Impoten Husband

Impoten Husband
Hilang Kendali


__ADS_3

Pernyataan dari asisten Jio benar-benar membuat Zhen tak bergeming. Apalagi, asisten Jio menunjukan bukti tes DNA yang dulu sempat ia foto sebagai peggangan jika hal seperti ini terjadi.


Setelah melihat semua itu rasanya dunia Zhen runtuh bahkan fondasi kokoh yang ia buat sebelumnya jadi goyah dengan sendirinya.


Baik Yoshep atau-pun Bastian benar-benar prihatin dengan apa yang terjadi. Zoe yang selama ini Zhen sayangi sepenuh jiwanya ternyata hasil pengkhianatan istri dan ayahnya sendiri.


"Zhen!" Lirih Yoshep tapi Zhen tak bicara.


Kakinya melangkah pergi melewati asisten Jio yang hanya bisa memandang nanar punggung kekar sang tuan keluar dari gereja ini.


"Seandainya kau beritahu dia kala itu, pasti perasaanya tak akan sehancur ini," Geram Yoshep menatap tajam asisten Jio yang menunduk tahu akan kesalahannya kala itu.


Tak tahu apa yang harus ia lakukan pada asisten Jio, Yoshep segera pergi menyusul Zhen.


Namun, ketika sudah sampai di depan ia tak lagi menemukan mobil dan pria itu pergi membawa dukanya sendiri.


"Kenapa manusia seperti Hupent ini harus tercipta di dunia?!" Umpat Yoshep mengusap wajahnya kasar merutuki pria sialan itu.


Karena tak tenang membiarkan Zhen sendirian. Yoshep segera meminta kunci mobil pada asisten Jio yang ternyata juga ingin pergi.


"Enyah saja kau dari hidup Zhen. Dasar pengkhianat!"


Asisten Jio tak peduli. Ia masuk ke mobilnya dan mau tak mau Yoshep ikut duduk di samping asisten Jio yang mengemudi.


"Apa mungkin dia kembali ke rumah sakit?" Gumam Yoshep menghubungi nomor ponsel Zhen namun tak aktif.


Yoshep kembali melakukan panggilan dan lagi-lagi nihil hanya suara operator yang menjawab.


"Ke rumah sakit saja. Siapa tahu dia kembali ke sana."


"Aku tak yakin," Gumam asisten Jio kenal Zhen bagaimana.


Pria itu akan menjauh jika ada masalah. Dia juga tipe memendam untuk beberapa lama dan jika sudah tenang Zhen akan kembali dengan sendirinya.


Asisten Jio mengemudikan mobil ke arah rumah sakit. Kebetulan kondisi jalan tak begitu ramai hingga dalam 25 menit mereka sampai memangkas waktu.


"Tuan Yoshep!" Sapa para bawahan Zhen kala Yoshep keluar dan terburu-buru diikuti asisten Jio yang tak mempedulikan sekitarnya.


"Apa tadi tuan kalian sudah kembali kesini?" Tanya Yoshep membiarkan asisten Jio lebih dulu naik ke lift sementara ia bertanya pada para penjaga.


"Tidak ada. Tuan Zhen belum pulang sama sekali."


"Shitt! Kemana dia?!" Umpat Yoshep segera menyusul asisten Jio ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai ruang rawat Noah.


"Menurutmu, apa Zhen akan menerima Zoe?" Tanya Yoshep tapi asisten Jio hanya diam.


Yoshep mengumpat. Baik bos atau asisten sama-sama menguji tekanan darahnya.


Pintu lift terbuka dan keduanya keluar dengan tak sabaran masuk ke ruang rawat Noah.


Disana mereka melihat Moa tertidur di sofa sedangkan dua anak belia itu masih lelap di atas ranjang.


"Kau yakin ingin membangunkan Moa?" Tanya Yoshep dan tanpa menjawab asisten Jio mendekati sofa.


"Moa!" Panggilnya mengguncang bahu Moa hingga wanita cantik itu tersadar.


Manik emerald indah itu seketika menajam melihat asisten Jio tepat ada di depan matanya.


Tanpa pikir panjang, tinju ganas Moa terayun ringan menghantam keras rahang asisten Jio sampai pria itu terhuyung ke lantai.


"Apa yang kau lakukan disini? Tak puas membuat konspirasi untuk menculik putriku?!" Geram Moa penuh penekanan agar kedua anaknya tak bangun.


Yoshep tersenyum puas melihat rahang asisten Jio lebam membiru. Kekuatan belut betina milik Zhen ini memang tak diragukan lagi.


"Dan kau!" Beralih pada Yoshep yang tersentak mulai serius.


"Moa! Apa Zhen menelfonmu tadi?"


Dahi mulus Moa mengkerut lalu menggeleng. Tatapan bingungnya berulang kali terlempar pada asisten Jio yang berdiri lalu pada Yoshep.


"Apa yang terjadi? Dimana Zhen?"


"Ceritanya panjang. Sekarang, kau coba hubungi dia!" Pinta Yoshep merasa Zhen tak akan peduli pada siapapun tapi mungkin jika itu Moa maka ada harapan.


"Kenapa dengan kalian semua?!" Gumam Moa setengah mengumpat segera mengambil ponsel di atas meja sofa lalu menghubungi Zhen.


Panggilan itu tak di jawab. Tentu saja Moa cemas bukan main karena Zhen tak pernah mengacuhkannya jika tak ada masalah.

__ADS_1


"Kalian apakan suamiku?? Ha??" Geramnya menarik lengan kedua pria itu kasar ke luar ruangan.


"Ini pasti karena kau!!" Tuduh Moa mendorong bahu asisten Jio yang tak ingin berdebat saat ini.


"Ini memang salahku tapi, kau harus menemukan tuan lebih dulu agar semuanya tak bertambah rumit."


"Siall!! Awas saja jika terjadi sesuatu padanya. Kau tak akan-ku lepaskan!!" Desis Moa membuat peringatan besar.


Drett..


Ponsel asisten Jio berdering dan ada nama Bastian di sana.


"Kau menemukannya?"


"Yah. Tuan ada di rumah sakit tempat Hupent di rawat. Sepertinya dia dalam kondisi yang buruk. Para bawahan tak berani menegur tuan!"


Asisten Jio menghela nafas mematikan sambungan itu sementara Moa sudah mendengar semuanya.


"Berikan kunci mobilmu!" Menggeledah saku celana asisten Jio lalu pergi setelah mendapatkan benda itu.


"Jaga anak-anakku. Jika terluka, nyawa kalian taruhannya!" Tegas Mos tanpa menoleh sama sekali masuk ke lift.


Yoshep ingin mengikuti Moa tapi asisten Jio mencegatnya.


"Tuan tak akan mau bicara dengan siapapun."


"Tapi, setidaknya dia tak akan melakukan hal bodoh, bukan?!" Jengkel Yoshep karena cukup cemas dengan Zhen.


Pria itu berulang kali di kecewakan bahkan sedari kecil tak pernah hidup dengan tentram. Ntah bagaimana lagi Zhen akan menyikapi semua ini?!


.........


Dengan langkah lebar penuh kemarahan itu Zhen memasuki ruang rawat Hupent yang di jaga oleh dua bawahannya.


"Tuan!" Sapa mereka tapi kala melihat wajah kelam Zhen keberaniannya ciut.


Zhen tak menjawab sapaan apapun yang lewat di telinganya. Ia masuk dengan kasar membuka pintu itu mengejutkan para team medis yang tadi memantau kondisi Hupent.


"Tuan Zhen!" Sapa mereka saling pandang bingung.


"Tuaan!!" Syok mereka sontak mundur.


Deru nafas Zhen memburu hebat bahkan matanya mengigil dengan kedua tangan mengepal gemetar menahan emosi yang benar-benar membakar habis darahnya.


"SIALAN KAUU!!" Maki Zhen meninju wajah tuan Hupent membabi-buta bahkan mereka bisa melihat jika Zhen sangat dikuasai oleh amarahnya.


Belum cukup membuat wajah pria itu dipenuhi lebam dan berdarah, Zhen mencabut selang oksigen itu lalu menarik kasar kerah baju pasien Hupent sampai jatuh keras ke lantai.


"T..tuan!" Gugup mereka syok sekaligus takut kala Zhen menginjak-injak tubuh tuan Hupent sekuat tenaga.


Matanya menggelap oleh emosi dan kemarahan sampai Zhen tak peduli jika perut tuan Hupent sudah bermandikan darah karena pukulannya.


"Tuan!! Tuan dia bisa mati!"


"Mati!!! Bahkan mati-pun aku tak akan melepaskannya," Desis Zhen meraih tabung oksigen di sampingnya lalu dihantamkan ke tubuh tuan Hupent sampai darah itu menciprat ke lantai dan dinding.


Tuan Hupent tak bergerak karena ia memang kritis. Tapi, amukan Zhen malam ini membuat nyawanya juga tak akan bertahan.


"Kau sialan!" Geram Zhen dengan mata merah berair tapi tak jatuh.


Sakit, perih dan hancur tanpa sisa *******-***** jantungnya saat ini.


Kedua tangan mencengkram sampai pucat membendung emosi yang naik di setiap detak jantungnya.


"KENAPA KAU BEGITU MENJIJIKAAN??? AKU SANGAT MUAK LAHIR DARI BENIHMU!! SIALAAN!!" Amuknya kembali memukulkan tabung oksigen itu dengan keras tanpa ampun.


Bahkan, tubuhnya sudah bermandikan darah tapi Zhen tak berhenti. Bayangan pengkhianatan itu terus melintas di benaknya.


Wanita yang aku anggap istriku dulu ternyata juga bermain dengan ayahku sendiri sampai menghasilkan anak dan yang sangat menyedihkannya, anak itu aku besarkan penuh kasih sayang seperti anakku sendiri tapi kaliaan..


"KALIAN SEMUA BAJINGAAN!!!"


Zhen sungguh benci dengan semua orang yang telah mengkhianatinya.


Mereka yang tak sanggup melihat Zhen menggila segera keluar. Para penjaga-pun ikut terkejut dengan amukan Zhen karena rencananya tuan Hupent akan di penjara tapi malah berakhir dengan tragis seperti itu.


"Apa yang harus kita lakukan? Tuan tak pernah semarah ini sebelumnya."

__ADS_1


"Tenanglah. Berdoa saja semoga tuan tak melampiaskannya pada kita," Gumam mereka tapi tidak.


Pintu terbuka kasar memperlihatkan sosok pria tampan berwajah iblis yang sudah keluar dari neraka.


"T..tuan!" Mereka gemetar khususnya para team medis yang terbagi menjadi suster wanita dua orang.


"Kalian mengkhianati-ku?" Desis Zhen dengan senyum iblisnya muncul.


Belum sempat mereka menjawab, Zhen menyerang mereka dengan membabi-buta bahkan lari-pun tak akan bisa.


"APA AKU TERLALU NA'IF SAMPAI KALIAN MEMPERMAINKAN HIDUPKU, HAA??? INI YANG KALIAN MAU!!"


Zhen membuat semuanya ketakutan tapi tak ada satu-pun yang lolos. Zhen melayangkan tinju penuh kebencian dan pukulan tanpa belas kasih membuat para penjaga itu tergeletak dengan keadaan remuk redam.


"T..tuan!" Salah satu suster yang histeris karena melihat semua rekan-rekannya sudah tak sadarkan diri dengan keadaan wajah berlumuran darah.


Kesadaran Zhen menggelap. Yang ada di mata dan kepalanya hanya rasa jijik dan muak dengan semua orang yang sudah mempermainkan hidupnya.


"Kau ingin lari?"


"T...tuan!" Gemetar wanita itu memucat ingin berlari tapi Zhen menarik lengannya keras hingga tubuh wanita itu menghantam ke dinding yang sudah dihiasi cairan kental milik semua korbannya.


Tak ada belas kasih atau rasa iba sama sekali. Bahkan, Zhen mencekik leher wanita itu sampai tubuhnya terangkat beberapa senti dari lantai tertekan di dinding.


"L..p..lepass!!" Kehabisan nafas bahkan wajahnya pucat pasih.


Zhen tak peduli. Tangannya semakin mencengkram sampai wanita itu memukul-mukul tangan kekar Zhen yang berlumuran darah tapi nihil. Lehernya terasa mau patah dan paru-paru panas seperti terbakar.


"Kalian terlalu meremehkan ku," Desis Zhen dengan tinju buta mengarah ke wajah wanita itu tapi..


"Zheeen!!!"


Suara Moa yang datang langsung berlari ke arah Zhen yang menuli dan tetap ingin melenyapkan siapapun yang tertangkap oleh matanya.


"T..tolong!!"


"Hentikaaan!!" Keras Moa langsung menarik lengan Zhen yang kokoh mencekik wanita itu tapi nihil. Zhen kehilangan kendalinya dan terlalu kuat.


"Zhen! Dia bisa tiada. Lepaskaan!!"


"Kalian hanya sekumpulan pengkhianat," Desis Zhen tak memandang Moa yang syok melihat keadaan di sini.


Tapi, sekarang bukan waktunya untuk terkejut.


"Zhen! Lepaskan dia!"


"Kalian pantas mati!" Desis Zhen melayangkan kepalan tangannya tapi Moa segera berdiri di depan wanita itu menantang tinju Zhen yang akan mengenai wajahnya.


Namun, kepalan tangan Zhen terhenti tepat di depan pipi Moa yang tak gentar sama sekali walau kenyataanya jika Zhen tak berhenti maka tulang pipinya akan patah.


"Kau bukan Zhen yang-ku kenal," Gumam Moa mengembalikan kesadaran Zhen pada dirinya sendiri.


Mata yang semula hanya ingin membunuh perlahan redup dengan akal sehat kembali ketempat.


"Lepaskan dia!"


Zhen menatap datar wanita yang ia cekik sudah tak sadarkan diri lalu beralih pada Moa yang masih memandang dalam netra tajam Zhen yang sudah kosong.


"Lepaskan, hm?" Lembut Moa dan barulah Zhen melepaskannya.


Pandangan terbuang asal melihat ironisnya keadaan di sini. Moa yang melihat ke arah pintu ruangan yang terbuka seketika semakin terkejut dengan keadaan Hupent.


Zhen membunuhnya. Yah, dia sudah tak berbentuk.


"Z..Zhen!"


Zhen tak bicara. Ia pergi meninggalkan area itu dengan kebisuan.


"Zhen!" Panggil Moa mengejar Zhen yang akhirnya berhenti tapi ia tak memandang Moa.


"Biarkan aku sendiri!" Gumamnya lalu kembali melanjutkan langkah menjahui Moa.


Sungguh, Moa tak pernah melihat Zhen sampai sekacau ini dan pasti sudah terjadi masalah besar yang tak sederhana.


...


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2