Impoten Husband

Impoten Husband
Hantu laut pengincar pria perjaka


__ADS_3

Dokter Petter tengah memeriksa asisten Jio secara intens. Di dalam kamar itu sudah ada Zhen dan Yoshep yang menunggu kabar mengejutkan apalagi yang akan mereka dengar kali ini?!


"Dia belum mati-kan?" Tanya Zhen dengan intonasi datarnya tapi Yoshep tahu jika Zhen tak akan membiarkan asisten Jio pergi dengan mudah.


"Tuan! Paru-parunya terisi air karena tenggelam dalam waktu yang cukup lama."


"Mustahil Jio tenggelam. Dia di didik sedari kecil untuk bisa melakukan apapun karena akan menjadi orang kepercayaan Zhen. Terdampar-pun selama 1 bulan aku rasa dia akan tetap bertahan di lautan itu," Sahut Yoshep tak percaya.


Zhen juga tahu itu. Asisten Jio sangat berkompeten dan berbakat dalam semua pertahanan. Mustahil baginya mati konyol seperti ini.


"Ntahlah! Dari pemeriksaan ku tak ada yang janggal sama sekali. Tubuh tuan Jio tak mengalami luka apapun seakan-akan dia secara sadar menceburkan diri ke lautan."


"Apa jangan-jangan Jio depresi karena benihnya diambil secara paksa?"


Zhen mengacuhkan dugaan konyol Yoshep yang tertawa cekikikan dengan apa yang baru ia katakan.


"Apa yang terjadi?" Suara Marco yang baru saja kembali dari pesisir laut setelah menyelesaikan para suruhan nyonya Syui yang sudah di amankan.


Tatapan Marco beralih ke ranjang dimana asisten Jio terbaring dengan wajah cukup pucat.


"Dia kenapa?"


"Ditemukan tenggelam saat kami sedang menyelam tadi!" Jawab Yoshep beralih duduk di pinggir ranjang.


Marco tak beraksi sedikit-pun karena menunggu keputusan Zhen. Hanya pria ini yang paham dengan asisten pribadinya itu.


"Lihat rekaman cctv di sekitar kapal!"


"Baiklah. Akan-ku ambil!" Ujar Yoshep segera keluar dari kamar.


Tinggallah mereka berempat di kamar ini sementara dokter Petter masih memeriksa asisten Jio dengan penuh kebingungan.


"Kau sudah menemukan wanita itu?" Tanya Marco tahu jika Zhen mencari wanita misterius yang sudah membuat asisten Jio kewalahan.


"Bawahanku tak bisa menemukannya. Rekaman cctv di club dan beberapa kota di sekitar tak menunjukan tanda-tanda keberadaanya."


Marco cukup heran. Mustahil jika bawahan Zhen sampai tak bisa menemukan wanita ini dan berarti dia sangat berbahaya.


"Apa dia mengusikmu selain Jio?"


"Sementara ini belum. Topik hangat soal skandal mereka memang mempengaruhi namaku tapi ini bukan pukulan yang besar jika orang di balik ini berniat menghancurkan ku," Jelas Zhen menganalisis semua pergerakan yang di tinggalkan wanita itu.


"Setidaknya dia akan membuat berita skandal tentangku dan bukan Jio jika benar-benar ingin bermain," Imbuh Zhen serius.


"Jadi, menurutmu apa motif wanita ini melakukan hal itu? Dia sengaja mempublish malam panasnya dengan Jio setelah itu menghilang. Jika memang ingin mencari popularitas seharusnya dia menampakan dirinya di depan publik sebagai korban." Marco ikut mendalami masalah ini.


Zhen menghela nafas. Hadiah-nya kemaren hanya sebatas membiarkan asisten Jio di luar tanpa ada yang mengurus dan satu-pun bawahannya tak boleh berhubungan dengan Jio.


Tapi, tak di sangka ada ular betina yang memanfaatkan kondisi ini untuk mencuri benih perjaka asistennya.


"B..Berhenti!"


Mereka melihat asisten Jio meracau dengan keringat dingin keluar.


"Berhentii!!!"


"Asisten Jio!" Panggil dokter Petter menepuk bahu asisten Jio yang terlihat marah menghentikan seseorang dalam pikirannya.


"Berhentiii!!! Jangan lompaat!!"


"Asisten Jioo!!" Keras dokter Petter memukul agak kuat hingga asisten Jio sadar dengan nafas memburu seperti baru saja keluar dari pusaran air yang tadi menenggelamkannya.


"Dia..dia.."


"Tenanglah. Minum dulu!" Dokter Petter memberikan segelas air pada asisten Jio yang sudah duduk dengan wajah pucat dan pikiran kacau.

__ADS_1


Asisten Jio minum dengan tegukan besar seakan-akan ia benar-benar kehausan sekarang.


"Asisten Jio! Tenangkan dirimu!"


Asisten Jio mengambil nafas dalam. Nafas-nya mulai stabil hingga baru sadar jika tak hanya dokter Petter disini.


Pandangan dua pria itu sama-sama datar padanya. Apalagi Marco yang tak begitu peduli soal asisten Jio karena bukan orangnya sama sekali.


"Tuan!" Gumam asisten Jio menundukan kepalanya kala Zhen tampak tak beraksi.


Dokter Petter tahu betul bagaimana suasana hubungan Zhen dan asisten Jio hingga ia berusaha mengalihkan suasana beku ini.


"Asisten Jio! Kenapa kau bisa tenggelam? Bukankah kau perenang handal?"


Asisten Jio terdiam sejenak. Ia berusaha mengingat kembali apa yang baru saja terjadi tapi ia hanya bisa mengingat kala mengejar seorang wanita yang mengiringnya ke pinggir kapal lalu wanita itu ingin menceburkan diri ke laut tanpa menoleh padanya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Dia ada di pesta saat itu," Gumam asistem Jio menagangkat kepalanya menatap Zhen yang masih diam.


"Dia ada di sana. Berkeliaran seperti tak ada yang melihatnya. Dia muncul dimanapun dia mau dan.."


"Hantu maksudmu?" Sela Yoshep yang sudah masuk dan mendengar perkataan aneh asisten Jio.


Yoshep datang membawa laptop yang langsung ia tunjukan pada Zhen.


"Ini, Zhen! Semua sisi kapal terekam jelas di cctv kita!"


Zhen membuka remakan di tempat pertama asisten Jio di temukan. Ia memutar beberapa waktu kebelakang dan melihat jika saat acara potong kue baby Zoe tadi asisten Jio berlari keluar mengejar seseorang yang tak tampak disini.


"Kau berlarian mengejar angin?" Tanya Yoshep menyaksikan adegan konyol itu.


Asisten Jio bangkit tak peduli dengan kondisinya yang tak stabil dan melihat rekaman itu.


Matanya melebar kala rekaman ini tak memperlihatkan sosok wanita berambut hitam sebahu yang semula ingin terjun ke laut.


Beberapa detik kemudian setelah berlari keluar asisten Jio tampak mencegah sesuatu agar tak melompat sampai ia ingin menolong tapi dirinya ikut tercebur ke dalam sana.


"Jio! Kau menderita halusinasi akut."


"Aku tak berbohong dan tidak berhalusinasi!!" Bantah asisten Jio pada Yoshep yang tak mempercayainya.


Asisten Jio menatap penuh harap Zhen yang memandangnya datar begitu juga Marco masih belum tersentuh.


"Kalian!! Kalian harus melihat cctv di club. Awalnya rusak tapi sudahku perbaiki!"


Mengambil ponsel di meja lalu buru-buru menunjukan rekaman yang ia ambil tadi pagi.


"Lihat!! Dia wanita itu!"


Menunjukan layar ponselnya pada Yoshep, Zhen dan Marco bergantian. Tapi, wajah mereka tak berubah bahkan Yoshep menyemburkan tawanya dengan ekspresi geli.


"Kau berjalan ke kamar itu sendirian! Apa-apaan ini, ha?!"


"A..aku.." Asisten Jio bingung segera melihat rekaman itu.


Jantungnya seketika ingin lepas melihat jika wanita itu tak ada di rekaman ini. Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin.


"Sudahlah. Kau harus banyak istirahat."


"Sialan!! Aku tak berhalusinasi!!" Bantah asisten Jio terlihat kacau.


Foto yang tersebar dimedia juga tak jelas menampakan wajah wanita itu seakan-akan ia hanya menunjukan dirinya pada asisten Jio seorang.


Berbeda dengan Yoshep yang mengejek asisten Jio, Zhen dan Marco justru saling pandang. Kapasitas pengamatan dan sudut pandang dua rival sejati itu tak bisa di ragukan lagi dan punya pola pikir sendiri.

__ADS_1


"Tuan! Aku..aku tak berhalusinasi. Dia memang ada. Rambutnya hitam sebahu dan wajahnya cantik menjijikan!"


"Cih. cantik tapi menjijikan. Spesies apa itu?" Kelakar Yoshep membuat asisten Jio naik pitam.


"Kau diam!! Aku bicara pada tuanku!"


"Kau bukan asistennya lagi. Jangan terlalu membesar-besarkan masalah," Pancing Yoshep gencar memanas-manasi asisten Jio.


Yoshep dan asisten Jio bertengkar bahkan Yoshep mau saja meladeni asisten Jio yang kekeh akan pendapatnya.


"Menurutmu ini bagaimana?" Tanya Marco selalu meminta pendapat Zhen lebih dulu.


Keduanya duduk di pinggir ranjang sementara dokter Petter dibuat heran dengan Yoshep yang kurang pekerjaan.


"Jio tak mungkin berhalusinasi. Dia tak punya riwayat penyakit seperti itu."


"Jadi, menurutmu wanita itu ada?"


Zhen diam sejenak kembali melihat rekaman di laptop itu.


"Aku harus memastikan jika rekaman di kapal ini tak di palsukan seseorang. Bisa saja ini sebuah taktik yang kelicikannya sudah sampai ke level dewa."


Marco mangut-mangut mengerti. Setidaknya mereka belum melihat gencatan besar dari wanita ini.


"Apa menurutmu dia ada hubungan dengan penyerangan malam ini?"


"Semuanya terpisah. Serangan di kapalku punya motif ingin mengambil Noah sedangkan wanita ini seperti punya tujuan khusus." Mata melihat asisten Jio yang sedang beradu argumen dengan Yoshep.


"Kau harus tetap waspada. Mereka ingin mengambil putra Moa dan kau tahu sendiri bagaimana istrimu jika tahu soal ini."


"Hm. Dia harus tahu karena Moa berhak memberitahuku siapa ayah dari anak itu," Tegas Zhen dengan tatapan berambisi.


Namun, pandangannya berubah lembut kala wanita yang mereka bicarakan sudah muncul di depan pintu.


"Kenapa ribut sekali?" Tanya Moa menatap Zhen kesal tapi pandangannya tertarik oleh dua pria kekanak-kanakan yang sedang bertengkar.


"Istri kedua yang miskin sudah kembali!"


Asisten Jio menoleh. Tatapan tak sukanya masih mendominasi pada Moa tapi senyum tipis di bibir Moa membuat asisten Jio membuang wajah ke arah lain.


"Kau kenal dia?" Tanya Yoshep menggoda asisten Jio.


"Tidak," Acuhnya masih sama.


Moa tak ambil pusing. Ia berjalan mendekati Zhen yang menepuk pahanya sebagai isyarat.


Tentu saja Marco malas menyaksikan kemesraan pasutri ini hingga segera pergi keluar begitu juga dokter Petter yang tak mau ikut campur.


"Ini sudah larut. Kenapa belum tidur, hm?" Tanya Zhen membawa Moa kepangkuannya.


Moa tersenyum memakai gaun malam berwarna merah cerah yang kontras dengan kulitnya di tutupi blazer sampai ke lutut. Jika tidak tertutup, sudah sedari tadi Zhen mengurung Moa di kamarnya.


"Bagaimana bisa tidur jika keributan ada dimana-mana?!" Melirik ketus asisten Jio yang sangat ingin menjawab tapi ia tak mau bermasalah dengan Zhen lagi.


"Moa! Aku ada cerita baru yang di bawa oleh istri kedua suamimu."


"Kauu.." Asisten Jio menggeram tapi Yoshep masa bodoh.


"Dia bertemu hantu laut. Wanita misterius itu ternyata mahluk astral pencuri benih para pria perjaka. Tapi kau tenang saja. Zhen dan aku aman," Jelas Yoshep tak tahu malu.


Moa hanya membelo jengah mendengar ucapan Yoshep yang masih saja tak jera beradu pukulan dengan asisten Jio tadi.


"Maksudnya apa?" Beralih pada Zhen yang tak mungkin mengarang cerita konyol dan messum seperti Yoshep.


"Akan-ku ceritakan di kamar kita!" Menggendong ringan Moa tanpa tahu

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2