang dengan eskpresi lebih serius dari biasanya.
"Aku baru pagi tadi mendapat kabar tentangmu. Sepertinya ada yang bosan hidup lagi sampai mengusikmu." Yoshep yang sadar akan suasana hati Zhen.
"Kemana Jio?" Terdengar dingin.
"Jio? Bukankah dia selalu bersamamu bak istri kedua?"
Zhen menatap tajam Yoshep hingga pria manik abu dengan jambang tipis itu terdiam sejenak dan mulai serius.
"Aku tak tahu. Memangnya kenapa?"
"Kau selidiki dengan benar asal usulnya!"
Yoshep tersentak. Asisten Jio selama ini adalah orang kepercayaan Zhen bahkan keduanya sangat dekat. Tapi, kenapa Zhen seperti mencurigai sesuatu?!
"Zhen! Apa maksudmu?"
"Hupent mengatakan ada pengkhianat di sisiku. Aku harus mencari tikus itu," Geram Zhen dengan sorot mata membunuh terpancar ke arah depan.
"Tunggu! Jadi, maksudmu Jio?"
Zhen diam seperti tak percaya dengan itu. Tapi, ntah kenapa ia merasa ada yang di sembunyikan oleh asisten Jio sampai hatinya merasa gelisah dan tak tenang.
"Dia orangku dan aku percaya padanya. Tapi, dia tak pernah semarah itu sebelumnya." Merenung dengan tragedi malam itu.
"Zhen! Jio itu sangat posesif dan begitu peduli padamu. Mungkin dia marah karena kau tertembak dan Hupent juga yang membuat kau kecelakaan."
"Ini berbeda!" Bantah Zhen merasakan jenis dendam dan amarah di mata asisten Jio.
Pria itu selalu patuh dan tak pernah mendahuluinya tapi, malam itu asisten Jio melakukan tindakan sendiri bahkan menembak brutal seperti melampiaskan sesuatu.
"Aku tak ingin dan tak pernah mau mencurigai orangku apalagi dia. Tapi.."
Zhen diam tak bisa melanjutkan perkataanya. Ia sudah menganggap asisten Jio seperti kerabatnya sendiri tapi, jika sampai pria itu berkhianat Zhen tak tahu apa yang akan dia lakukan pada Jio.
"Aku mengerti," Sahut Yoshep paham perasaan Zhen yang sangat menghargai semua orang yang bekerja padanya.
"Aku akan mengirim anggota untuk mengawasi Jio dan mencari keberadaannya. Sekarang, kau fokus pada keluargamu dulu."
"Satu lagi!"
Zhen memikirkan soal baby Zoe. Ucapan Cellien masih terngiang-ngiang di kepalanya dan Zhen menduga jika semua kejadian ini berkesinambungan.
"Jio selalu melarang-ku bertemu Cellien dan mendesak-ku mencari Hupent. Berarti, dia tak ingin aku bicara dengan Cellien sama sekali karena ada yang di sembunyikan."
"Tunggu. Apa maksudmu dengan bicara pada Cellien?" Bingung Yoshep menatap serius Zhen.
"Kemaren dia menelfonku dengan sangat ketakutan memintaku untuk membawa Zoe pergi jauh. Dia seperti takut akan sesuatu dan kala aku ingin ke Amerika, Jio mencegahku. Ada yang aneh disini," Gumam Zhen berpikir jauh.
Yoshep-pun ikut terbawa. Pantas Zhen curiga apalagi sikap asisten Jio saat bertemu Hupent sangat dramatis dan heroik.
"Baiklah. Aku akan mencari latar belakangnya lebih detail. Tapi, kau pastikan dulu kemana dia pergi jika tak di perusahaan."
__ADS_1
Zhen meraih ponselnya menghubungi sekretaris Xiho. Saat panggilan tersambung suara tegasnya langsung mengalun.
"Jio ke perusahaan?"
"Presdir! Sejak semalam asisten Jio tak ada di perusahaan. Pagi ini dia juga tak datang, presdir!" Jelas sekretaris Xiho membuat Zhen dan Yoshep saling pandang.
"Hm. Baiklah! Lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik, presdir!"
Zhen mematikan sambungannya. Yoshep menyandarkan punggungnya ke sofa seperti memikirkan sesuatu.
"Zhen! Aku pikir.."
"Periksa penerbangan di bandara!" Titah Zhen menduga sesuatu.
Yoshep mengangguk segera memeriksa penerbangan atas nama Jio di bandara sedangkan Zhen terlihat menelfon seseorang.
Tapi, tak aktif. Hanya suara operator yang menjawab panggilannya.
"Zhen! Jio mengambil penerbangan umum dari semalam. Dia pergi ke Amerika."
"Shitt! Dia akan membunuh Cellien," Gumam Zhen beralih menghubung Jenderal Mourse.
Tak butuh waktu lama mereka tersambung cepat.
"Presdir! Sudah lama anda tak ke.."
"Cellien! Bagaimana keadaanya? Apa ada yang bertemu dengannya hari ini?" Tanya Zhen mencecer.
"Sepertinya tidak.."
Suara Jenderal Mourse terhenti seperti tengah berbicara dengan seseorang.
"Jenderal! Ada perkelahian di penjara nona Cellien. Dia masuk rumah sakit!"
Laporan itu dapat di dengar Zhen dengan jelas. Hanya Jio yang punya kuasa kedua untuk mengatur semua ini selain dia.
"Jangan sampai wanita itu tiada. Aku butuh informasi darinya!"
"Baik, Presdir!"
Zhen mematikan sambungan dengan wajah semakin beku. Yoshep berdiri menyimpan ponselnya di dalam saku lalu mendekati Zhen.
"Kau tenang saja. Jika dia pengkhianat maka, aku yang akan melenyapkannya!" Menepuk bahu kokoh Zhen loyal.
"Zhen! Keadaanmu sekarang sedang terluka. Jika nanti kau di serang maka tak tahu apa yang akan terjadi."
"Aku tak bisa menunda ini karena menyangkut tentang Zoe!" Tegas Zhen sangat memikirkan putrinya.
Yoshep diam. Ia tahu betapa Zhen begitu menyayangi baby Zoe dan tak akan tenang berdiam diri disini.
"Terserah padamu. Tapi, jika ada sesuatu kau hubungi aku."
"Hm."
"Jangan tinggalkan istrimu lama-lama. Dia akan bosan," Kelakar Yoshep masih sempat menggoda Zhen sebelum akhirnya keluar dari pintu.
Selepas kepergian Yoshep tentu saja Zhen menghela nafas lalu pergi keluar ruangan. Ia berjalan menuju lift ke arah lantai ruang rawat Noah sementara pikirannya melayang jauh.
Benarkah Jio berkhianat? Tapi, apa salahku? Kenapa dia melakukan ini?!
Pikiran Zhen selalu dihantui hal itu sampai mengantarkannya ke dalam lift yang membawanya ke atas.
Jika benar dia mengkhianati-ku? Apa aku akan membunuhnya? Membunuh kerabatku sendiri.
Batin Zhen membayangkan masa-masa kebersamaan mereka. Memang tak romantis tapi asisten Jio adalah kerabat dekat bagi Zhen. Pria itu tahu apapun tanpa tersembunyi sama sekali.
Setelah merenung cukup lama, pintu lift itu terbuka dan Zhen segera keluar berjalan menuju pintu ruang rawat Noah.
"Mom! Zoe itu adikku. Jangan aneh-aneh lagi!"
"Susst!! Ini keputusan, mommy!"
Suara perdebatan Moa dan Noah yang sudah tak asing lagi. Zhen mendorong gagang pintu hingga matanya langsung melihat Moa yang tengah menyuapi bubur untuk Noah dan juga baby Zoe yang ingin makan apapun asal itu dimakan juga oleh Noah.
"Sedikit lagi. Habiskan agar cepat besar!" Memberi suapan terakhir pada baby Zoe yang makan dengan lahap duduk di samping Noah.
Pemandangan yang begitu hangat membuat mendung di batinnya sirna sesaat.
"Daddy!" Pekik baby Zoe berbinar kala melihat Zhen di depan pintu.
Tapi, Moa justru kesal tanpa tahu kedatangan pria itu.
__ADS_1
"Zoe! Jangan memanggil seseorang yang bahkan tak punya waktu untuk menjawab panggilan dari mommy-mu ini. Sebegitu sibuknya sampai semalaman tak menghubungiku, cih! Tunggu saja kau," Umpat Moa menghentakkan kuat sendoknya ke dalam mangkuk itu.
Noah menatap ke arah pandangan baby Zoe hingga matanya juga memancarkan binar senang tapi, Zhen meletakan satu jarinya di tengah bibir pertanda jangan bicara.
Seakan mengerti, baby Zoe mengacungkan kedua jempol mengikuti Noah sang kakak barunya.
"Babi sialan! Awas saja. Aku tak akan bicara denganmu. Aku akan mencari cadangan baru. Kau tunggu saja," Rutuk Moa menggeram tanpa sadar Zhen mengendap-endap ke belakang tubuhnya.
"Haiss..BABI SIALAAN!!" Jerit Moa tak tahan dengan rasa kesalnya tapi tiba-tiba ada dua tangan yang menutup kedua matanya.
Noah dan baby Zoe saling pandang tersenyum melihat apa yang di lakukan daddynya.
"Ini.."
Mao meraba tangan kekar Zhen sampai tak butuh waktu lama baginya menebak siapa pria seperti jelangkung ini.
"Kenapa pulang? Aku sudah ingin menyiapkan peta untukmu jika tak tahu jalan pulang lagi!" Ketus Moa menyikut perut Zhen mengenai luka pria itu.
"Aass!!"
Zhen memeggangi perutnya sementara Moa berbalik. Mata mereka melebar kala darah keluar menembus kemeja pria itu.
"Daddy!!
"Z..Zhen!" Panik Moa berdiri dan memeggang bahu Zhen.
"Kau..kau kenapa? Ini kenapa berdarah? Apa yang terjadi?"
"Hanya luka kecil. Tidak apa-apa," Jawab Zhen duduk di tepi ranjang.
Moa segera menaikan kemeja Zhen sampai dada hingga perban di bagian perut sebelah kiri itu terlihat berdarah.
"Ini apa?? Kau tertembak? Kapan? Kenapa tak memberitahuku??" Cecer Moa tampak marah menatap tajam Zhen yang menghela nafas.
"Hanya luka kecil. Aku.."
"Luka kecil? Lalu, apa kau baru memberitahuku saat lehermu putus? Atau kepalamu tertembak, haa??" Emosi Moa sampai baby Zoe bergegas memeluk Noah yang juga tak berani jika sudah seperti itu.
Noah tahu betul jika sudah marah maka mommynya akan sangat tak bisa di kendalikan. Dulu saja ketika ada yang mendorongnya kala bermain di taman, Moa langsung mendatangi anak itu dan mendorong lebih parah sampai nyaris meninggal.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Moa sangat serius.
"Semalam aku sudah bilang kalau aku ingin mencari pria itu dan.."
"Dia yang lakukan?" Tanya Moa dingin.
Zhen menghela nafas. Ia meraih tangan Moa tapi di tepis kasar oleh wanita itu.
"Moa! Dia juga sedang sekarat. Aku masih hidup dan tak perlu ada yang harus di khawatirkan."
"Aku tak peduli padamu. Tapi dia!! Dia sudah membuat kau tak menjawab panggilanku malam ini," Ketus Moa melayangkan pukulan kesal ke bahu Zhen yang tak bergerak dari tempatnya.
"Dia juga sudah membuat anak-anakku menunggu daddnya sampai siang! Aku akan membalasnya!"
Berbalik ingin pergi tapi Zhen segera menarik Moa sampai jatuh ke pangkuannya. Kedua lengan Zhen membelit perut Moa memeluk erat wanita itu dengan dagu bersandar ke bahu Moa yang masih marah.
"Aku ingin seperti ini dulu," Bisik Zhen membenamkan wajahnya ke ceruk leher Moa.
Aroma mawar itu membuat kepalanya ringan dan batin tenang.
"Apa yang telah terjadi? Dia tak biasanya seperti ini," Batin Moa merasakan kegundahan Zhen.
Noah tak bicara seakan memberi kesempatan pada kedua orang tuanya untuk bermesraan.
Tangan Moa terangkat mengusap kepala Zhen lembut sampai Zhen semakin nyaman memeluknya. Untuk waktu yang lama Zhen tak bergerak dan mereka juga tak bicara seakan hanya membiarkan semuanya mengalir.
"Sayang!"
Blush..
Kedua pipi Moa langsung memerah dengan bisikan Zhen yang terdengar sangat mesra dan meremangkan seluruh tubuhnya.
Ntahlah, Moa bisa saja menjerit sangking senangnya.
"Kenapa ini merah?" Tanya Zhen sengaja mengangkat tangannya mengelus pipi Moa yang bersemu.
"Cih. Kau memang pemain," Gerutu Moa membuang muka sampai senyum tipis Zhen mekar mengigit leher bahu Moa gemas lalu kembali memeluk erat wanita itu.
Moa ikut tersenyum. Keduanya seakan melupakan dua anak tak berdosa yang harus menjadi penonton adegan yang seharusnya tak layak di saksikan anak seusia mereka.
"Daddy!" Bingung baby Zoe kala melihat Zhen bermanja pada Moa yang geli berulang kali di buat malu dengan panggilan-panggilan sayang Zhen yang ntah mengalami benturan apa kala melakukan penyergapan di kepalanya tadi malam.
Moa mengobati luka Zhen karena jahitan itu tak terbuka melainkan hanya tertekan karena pukulannya tadi.
__ADS_1
.....
Vote and like sayang