
Pagi ini mereka sudah kembali ke daratan. Mobil yang menjemput baby Zoe dan Noah sudah datang di dekat pelabuhan kapal mewah yang dua hari ini berlayar untuk sekedar merayakan ulang tahun baby Zoe.
Sementara Moa, ia tak ikut pulang dulu karena Zhen masih tinggal untuk mengintrogasi bawahan musuh yang semalam tertangkap.
"Nyonya! Percayakan mereka pada saya!" Pinta Bastian keluar dari mobil bertemu langsung dengan Moa yang mengantar anak-anaknya keluar kapal.
"Jaga mereka. Aku tak ingin melihat luka apapun di tubuh putra-putriku!"
"Baik, nyonya!" Bastian memberi waktu sejenak untuk baby Zoe dan Noah memeluk Moa bergantian.
Senyum hangat Moa meruak berjongkok mengusap kepala dua bocah cilik ini.
"Noah! Mommy titip calon menantu."
"Mulai lagi," Decah Noah seraya mengecup pipi Moa berulang kali.
Hal yang sama dilakukan baby Zoe sampai mereka masuk ke mobil yang di kemudikan Bastian.
"Mommy!! Cepat pulaang!!" Seru mereka berdua muncul di jendela mobil yang melaju stabil meninggalkan pelabuhan.
Moa melambaikan tangannya pada dua bocah malang yang tak tahu menahu soal apa yang terjadi saat ini.
Sebenarnya, Zhen sudah menceritakan soal penyerangan semalam sekaligus tentang asisten Jio. Tapi, Moa justru fokus pada serangan untuk merebut Noah.
"Kau kembali juga rupanya," Geram Moa mengepal. Setelah kematian kakaknya Moa tak pernah lagi mengurus pria itu.
Noah mengidap penyakit jantung karena turunan dari kakaknya. Karena itu juga ayah Noah meninggalkan kakaknya dalam kesendirian hingga membuat darah Moa mendidih setiap membayangkan momen itu.
Namun, amarah Moa yang tadi meledak-ledak seketika di redam oleh pelukan hangat tubuh jangkung seseorang.
"Babi!"
"Hm? Anak-anak sudah pergi dengan aman. Ayo ke kapal!" Ajak Zhen begitu lembut mengiring Moa kembali ke kapal pesiar mereka.
Moa menurut. Pinggangnya di belit mesra oleh Zhen yang menjaga langkah Moa dengan sangat posesif. Ia tak membiarkan jempol kaki wanita itu membentur apapun yang bisa menyebabkan cidera.
"Dimana mereka?"
"Ruang gelap di bawah!" Jawab Zhen membawa Moa pergi memasuki area kapal yang terletak paling bawah. Disepanjang perjalanan para bawahan Zhen menunduk karena mereka tak di perbolehkan memandang nyonya muda milik sang tuan.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka menuruni anak tangga terakhir sampai ke lantai bawah yang lembab. Sangat tak nyaman apalagi guncangan disini cukup terasa.
"Kau mual?" Tanya Moa pada Zhen yang baru pertama kesini karena semalam ia membiarkan Yoshep mengurusnya.
"Tidak. Bagaimana denganmu? Disini lembab dan pengap. Jika tak nyaman, aku akan menyuruh Yoshep memindahkan mereka ke atas."
"Tidak perlu. Jika mengintrogasi diluar ada kemungkinan mereka kabur," Jawab Moa memang tak bermasalah tapi ia rasa Zhen-lah yang tak nyaman.
Pintu besi ruangan itu terbuka memperlihatkan seorang pria yang semalam memimpin penyerangan sudah tergantung di rantai berdiri didinding kapal dengan keadaan tubuh tanpa atasan dipenuhi luka cambuk dan pukulan.
"Dia sama sekali tak mau membuka suara," Ucap Yoshep yang duduk di depan pria itu dengan dua bawahan memeggang cambuk bergerigi.
Moa menatap santai percikan darah di dinding dan aroma amis yang tak sedap di cium ini.
"Sudah sedari semalam anak buahmu menyiksanya tapi masih tetap bungkam."
"Dia yang ingin mengambil putraku?" Tanya Moa terdengar dingin ditelinga mereka.
Yoshep berdiri. Ia rasa sekarang bukan waktunya untuk memancing amarah bumil muda ini.
"Dia yang memimpin penyerangan. Seharusnya dia tahu lebih banyak soal orang di balik ini."
"Arahkan matanya padaku!" Pinta Moa hingga dua bawahan Zhen yang memeggang cambuk di kiri kanan sosok malang ini segera menarik rambut sang tawanan mendongak pada Moa.
Dia masih setengah sadar dengan wajah di penuhi luka dan mulut berdarah nyaris sobek.
"K..kalian..t..tak akan mendapatkan..a..apapun!" Gagapnya karena menahan sakit.
Zhen hanya menatapnya datar tapi jujur perutnya bergejolak dengan aroma amis ini. Tiba-tiba saja penciumannya jadi sensitif dan sulit melakukan apapun.
"Pergilah keluar. Kau akan muntah nanti!" Pinta Moa beralih pada Zhen yang berkeringat dingin.
"Aku baik-baik saja. Kau teruskan!"
Moa pasrah. Ia berjalan mendekat dan berdiri dihadapan pria itu dengan manik emerald menyorot dingin ke dalam mata penuh ketakutan tapi juga kerasnya pendirian sosok di depannya.
"Kau yakin tak ingin bicara?"
Dia tetap diam. Moa tak sesabar itu menunggu pria ini bicara hingga menyodorkan tangannya kebelakang.
__ADS_1
Yoshep tahu apa yang diinginkan wanita psikopat ini hingga merogoh saku celananya mengeluarkan pisau kecil yang tipis dan memberikannya pada Moa.
"Pisau," Gumam Zhen sadar Moa akan apa.
"Belut! Jangan mengotori tanganmu dengan darahnya. Biarkan bawahanku melakukan itu!"
"Aku sedang tak ingin berunding," Tegas Moa membuat Zhen diam.
Yoshep tersenyum puas. Inilah yang ia tunggu dan sangat menyenangkan melihat Moa melakukan hal bertentangan dengan kodrat wanita.
Pria itu diam tapi matanya memancarkan rasa takut melebihi sebelumnya. Cambuk itu sudah membuat ia kehilangan setengah nyawa apalagi dengan pisau tipis di tangan lentik wanita ini?!
"Aku tak akan bertanya dua kali! Jika kau tak kuat maka katakan tapi jika tidak, aku akan bermain denganmu," Desis Moa mengarahkan pisau itu ke dada bidang penuh luka pria itu.
Yoshep menyeringit melihat Moa menggoreskan ujung pisau tipisnya ke permukaan dada pria itu dengan santai bak sedang melukis di kanvas.
"S..sakitt kauu.." Menggeram sakit bahkan memberontak karena Moa semakin intens dan gila tapi terlihat elegan dan penuh ketenangan.
Dua bawahan Zhen memeggangi pria itu agar tak memberontak sementara tangan Moa sudah berlumuran cairan merah diiringi teriakan heroik dari objek karya seninya.
"Hentikaaan!!! Kau gilaaa!!"
Moa membatu. Dia tak bicara sesuai apa yang ia katakan sebelumnya.
"T..tolooong!!! Hentikaan!!"
Yoshep ngeri hingga bersembunyi di balik tubuh kekar Zhen yang mulai merasa perutnya bergejolak.
Dirasa ingin muntah Zhen segera mendorong Yoshep lalu bergegas keluar memuntahkan isi perutnya yang tadi bergejolak.
"Shittt!!" Umpat Zhen merutuki dirinya yang sangat aneh. Ia sudah sering melihat hal seperti ini apalagi mencium aroma darah tapi kenapa sekarang ia jadi merasa mual dan pusing.
"Zhen! Mungkin itu bawaan bayi kalian. Biarkan Moa menyelesaikannya!" Seru Yoshep berdiri di belakang Zhen yang berjongkok di dekat dinding kapal.
Teriakan pria itu masih mendominasi tapi ia tak bicara apapun selain meminta Moa berhenti melukiskan pisau di tubuhnya.
"Hentikaaan!! Bunuh akuu sialaan!!"
Zhen bersandar ke dinding menormalkan reaksi perutnya. Yoshep meminta salah satu bawahan mengambil botol air untuk Zhen yang masih diam di tempat.
"Bunuh akuuu!!!"
"Moa benar-benar kejam," Gumam Yoshep melihat kembali adegan mengerikan itu.
Membuat seni seunik ini membutuhkan kekuatan mental dan keberanian yang besar.
"Benar kau tak ingin menyerah?" Tanya Moa masih dengan wajah dingin menakutkannya.
Pria itu setengah sadar. Dadanya sudah tak bisa di katakan baik-baik saja.
"B..bunuh..a..aku.." Lemahnya tak kuat.
"Setelah kau mati aku tak punya mainan lagi. Tapi,.."
Moa menjeda kalimatnya lalu menancapkan pisau itu ke bahu pria ini hingga teriakannya kembali melengking.
"Aku menginginkan ANAKMU!"
Mata pria itu melebar. Sejak kapan Moa tahu anaknya? Wanita ini..
"Moa! Dari datanya dia tak punya keluarga sama sekali," Seru Yoshep mendengar ucapan Moa tadi.
"A..aku..aku tak punya.." Timpal pria itu setengah bernafas.
Senyum iblis Moa muncul menarik pisau yang tertancap ke bahu pria itu sampai ke bawah hingga kulitnya merekah namun tak sampai ke dalam karena Moa pandai menyiksa orang.
"Orang di balik semua ini tak akan sia-sia mengumpani bawahannya."
"Maksudmu?" Tanya Yoshep tapi Zhen paham maksud istrinya.
"Mereka membuat identitas palsu bagi anggotanya agar jika tertangkap maka keluarga dari bawahannya tak akan terekspose oleh musuh. Alhasil, mereka dengan sukarela bunuh diri," Jelas Zhen berdiri tegap namun tak masuk karena ia benar-benar tak tahan dengan aroma darah itu.
"Kejam sekali," Gumam Yoshep tak menyangka hal yang ada di organisasi Marco juga akan ia temukan disini.
"Katakan padaku jika tak ingin tempatmu digantikan oleh sesuatu yang lebih lembut!" Suara Moa terdengar sangat mengerikan.
Lagi pula, siapa suruh membangkitkan amarah wanita itu apalagi sampai mengusik Noah kesayangannya.
"A..aku.."
__ADS_1
"Bawa anaknya kesini!" Tegas Moa pada Yoshep yang segera mengangguk ingin pergi..
"T..tungguu!!" Akhirnya dia bicara.
Yoshep tersenyum puas. Padahal anak itu tak ada disini. Moa hanya memainkan taktik mental yang pas.
"B..baiklah..aku..aku akan..mengatakannya!" Pucat dan tak bertenaga.
"5 menit!"
"Tapi,..bagaimana setelah aku mengatakan itu..tuanku akan menghabisi ..keluargaku?" Tanya-nya masih berani bernegosiasi walau terpaksa.
"Tenang saja. Aku menjamin keluargamu dengan nyawa!"
"Nyawa apanya???" Suara Zhen terdengar marah mendengar Moa membawa-bawa soal nyawanya.
"Jangan marah. Kau tahu sendiri Moa suka berkata egois," Bisik Yoshep tapi Zhen benar-benar kesal.
Bicara ya bicara saja. Tak perlu membawa-bawa nyawa, apalagi Moa sedang mengandung.
Moa mengacuhkan Zhen. Ia fokus pada sosok yang sekarang tak berkutik di cengkramannya.
"K..kami tak mengenal siapa dia karena setiap datang dia selalu memakai masker."
"Kau ingin membohongiku?" Desis Moa tak punya kesabaran.
Pria itu menggeleng cepat dan dari sorot matanya ia berkata jujur.
"Selama ini kami hanya diperintahkan olehnya tanpa tahu latar belakang pimpinan. Tapi yang jelas, dia juga ada di bawah kekuasaan lain. Bisa dikatakan dia orang kepercayaan seseorang yang lebih berkuasa darinya."
Moa diam. Ia tahu jika suami kakaknya itu seseorang yang berhati picik dan sangat egois. Memimpin organisasi besar dan menyelinap kesini itu mustahil tanpa dukungan orang berkuasa karena dulu mereka hidup pas-pasan.
"K..kami punya b..banyak hacker dan m..mereka didik sejak kecil menjadi monster!" Ucap pria diakhir kesadarannya lalu pingsan karena kehilangan banyak darah.
"Obati lukanya. Bukan waktunya dia tiada!" Tegas Moa membuang pisau itu lalu melangkah keluar.
Zhen ingin memeluk Moa tapi melihat darah di tangan wanita itu langkahnya terhenti dengan perut bergejolak.
"Siaall!!" Umpat Zhen berbalik kembali muntah.
Yoshep hanya menggeleng jengah melihat keras kepala calon bapak sejati ini.
"Selidiki tentang apa yang dia katakan. Kemungkinan masalah ini ada hubungannya dengan organisasi ilegal atau suatu keluarga besar!"
"Aku mengerti. Jio juga sudah dari tadi mencari tahu soal ini. Bersihkan dulu tanganmu. Zhen bisa mati muda sebelum jadi ayah sesungguhnya," Kelakar Yoshep
Moa beralih menatap Zhen yang masih muntah. Wajah tampan pria itu juga pucat tapi ia masih memaksakan diri untuk menemaninya.
"Pergilah istirahat!"
"Yoshep!!" Panggil Zhen seraya mengibaskan tangannya memberi isyarat untuk membawa Moa mencuci tangannya.
Yoshep paham segera pergi mengiring Moa mencuci tangan tak jauh dari ruangan itu.
Zhen bersandar ke dinding. Pria bermasker itu kemungkinan ayahnya Noah tapi kenapa dia baru datang sekarang?! Apa bukan hanya Noah yang ingin ia ambil atau..
Pandangan Zhen kembali menyorot arah kepergian Moa tadi.
"Coba saja mengambil istriku," Geram Zhen mengepal dengan rahang mengeras.
....
Sementara di sebuah distrik IT milik keluarga Ming. Asisten Jio tengah mengadakan pertemuan dengan para team IT yang ia suruh menganalisis vidio rekaman di club yang jangga dan cctv kapal semalam.
Selain itu, ia juga meminta keberadaan pria bermasker di kapal kemaren segera di temukan.
"Asisten Jio! Sepertinya rekaman ini telah di modif sangat ahli. Semuanya halus tanpa ada jejak pemalsuan," Jelas Gregor ketua IT disini turun tangan.
"Apa tak bisa kau pulihkan?" Tanya asisten Jio dendam kusumat dengan wanita itu.
"Jika aku memperbaiki ini maka semua program kita akan rusak. Dia merancang semua ini sangat rapi dan profesional."
"Jika hanya untuk memujinya kau jangan muncul lagi di hadapankuu!!" Geram asisten Jio membuat Gregor terdiam membisu.
Namun, di kala rekaman itu tengah di pulihkan tiba-tiba saja muncul tulisan di komputer mereka.
APA KAU BEGITU MERINDUKANKU SAMPAI MEMINTA BANYAK ORANG UNTUK MENEMUKANKU, SAYANG?"
"BRENGSEKK!!!" Maki Asisten Jio benar-benar frustasi dengan ini.
__ADS_1
....
Vote and like sayang