Impoten Husband

Impoten Husband
Menjelang pesta


__ADS_3

Pagi ini Moa di kejutkan karena bangun di sebuah kamar mewah yang asing baginya. Kamar ini bukanlah tempat ia tidur semalam bahkan perasaan Moa seketika cemas karena tak menemukan Noah atau baby Zoe yang semalam tidur di sampingnya.


"Noaah!!  Zoee!!" Panggil Moa turun  dari ranjang dan bergegas keluar dari kamar.


Namun, matanya melebar melihat kondisi tempat ini benar-benar mewah dan dipenuhi penjagaan ketat serta pelayan yang hilir mudik membawa nampan dan serbet.


Mereka menyapa Moa dengan ramah tapi Moa tak bisa percaya dengan mudah. Jangan-jangan musuh Zhen telah bertindak menculiknya semalam?!


"Ini dimana? Kenapa aku bisa disini?" Tanya Moa pada salah satu pelayan wanita yang lewat di depan kamarnya.


"Nyonya muda! Sekarang kita ada di kapal Pesiar milik tuan Zhen."


"Apaa??" Pekik Moa terkejut.


Matanya mengerijab beberapa kali seakan ini mimpi. Semalam ia bertengkar dengan Zhen dan tiba-tiba sudah ada di kapal Pesiar berdesain moderen ini.


"Tuan berpesan, setelah anda bangun dan membersihkan diri segeralah ke lantai atas untuk makan!"


"B..bagaimana dengan anak-anakku?" Tanya Moa dan wanita itu tersenyum.


"Mereka.."


"Mommy!!" Suara Noah dan baby Zoe berlari kecil ke arah Moa diikuti Chan pengasuh baby Zoe dulu di apartemen.


Keadaan mereka terlihat sangat baik apalagi baby Zoe sudah aktif seperti biasanya. Moa berjongkok menyambut kedatangan dua malaikat kecilnya itu.


"Dimana daddy?" Tanya Moa mengusap kedua kepala Noah dan baby Zoe.


"Uncle di lantai atas. Dia menyuruh kami menjemput mommy," Jawab Noah tahu mommy-nya sedang cemas.


Moa menghela nafas lega. Tapi, ia akan buat perhitungan pada Zhen yang seenaknya membawa pergi tanpa sepengetahuannya.


"Mom! Uncle yang lain juga datang ke sini. Sepertinya akan ada pesta besar!"


"Uncle tampanmu itu sedang geger otak. Jangan hiraukan dia!"  Ucap Moa pada Noah yang hanya bisa menghela nafas.


Moa berdiri menatap Chan si gadis muda berponi yang sudah lama tak ia lihat.


"Tolong awasi anak-anakku, ya?"


"Baik, nyonya!" Jawab Chan mengangguk.


Moa kembali masuk ke kamarnya sementara pelayan wanita tadi pamit pergi untuk mengerjakan yang lain. Di dalam kapal besar ini terlihat sangat sibuk dan ramai.


"Tuan kecil dan nona kecil. Ayo kembali ke lantai atas!" Ajak Chan pada dua adik kakak tak sedarah itu.


"Aku akan pergi dengan mommy. Jika Zoe mau, pergilah dulu!"


"Zoe..tunggu..mommy!" Jawab baby Zoe mengikuti perkataan Noah tersenyum mengusap kepalanya.


Chan hanya menghela nafas. Ia tak pergi kemanapun dan hanya bisa diam mengawasi baby Zoe dan Noah yang bermain kejar-kejaran di depan kamar Moa.


Noah tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Dulu ia hanya bisa terbaring dan memandang sendu anak seusianya bermain dengan leluasa tapi sekarang, ia bebas berlari kemanapun bersama baby Zoe yang juga tampak senang dengan keberadaan Noah.


Karena asik bermain berdua, mereka tak sadar jika ada yang tengah mengawasinya. Sosok pria bermasker yang sedang membantu memasang lampu-lampu di tempat ini.


"Kakak! Kejall Zoee!!" Pekik baby Zoe tak bisa menyebut huruf r jika tak mengikuti orang bicara.


Noah mengikuti permintaan baby Zoe yang berlari lamban dengan sepasang kaki mungilnya ke arah para pelayan pria yang tengah sibuk memasang lampu dengan naik di atas tangga.


Melihat baby Zoe lari dengan begitu riang, si kecil itu tak sadar jika ia akan menabrak tangga yang di pijaki pria itu.


"Zoee!!" Teriak Noah berlari cepat mendahului baby Zoe hingga ia yang akan menabrak tangga itu.


Namun, siapa sangka pria di atas tangga meloncat turun dan langsung meraih lengan Noah ke dekapannya.


"Tuan kecil!" Panik Chan mendekat begitu juga para pelayan dan penjaga yang tadi sibuk sampai tak memperhatikan dua bocah tengah bermain ini.


Wajah Noah pucat karena dadanya nyaris membentur tangga itu.


"Kakak!!" Pekik baby Zoe berhambur memeluk Noah yang masih ada didekapan pria asing.


Chan buru-buru mengambil alih baby Zoe dan Noah dengan wajah panik karena ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk maka baik Zhen atau Moa pasti akan mengulitinya hidup-hidup.


"Tuan kecil! Tuan kecil maafkan saya. Saya ceroboh!"


"Tidak apa-apa," Jawab Noah beralih mendekap baby Zoe yang cemas bukan main melihat adegan seperti itu.


Noah diam tapi matanya memandang pria bermasker yang tadi menyelamatkannya.


"Terimakaih, uncle!"


Pria itu hanya mengangguk lalu menjauhkan tangga mini ini dari sekitar ruangan. Chan mengiring baby Zoe dan Noah duduk di sofa ruangan ini sambil menunggu Moa keluar.


"Apa ada yang luka?" Tanya Chan sungguh cemas memeriksa tubuh Noah.


"Tidak ada aunty. Jangan cemas."


"Saya takut akan di marahi nyonya muda. Sungguh, seharusnya saya tak membiarkan kalian bermain di ruangan yang tengah didekorasi." Penuh sesal dan cemas.


"Mommy tak akan marah. Lagi pula aku baik-baik saja."


Akhirnya Chan lega. Ia duduk di samping Noah yang tengah memangku baby Zoe menenagkan si kecil itu agar tak menangis.


Pandangan Noah kembali melihat ke arah pria tadi. Ntahlah, ia merasa aneh saat pria itu memeluknya.

__ADS_1


"Mungkin perasaanku saja," Batin Noah mengabaikan.


Beberapa lama kemudian pintu kamar terbuka. Mata mereka langsung ditarik untuk fokus pada sosok wanita cantik bertubuh tinggi seksi yang tampak mempesona dengan dress khas pantai yang sangat terbuka.


Ada satu tali yang saling terhubung di leher Moa sedangkan bagian belakangnya terbuka memamerkan punggung putih mulus dengan panjang dress diatas paha.


"Mom!" Tegur Noah tak pernah suka jika Moa memakai pakaian seksi seperti ini.


Tahu akan ketidaksukaan putranya, Moa hanya menampilkan wajah polos dengan rambut tergulung keatas mempertontonkan keindahan leher jenjangnya. Sungguh, mereka benar-benar terpana akan pesona ibu anak dua ini.


"Ayo ke atas. Daddy kalian pasti sudah menunggu."


"Aku yakin uncle tampan juga tak suka dengan pakaian mommy," Peringat Noah agak ketus turun dari sofa.


Moa hanya masa bodoh. Ia tiba-tiba saja ingin tampil seperti dulu. Hot, seksi dan mematikan. Jiwa liarnya benar-benar ingin memberontak.


"Jangan hiraukan dia. Maniak seperti itu tak tahu cara berpakaian yang benar."


"Mommy akan menyesal," Sahut Noah berjalan mengikuti Noah menaiki tangga menuju lantai atas di atap kapal.


Chan mengikuti Moa dari belakang. Ia kagum dengan nyonya mudanya yang selalu melakukan apapun sesuka hati tanpa takut bahaya mengintai.


"Kau masih muda dan labil. Jangan mencotoh gaya berpakaianku jika belum pernah mematahkan tangan seorang pria!"


Glek..


Chan menelan ludah. Ucapan Moa benar-benar sangat menyentil hasratnya yang tadi mulai termotivasi.


"Nyonya memang punya gaya sendiri. Dia berpakaian seksi tapi tak terlihat murahan atau penggoda pria," Batin Chan kagum dengan aura tegas dan mahal Moa.


Setelah beberapa lama mereka sampai di atap kapal. Disini ada kolam renang berbentuk garis angka delapan dengan kiri kanan terdapat beberapa kursi dan meja untuk bersantai.


Fokus Moa tertuju pada satu meja sedang yang tengah dikelilingi tiga pria tampan dengan perbincangan serius.


Zhen duduk membelakangi arah kedatangan Moa jadi ia tak tahu apa yang tengah menarik perhatian Marco dan Yoshep tadi bicara tapi terhenti mendadak.


"Lanjutkan rencananya!" Pinta Zhen tapi mereka seakan tak punya nyawa.


Mata tak berkedip bahkan Marco mematung kosong dan Yoshep menelan ludah berat.


"KALIAN MENDENGARKUU!!!" Keras Zhen mengejutkan mereka berdua hingga langsung membuang pandangan ke sembarang arah.


Marco memperbaiki cara duduknya dan Yoshep meraih jus jeruk di atas meja dengan teggukan besar.


"Idiot!" Umpat Zhen kesal.


Zhen bersandar ke kursinya dengan kemeja pantai dan celana pendek yang santai sama seperti Marco dan Yoshep.


Ketiganya terlihat sangat tampan terutama Zhen yang tampil agak berbeda. Ia yang biasa jarang memperlihatkan bentuk tubuh sekarang jadi agak liar dan bebas.


"Z..Zhen!" Gumam Yoshep merasa agak merinding menunggu respon dari Zhen.


"Hm. Bagaimana pendapatmu dengan penginapan di bawah laut?"


"Bukan soal bisnis," Jawab Yoshep melirik Marco yang terang-terangan memandang Moa yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Lalu?" Satu alis Zhen naik tapi matanya memandang heran Marco.


"Lihat di belakangmu!"


Wajah datar Zhen menoleh kebelakang hingga sedetik kemudian matanya melebar melihat Moa sudah berdiri di belakang kursinya.


"Selamat pagi!" Sapa Moa pada Marco dan Yoshep secara bergantian.


Tapi, tak ada satupun dari mereka yang berani membalas sapaan itu karena wajah Zhen sudah membeku dengan asap mengepul di kepalanya.


"Boleh bergabung?"


"T..tentu boleh. A..aku tak masalah," Jawab Yoshep agak merinding.


Moa tak menghiraukan ekspresi menakutkan Zhen yang tak bisa lagi menahan rasa panas di mata dan dadanya.


"Ganti pakaianmu!" Berdiri menarik lengan Moa pergi dari sini.


"Kau apa-apaan? Haa!!"


Zhen tak menjawab. Ia tak pernah suka melihat Moa berpakaian terbuka di depan orang lain selain di hadapannya.


Tapi, Moa sekarang sedang tak ingin menurut. Ia menyentak lengannya dari cengkraman Zhen berhenti tepat diantara Noah dan baby Zoe yang tadi bermain air.


"Aku mau pakai ini lalu apa masalahmu?" Tantang Moa mendongak angkuh.


Rahang Zhen mengetat. Bahan yang Moa gunakan tipis dan daleman serta branya bisa di lihat jelas.


"Apa tidak sekalian saja kau tak memakai apapun?!!"


"Kau mau aku telan.."


Zhen langsung menyambar bibir Moa ganas bahkan Noah harus menutup mata baby Zoe agar tak ternodai seperti matanya.


"Kakak!"


"Ada sepasang babi lewat!" Ucap Noah asal membawa baby Zoe ke arah meja Marco dan Yoshep.


"Memang tak ada belas kasih. Sudah jelas kita masih disini," Jengah Yoshep memakan kacang di atas meja.

__ADS_1


Marco hanya diam. Matanya beralih ke hamparan laut luas di sekeliling mereka karena memang kapal ini berlayar untuk liburan yang direncanakan Zhen dalam waktu semalam.


"Sayangnya pemilikmu adalah Zhen," Batin Marco menghela nafas.


Jika bukan Zhen yang mengklaim Moa sebagai miliknya, maka ia akan membawa wanita itu pergi dari semua mata pria yang memandang.


"Uncle! Dimana uncle Jio?" Tanya Noah yang kenal asisten Jio saat dulu selesai operasi.


Marco dan Yoshep saling pandang. Ada raut sulit di jelaskan dari Yoshep yang menghela nafas.


"Aku sudah tahu bagaimana ceritanya karena tak sengaja mendengar pembicaraan mommy dan grandmanya Zoe. Aku rasa asisten Jio bukan orang yang jahat."


"Kau memang dewasa sebelum waktunya," Sahut Yoshep mengakui hal itu.


"Yah. Sejak Zhen mendepaknya keluar dari perusahaan dan lingkungan keluarga Ming, dia tak punya tujuan lagi. Menghabiskan hari di club bahkan selalu merepotkan ku," Imbuhnya kesal.


"Apa uncle tampan tak bisa memaafkannya?" Tanya Noah tapi Yoshep dan Marco menghela nafas.


"Zhen bukan tipe orang yang akan mengambil kembali apa yang sudah ia campakkan. Jio tahu itu dengan baik."


Noah diam. Tangannya yang tadi membekap kedua mata baby Zoe perlahan turun.


"Tapi kau tenang saja. Zhen tak benar-benar mencampakkan Jio!"


"Maksud uncle?" Tanya Noah heran.


Yoshep hanya tersenyum kecut. Marco tak mau ikut campur karena baginya itu tak penting.


"Aku ada urusan!" Bangkit dari duduknya karena tak tahan melihat Zhen dan Moa yang tengah bertengkar tapi justru melakukan adegan erotis di depan matanya.


"Jangan lupa datang ke pesta malam ini. Jika tidak, Zhen pasti akan menarikmu paksa kembali ke sini!"


"Cih, dia memang si pemaksa," Gumam Marco menunggu helikopter anggotanya datang menjemput.


Zhen yang tadi tengah fokus menghukum bibir Moa melihat gelagat Marco yang ingin pergi.


"Sebentar sayang!" Ucapnya melepas pangutan lalu memaki Marco.


"TAK ADA SIAPAPUN YANG BOLEH PERGI DARI KAPAL INI SEBELUM PESTA ULANG TAHUN PUTRIKU SELESAI TERMASUK MONYET SIALAN ITUU!!!" Suara Zhen menggelegar bahkan dapat di dengar oleh para pelayan di dalam.


Nafas Moa yang tadi terengah-engah seketika tercekat mendengar ucapan Zhen. Jadi, Zhen ingin merayakan ulang tahun baby Zoe yang dulu terlewatkan?!


"K..kau ingin melaksanakan pesta untuk Zoe?" Tanya Moa tak dapat bergerak dari eratnya pelukan Zhen.


"Hm. Pestanya harus besar dan mewah. Siapapun akan mengenal putriku yang paling cantik sejagat raya!" Bangga Zhen mengakui itu.


Mata Moa memanas. Tak di sangka Zhen akan bergerak secepat ini apalagi mempublish baby Zoe sebagai anak paling beruntung.


"Kau serius? Zhen!" Masih tak percaya.


"Tidak. Karena aku sangat-sangat serius," Jawab Zhen meralat pertanyaan Moa yang tak bisa membendung rasa bahagianya.


Kali ini Moa yang memulai ciuman panas mereka tanpa malu dengan mata para pria malang yang hanya mengacuhkan mereka.


"Ayo bermain di dalam air," Bisik Zhen memeluk pinggang Moa lalu menjatuhkan tubuh mereka ke dalam air tanpa melepas ciuman sama sekali.


Marco dan Yoshep sudah terbiasa dengan itu jadi mereka hanya menganggap angin lalu.


"Ayo pergi! Kapal ini sudah tak baik untuk mata para pria lajang!" Ajak Yoshep mengiring Noah dan baby Zoe keluar dari area atap yang jadi tempat bercinta pada manusia tak ada akhlak itu diikuti Marco.


Zhen masa bodoh. Setelah puas berciuman di dalam air Zhen menarik Moa bersandar ke pinggir kolam hingga pemandangan tubuh seksi itu membutakan matanya.


"Sekarang kau boleh tak memakai apapun!" Desis Zhen menarik lepas tali dress di leher Moa hingga pakaian itu terlepas dengan sendirinya.


Nafas Moa semakin berat kala Zhen mencumbu lehernya terutama tai lalat yang ada di belakang telinga wanita itu.


Air kolam yang tadi dingin berubah panas akan atraksi yang akan mereka lakukan. Moa yang memang ahli dalam memuskan para pria tentu tak pernah mau di jamah secara monoton.


Jika ia puas maka lawan mainnya juga akan meledak-ledak karena pelayanan hebatnya.


Ketika keduanya sama-sama polos dan siap tempur, Moa menyelam ke bawah untuk memanjakan milik yang suami yang beberapa hari ini cukup jarang menjenguknya.


"Shitt!! Kau luar biasa, sayang!" Geraman Zhen mencengkram pinggir kolam menikmati servis terbaik di bawah sana.


Keduanya bertempur saling adu skil dewanya sampai tak sadar jika ponsel Zhen di atas meja makan sana berdering ada panggilan dari sekretaris Xiho.


Ada beberapa pesan masuk ke ponsel Zhen dan yang menjadi titik fokus adalah sekilas foto seorang pria yang tengah seranjang dengan seorang wanita misterius menjadi topik panas hari ini.


Bahkan, nama Zhen di bawa-bawa lantaran pria di foto itu adalah kaki tangan setia dari putra tunggal keluarga Ming.


.....


Sosok yang menjadi topik hangat hari ini justru tengah depresi berat. Amarahnya sampai ke ubun kala mendapati wanita sialan yang berani menjebaknya malam itu malah mempublish foto dengan casption membuatnya jijik.


"Jangan sampai aku menemukanmu!!" Geram asisten Jio buru-buru mengenakan pakaiannya karena ia masih ada di kamar club sedangkan wanita itu menghilang ntah kemana.


....


Vote and like sayang


Sekedar info guys..


Yok mampir di novel author


KEMALUT SENJA di Fiz**o ya😊

__ADS_1


__ADS_2