Impoten Husband

Impoten Husband
Kenyataan yang sebenarnya


__ADS_3

Flashback on..


"Bukankah kita akan ke Amerika?" Tanya Yoshep yang bingung kala Zhen tak beranjak dari lantai ruang rawat Noah.


Mereka berdiri di atas tangga darurat dengan wajah tampan datar Zhen yang tampak menunggu sesuatu.


"Zhen! Jangan bermain teka-teki denganku. Aku tak lulus ujian matematika."


"Jio masih di negara ini!" Tegas Zhen membuat dahi Yoshep mengkerut.


"Maksudmu? Sudah jelas jadwal penerbangannya sudah ku katakan padamu."


"Itu hanya pengalihan agar aku pergi dari sini dan tak bisa melindungi anak-anak dan istriku," Jawab Zhen menyadari semua kejanggalan ini sejak Yoshep melaporkan dan bicara dengan Moa di kamar mandi tadi.


"Jadi, maksudmu Jio sudah tahu kalau kau mencurigainya hingga dia membuat jadwal palsu agar kau pergi dan dia punya kesempatan melancarkan rencananya."


"Hm. Jio memanipulasi keadaan. Jika dia ingin membunuh Cellien maka dia tak perlu menghilang secara tiba-tiba dan pasti akan membuatku curiga hingga mencarinya. Itulah yang dia mau."


"Shitt! Lalu apa yang akan kita lakukan? Moa bagaimana?" Penuh umpatan kesal.


"Moa sudah tahu rencana ini. Ia akan mengikuti alur rencana Jio sementara kita menunggu pergerakan mereka," Jawab Zhen sudah menyiapkan para bawahannya di sekitar rumah sakit agar mewaspadai asisten Jio jika datang.


Drett..


Ponsel Zhen menyala dan itu panggilan anggotanya yang tadi menunggu di depan rumah sakit.


"Katakan!"


"Tuan! Asisten Jio datang ke rumah sakit. Dia pergi ke lantai ruang rawat tuan kecil Noa!" Lapornya mengawasi keadaan di luar.


"Hm. Jika nanti dia keluar terburu-buru, kau harus menahannya selama 15 menit lebih!"


"Saya mengerti, tuan!" Jawab pria itu dan Zhen mematikan sambungannya.


Pintu tangga darurat ini sengaja Zhen buka kecil untuk melihat siapa saja yang lewat di lantai sana.


Tak berselang lama, asisten Jio tampak keluar dari lift. Pria muda berkumis tipis itu berjalan ke arah ruangan Noah dan wajahnya tampak lebih datar dari sebelumnya.


"Kita tangkap sekarang!"


"Jangan gegabah. Biarkan dia menjelaskan ini lebih dulu," Tahan Zhen tak ingin mencegat asisten Jio karena ia ingin sebuah kebenaran dan pengakuan mutlak.


Zhen melihat dari sela pintu dimana asisten Jio keluar dengan Moa dan mereka bicara agak jauh tak terlihat oleh pandangannya. Beberapa menit kemudian munculah sesosok pria bertopi dengan masker berjalan hati-hati masuk ke ruangan rawat Noah.


"Cctv sudah mereka matikan. Pergerakannya begitu halus dan terarah," Gumam Yoshep tak menyangka asisten Jio akan melakukan ini.


Zhen tak bergeming atau mengalihkan pandangan mata tajamnya ke arah pintu ruang rawat Noah yang perlahan terbuka.


"Zoe!" Gumam Zhen mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras melihat pria itu menggendong baby Zoe yang tak sadarkan diri di bahunya.


Dengan amarah dan emosi yang meluap, Zhen masih menahan diri untuk menunggu pria itu berjalan melewati pintu tangga darurat ini.


Kala waktunya pas, Zhen keluar langsung menarik keras bahu pria itu sementara Yoshep sigap menutup pintu.


"Berani kau menyentuh putriku!!" Geram Zhen mencekik leher pria itu kuat dan Yoshep mengambil alih baby Zoe yang masih tak sadar.


Deru nafas memburu dan wajah dingin mengkelam membuat Zhen nyaris mematahkan leher pria ini.


"T..tuan!"


"Apa salah putriku sampai kalian melakukan hal sepicik ini?" Tanya Zhen masih mencekik leher pria itu kuat dengan satu tangan sedangkan tangan satunya menekan bahu tawanannya dengan kasar ke dinding.


"T..tuan..t.."


"Dia akan mati. Lepaskan cekikanmu, Zhen!" Seru Yoshep melihat pria itu kesulitan melepaskan diri.


Alhasil Zhen meredam amukannya dan melepaskan cekikan tangan kekarnya. Matanya tak membendung rasa kasihan melihat pria itu terbatuk-batuk.


Dengan kasar Zhen menarik masker yang ada di telinga sosok itu sampai mereka di buat terkejut.


"Bastian?" Syok Yoshep yang tahu betul jika Bastian adalah suruhan setia Zhen.

__ADS_1


Bastian masih tampak pucat menormalkan deru nafasnya tak berani memandang wajah beku Zhen yang penuh dengan hasrat membunuh sekarang.


"Kau mengkhianati tuanmu sendiri? Sialan!!" Geram Yoshep tapi Bastian menggeleng dan berlutut dihadapan Zhen yang masih mengepalkan kedua tangannya.


"Maafkan saya! Maafkan saya, tuan! Saya terpaksa karena asisten Jio bilang ini demi kebaikan anda!"


Bughh..


Zhen melayangkan tinju panasnya menghantam rahang Bastian yang hampir terlempar ke tangga tapi Zhen menarik kerah jaketnya dan menekan pria itu ke dinding.


"Kebaikan kata kamu?? Kau ingin membunuh putriku dan kau masih bicara tentang kebaikan!!!" Geram Zhen kembali meninju perut dan dada Bastian berulang kali sampai pria itu terbatuk darah.


"Kurang baik apa aku memperkerjakan kalian yang seharusnya sudah mati jika tidak ku ambiil!!" Luapan kekecewaan Zhen menendang pinggang Bastian dengan darah mendidih.


Bastian hanya bisa tertunduk. Yah, ia memang hanyalah anak jalanan yang terlunta-lunta tak berdaya. Jika Zhen tak berhati besar mengangkat semua anak-anak seusianya yang dulu ia temui dan di beri hidup layak, pasti tak akan ada satupun dari mereka yang hidup karena kerasnya dunia sampai saat ini.


"M..maaf, tuan!"


Zhen tak bicara. Kekecewaan yang terpancar di matanya lebih besar dari amarah yang tadi meluap-luap.


"Hanya karena uang? Kekuasaan? Atau apa? Bisa-bisanya kau mengkhianati tuanmu," Timpal Yoshep ikut emosi.


Bastian menggeleng lemah segera berdiri memeggangi perutnya.


"T..tuan! Saya tak bisa menjelaskannya sekarang. Tuan harus mendengar sendiri dari asisten Jio. Saya tak tahu harus mengatakannya dari mana," Ucap Bastian tampak memohon.


Zhen membisu. Asisten Jio memang harus bertanggung jawab atas semua ini.


"Pergilah ikuti rencananya. Bawa ransel yang diisi boneka untuk mengelabui dia. Jangan sampai kau berkhianat!" Tekan Yoshep membiarkan Bastian pergi.


Sementara baby Zoe di kembalikan pada Moa.


..................


Flashback Of


Zhen menatap penuh tuntutan pada asisten Jio yang masih terkejut akan apa yang ia lihat. Disini sudah ada Zhen, Yoshep dan para bawahan Zhen yang ternyata sudah mengepung tempat ini.


Walau emosinya kian naik melihat asisten Jio menembak ransel itu diibaratkan anaknya sudah membuat darah Zhen mendidih ke ubun.


Yoshep-pun sama. Jikalau tadi mereka tak mengatur siasat secepat ini pasti baby Zoe sudah tewas di tempat.


"Jio! Tak-ku sangka kau ternyata penghianat besar. Kau mendalangi kecelakaan Zhen beberapa bulan lalu dan bekerja sama dengan Hupent!" Geram Yoshep yang sudah mendapatkan latar belakang asisten Jio atas perintah Zhen.


"Melihat ketulusan yang sering kau tunjukan ternyata itu semua palsu. Kau sama seperti lintah dalam lumpur!! Sangat pandai menyamarkan kebusukan mu," Imbuh Yoshep dan asisten Jio hanya diam.


Kedua matanya mulai berubah teduh dan tenang. Ia tak sanggup menatap mata penuh kekecewaan Zhen yang selama ini begitu berjasa padanya.


"Tangkap diaa!!" Titah Yoshep pada para bawahannya tapi Zhen bersuara.


"Aku ingin mendengar alasannya!"


Asisten Jio tersentak. Bisa-bisanya Zhen masih memberinya kesempatan padahal sudah jelas jika ia memang terlibat dalam segala hal.


"T..tuan!"


"Aku bukan tuanmu!" Tegas Zhen langsung meruntuhkan pertahanan asisten Jio yang tampak terkejut dengan ucapan Zhen.


Namun, ia sadar jika apa yang dia lakukan memang tak dapat di toleran lagi.


"Jelaskan atau kau mati disini!"


Asisten Jio mengambil nafas dalam. Hal yang sebenarnya ingin ia sembunyikan ntah sampai kapan ini akhirnya sekarang harus terungkap.


"Apa kau ikut dalam konspirasi kecelakaan itu?"


"Yah. Aku juga ikut," Jawab asisten Jio membuat Zhen semakin terpukul hebat.


"Karena harta?" Tanya Zhen sedikit na'as.


"Tidak."

__ADS_1


Tawa geli Yoshep meruak. Jawaban asisten Jio sukses menggelitik perutnya.


"Kau pikir kami ini bodoh, ha?! Keluarga Ming adalah konglomerat terpandang di seluruh China. Kau tak puas dengan posisi-mu dan itu karenanya kau ingin serakah membunuh Zhen!"


"Itu tidak benar!!" Bantah asisten Jio tak ingin Zhen semakin membencinya walau itu adanya.


"Aku melakukan itu karena masih mengira jika tuan sama dengan Hupent. Dia anak pria bajingan yang sudah membuat ibuku bunuh diri!!"


Mereka semua terdiam. Yoshep memang tahu jika ibu asisten Jio meninggal karena bunuh diri tapi tak tahu kenapa sebabnya karena di sembunyikan sangat ketat?!


"Aku membenci Hupent karena.."


Kepalan tangan asisten Jio menguat beralih menatap Zhen yang masih belum merubah raut wajah kelamnya.


"Karena sudah menghamili ibuku dan pergi seenaknya!" Menunduk.


Baik Zhen atau Yoshep langsung terkejut. Bastian-pun sama karena tak tahu bahwa inilah dasar utama asisten Jio berkhianat.


"Umurku 7 tahun saat itu dan bertemu tuan Zhen. Tapi, saat tahu tuan anaknya Hupent aku sangat membencinya sampai beberapa kali mencelakai tuan termasuk kecelakaan pesawat itu. Seharusnya Hupent juga ada di dalam pesawat tapi dia tiba-tiba pergi hingga hanya tuan yang terkena bahaya," Jelas asisten Jio antara marah dan menyesal.


Tapi, Yoshep masih mencerna semua ini walau ekspresi Zhen mulai sulit di jabarkan.


"Tunggu, jadi sebenarnya Hupent itu adalah..a..ayahmu?"


"Dia bukan ayahku! Dia bajingan!!" Geram asisten Jio dengan dendam membara panas.


Yoshep masih belum bisa menormalkan keterkejutan yang ia rasakan dan Zhen-pun hanya membisu kosong.


"Bajingan yang berbuat seenaknya. Dia hidup mewah di kediaman Ming sedangkan ibuku mereggang nyawa karena diaa!! Aku bekerjasama dengannya tapi tak semurni itu. D..dan maaf, aku kala itu memang berniat menghancurkan kehidupan keluarga Ming karena menurutku, kalian tak adil," Imbuh asisten Jio melemah di akhir kalimat.


"Apa kau juga memata-mataiku setelah kecelakaan?" Tanya Zhen mengajukan pertanyaan setelah beberapa lama diam.


Asisten Jio menggeleng. Setelah kecelakaan Zhen dan ia merawat pria itu, asisten Jio sadar jika apa yang ia lakukan selama ini salah dan sejak itu bertekad untuk mengabdikan diri pada Zhen.


"Tidak. Selama ini aku juga berusaha lepas dari rasa sakit itu sampai pada kecelakaan tuan dan aku sadar aku salah. Tapi.."


"Tapi, kenapa kau ingin melenyapkan putriku?" Geram Zhen lebih sakit dengan kejadian itu dari pada rentetan peristiwa kelam lain.


Bastian yang sudah tahu alasannya seketika membisu. Asisten Jio juga tak langsung menjawab karena ini akan jadi pukulan besar untuk Zhen.


"Kenapaa???"


"Dia bukan putrimu, tuan!"


Dahi mulus Zhen mengkerut dan ia mulai tak bisa menerima ucapan asisten Jio.


"Sudahi omong kosong mu karena aku tak akan melepaskan mu sama sekali!!" Emosi tak terkendali.


"Aku benar. Dia bukan putrimu dan dia bukan darah daging-mu. Jika kau tak percaya, tanya pada Bastian yang-ku suruh melakukan tes DNA kala Zoe lahir dulu!"


Zhen dan Yoshep beralih menatap Bastian yang tadi menunduk perlahan mengangguk membuat dunia Zhen seakan di guncang hebat.


"Aku tahu tuan pernah curiga tapi tuan sudah menyayangi Zoe sampai takut untuk melihat kenyataan!"


"T..tidak mungkin," Gumam Zhen dengan wajah tak percaya dan terlihat sangat tak ingin percaya itu.


"Dokter Petter juga tahu hal itu tapi dia tak berani memberitahumu karena pasti ini akan jadi bencana besar tapi aku..aku tak tahan melihat hasil hubungan kotor antara Cellien dan Hupent bajingan itu hidup!!"


Zhen diam dengan pikiran kacau. Z..Zoe bukan putrinya dan dia adalah hasil hubungan gelap Cellien dan Hupent? J..jadi selama ini..


"T..tidak. Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!!" Bantah Zhen dengan rahang mengetat ingin sekali menghancurkan apapun.


Asisten Jio selalu kasihan kala Zhen begitu menyayangi baby Zoe padahal dia adalah hasil pengkhianatan.


"Dua tahun yang lalu aku pernah memergoki Cellien di sebuah Club malam dan disana aku melihat mereka sangat dekat tapi kala itu aku tak peduli padamu tuan. Jadi, aku mengabaikannya," Sesal asisten Jio memendam para bersalah yang sangat kuat.


"M..maafkan aku, tuan!"


...


Vote and like sayang

__ADS_1


Maaf ya kk nggak sempet up tadi. Maklum senin banyak presentasi😭


__ADS_2