
Setelah menemani anak-anak dan bermain sampai mereka tidur malam ini, akhirnya Zhen punya kesempatan untuk bicara pada Moa.
Keduanya mandi bersama di dalam kamar mandi ruangan Noah. Moa yang suka berendam di bathub dan Zhen yang duduk di pinggirnya menggosok punggung mulus Moa yang tak memakai apapun karena habis menunaikan kewajibannya.
"Apa harus malam ini?" Tanya Moa sedikit murung karena Zhen bilang dia akan ke Amerika malam ini.
"Iya. Aku tak bisa menunggu lagi tanpa kejelasan. Jika Jio memang mengkhianati maka aku harus segera membereskannya sebelum menyentuh kalian!"
Moa menghela nafas. Rambutnya yang di gulung keatas tampak mempertontonkan leher jenjangnya yang di penuhi bekas kissmark dari Zhen.
"Apa kau masih peduli pada Cellien?" Tanya Moa setelah memendam pertanyaan itu beberapa lama.
Dahi Zhen mengkerut. Moa berbalik menghadapnya hingga tatapan netra emerald itu terlihat menuntut jawaban.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau masih mengharapkan Cellien?" Tanya Moa serius.
Seketika senyum tipis Zhen tertuai manis. Ia meraup busa di air lalu membalurinya ke dada Moa yang menyembul di permukaan.
"Menurutmu bagaimana?" Tanya Zhen menatap nakal Moa yang memiringkan bibir.
"Kalian sudah dua tahun bersama. Mustahil kau begitu cepat melupakan wanita itu." Ketus dan tak terbantahkan.
Zhen menghela nafas. Satu tangannya masih asik bermain di dada Moa sampai wanita cantik itu di buat beberapa kali menggelinjang karenanya.
"Selama menikah dengannya aku sangat sibuk dan jarang pulang. Saat itu perusahaan di timpa banyak masalah membuatku harus bolak-balik Amerika dan China. Itu-pun aku usahakan saat mengandung Zoe untuk menemaninya sesekali."
"Apa kau tak pernah membawanya ke kediaman Ming?" Tanya Moa penasaran seberapa spesial hidup Cellien.
"Tidak pernah. Jika ke China aku hanya membawanya ke apartemen."
"Kenapa?" Tanya Moa karena Zhen juga tak pernah membawanya ke kediaman Ming yang di gadang-gadang bak istana kekaisaran.
Zhen menghela nafas. Tangannya yang bermain di permukaan dada sekang Moa naik membelai leher jenjang Moa.
"Hubunganku dan Hupent sangat buruk. Saat itu dia masih ada di kediaman hingga aku tak bisa melibatkan Cellien yang sedang mengandung. Terlalu beresiko," Jelas Zhen beralih mengusap bibir bawah Moa dengan jempolnya dan sengaja memasukan beberapa kali menyentuh lidah wanita itu.
"Apa asisten Jio juga membenci Cellien?"
"Hm. Keduanya tak pernah akur."
"Sama sepertiku dan Jio?"
Zhen diam. Pertanyaan Moa membuatnya termenung dengan pikiran yang hanya ia yang tahu. Moa mengamati kebisuan Zhen sampai mata mereka bertemu.
"Jadi, asisten Jio juga seperti ini kala bersama Cellien dulu?"
"Tidak."
Moa menyeringit tak mengerti. Setelah mendengar cerita Zhen tadi ia bertambah penasaran dengan asisten Jio.
"Lalu, bagaimana?"
"Dia hampir tak pernah mau bicara dengan Cellien dan bisa dikatakan Jio selalu menghindar," Jawab Zhen yang membayangkan kejadian masa lalu saat asisten Jio hampir tak pernah menyebut nama Cellien sama sekali atau mengungkit wanita itu.
"Zhen! Bisa jadi mereka ada hubungan atau Jio menyembunyikan sesuatu darimu. Bawalah Yoshep untuk pergi bersamamu nanti dan jangan mengabaikan panggilanku!" Tegad Moa menyadari betapa seriusnya masalah ini.
"Ulang tahun Zoe dua hari lagi," Gumam Zhen merasa tak ingin melewatkan saat itu.
"Tenanglah. Dua hari pasti selesai. Nanti, aku akan mengurus soal itu. Hm?"
Akhirnya Zhen mengangguk. Ia menarik dagu Moa mendekat padanya lalu dengan lembut Zhen memangut bibir merah muda yang kenyal bak jeli itu.
Sangat lembut dan hangat membuatnya nyaman mencumbunya. Moa-pun tahu apa yang Zhen mau.
Karena luka di perut Zhen masih belum bisa terkena air, jadilah Moa perlahan turun dari bathub tanpa memutus tautan bibir mereka.
__ADS_1
Tubuh Moa yang dibaluri busa sabun menambah eforia bercinta. Moa mengiring Zhen berdiri dan berjalan menuju kursi kamar mandi yang ada di dekat shower.
Melepas ciuman lembut itu perlahan hingga keduanya saling pandang penuh minat dan di kuasai kabut gairah.
"Aku akan memberi salam pengantar untukmu!" Bisik Moa mendudukan Zhen di atas kursi itu.
Pemandangan indah tubuh polos Moa yang seksi membuat Zhen selalu aktif. Padahal mereka baru saja selesai melakukannya tapi keinginan untuk lagi dan lagi selalu muncul.
"Karena suamiku sedang lelah, biarkan istrimu memberikan pelayanan, hm?" Goda Moa menggenggam pusaka perkasa yang sudah siap tempur itu dengan sensual.
Zhen terus menatap Moa yang naik ke pangkuannya. Dua aset kembar itu tepat di depan wajahnya hingga Zhen tak tahan ingin memanjakannya satu persatu membuat Moa semakin bergairah.
"Yeah! Lupakan dulu masalahmu," Gumam Moa meremas rambut Zhen dengan wajah lemah dan kedua mata terpejam menikmati sensasinya.
Ditengah sentuhan memuja Zhen, Moa memulai penyatuan itu dengan pelan tapi sangat syahdu membuat keduanya menggeram dengan cengkraman ketat dan sempitnya rongga cinta itu.
"***..M..Moa, sayang!" Lenguh Zhen terasa akan terbang beberapa kali.
Moa-pun sama. Tak ia sangka pusaka yang dulu sempat ia hina begitu terasa penuh dan sangat cocok dengannya.
.....
Sementara di luar sana sudah datang Yoshep yang tadi bersiap lebih awal. Ia sudah mendapatkan apa yang Zhen mau tadi siang dan malam ini ia akan sangat bersemangat.
"Dimana mereka?" Gumam Yoshep saat ruangan ini sepi dan hanya ada dua anak kecil yang tidur di atas ranjang dengan posisi saling berpelukan.
Yoshep menelfon Zhen dan ternyata ponsel pria itu ada di sofa. Seketika Yoshep cemas karena Zhen tengah terluka dan dia tak ada disini.
"Apa dia di kamar mandi?" Gumam Yoshep segera mendekat ke pintu kamar mandi berniat mendorongnya tapi..
"Akhss. Sayang kau luar biasa!"
Degg..
Yoshep menegguk ludah kasar dengan wajah pucat mendengar suara geraman nikmat Zhen yang tengah di manja oleh belut betina liarnya.
Ia meraih gelas air putih yang tersedia di atas meja lalu meneguknya tandas. Mendengar suara Zhen yang memuja-muja wanita itu, Yoshep jadi membayangkan betapa buasnya Moa dan ahlinya di ranjang.
"Seharusnya aku lebih dulu menemukannya. Padahal, pesonaku tak kalah dari Zhen," Gumam Yoshep merutuki nasibnya sendiri.
Drett..
Ponsel Yoshep menyala. Ada nama Ming Yue di sana membuat wajah Yoshep malas tapi ia tetap mengangkatnya.
"Ada apa? Sayang!" Suara yang berbeda dengan hati.
"Kak! Kau dimana? Kenapa tak pernah mengunjungi ku lagi?" Tanya Ming Yue terdengar manja dan sangat merindukan Yoshep yang beberapa hari lalu menemaninya.
"Ada pekerjaan yang harus-ku urus. Jika sudah selesai aku akan menemanimu, cantik!"
"Kak! Aku sangat merindukanmu," Ucap Ming Yue dan Yoshep seketika membelo jengah.
Ia mengeluarkan cerutu di balik jasnya dan mulai merokok dengan kedua kaki naik ke atas meja sofa menunggu teman biadapnya itu.
"Aku juga, sayang! Tapi masih ada pekerjaan yang harus-ku urus. Bersabarlah sebentar lagi."
"Baiklah, kak! Tapi, apa kakak bisa membantuku?"
"Ada apa?" Tanya Yoshep seraya menghembuskan asap cerutunya ke udara.
"Daddyku tak bersalah, kak! Dia hanya korban ketidakadilan keluarga Ming. Dia sekarang di buru polisi dan kak Zhen pasti akan menemukannya. Tolong sembunyikan dia dari mereka, kak!" Ucap Ming Yue terdengar khawatir.
Yoshep diam sejenak. Sepertinya ia bisa menggali lebih banyak informasi dari gadis ini.
"Aku tak bisa melawan Zhen. Tapi, apa kau tahu siapa saja rekan daddymu? Aku akan menemuinya untuk meminta bantuan," Tanya Yoshep serius.
"Daddy tak pernah mempertemukan ku dengan temannya tapi,.."
__ADS_1
Yoshep menunggu jawaban Ming Yue yang terdengar berpikir.
"Selain orang-orang yang sudah kak Zhen keluarkan dari perusahaan, aku tak tahu lagi. Tapi,..daddy pernah bertemu dengan tuan Dario lalu beberapa kali dia pernah berdebat dengan asisten Jio. Mereka selalu bertengkar."
"Jadi benar. Jio memang ada hubungannya dengan Hupent," Batin Yoshep geram.
"Baiklah. Akan-ku usahakan untuk membantu daddymu. Selamat malam sayang!"
Yoshep mematikan sambungan lalu duduk berpikir panjang. Setelah setengah jam menunggu akhirnya Zhen keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melingkar di pinggang kokohnya.
Rambut Zhen basah membuat penampilan pria itu semakin menawan dengan tubuh atletis yang sempurna.
"Kau sudah datang?" Tanya Zhen dengan santai lewat di hadapan Yoshep mengambil pakaian gantinya di atas sofa singel yang ada di samping pria manik abu itu.
Tanpa menurunkan kaki dan masih menyesap cerutunya, Yoshep menyeletuk ketus karena banyak bekas keganasan Moa di tubuh Zhen.
"Cih. Lihat saja, jika aku sudah menikah. Aku akan bercinta di depan matamu."
"Hm. Ku tunggu," Santai Zhen mengambil pakaiannya dan paper-bag milik Moa.
"Cepatlah! Kita akan berangkat sebentar lagi. Jangan terlalu manja!" Seru Yoshep tapi Zhen sudah masuk ke kamar mandi.
Moa tengah memakai handuk setelah membersihkan tubuhnya di bawah shower.
"Istri ketigamu?" Kelakar Moa karena mendengar suara Yoshep.
Zhen hanya membelo jengah meletakan pakaian Moa di atas meja wastafel lalu ia mulai berpakaian.
"Aku titip anak-anak. Kau juga jangan keluar sembarangan."
"Hm. Pergilah! Aku akan menemui Marco," Goda Moa sampai menerima lemparan bra di wajahnya dari Zhen.
"Jangan macam-macam. Aku akan pulang tepat pada ulang tahun Zoe. Jangan mulai tanpa aku, hm?"
"Tergantung," Jawab Moa mengusap rambutnya dengan handuk kecil.
Zhen sudah selesai berpakaian. Kali ini ia memakai sweater rajut dan mantel ringan dengan celana yang longgar membuat penampilannya terlihat sangat sempurna dan berkharisma.
"Hubungi aku jika sudah sampai!" Ucap Moa menerima kecupan singkat dari Zhen yang mengeringkan rambutnya dengan handuk yang di peggang Moa lalu menyisir dengan tangan.
Moa memperhatikan pria tampan yang jadi suaminya ini dengan lekat. Ntahlah, tak ada kata cacat sama sekali.
"Cepatlah!! Jangan terus memeluk ketiak istrimuu!!"
"Sialan!!" Umpat Zhen merutuki Yoshep.
Ia keluar. Sebelum pergi Zhen mengecup kening anak-anaknya lalu barulah pergi diikuti Yoshep.
.....
Sementara di tempat yang berbeda. Asisten Jio tampak bicara dengan Bastian yang tengah ada di area gereja tua terbengkalai yang sunyi dan hanya di terangi lampu seadanya.
Wajah Bastian sangat pucat dan ketakutan akan apa yang asisten Jio katakan.
"A..aku takut, tuan!"
"Jangan melawanku. Jangan sampai tuan tahu ini semua. Paham?" Tekan asisten Jio mencengkram bahu Bastian kuat.
"T..tuan Zhen bisa mengamuk jika kita membunuh Zoe putrinya."
"Jangan bodoh. Aku sudah muak dengan manusia sialan yang telah mempermainkan semua orang itu," Geram asisten Jio menggertakan giginya kuat.
Ia sengaja pergi tanpa kabar karena Zhen pasti sudah curiga padanya. Dengan begitu Zhen akan pergi ke Amerika dan baby Zoe tinggal sendirian dengan Moa.
"Aku sudah menyusun rencana ini dengan baik. Kau alihkan perhatian Moa dan aku akan urus anak itu!"
...
__ADS_1
Vote and like sayang..