
Kedua kelopak mata indah wanita itu berkerut. Samar-samar cahaya dari sela tirai menerobos masuk kedalam lensa matanya sampai mengganggu tidur lelap yang cukup merubah situasi.
Suara ombak samar-samar terdengar dan sedikit merasa goncangan membuat ia dengan pelan membuka matanya yang menyipit melihat langit-langit kamar.
"A..aku.."
Moa memeggangi kepalanya yang terasa pusing. Pandangannya turun ke arah jarum infus yang tertancap ke punggung tangan.
"T..tidak. Jangan-jangan Marco membawaku ke tempat lain," Gumam Moa sangat muak dengan pria itu.
Moa mencabut jarum di punggung tangannya lalu menyibak selimut. Tubuhnya sudah berganti memakai piyama warna merah kontras dengan kulit putih Moa yang terdapat beberapa bekas luka.
Seakan tak ingin membuang waktu lagi Moa segera berjalan menahan pusing di kepalanya menuju pintu kamar.
"Aku harus pergi."
Moa menekan gagang pintu dan melihat jika di depan ada dua penjaga memakai stelan jas bak seorang bodyguard tengah membelakanginya.
"Aneh! Ini bukan anggota Marco. Ini persis seperti bawahan Zhen. Tapi.."
Moa berkecamuk. Apa mungkin Zhen yang membawanya kesini? Tapi, tak mungkin pria itu bisa pergi dalam keadaan lumpuh.
Tidak. Bisa saja Marco menjual-ku karena dia menderita kerugian besar dan ingin membalas dendam. Pikir Moa waspada.
Ia mengendap-endap berjalan di belakang dua pria kekar itu lalu mengepalkan tinjunya.
Sedetik kemudian, Moa menghantam tengkuk mereka masing-masing hingga tumbang di lantai. Yah, Moa tahu area mana yang membuat kesadaran manusia hilang.
"Aku harus cepat atau bos mereka akan datang mencari-ku," Gumam Moa segera turun dari tangga ini.
Ia merasa sedang ada di sebuah kapal besar walau tak sebesar kapal pesiar tapi ini seperti didesain untuk keamanan yang lebih ketat.
Kakinya turun menapaki satu persatu anak tangga hingga terhenti kala melihat banyaknya penjaga yang berpakaian sama di sekitar kapal ini.
"Siall!! Keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang babi," Umpat Moa berjalan perlahan bahkan derit langkahnya-pun tak terdengar.
Moa berdiri di balik pintu di depan lalu melihat dari sela benda itu. Yah, mereka masih ada di lautan lepas dan tampaknya masih ada di pesisir pulau markas Marco.
"Apa-apaan ini?! Masih di tempat yang sama!!"
Moa benar-benar tak percaya. Kedua tangannya mengepal. Moa berbalik cepat dan berjalan tergesa-gesa tapi matanya masih memandang ke belakang seakan mengawasi penjaga di depan agar tak melihatnya.
Brugh..
Tubuh Moa berbenturan dengan tubuh kekar keras seseorang yang langsung membuatnya terhuyung ke belakang.
Mata Moa langsung tertuju pada kedua sepatu kerja seseorang yang bersih dan mahal.
"Jangan-jangan dia menjual ku pada orang ini," Batin Moa masih mengepalkan tangannya.
Pria itu juga diam kala Moa memandang sepatunya dengan tatapan memanas.
Bibirnya ingin bicara tapi tersentak kala Moa langsung menyerangnya brutal dan tak terkendali.
"Sialaan!!! Kau tak akan bisa mengurung-kuu!!" Ia meninju dada bidang itu tapi tangannya langsung di pelintir kebelakang.
Sudut bibir Moa menyeringai iblis. Ia tak akan kalah dengan cara yang sama lagi hingga menyikut perut pria itu tapi sangat di sayangkan kakinya di dorong kuat dengan lutut kokoh pria itu hingga Moa berlutut di lantai.
"Lepaass!!! Kau akan rugi jika membeli ku!!" Berontak Moa tapi tak bisa.
Pintu di depan sudah terbuka sempurna memperlihatkan sesosok pria yang sudah membuat Moa ingin menemui malaikat mautnya.
"Marco sialan!!! Kau tak akan hidup tenang!!" Umpat Moa menatap tajam Marco yang sudah datang dengan dua anak buahnya.
__ADS_1
Ekspresi pria itu tetap datar tapi ada sesuatu yang tak bisa ia pahami dan itu sangat membuat Moa tak tenang.
"Jika kau berani menjual ku!! Akan-ku pastikan klien-mu ini menuntut balik. Dia akan mati di tanganku!!! Sialaan!!"
"Kenapa kau sangat berisik, ha??" Suara asisten Jio yang muncul dari belakang Marco dengan wajah kesalnya mendominasi.
Moa melebarkan matanya tak percaya itu. Jantungnya berdegup kencang tak karuan di buatnya.
"K..kalian.."
Moa seketika termenung. Ia menatap Marco dan anak buahnya lalu beralih pada asisten Jio yang memberi senyum puas.
Seketika berbagai dugaan muncul di benak Moa sampai kedua tangannya mengepal menduga jika Marco menjualnya pada Zhen dan mereka bekerja sama untuk melenyapkannya.
"K..kalian..kalian menipuku?" Geram Moa marah bercampur kecewa.
Asisten Jio mendengus melewati Marco yang hanya melihat adegan ini.
"Berhentilah bersikap arogan. Kau.."
"Kau sudah lama mencari masalah denganku. Kau memang ingin mati di tanganku!!" Geram Moa naik pitam dan pria yang menahannya juga melepaskan Moa membuat asisten Jio terkejut.
"Tuan!! Tuan kenapa di lepas?? Dia akan membunuhku!!"
"Tuan-mu memang babi pecundang!!" Maki Moa meninju wajah asisten Jio meluapkan rasa marah dan tak terima di permainkan seperti ini.
Mubai dan Carlos saling pandang melihat Moa dan asisten Jio saling baku hantam. Tampaknya, Moa punya dendam kusumat pada asisten Jio hingga membuat wajah pria itu babak belur sementara asisten Jio juga ingin melayangkan pukulan pada Moa tapi sorot mata tuannya membuat asisten Jio pasrah.
"Bunuh!! Telan aku sekalian!!" Jerit asisten Jio frustasi kala wajahnya sakit di penuhi lebam dan hidungnya berdarah.
"Dimana tuanmu?" Tanya Moa mencengkram kemeja asisten Jio yang sudah tak layak pakai karena koyak.
"Kau buta, ha?" Desis asisten Jio seraya mengusap lelehan darah di hidungnya.
"Kau yang akan-ku buat buta," Geram Moa ingin mencolok kedua kata asisten Jio membuat Mubai dan Carlos menelan ludah tapi untung saja kerah piyama Moa langsung di tarik ke belakang membuatnya jauh dari asisten Jio.
"Berhenti menakuti semua orang!"
Degg..
Seakan tersambar petir di pagi hari Moa langsung meneggang di tempat. Kedua matanya termenung kosong karena ia familiar dan sangat kenal dengan suara bass ini.
"B..Babi?"
Mereka semua heran dengan lirihan Moa tapi tidak dengan asisten Jio yang sudah tahu siapa yang di maksud wanita monster ini.
"Berbalik Lah!"
Moa perlahan berbalik. Seketika kedua matanya memanas melihat sosok yang tadi ia tabrak dan diajak bergulat adalah seorang babi jantan yang sudah membuatnya khawatir beberapa minggu ini.
"K..kau.." Kalimat Moa tercekat kala melihat kedua kaki Zhen sudah bisa menapaki tanah dengan angkuh dan tubuh kekar tinggi itu benar-benar lebih mempesona sekarang.
"Kau kira aku sudah mati, hm?"
"Hmm!" Moa mengangguk cepat dengan mata haru dan tak percaya ini.
Zhen sudah bisa berdiri dan dia tampak baik-baik saja. Walau tadi Moa mengamuk tapi setiap berhadapan dengan Zhen amarahnya seketika menjadi abu dan terbang dengan ringan.
"K..kau sembuh?"
"Yah. Karena-mu!"
Moa tak bisa menahan rasa bahagia hingga langsung berhambur mendekap erat Zhen yang juga tak segan membalas pelukan itu.
__ADS_1
Marco mengepal melihat Moa melunak dengan mudah di hadapan rival sejatinya itu hingga membuang pandangan ke arah lain.
"Kenapa kau tak menemuiku lebih cepat? Apa kau memang ingin menjual ku padanya? Apa karena kau sudah miskin jadinya kau ingin membalikan modalmu??"
"Menjual-mu-pun tak akan membalikan modal tuanku!" Decah asisten Jio jengah dengan otak Moa yang selalu saja berhubungan dengan harta dan kekayaan.
"Kau yang tak punya uang diaam!!"
"Haiss..tunggu saja bagianmu," Geram asisten Jio terkena semburan Moa yang sedang mellow sekarang.
Zhen mengusap kepala Moa lembut lalu beralih memandang dingin Marco.
"Aku ada urusan. Kau pergi makan dulu!"
"Kau ingin apa?" Tanya Moa menyelidik tapi, ia teringat dengan putranya hingga wajah Moa kembali di landa ketakutan.
"Babi! Noah bagaimana? Dia baik-baik saja-kan? A..apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?"
"Tenang saja. Dia sedang di operasi!"
"Maksudmu?" Tanya Moa kebingungan.
"Dia sudah-ku pindahkan ke rumah sakit terbesar di negara ini dan dokter Wen sudah ku bawa pergi menemuinya!"
"Dokter Wen? Kau sudah menemukan dokter Wen?" Pekik Moa kegirangan.
Zhen mengangguk. Moa tak bisa menahan diri lagi hingga mencium bibir Zhen penuh penekanan membuat semuanya terkejut termasuk Zhen yang tak pernah di beri serangan mendadak oleh Moa.
Tak ada luma**tan karena Moa hanya menempelkan bibir mereka sebagai tanda ia sedang senang sekarang.
"Ehemm!" Dehem asisten Jio karena melihat ekspresi wajah Marco tampak membeku karena itu.
Setelah beberapa lama Moa melepas ciumannya dengan kecupan singkat ia bumbuhkan di bibir Zhen yang tersenyum tipis.
"Terimakasih!! Terimakasih banyak!" Tulus Moa tak menyangka Zhen akan membawa putranya ke sini dan menyelesaikan semuanya dalam diam.
"Simpan kata terimakasih itu untuk nanti karena.."
Zhen sedikit menundukan wajahnya mendekatkan bibir ke telinga Moa.
"Aku butuh aksi dan fantasi!"
"Siaap!! Aku akan memuaskan mu!!" Sorak Moa tanpa malu dan Zhen suka itu.
Ia ingin Marco tahu jika Moa hanya miliknya dan jangan coba-coba menyentuh wanitanya secuil-pun.
"Nona! Makananya sudah siap!" Suara Bastian salah satu bawahan kepercayaan Zhen yang sudah hadir di area santai pinggir kapal.
Moa berbinar karena ia juga belum makan. Namun, sebelum pergi Moa melempar pandangan jahat pada Marco.
"Aku tak mau tahu. Dia menamparku, memukulku dan tak memberiku makan seharian!! Aku ingin dia juga di pukul!!"
"Tenanglah. Kau bisa pergi!" Ucap Zhen mengusap kepala Moa yang segera melenggang pergi ke area samping.
Marco diam memandangi Moa. Ia sadar jika yang ia lakukan itu salah besar karena seharusnya ia bersikap lebih lembut pada Moa dan bukan bermain tangan.
"Ikut aku!" Titah Zhen pergi ke area luar kapal dan Marco tahu apa yang akan di lakukan pria itu.
"Bos! Sebaiknya kita.."
"Jangan ikut campur!" Tegas Marco pergi membelah kebisuan anak buahnya.
Mubai dan Carlos saling pandang. Markas sudah hancur total karena meledak dalam satu malam dan keadaan Marco cukup dikatakan sekarat karena bisnis gelapnya hancur kurang dari satu bulan.
__ADS_1
.....
Vote and like sayang