Impoten Husband

Impoten Husband
Jadi sangat aneh


__ADS_3

Moa pergi ke dapur. Ini sudah pukul 3 dinihari dan sungguh matanya sangat berat dan mengantuk karena berjaga sepanjang waktu untuk baby Zoe.


Suasana dapur sangat sunyi. Moa menuangkan air di dalam gelas lalu minum dengan tegukan besar membuktikan betapa hausnya ia sekarang.


"Tubuhku terasa lelah. Apa mungkin kurang istirahat?!" Gumam Moa melenturkan lehernya ke kanan kiri seraya meletakan gelas di atas meja dapur.


Saat ia ingin beranjak pergi, Zhen tiba-tiba sudah muncul di depan pintu memandang intens Moa tapi wanita cantik itu hanya acuh.


"Aku ingin bicara!"


"Aku tak mau," Singkat Moa ingin melewati Zhen tapi tiba-tiba pria itu langsung menggendongnya ala karung beras dengan ringan.


"Apa yang kau lakukan , haa??" Memberontak dengan memukul punggung kekar Zhen beberapa kali tapi nihil.


Pria itu menggendongnya keluar dari dapur menuju kamar yang ada di sebelah ruangan baby Zoe dan Noah.


"Lepaas!!"


Zhen menurunkan Moa di atas ranjang dan berdiri menatap serius Moa yang setengah terbaring dengan kedua kaki menjuntai.


Keduanya bersitatap dalam tapi pandangan Zhen lebih bersahabat dari pada Moa.


"Ayo berbaikan!"


"Atas dasar apa kau meminta itu?" Tanya Moa masih dengan amarahnya.


"Aku suamimu. Lagi pula masalahnya sudah selesai. Aku janji tak akan seperti itu lagi."


"Masalah ini belum selesai!" Tekan Moa ingin bangkit tapi Zhen langsung mengungkung tubuh Moa posesif.


Tak ada cela atau ruang bagi wanita itu untuk pergi atau memberontak padanya.


"Bagian mana?" Tanya Zhen dengan hidung mancung saling bersentuhan.


Jantung Moa berdegup cukup kencang. Jujur, selama beberapa minggu ini mereka tak punya waktu untuk berdua seperti ini dan rasanya ia rindu akan momen itu.


"Masalahnya dimana? Aku akan merubahnya untukmu!"


"Pikir saja sendiri," Ketus Moa membuang pandangan ke samping.


Zhen diam sejenak dengan senyum tipis tertarik kecil.


"Kau cemburu?"


"Apanya?? Aku masih waras cemburu pada wanita busuk seperti itu," Jijik Moa mendelik gerah.


"Kapan aku bilang itu dia?" Pancing Zhen dan Moa segera memelototinya.


"Dan kapan aku bilang wanita busuk itu dia?? Jadi, sekarang kau memikirkan wanita itu??" Amuk Moa seakan ingin menelan Zhen hidup-hidup.


Sungguh, Moa jarang menunjukan kecemburuannya seterang ini bahkan Zhen nyaris tak pernah melihat Moa cemburu secara nyata. Terlihat sangat menggemaskan.


"Belut! Dia di kepalamu itu siapa?"


"Dia..."


Moa menjeda kalimatnya karena nyaris keceplosan. Dengan kasar Moa mendorong kedua bahu Zhen kuat tapi pria itu tak bergerak karena punya pertahanan yang kokoh.


"Menjauh dariku!!"


"Tidak akan. Katakan dulu dia itu siapa?" Desak Zhen belum mau melepas Moa yang malam ini telah membuatnya panik sekaligus senang karena kecemburuannya.


"Kau sengaja, yaa??!" Pekik Moa emosi tapi Zhen justru tersenyum membuatnya semakin kesal.


"Kau sangat menyebalkan!!" Rutuk Moa mendorong bahu Zhen yang akhirnya menjatuhkan tubuhnya berbaring di samping Moa.


Satu tangan Zhen melipat jadi bantalan di atas kepala sedangkan satunya lagi memeggang lengan Moa agar tak pergi.


Moa menepis tangan Zhen lalu berbaring memunggungi pria tampan itu. Posisi kaki mereka masih menjuntai terlihat kekanak-kanakan tapi tampak hangat.


"Kau begitu menggilainya sampai sakit hati berhari-hari. Cih, apa hebatnya wanita itu?!" Gerutu Moa masam.

__ADS_1


Zhen dapat mendengar itu karena jarak mereka cukup dekat. Rambut panjang blonde Moa masih menyentuh bahu Zhen yang menghela nafas.


"Aku tak mencintainya. Sungguh!"


"Lautan akan kering mendengar ucapanmu," Sahut Moa pedas.


Zhen membuang nafas dalam. Ia memiringkan tubuhnya dengan satu tangan meraih pinggang Moa, menariknya rapat hingga terlihat intim.


Moa tak berontak. Lengan Zhen membelit perut datarnya hingga rasa hangat dan nyaman ini benar-benar membuatnya mengantuk dan rindu.


"Aku tak mencintainya. Kami dekat hanya karena saat itu dia bilang mengandung anakku. Karena saat itu dia terlihat seperti wanita baik-baik jadi aku tak begitu peduli dengan latar belakangnya," Jelas Zhen membenamkan wajah ke tengkuk Moa yang diam.


"Sungguh. Aku tak pernah merasa segelisah ini saat meninggalkannya sampai berbulan-bulan karena urusan kerja. Tak seperti saat kau pergi tadi. Rasanya ada kekosongan yang besar di setiap mata memandang."


"Boleh aku muntah?" Tanya Moa belagak geli mendengar ucapan Zhen padahal hatinya sudah membaik.


"Kau hamil? Sayang!"


"Hamil kepalamu!" Ketus Moa memukul kecil lengan kekar Zhen yang terkekeh.


"Biasanya wanita muntah karena hamil, bukan? Jangan-jangan disini sudah ada baby!" Mengusap perut datar Moa penuh harap walau ia hanya bercanda.


Moa diam. Ia tak percaya akan hamil secepat ini apalagi tak ada merasakan gejala apapun.


"Jangan menganggap tinggi dirimu. Kita hanya melakukannya beberapa kali tak mungkin langsung bersemayam," Gerutu Moa tapi Zhen terlihat lebih tertantang.


"Jangan ragukan kemampuanku nyonya muda Ming." Naik mengungkung Moa yang tersentak menahan dada bidang Zhen.


Sialnya 4 kancing kemeja Zhen terbuka hingga pahatan tubuh atletis dengan dada bidang dan berotot itu benar-benar seksi. Jarang Zhen tampil tak rapi dengan rambut acak-acakan dan bad boy seperti ini.


"Kau seperti gigolo!" Ketus Moa tapi matanya memandang kagum jakun jantan dan kulit putih kemerahan Zhen yang alami.


"Aku akan jadi gigolo untukmu," Desis Zhen ingin mencium bibir Moa penuh candu tapi tiba-tiba pintu kamar terbuka.


Mata Moa melebar melihat nyonya Ming yang berdiri bak patung menatap polos atau pura-pura polos pada posisi intim sang putra pada Moa yang justru mulai malu.


"M..Mommy tak melihat apapun!" Berbalik dengan cepat.


"Shitt! Mommy menganggu!" Rutuk Zhen kesal karena sebentar lagi ia akan mencumbu istri tercintanya.


"Sayang! Aku belum selesai!"


"Aku masih marah," Ucap Moa buru-buru bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar dengan nafas lega.


Untung Zhen belum sempat melepas seluruh pakaian mereka atau tidak ia tak akan bisa menatap wajah ibu mertuanya lagi.


Tapi, Moa merasa sangat janggal. Biasanya Zhen akan menutup pintu setiap ingin berduaan dengannya. Apalagi, Zhen terlihat lebih kekanak-kanakan dan cukup manja akhir-akhir ini.


Lamunan Moa buyar kala tak sadar sudah sampai ke ruang tamu. Nyonya Ming duduk di sofa menatap hangat Moa seperti biasanya.


"Nak!"


"Nyonya!" Jawab Moa tapi nyonya Ming menghela nafas.


"Sampai kapan kau akan memanggilku nyonya. Sudah jelas kau dan Zhen itu suami istri." Agak kesal.


Moa hanya tersenyum tipis duduk di samping nyonya Ming seraya membenahi blazernya yang tadi agak berantakan.


"Bagaimana bisa Zhen kembali? Tadi aku mendapat panggilan dari Bastian. Dia bilang Zhen sudah menyusul kalian. Tak-ku sangka dia akan sadar secepat ini, nak!" Binar bahagia tak tertahankan.


"Begitulah. Tadi Zoe demam dan mungkin bawahan Zhen melapor hingga dia datang kesini terburu-buru. Dia sudah bisa menerima Zoe."


Nyonya Ming memeluk Moa dengan haru. Ia sempat cemas dengan Zhen yang tiba-tiba jadi sangat terobsesi menghancurkan keluarga Pathros dan orang-orang yang berkhianat padanya tanpa sisa hingga terbukti sekarang terjadi apa yang dia kehendaki.


"Mom! Tapi, aku merasa ada yang aneh dengan Zhen," Gumam Moa berpikir.


"Apa dia membuat masalah lagi?" Mulai naik cemas.


Moa menggeleng. Saat mencium aroma rokok di tubuh Zhen tadi ia jadi heran. Belum lagi sikap pria itu jadi kekanak-kanakan dan tergolong lebih manja dari biasanya.


"Dia itu pria yang teratur dan bisa dikatakan mencintai pola hidup sehat. Selama aku menemaninya dulu, Zhen tak pernah menyentuh rokok atau minuman beralkohol tinggi. Tapi, sekarang dia jadi aneh. Biasanya Zhen tak akan pernah minta maaf atau mengajak berbaikan lebih dulu walau ia salah tapi sekarang dia jadi lebih terbuka dan terang-terangan!"

__ADS_1


"Sayaang!!" Suara Zhen muncul dari arah Moa datang tadi.


Nyonya Ming terdiam melihat Zhen berjalan mendekati Moa dengan wajah masam dan seperti anak ayam baru di tinggal induknya.


"Kenapa lama sekali? Mommy, menahan istriku disini?" Tuduhnya pada nyonya Ming yang terbatuk kecil.


"Benar kata Moa. Zhen jadi agak menggelikan," Batin nyonya Ming merinding.


Ia saling tatap dengan Moa yang menggeleng tak tahu penyebabnya.


"Mom! Zoe dan Noah tidur. Pergilah temani mereka!" Pinta Zhen seraya menarik Moa berdiri dan memeluknya erat.


"A..iya, kau benar. Nak!"


Nyonya Ming tak mau menjadi nyamuk. Ia buru-buru pergi ke kamar Noah dan Zoe karena tak mau menganggu kesenagan anak muda.


Selepas kepergian nyonya Ming, Moa jadi ngeri. Ntahlah, ia belum bisa menebak apa kepala suaminya baru saja terbentur atau ada komplikasi saraf.


"Sayang!"


"Zhen! Kau kenapa?" Heran Moa mulai agak merinding karena sedari tadi Zhen memanggilnya dengan kata keramat yang biasa hanya keluar saat sedang bercinta saja.


"Ayo lanjutkan yang tadi tertunda."


"K..kau masih bau rokok," Elak Moa melepaskan diri dari pelukan Zhen lalu buru-buru menyusul nyonya Ming.


Jantungnya berdegup tak karuan berpikir yang tidak-tidak soal Zhen.


"Apa mungkin ini efek dari tekanannya beberapa hari yang lalu?!" Batin Moa bergidik.


Tinggallah Zhen yang berdiri memandangi kepergian Moa dengan wajah suram dan satu alis terangkat datar.


"Jangan-jangan dia sudah merencanakan sesuatu di belakangku," Gumam Zhen berpikir Moa sedang menghindarinya karena sudah ada pria lain.


"Marco, Jio atau Yoshep! Kalian tak akan hidup," Geram Zhen semakin posesif.


Tapi, diantara ketiga tersangka itu Zhen ingat dengan Ebner. Ia sudah lama mengirim anggota untuk mengawasi pria itu dan sampai sekarang belum ada pergerakan pasti dari Ebner.


"Kau juga dalam pengawasanku." Lebih waspada dari biasanya.


Zhen menghubungi para bawahannya untuk mengawasi para pria yang menjadi tersangka utama dalam kecurigaannya pada Moa.


......


Di sebuah club pusat kota Shanghai. Tampaklah Yoshep yang sedang duduk menemani seorang pria muda tengah kacau semenjak di depak dari perusahaan.


Agendanya setiap dinihari pasti akan mengantar pemabuk baru yang tengah mengalami kegagalan hidup kedua kalinya.


"Sudah mabuk?" Tanya Yoshep pada asisten Jio yang hanya diam tapi wajahnya merah dengan mata sayu.


"T..tuan tak menginginkanku lagi!" Lirihnya meluapkan rasa bersalah dan tak berdaya.


Yoshep menghela nafas. Ia raih pinggang salah satu wanita seksi yang berkeliaran di dekatnya tadi untuk duduk di pahanya.


"Apa Zhen cinta pertamamu?" Tanya Yoshep agak geli tapi ia menikmati belaian wanita berpakaian mini yang sekarang sedang bergerak erotis dipangkuannya sekarang.


Asisten Jio mengangguk. Ia menganggap Zhen sebagai kakaknya dan satu-satunya pria yang ia kagumi. Tapi, Zhen tak akan mau menerimanya lagi karena pria itu sudah terlanjur di kecewakan.


"Dia sangat hangat dan teratur. Hidupnya berdedikasi. Aku ingin sepertinya!" Racauan yang selalu keluar ketika dia mabuk dan Yoshep sudah biasa dengan itu.


"Renungilah kesalahanmu. Aku ingin memanjakan mainanku dulu," Ucap Yoshep segera menyambar bibir wanita iti ganas lalu membawanya ke arah ruangan khsus di belakang sana.


Asisten Jio hanya acuh karena sekarang ia sudah lupa bagaimana caranya hidup normal. Wanita-wanita yang ingin menggodanya asisten Jio bentak keras karena ia tak suka di peggang sembarangan.


Namun, ada salah satu wanita yang sedari tadi menatap asisten Jio penuh minat dari arah sofa paling sudut dengan seringaian dan tatapan nyalang.


"Sudah beberapa hari ini aku menginginkanmu," Gumamnya memanggil salah satu bartender dan membisikan sesuatu padanya.


"Ingat! Pastikan dia meminumnya!"


"Mengerti, nona!" Jawab wanita itu segera pergi mengantar minuman.

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2