
Nyonya Ming menemani Noah di rumah sakit. Ia malam ini menginap dengan baby Zoe yang sedari datang tadi tak mau beranjak dari ranjang Noah.
"Zoe! Noah harus istirahat. Jangan di ganggu!" Tegur nyonya Ming pada Zoe yang tengah duduk di samping Noah.
"N..Noah!"
"Namamu Zoe?" Tanya Noah dan baby Zoe mengangguk. Dia sama sekali tak menarik alat atau kabel apapun yang melekat di tubuh Noah seakan mengerti hal itu berbahaya.
Jemari mungilnya terus memelintir pinggiran selimut Noah sebagai mainan.
"Apa kau putri uncle tampan?"
"Daddy!" Gumam baby Zoe seakan paham maksud Noah yang terdiam.
Nyonya Ming mendengar percakapan keduanya lalu beranjak dari sofa dan duduk di kursi dekat ranjang.
"Apa putramu sudah menikah?" Tanya Noah pada nyonya Ming.
"Yah. Dia sudah menikah sebelumnya dan ini Zoe putri Zhen!"
Noah terdiam. Jadi, pria itu sudah menikah. Lalu, kenapa dia ingin mendekati mommy-nya sementara sudah ada wanita lain yang mendampinginya?!
Tahu akan kemalut pikiran Noah, tentu saja nyonya Ming tak akan memperkeruh keadaan.
"Putraku dulu memang menikah tapi dia bercerai karena wanita itu berselingkuh di luar saat tahu Zhen sedang lumpuh."
"Mereka bercerai?" Tanya Noah lagi cukup syok.
"Yah. Hanya berlangsung dua tahun lebih lalu berpisah. Zoe adalah anak pertama Zhen dengan mantan istrinya tapi,.."
"Tapi apa?" Tanya Noah belum lega karena masih ragu dengan Zhen.
"Mommy-mu pernah bilang jika dia sudah menikah, bukan?"
Noah mengangguk serius membuat nyonya Ming tersenyum.
"Yang menikahinya adalah Zhen putraku!"
"Apaa??" Pekik Noah syok bukan main.
Baby Zoe cemberut memanyunkan bibirnya karena selalu di buat terkejut sedari tadi.
"J..jadi, mereka..mereka suami istri?"
"Iya. Awalnya mereka menikah atas kesepakatan. Zhen membantu mommy-mu mencari dokter terbaik dan mommy-mu membantu mengurus Zoe. Tapi, tampaknya mereka mulai saling suka."
Noah mencerna penjelasan nyonya Ming dengan sangat jeli dan tak menyangka. Ada rasa bahagia yang teramat menggunung kala tahu jika pria yang dulu menemuinya dan memberi semangat ternyata sudah menikah dengan ibunya.
"J..jadi, jadi Zoe sekarang adikku?"
"Hm. Bisa di katakan begitu. Hanya saja, Moa punya rencana lain," Jawab nyonya Ming menghela nafas.
Noah menggenggam tangan mungil baby Zoe hingga wajah cantik imut itu terbengong mengerijab beberapa kali.
"Mulai sekarang panggil aku kakak, ya?"
"K..kakak?"
"Dia sangat pintar," Puji Noah mengusap puncak kepala baby Zoe lembut hingga si kecil itu perlahan berbaring di samping Noah tepat di dekat bahu anak itu.
"Zoe! Jangan ganggu kakakmu. Ayo turun!"
"Kakak!" Gumam baby Zoe memeluk lengan Noah posesif. Ntah dari mana sifat keras kepala ini turun.
"Zoe! Ingat, kak Noah sedang sakit. Ayo turun!"
"Daddy, hiks!" Rengek baby Zoe setengah menangis bersandiwara lagi.
Noah menarik senyum di bibir tipisnya. Melihat baby Zoe yang sangat lengket pada mommy-nya tadi, Noah bertambah menyayangi si kecil ini selayaknya adik kandung.
"Sudahlah. Biarkan Zoe tidur denganku."
"Kau yakin dia tak akan menganggu?" Tanya nyonya Ming tak tenang.
"Tidak akan. Dia anak baik."
Mengusap puncak kepala baby Zoe yang semakin mengeratkan pelukannya ke lengan Noah bahkan satu kaki mungil gembul itu naik ke perut sang kakak.
"Zoe!" Tegur nyonya Ming hingga barulah baby Zoe menurunkan kakinya dengan wajah di tekuk masam.
Alhasil, nyonya Ming menghela nafas panjang lalu keluar dari ruangan. Disana sudah ada para penjaga yang bergantian memeriksa penjuru rumah sakit.
"Kalian istirahatlah. Ini sudah mau malam!"
"Nyonya! Tuan memerintahkan kami memperketat keamanan karena tuan Hupent masih belum tertangkap," Jelas mereka waspada.
Nyonya Ming terdiam. Yah, Hupent pria licik dan bengis itu tak akan mudah di tangkap. Apalagi, dia punya banyak jaringan penting.
Namun, terlepas dari itu nyonya Ming bersyukur karena Ming Yue sudah tak terikat lagi dengan Hupent.
......
Berbalik ke momen yang telah di tunggu-tunggu. Langit sudah mulai berubah gelap meninggalkan jejak jingga tadi sore.
__ADS_1
Pintu kamar pribadi ruangan itu terbuka agak kasar memperlihatkan sepasang insan tengah berciuman dengan sangat panas bahkan keduanya tergesa-gesa masuk kedalam kamar tak lupa Zhen menutup pintu tanpa melepas pangutannya.
Mantel yang ada di tubuh Moa sudah melorot sampai ke pinggang menyangkut dikedua lengan Moa yang berkalung ke leher Zhen masih saling mencumbu bibir masing-masing.
"Ehmm!!" Geraman Moa kala Zhen memperdalam ciumannya melibatkan lidah.
Sungguh, kali ini keduanya benar-benar dikuasai birahi sampai agak bermain kasar.
Plup..
Zhen melepas ciuman mereka dengan nafas sama-sama memburu dan wajah merah padam. Untuk sesaat keduanya saling pandang dengan sorot mata saling menginginkan.
"Lanjut?" Tanya Zhen serak basah. Pertanyaan itu hanya sekedar godaan karena berhenti-pun ia akan melempar Moa ke atas ranjang.
"Kau ingin berhenti?" Tanya Moa memiringkan senyum licik.
"Tak akan bisa."
Zhen mengangkat Moa seperti karung beras hingga bokong bulat kenyal ini tepat ada di samping wajahnya.
"Jika aku tak puas, bersiaplah menduda untuk yang kedua kalinya!" Goda Moa hingga menerima tamparan gemas beberapa kali di bokongnya dari tangan besar itu.
Zhen berjalan mendekati ranjang besar di kamar ini lalu melempar Moa ke atasnya hingga tubuh seksi itu terkapar nyalang.
"Kau mulai bermain kasar, presdir! Aku takut," Desis Moa menopang kedua lengannya kebelakang untuk menyangga tubuh seraya memandang Zhen yang tengah berapi-api.
"Mau jadi gadis polos?" Tanya Zhen tapi Moa tertawa kecil.
"Tidak untuk sekarang, presdir! Aku ingin memakan mu dulu." Seraya membuka kedua lututnya selebar bahu menampakan bagian bawahnya yang sudah basah.
Zhen semakin di lalap hasrat sendiri. Matanya terus memindai tubuh seksi Moa dengan tangan melepas dasi, jas dan kancing kemejanya satu persatu.
"Ingin gaya apa?"
"Sss kau tak seperti gadis perawan," Desis Zhen kala Moa semakin melebarkan pahanya hingga semuanya tampak jelas.
Sangat indah dan menggoda iman lelaki.
Mendengar jawaban Zhen, tentu Moa sedikit malu karena ia terlihat sangat profesional dalam hal itu.
"Ayolah. Aku sudah banyak melihat semua itu. Hanya saja tak ada yang bisa membuatku ingin."
"Kenapa sekarang ingin?" Tanya Zhen sudah melepas semua pakaiannya meninggalkan boxer hitam yang sudah membengkak hebat.
Walau nafas dan suaranya sangat berat. Zhen masih meladeni percakapan Moa tapi, kedua mata nakal belut betina itu sudah memindai tubuh kekar Zhen tampak sempurna dan tak nyata.
Leher kokoh, dada bidang dan bahu lebar yang minta di bebani ini membuat tubuh Moa bergetar lemah dengan birahi merayap tinggi.
Pikir Moa tak pernah setertarik ini pada pria. Apalagi, ia sudah sering melihat 'milik' Zhen dan itu sudah membuat ludahnya keluar.
"Sudah puas memandanginya?" Goda Zhen naik ke atas ranjang mengungkung tubuh Moa yang masih setengah berbaring.
"Aku ingin menyiksamu!" Bisik Moa sangat ingin memimpin.
"Kau sudah sering menyiksaku, nona!" Desis Zhen menyambar bibir Moa buas dengan cumbuan yang ganas.
Kedua tangannya membelit pinggang Moa dan menarik tubuh wanita itu berbaring dengan benar dengan kepala di atas bantal.
Suara decapan erotis dan pergumulan lidah dua pemain profesional itu menggema di seluruh sudut ruangan.
Kedua tangan Zhen tak tinggal diam. Merayap dan meraba apapun memberi sentuhan halus di beberapa spot sensitif sang belut.
"Enguh!!" Lenguh Moa merinding antara geli dan nyaman kala Zhen beralih menjilati tai lalat di belakang telinganya.
Mendengar lenguhan lemah Moa tentu saja Zhen bertambah semangat. Perlahan-lahan turun ke arah rahang tirus itu lalu menyapu leher dan tulang selangka Moa dengan lidah basahnya menciptakan sensasi panas dan membakar darah.
"K..kau suka sekali mengigit."
Moa terengah-engah kala Zhen mencium lehernya dan tak segan mengigit kecil seakan suka jika kulit putih Moa berubah kemerahan olehnya.
"Kau ingin lihat seberapa jauh perkembangannya?" Bisik Zhen membuat Moa bersemu namun ia suka itu.
Kedua tangan Zhen beralih meremas bukit kembar Moa secara bergantian. Ritme nafas Moa semakin tak jelas kala Zhen sengaja memelintir puncak ranum yang mengeras seksi.
"K..kau tak ingin mencoba rasanya?" Tanya Moa terengah tanpa malu.
"Kau satu-satunya wanita yang tak tahu malu sama sekali," Gumam Zhen gemas dengan tingkah Moa yang sangat frontal.
Moa membiarkan Zhen melepas bra berbentuk jaring itu hingga bagian dadanya polos tanpa penghalang.
Seakan sangat lapar, Zhen meraup salah satunya dengan hisapan buas sampai membuat Moa menggelinjang hebat beralih meremas rambut sang babi jantan.
"Z..Zheen emmm!!"
Racauan Moa berulang kali lepas dengan mata terpejam menikmati sensasi gila ini. Zhen sangat pandai memanjakan tubuhnya apalagi lidah pria itu sangatlah lentur memainkan segalanya.
Manis, kenyal dan sangat padat. Ntah bagaimana cara Moa merawat aset berharga miliknya sampai senikmat itu membuat Zhen candu dan kelaparan.
Dengan mulut masih penuh memuja secara bergantian dua spot kesukaannya itu, tangan Zhen turun ke bawah menciptakan gesekan penuh kegagahan.
"B..Babi .." Racau Moa tak berhenti kala Zhen mulai bertamu dengan jarinya.
Hanya cukup bermain dengan ilmu lelaki dewasa penuh keahlian, Zhen mampu membuat Moa meneggang sampai menjepit tangannya dengan lutut merapat.
__ADS_1
"A..aku ingin!"
"Apa?" Tanya Zhen seraya menatap wajah merah Moa yang sedang dijalari rasa tak sabaran.
Dada Moa naik turun karena nafasnya sudah menggila. Zhen tersentak saat Moa membalikan posisi dengan ia yang memimpin sekarang.
"Aku yang akan memulai." Melepas mantel dari lengannya.
"Kau yakin?" Tanya Zhen ragu karena ia tahu betul Moa masih tersegel.
"Hm. Aku ingin mengagahi-mu!"
"Shitt!" Umpat Zhen merasa tak percaya dengan ucapan Moa.
Tapi, ternyata belut betina itu tak main-main. Rasa penasaran dan ingin menguasai Moa tampak jelas mendominasi.
"K..kau yakin?" Tanya Zhen lagi seraya mengigit bibir bawahnya kala tangan Moa meremas bagian rawan itu.
"Setidaknya aku wanita pertama yang mencoba itu."
Zhen pasrah. Ia memejamkan matanya membiarkan Moa berkuasa bahkan wanita itu benar-benar gila dalam memuaskan bagian terlarang itu.
"Ousss shitt!!" Umpat Zhen beralih memandang Moa yang sedang asik menikmati santapannya malam ini.
Jujur, Zhen merasa Moa lebih ganas dari Cellien tapi, wanita ini melakukannya dengan sangat lembut dan Zhen merasa spesial tak mulu menjadi alat pemuas belaka.
Ada 2 menit lamanya Moa memanjakan tonggak keperkasaan itu sampai Zhen di-buat ingin meledak tapi ia tahan agar tak malu di depan Moa.
Siall!! Bisa-bisanya aku ingin keluar secepat ini.
Batin Zhen merasa Moa sangat sulit di tepis. Melihat Zhen sudah kelimpungan, Moa mulai mengambil posisi yang cukup mustahil bisa membobol sendiri.
"Aku saja!" Pinta Zhen serak dan memburu.
"Susst!!"
"Itu akan sakit," Gumam Zhen cemas jika Moa terluka.
Tapi, Moa suka mencoba adrenalin yang langka. Satu tangannya menahan bobot tubuh di belakang sementara tangan satunya mengarahkan benda itu untuk memulai penyatuan.
"M..Moa!" Desis Zhen meremas paha Moa yang sedang memulai pemanasan.
Zhen bisa melihat bagian merah muda yang segar itu tengah bersahabat dengan miliknya. Gesekan cinta dan penuh hasrat itu membujuk tuan rumah agar membuka jalan masuk.
"B..bisa?"
"S..sebentar," Gumam Moa mencoba lagi. Zhen hanya bisa mengigit bibirnya kala melihat Moa perlahan-lahan menekan puncak benda terlarang itu dengan wajah sedikit menyerngit.
"I..ini kebesaran!" Keluh Moa setengah melenguh sakit akan sulitnya memulai penyatuan.
"Aku saja!"
"T..tunggu!" Gumam Moa terbata-bata karena ia ingin mencoba lagi.
Kali ini ia menekan agak kuat sampai rasa sakit itu menjalar hebat namun belum juga masuk.
"S..sakit!" Rintihnya tapi tak berhenti untuk menyatu.
"Sss..pelan-pelan!" Peringat Zhen memeggangi pinggang Moa khawatir akan robek parah.
Walau rasanya mulai menjepit tapi Zhen tetap berusaha memantau Moa yang sangat nekat.
"Ini..k..kebesaran emm!" Berkeringat dingin.
Melihat itu Zhen segera mengarahkan Moa agar membungkuk di atas tubuhnya. Karena masih seperempatan jalan tapi rasanya sudah sesakit ini akhirnya Moa menurut walau tak rela.
"Akan-ku bantu. Hm?" Mengusap keringat di kening Moa yang tersenyum karena Zhen menuruti keinginannya.
Alhasil, Moa menurut kala Zhen mengarahkan tubuhnya untuk jatuh saling menempel.
"Jika terlalu sakit kita ubah posisinya. Jangan memaksakan diri hanya untuk membuat sejarah. Paham?"
"Em!" Moa mengangguk membenamkan wajahnya ke dada bidang berkeringat itu sementara Zhen mencoba menuruti permintaan Moa yang ingin menyatu dalam posisi ini.
Kala posisinya sudah pas. Zhen memulai penyatuan dengan pelan agar tak menyakiti Moa yang mulai meremas lengan Zhen menahan rasa perih dan sakit bercampur nikmat di bawah sana.
Tahu bagaimana cara mengakali ini, Moa segera memulai ciuman yang menggelora kembali dengan mendominasi.
Kerjasama yang sempurna. Zhen perlahan menekan agak kuat dengan kedua tangan membelai punggung Moa agar lebih rileks.
Moa juga terpancing ikut mendorong hingga kerja sama absuard pasutri nekat itu terjalin sempurna.
"Ehmm!" Geraman tertahan Moa kala merasa benda keras besar itu mulai merobek selaput mahkotanya.
Zhen berusaha lembut walau ia ingin memekik karena jepitan dan sensasi memikat itu sangat luar biasa.
"Z..Zhen!" Desis Moa melepas pangutannya dengan wajah tersembunyi di ceruk leher pria itu.
Zhen memeluk tubuh Moa lalu menekan lebih kuat hingga pekikan wanita itu terdengar bercampur dengan lenguhan nikmat dari Zhen yang merasa sangat hilang akal dengan semua ini.
....
Vote and like sayang
__ADS_1