Impoten Husband

Impoten Husband
Bukan malaikat melainkan iblis


__ADS_3

Sudah satu bulan lamanya Moa berada di dalam markas Marco. Selama itu-pula Moa membuat keributan besar bahkan markas Marco berubah menjadi ladang ranjau dan tempat itu sering mengalami masalah.


Moa membunuh banyak anggota Marco yang bekerja di bagian dalam dan membuang pasokan organ yang siap edar. Bukan itu saja, Moa benar-benar tak takut mati di bunuh Marco yang selalu di buat naik pitam dan emosi kala Moa merusak sistem markas.


"Cepat keluar!! Ada kebakaran di block A!!!" Suara para penjaga yang mengamankan para team bedah dengan suara alarm bahaya mendominasi ketakutan.


Semuanya kacau. Satu persatu tabung yang menampung tubuh anak-anak yang diawetkan itu terbuka hingga berserakan di lantai.


Marco yang baru sampai di markasnya karena ada urusan beberapa hari di luar seketika mengeraskan rahang dengan sorot mata tajam.


"Bos! Aku akan amankan bagian markas yang lain!" Ucap Carlos berlari pergi ke area penyimpanan.


Mubai yang berdiri di belakang Marco tampak benar-benar tak menyangka jika markas mereka perlahan-lahan hancur dalam jangka waktu kurang dari satu bulan.


"Pipa gasnya bocor. Sepertinya ada yang telah menghancurkannya!"


"Cepat padamkan api yang ada di belakang!!"


Histeris mereka tak lagi menghiraukan Marco sangking paniknya.


Tahu siapa dalang di balik kekacauan ini, Marco segera berjalan masuk ke area dimana Moa ia kurung karena satu minggu yang lalu telah menggagalkan pembedahan di markas.


Ekspresi Marco benar-benar kelam bahkan lebih mengerikan dari saat pertama ia menangani Moa.


Setibanya di depan sebuah pintu besi yang di kunci selayaknya brangkas itu, Marco membukanya hingga perlahan benda itu terbuka.


Sorot mata tajam Marco langsung menangkap keberadaan Moa yang tengah duduk santai di kursi tepat di tengah-tengah ruangan segiempat tak ada furniture apapun selain dinding besi polos baja.


"Ingat perkataanku?" Desis Moa dengan wajah tak main-main.


"Kau memang ingin cari mati," Geram Marco masuk mendekati Moa yang berdiri dengan angkuh.


"Serahkan dokter Wen!"


"Kau tak akan mendapatkannya," Desis Marco dan Moa mengepal.


Rasa takut dan khawatir jika terjadi sesuatu pada putranya membuat Moa tak bisa tenang. Walau Marco tak segan memukulnya, Moa tetap membuat kekacauan hingga dalam satu bulan kurang ia bisa mengusik ketenangan pria ini.


"Baik. Jika tak bisa-ku dapatkan maka MATILAH BERSAMAKU."


"Kau sudah keterlaluan!" Geram Marco langsung mencengkram kuat kedua pipi Moa dan ini bukan yang pertama kalinya.


Bekas luka yang di buat oleh kuku Marco di tulang pipi Moa tampak jelas karena ia sudah habis kesabaran dengan keras kepala Moa yang tak mau menurut padanya.


"A..ku akan membunuhmu!" Desis Moa meludahi wajah Marco hingga pria itu kehilangan kendali dan menampar keras Moa sampai terbentur kedinding.

__ADS_1


Keningnya berdarah tapi Moa tetap tertawa getir seakan-akan tak peduli jika ia mati disini. Baginya, percuma hidup tapi putranya tak ada di dunia ini.


"Cuihh!! Pecundang!!" Maki Moa meludahi sepatu Marco yang mendidih.


"Jangan berharap setelah membuat kerugian sebesar ini kau bisa lolos dariku!"


"Yah. Aku tunggu," Seringai Moa membuat Marco berbalik pergi dan pintu itu kembali tertutup otomatis.


Selepas kepergian Marco sontak saja Moa langsung menekuk kedua kakinya. Yah, sekarang titik paling berat dimana ia merasa takut karena sudah satu bulan tapi tak dapat menemukan dokter Wen.


Bahkan, ia terperangkap disini tanpa kejelasan.


"Maafkan mommy ya, Noah! Mommy tak bisa memberikan yang terbaik," Gumam Moa memejamkan matanya seraya bersandar ke dinding.


Tak peduli akan lelehan darah di kening menyusuri pelipisnya karena bagi Moa, sekarang ia manusia paling lemah.


Bagaimana dengan Zhen?


Satu lagi beban pikiran Moa. Selama kabar penyerangan anggota Marco berhasil, Zhen hilang bak di telan bumi.


Moa takut jika sekarang pria itu memang benar tak bernyawa tapi Moa yakin, setidaknya Zhen tak selemah itu dan masih hidup walau ntah bagaimana situasinya.


.....


Di luar sana. Marco tengah mengurus kekacauan yang di buat Moa. Ntah bagaimana cara wanita itu bekerja karena ruang tahanan yang mengurung Moa bukanlah bisa di bobol sembarangan.


"Padamkan api itu dan jangan sampai menjalar ke semua ruangaan!!"


"Kami sudah berusaha, bos! Gudang dan block lainnya terbakar ludes bahkan kita harus cepat mengantisipasi gas yang bocor atau markas akan meledak," Jawab Mubai yang masih berperang dengan alarm peringatan bahaya.


Marco diam mengusap wajahnya kasar. Ia salah mempertahankan Moa di markas ini dan itu keputusan paling buruk yang pernah ia ambil.


"Siall!! Dia benar-benar menguji kesabaranku!" Geram Marco meninju dinding di dekatnya.


Mubai hanya bisa diam. Ia tahu bosnya menyukai Moa dan selama ini berusaha menundukan wanita itu tapi nihil, Moa selalu memberontak dan membunuh banyak anggota dan team bedah penting mereka.


"Saran saya, bos! Kau lenyapkan wanita itu!"


Marco hanya diam. Melenyapkan Moa belum pernah terpikir di benaknya. Apalagi, setiap Marco mengancam maka Moa seperti tak takut mati.


"Bereskan kekacauan ini! Aku tak ingin kita terendus aparat negara!"


"Baik!" Jawab Mubai membiarkan Marco pergi setidaknya untuk menenagkan pikiran.


Marco pergi ke sebuah tempat rahasia yang selama ini hanya ia dan dua kaki tangannya yang tahu. Tempat agak jauh dari pengoperasian markas dan lebih tepatnya ia baru pertama kali ke sini setelah satu tahun berlalu.

__ADS_1


Dinding itu membuka pintu selayaknya lift. Marco masuk ke dalamnya dan benda itu tertutup membawa Marco ke area bawah tanah rahasia.


"Ini semua karena pria sialan ini!!" Geram Marco memijat pangkal hidungnya membayangkan wajah pria yang diinginkan Moa.


Pintu baja itu terbuka dan langsung membawanya masuk ke sebuah ruangan seperti rumah pada umumnya. Bedanya, ruangan ini tampak remang dengan tempat pembakaran yang ada di sudut ruangan.


Tak ada jendela tapi ada pipa cerobong yang terhubung ke luar.


"Puas kau membuat hidupku hancur!" Geram Marco pada sosok pria paruh baya yang sedang duduk di tepi ranjang minimalis memandangi api di tempat pembakaran.


"Kenapa masih ada yang mencarimu?? Seharusnya kau tak di pakai lagi di industri manapun!!" Makinya menendang meja.


Sosok itu menoleh. Yah, kedua matanya berkaca-kaca dengan kacamata masih bertengger jelas.


Tubuh tinggi agak kurus karena lama mendekam oleh dendam sang anak.


"Koko!"


"BERHENTI MEMANGGILKU ITUU!!" Geram Marco berapi-api seperti sangat membenci sosok ini dalam hidupnya.


"Kau tak layak di sebut seorang ayah karena kau mengorbankan putramu sendiri demi orang lain!! Demi nyawa orang lain kau mengambil nyawa adikkuu!!"


Pria itu tampak semakin terpukul hebat dengan ucapan putra sulungnya. Ia hanya bisa diam terpaku akan kejadian masa lalu yang merubah segalanya.


"Kau bilang dokter itu adalah profesi mulia, bukan? Tapi kauu!! Kauuu sendiri yang mengotorinya!! Bajingaan!!"


"H..hentikan bisnismu," Gumamnya tak tahan setiap terbayang akan bisnis kotor putranya.


Marco tertawa getir. Ada kemarahan di wajahnya tapi jelas ia tengah mengalami tekanan mental sejak lama.


"Jangan harap kau bisa lepas dari hukuman ini. Aku bersumpah tak akan membiarkan siapapun menjadi korbanmu!"


Marco pergi kembali masuk kedalam benda itu setelah meluapkan emosinya pada pria yang sudah merubah hidupnya menjadi sangat buruk.


"Kau bukan malaikat. Kau iblis!" Gumamnya menyandarkan kepala ke dinding yang membawanya ke atas.


Sementara pria paruh baya tadi menangis penuh penyesalan. Ia menyesal karena sudah membuat Marco jatuh ke dalam kegelapan tapi ia tak punya pilihan lain.


"Maafkan aku. A..aku juga berat memindahkan jantung adikmu pada anak itu tapi, a..adikmu sendiri yang memintanya," Lirih pria itu merasa sangat hancur.


Ia tak menyadari jika pintu yang tadi membawa Marco tiba-tiba kembali terbuka dan ia langsung menoleh tapi..


"Ikutlah denganku!"


Degg..

__ADS_1


...


Vote and like sayang


__ADS_2