Impoten Husband

Impoten Husband
Noah kritis


__ADS_3

Kedua pria berwajah tampan dengan ciri khas masing-masing itu sudah berdiri di area depan kapal. Zhen tepat berdiri membelakangi Marco yang diam dengan hembusan angin menerpa wajah mereka berdua.


"Aku.."


Belum sempat Marco bicara, Zhen berbalik menghantamkan tinju panasnya ke rahang Marco sampai pria itu terhuyung ke pembatas pinggir kapal.


Para bawahan Zhen yang ada disekitar hanya bisa diam dengan eskpresi datar. Wajah Zhen-pun sudah sangat beku karena sedari semalam ia menahan diri untuk tak melakukan semua ini.


"Aku hanya menamparnya tapi kau sudah seperti ini," Desis Marco tertawa getir mengusap sudut bibir dan hidungnya yang berdarah.


Kala Marco sudah berdiri tegap, Zhen lagi-lagi meninjunya dan kali ini di bumbui tendangan hebat ke area pinggang Marco yang langsung menggeram karena tulang belakangnya terasa remuk redam.


"Apa lagi yang kau lakukan padanya?" Dingin Zhen memukul berdasarkan apa yang ia lihat di tubuh Moa.


"Biarkan aku bernafas sejenak."


"Hm," Gumam Zhen menunggu Marco yang terduduk bersandar di dinding kapal dengan satu kaki tertekuk menahan lengannya. Posisi yang cool seakan-akan mereka tak sedang berkelahi tapi lebih berlatih.


"Kau mencintainya?" Tanya Marco masih mengusap hidungnya yang berdarah.


"Tak ada urusannya denganmu."


"Cih. Bicara yang jelas! Jika tidak aku bisa mengantri untuk monster itu," Decah Marco mencari peluang.


Zhen menghela nafas. Ia mengeluarkan sapu tangan di sakunya dan melempar benda itu kasar ke wajah Marco dengan angkuh menghadap lautan.


"Bukankah kau dulu sangat mencintai wanita pirang?"


Zhen diam. Sorot matanya jauh melampau dan sulit di baca.


"Wanita yang kau jaga dan cintai itu berkhianat, bukan? Apa kau tak takut jika monster ini akan melakukan hal yang sama?"


"Menurutmu?" Tanya Zhen melirik Marco dengan tatapan sinis yang arogan.


Marco tergelak. Para bawahan Zhen yang melihat itu saling pandang karena baru kali ini mereka melihat dua pria pemegang wilayah itu bisa berdiri dengan hawa santai.


"Satu bulan saja dia sudah membuat kerugian begitu besar. Aku penasaran, apa kau mampu menghidupinya selama 10 tahun kedepan? Aku rasa saat itu kau akan ada kabar kebangkrutan keluarga Ming," Kelakar Marco tapi benar adanya.


Tak terbayangkan sama sekali bagaimana Moa menguras harta Zhen dan membuat keributan dimana-mana. Siapa yang tahan dengan monster satu itu?!


"Jika saat itu tiba, aku akan merebutnya darimu."


"Hm. Berharap saja," Gumam Zhen tak ambil pusing dengan ucapan Marco yang menurutnya tak akan terjadi.


Marco diam begitu juga dengan Zhen yang memandangi luasnya laut didepan sana.


"Sudah-ku duga kau tak akan mati dengan mudah. Tapi, ini kejutan yang lumayan," Gumam Marco melihat keadaan Zhen sudah lebih baik dari sebelumnya.


Rasa penasaran mulai menyeruk di hati Marco yang ingin tahu, kenapa Zhen bisa kembali dan untuk apa dokter sialan itu oleh mereka?


"Aku sudah tahu kau akan menyerang ku." Sambar Zhen seakan tahu apa yang sekarang Marco pikirkan.


"Lalu?"


"Aku membiarkan mereka menyerang apartemen-ku sampai terbakar. Mereka tak tahu jika aku sudah pergi dari sana bahkan sebelum kalian bergerak. Anggota yang melapor padamu itu adalah mata-mataku sementara bawahanmu sudah tewas di tempat."


"Shitt! Sudah-ku duga," Umpat Marco kesal bukan main.


"Aku tahu membawa Moa dari markas-mu tak mudah dengan kondisiku saat itu. Apalagi, kau berniat menjadikan dia milikmu," Gumam Zhen tapi ada intonasi marah di sana membuat Marco tersenyum sarkas.


"Aku akan merebutnya."

__ADS_1


"Coba saja. Ini hanya satu bulan, jika kau ingin bertaruh aku akan meladeni dengan senang hati," Tekan Zhen tak ada rasa takut untuk itu.


Marco menghela nafas lalu berdiri tegap. Memang terasa sakit dan tulang-tulangnya seperti remuk tapi Marco tetaplah pria yang kuat.


"Untuk apa kau mengambil pria itu?" Suaranya dingin dan sekarang cukup labil.


"Dia satu-satunya harapan bagi putraku untuk hidup."


"Putra??" Marco sedikit syok karena setahunya Zhen tak punya anak laki-laki.


"Kau.."


"Anakku dengan Moa!"


Degg..


Marco langsung terkejut. Wajahnya kosong tapi buru-buru ia mencoba untuk memahami ini.


"Apa maksudmu? Kau dan Moa itu sudah menikah? Lalu.."


"Yah. Dia istriku," Jawab Zhen dengan senyum penuh kemenangan.


Marco meninju kasar dinding kapal dan sepertinya ia dalam fase sangat patah hati sekarang.


Tapi, yang lebih siallnya lagi Zhen tak mengatakan jika Noah bukanlah anak kandung ia dan Moa melainkan anak angkat yang ntah bagaimana kisahnya.


"Jadi, kau mencari pria sialan itu untuk mengoperasi anakmu?"


"Hm. Dia menderita komplikasi jantung dan sudah lama berobat tak ada hasil pasti. Hanya ayah-mu satu-satunya harapan untuk hidup bagi putraku."


"DIA BUKAN AYAHKU!!!" Bantah Marco emosi.


Nafas Marco mulai tak beraturan dan menahan gejolak darah yang mengubun.


"Tak ada yang ingin menjadi anak bagi pembunuh sepertinya."


"Aku sudah bicara dengan dia. Kau salah paham."


"Salah paham??" Tanya Marco tertawa getir bahkan kedua matanya mulai memanas menahan emosi.


"Adikku kecelakaan, Zhen!! Dia seorang dokter dan aku percaya dia bisa menyelamatkan adikku tapi diaaa!!! Diaa memindahkan jantung adikku pada anak yang juga sedang kritis malam itu!! Kemana hati nuraninya sebagai seorang ayaah?? Dia tak pantas di sebut ayah atau dokterr!!" Keras Marco menggebu-gebu bahkan remasan tangannya di peggangan kapal sangat kuat.


Zhen paham itu. Hanya saja, saat membawa dokter Wen kembali saat itu ia mendapatkan sebuah kisah pilu.


"Seharusnya adikku masih ada. Dia tak akan kemana-mana tapi.."


Marco tak sanggup membahas itu lagi. Dadanya bergemuruh bahkan saat ini ia ingin sekali melenyapkan pria itu.


"Dia melenyapkannya," Gumam Marco dengan buku-buku tangan memutih dan wajah merah padam.


"Seharusnya bukan aku yang mengatakan ini tapi, saranku kau dengarkan penjelasan ayahmu dulu."


"Cih. Dia akan mengatakan jika adikku memintanya dan dia tak ada pilihan. Selalu itu dan tak akan berubah," Sarkas Marco membencinya sampai mati.


Zhen menghela nafas. Mungkin dari sinilah sifat kejam Marco muncul.


"Kau apakan anak yang berhasil di operasi itu?"


"Aku bunuh," Santai Marco menyeringai. Zhen diam karena ia tahu jika Marco-lah yang menjadi dalang atas hilangnya anak itu.


"Ku ambil kembali jantung adikku. Itu bukan milik orang lain!" Imbuhnya tak punya hati nurani.

__ADS_1


"Aku tahu kau pasti sangat sakit hati. Tapi, aku rasa adikmu lebih sakit dari itu."


"Yah. Dia sakit karena.."


"Karena jantung yang seharusnya sekarang bermanfaat bagi anak lain, kau ambil kembali. Adikmu tak suka itu!"


"Kauu..."


Zhen pergi. Marco memandang penuh emosi pada Zhen yang tak paham dengan rasa sakitnya.


"Kau tahu apa, haa??? Keluargamu lengkap!! Kau punya segalanya, brengseek!!!"


Zhen yang mendengar makian Marco hanya menuli. Baginya, tak ada yang perlu di jelaskan pada orang yang juga tak peduli dengan kehidupan orang lain.


"Apa yang terjadi?"


Tanya Moa yang tadi mendengar suara Marco memaki Zhen. Moa berdiri di depan pintu setelah menyelesaikan sarapannya.


"Sudah selesai makan?"


"Hm. Kalian bertengkar?" Tanya Moa menurut kala Zhen menggenggam tangannya masuk ke dalam.


"Kapan kami kami tak bertengkar, hm?!" Melirik kecil Moa.


"Cih. Dia itu memang sangat menyebalkan. Dia lebih menyebalkan darimu."


"Jangan terlalu membencinya. Kau bisa jatuh cinta nanti."


Moa tergelak puas tapi ekspresi wajahnya berubah ketus kala melihat asisten Jio tengah duduk di sofa dekat tangga seraya mengobati sekujur luka di wajahnya yang lebam-lebam.


"Apaa??" Sambar Moa setengah membentak membuat asisten Jio segera mendelik gerah beralih menghampiri Zhen.


"Tuan! Tadi ada laporan dari rumah sakit."


"Operasinya lancar?" Tanya Moa lebih dulu menyambar karena takut terjadi sesuatu pada putranya.


Asisten Jio tak memandang Moa dan lebih fokus pada Zhen karena ia akan naik pitam dengan wanita ini.


"Dokter bilang jantung yang ingin di transplantasi mengalami masalah. Kemungkinan operasi akan gagal jika tak mendapatkan jantung lain sesegera mungkin."


"A..apa??" Syok Moa mulai melemah.


Zhen menahan bahu Moa agar tetap tenang walau sekarang ia juga mulai tak tenang.


"Tenanglah. Kita akan mencari solusi."


"N..Noah," Gumam Moa mulai khawatir. Zhen tahu jika Moa sangat mencemaskan keadaan Noah sekarang.


"Kita akan kembali secepat mungkin. Aku akan berusaha mencari solusinya. Kau tenang!"


Moa hanya diam. Dia duduk di anak tangga pertama seraya mengusap wajahnya yang memucat sementara Zhen bicara dengan para bawahannya.


Ya tuhan. Baru saja aku senang dan bahagia dengan kabar baik tentang putraku tapi kau..kenapa kau begitu jahat padaku?! Kenapaa???


Batin Moa tak bisa berpikir jernih lagi. Yang ada di benaknya sekarang hanya Noah dan apa yang akan ia lakukan jika anak itu benar-benar pergi.


...


Vote and like sayang


Maaf ya kk. Aku tadi full acara di kampus.. Nggak sempet nulis 😭

__ADS_1


__ADS_2