Impoten Husband

Impoten Husband
Diculik Alice


__ADS_3

Siang ini Moa berinisiatif menjemput kedua anaknya yang akan segera pulang. Ia tadi sudah menelepon Zhen tapi ponsel pria itu tak aktif. Sepertinya ia memang sedang sibuk dengan urusan perusahaan, pikir Moa yang hanya mengirim pesan pada sang suami.


Dengan mobil baru hadiah ulang tahunnya kemaren Moa mengemudi menuju sekolah baby Zoe lebih dulu. Ia sudah sangat cantik dengan dress selutut pas body lengan panjang tapi bahunya terbuka memperlihatkan kulit mulus Moa yang indah.


"Aku rasa ini tak begitu terbuka," Gumam Moa melihat dari spion atas bagian bahunya yang terpampang namun masih menutupi area dada.


"Semoga saja Zhen tak marah. Tapi, aku memang sangat merindukan wajah kesalnya setiap melihatku memakai pakaian seksi."


Moa senyum-senyum sendiri dengan santai membelokan kemudi menuju area taman kanak-kanak yang bertaraf internasional.


Hanya butuh waktu setengah jam Moa-pun sampai. Gerbang besar itu di jaga dua petugas keamanan yang mengantisipasi kejadian buruk di sekitar sini.


"Nyonya!" Sapa mereka sudah kenal dengan Moa yang dulu mengantar baby Zoe pertama kali ke sini.


Apalagi, siapa yang tak tahu jika wanita cantik mempesona itu adalah pendamping presdir Zhen pebisnis muda yang kaya raya di negara ini.


"Apa anak-anak sudah pulang?" Tanya Moa turun dari mobil seraya memakai kacamatanya.


Disini sepi dan lengang tak seperti biasanya. Pantas Moa bertanya seperti itu.


"Nyonya! Mereka ada kelas di dalam ruangan. Jadi, tak ada yang bermain di luar seperti biasa."


Moa mengangguk paham segera masuk ke dalam gerbang meninggalkan mobilnya di luar. Tempat ini luas dengan lapangan, taman bermain, danau dan banyak lagi hal-hal melatih perkembangan anak-anak.


Bangunannya juga moderen dan tentunya sangat elite. Hanya orang-orang kelas atas yang mampu memasukan anak-anak mereka ke sini.


"Aku berkeliling saja dulu menunggu kelasnya selesai," Gumam Moa berjalan santai di sekitar taman.


Ia membawa tas di tangan tapi hal itu dapat menyempurnakan sosoknya yang mahal.


"Ternyata kau juga disini!!"


Suara seseorang menyapa ketus Moa dari belakang.


"Jangan harap setelah berhasil menggoda presdir Zhen kau akan hidup senang!"


Moa berbalik. Mata emerald indah di balik kacamata mahal itu menatap nyonya Syui yang ada disini.


"Kau yang membuat putriku sampai trauma! Presdir Zhen bahkan membuat kami sampai di kecam keluarga Deyujin!!"


"Kau siapa?" Tanya Moa pura-pura tak kenal.


Sontak saja hal itu menyulut emosi nyonya Syui yang sangat muak dengan Moa.


"Sialan!! Apa yang kau berikan pada presdir Zhen sampai dia rela bertentangan dengan keluarga Deyujin hanya demi membelamu?!!"

__ADS_1


"Nenek tua berumur pendek sepertimu, mana tahu?!" Santai Moa begitu tenang padahal nyonya Syui sudah meledak-ledak.


"Kau ingat, ya!! Keluarga Deyujin tak kalah dengan keluarga Ming. Mereka tak akan tinggal diam karena kau berani mengusik kami!"


Tawa sinis Moa meruak. Ia seperti tak ada takutnya sama sekali dengan ancaman nyonya Syui.


"Ayolah. Kau pikir mereka begitu bodoh mau berperang dengan suamiku hanya demi dua sampah seperti kalian?"


"Kauu.."


"Sadar! Kau itu hanya istri kedua yang tak dianggap!"


Nyonya Syui dengan emosi mendekat ingin menampar Moa tapi sayangnya tangan lentik Moa sudah dulu terayun menampar pipinya.


"KAU BERANI MENAMPARKUU???"


"Kenapa harus tak berani?" Tanya Moa menurunkan sedikit kacamatanya santai.


"Suamiku sudah begitu baik tak membunuh kalian saat itu tapi, sepertinya kali ini akan berbeda."


Nyonya Syui terkejut. Ia terlampau emosi saat melihat Moa sampai lupa jika akan mendapat masalah lebih besar.


Wenxi mengalami trauma akan penyerangan itu sementara mereka berdua sudah di kecam oleh keluarga Deyujin karena berani mengusik tuan muda keluarga Ming.


"Tunggu saja. Kau akan mendapatkan ganjaranmu!" Ancamnya berlalu pergi.


Moa hanya acuh membenarkan kacamatanya lalu kembali melihat-lihat pemandangan indah di sini.


"Sepertinya aku harus datang kesini terus," Gumam Moa memejamkan matanya dan menghirup dalam aroma bunga-bunga disini.


Namun, matanya segera terbuka menajam ke arah samping dimana ada lesatan batu seukuran kelereng tajam menuju padanya.


Dengan cepat Moa memutar tubuhnya dengan gerakan indah tak melunturkan ketegasan menghindari lemparan batu itu.


Prokk..prokkk..


Suara tepuk tangan seseorang dari samping kanan hingga Moa menatap datar sosok wanita berpakaian minim yang berjalan mendekat.


"Tak salah dia berani membandingkan mu denganku!"


"Aku tak mengenalmu," Tegas Moa dengan aura saling berbenturan.


Wanita berambut sebahu itu tersenyum puas. Ia sudah mengamati Moa sedari tadi dan rasanya wanita ini bahkan punya wujud singa di dalam dirinya. Membuat siapapun merasa kecil ketika berhadapan dengan pesona kecantikan dan rasa percaya diri yang tinggi.


"Alice!" Menyodorkan tangannya sukarela.

__ADS_1


Moa tak membalas jabatan tangan itu membuat wanita bernama Alice tersebut menyunggingkan senyum tipis menarik kembali tangannya.


"Aku suka gayamu! Kau bukan asli China?"


"Hm. Tak perlu banyak basa-basi. Apa tujuanmu?" Tanya Moa dengan keangkuhan melebihi gunung Everest.


"Kau adalah wanita yang dikagumi kekasihku. Aku ingin berduel!"


"Aku tak punya waktu," Desis Moa ingin berbalik pergi tapi Alice tiba-tiba menyerang Moa.


Mendapat serangan mendadak seperti ini Moa dengan ketangkasan yang terlatih segera menangkis tendangan Alice dengan betisnya.


Gerakan mereka terarah dan sangat tangkas. Alice sudah terlatih dalam dunia beladiri begitu juga Moa.


"Aku belum puas denganmu!"


"Jangan mencari mati dengan sukarela," Desis Moa mendorong betis Alice kasar lalu meninju area wajah wanita itu.


Sayangnya Alice mengelak. Tubuhnya sigap berpindah ke belakang tubuh Moa lalu ingin menerjang pinggang wanita itu.


Namun, Moa tak akan mudah menerima begitu saja. Pergelangan kaki Alice ia tangkap dan dipelintir kuat dengan serangan beruntun memukul leher Alice sampai wanita itu terjerumus ke tanah.


"Sungguh. Aku tak pernah seserius ini," Decah Alice bangkit kembali dengan wajah gila menyenangi lawan seperti Moa.


Tapi, ia sadar Moa tak benar-benar melawannya. Wanita ini seperti menjaga sesuatu dalam dirinya agar tak terkena pukulan atau guncangan yang besar.


"Kau menahan diri?"


Moa tak menjawab. Ia berkelahi tapi kacamatanya masih setia di tempat seakan-akan Alice juga tak ada niat untuk bermain ganas dengannya.


"Aku tahu kau melawanku masih setengah-setengah. Aku tak suka itu."


"Aku tak ada waktu meladeni mu," Acuh Moa ingin pergi tapi Alice menyalakan suatu rekaman di ponselnya.


"Singaaa hiks!! Singaa!!"


Degg..


Jantung Moa seakan terlepas mendengar tangisan baby Zoe memanggilnya. Moa melepas kacamatanya hingga sorot menakutkan itu seakan menikam Alice hidup-hidup.


"Tak perlu cemas. Aku hanya mengurungnya di suatu tempat. Selagi kau mau bertarung serius denganku. Dia aman!"


Vote and like sayang..


Maaf say. Author lagi sibuk beberapa hari ini jadi upnya sebisanya aja. Tapi, tetap up terus kok walau kadang cuman 1 kali☹️

__ADS_1


__ADS_2