
Ming Yue terdiam. Ada rasa cemas di kedua matanya kala melihat Moa tapi berusaha ia kendalikan agar tak terlihat begitu gentar.
Para penjaga di perusahaan yang ada di depan pintu saling pandang. Mereka bukan bawahan Zhen yang biasa bertemu Moa melainkan hanya pengaman disini.
"Kau masih berani menunjukan wajahmu," Geram Ming Yue berapi-api.
Jarak Moa dan dirinya hanya 3 meter karena Ming Yue cukup menjaga jarak dan waspada. Tanpa menurunkan kacamatanya, Moa melipat kedua tangan di depan dada angkuh.
"Pertanyaan itu cocok untukmu. Bukankah kau baru keluar dari rumah sakit?"
"Kauu.."
"Apa?" Tanya Moa santai kala Ming Yue mengepalkan kedua tangannya.
Biasanya Ming Yue tak akan segan menyerang brutal siapapun yang ada di hadapannya tapi, kali ini berbeda. Para penjaga itu saling pandang bingung, kenapa nona muda Ming terlihat gentar dengan sosok ini?!
Baby Zoe yang melihat Moa bersidekap dada ikut melakukan hal yang sama seraya mendongakkan wajahnya angkuh seperti ajaran sang ibu.
Hanya saja mereka belum tahu siapa si kecil yang tampil berbeda di samping Moa itu sekarang.
"Cih. Ntah apa yang kau berikan padanya sampai dia memberimu fasilitas masuk ke area perusahaan," Sarkas Ming Yue menjadi-jadi.
"Benar. Aku memberikan hal yang tak pernah bisa di berikan orang lain termasuk KAU."
"Dia benar-benar sangat angkuh," Batin Ming Yue tak ingin kalah dengan Moa.
Dimana letak wajahnya jika wanita ini juga mempermalukannya di hadapan para bawahan Zhen dan para karyawan yang mengintip di dalam sana.
"Yah. Aku memang tak bisa memberikan apapun pada pria yang berhati busuk seperti itu tapi, sudah jelas kau memberikan tubuhmu padanya."
"Woww! Aku tak menyangka nona muda Ming akan bicara sangat frontal. Apa ayahmu yang mengajarinya?" Pancing Moa menyeringai.
"JANGAN MENGHINA DADDYKUU!!" Amuk Ming Yue justru kelepasan sendiri.
"Kenapa marah? Apa aku benar?" Tanya Moa tertawa puas saling tos dengan baby Zoe yang ikut-ikutan.
"Sialan!! Aku akan pastikan kau menyesal bertemu denganku!!"
"Yah yah..menyesal karena kau membuang-baung waktuku," Jawab Moa menurunkan kacamatanya memberi kedipan kemenangan pada Ming Yue yang meledak-ledak.
"Usir dia dari sini!! Dia hanya ja**lang pria bajingan ituu!!" Histeris Ming Yue pada para penjaga yang kebingungan.
"N..nona!"
"Usir atau aku tak akan pergi dari sini!" Ancam Ming Yue hingga dua penjaga itu terpaksa mendekati Moa.
Wajah dua pria itu tampak bimbang sesekali memandang Ming Yue yang tampak tersenyum puas mengejek Moa.
"Usir dia! Aku tak ingin melihat wanita itu disini!"
"Memang tak tertolong," Gumam Moa memperbaiki letak kacamatanya santai.
"Nona! Silahkan anda pergi!"
"Kau yakin ingin mengusirku?" Tanya Moa dengan kedua tangan yang tadi berlipat segera turun dengan teratur.
"Kami akan bicarakan hal ini pada presdir tapi, untuk sekarang keadaan sedang tak baik. Apalagi, nona itu akan semakin membuat keributan."
"Baik, apa boleh buat?! Menghadapi bocah ingusan memang sangat merepotkan," Gumam Moa berbalik begitu juga baby Zoe yang ingin pergi.
__ADS_1
"Tunggu!!"
Suara bariton berat milik seseorang yang begitu familiar. Dua pengawal itu segers menunduk melihat kedatangan tuannya sedangkan Ming Yue berubah naik pitam.
Yah, Zhen langsung turun saat mendengar kabar jika Moa akan kesini dari para pengawal apartemen.
"Presdir!" Sapa dua penjaga itu sopan.
Zhen datang dengan sekretaris Xiho yang mengacuhkan Ming Yue. Walau masih ada rasa ngeri dekat dengan nona muda Ming itu tapi, ia tetap profesional.
"Dia orangku!"
"Presdir! Maksud anda.."
"Daddy!!" Suara pekikan baby Zoe mengejutkan semua orang termasuk Zhen yang pertama fokus pada Moa sampai tak menyadari jika si gembul imut itu putri kesayangannya.
"N..Nona kecil?"
"Daddy!!" Girang baby Zoe berlari kecil mendekati Zhen.
Ming Yue masih termenung kosong seakan tak percaya jika ini keponakannya yang dulu selalu menangis setiap melihat dirinya.
"Sejak kapan dia seberani ini padaku?!" Batin Ming Yue yang selalu membuat baby Zoe takut.
Zhen memangku baby Zoe dan melepas kacamata si kecil itu. Seketika rahang Zhen mengetat melihat bibir putrinya di poles lipstick dan riasan ringan dengan mode hot.
"Daddy!" Mencium pipi mulus sang ayah dengan binar bahagia.
"Kenapa memakai pakaian sependek ini?" Tanya Zhen kala dress yang putrinya pakai itu sejengkal di atas paha sama seperti pakaian Moa.
Tak perlu di jawab lagi, Zhen seketika menatap Moa yang dengan santainya melepas kacamata.
"Ayolah. Dia masih kecil. Apalagi calon menantuku harus modis sejak kecil." Berjalan mendekat.
"Masa bodoh. Jauhkan saja dariku jika kau tak ingin dia terpengaruh," Acuh Moa tak peduli dengan tatapan syok para karyawan dan penjaga yang saling pandang.
Gila!! Apa wanita itu tak sayang uang? Presdir tak akan mentolerir sedikit-pun masalah apalagi penghinaan.
Arti pandangan mereka pada Moa yang terlihat tak peduli.
"Satu lagi. Bocah ingusan ini merusak mood-ku. Aku tak akan pulang jika kau tak membalasnya!"
"Kauu!!" Ming Yue naik pitam dengan ucapan Moa yang terkesan mengadu.
"Lihat! Jauhkan dariku atau kau akan menyesal," Desis Moa malas berdebat. Ia ingin Zhen yang bertindak karena jika tangannya melayang, nyawa Ming Yue akan tinggal 2%.
Melihat Moa yang lebih menjaga emosi, Zhen juga paham jika Moa pasti tak ingin berurusan dengan Ming Yue lagi.
Jadilah Zhen memandang datar Ming Yue dengan perintah mutlak.
"Jangan tunjukan wajahmu lagi di hadapanku jika kau masih seperti ini."
"Kau membelanya?" Decah Ming Yue tersenyum getir.
Baby Zoe menatap tak suka Ming Yue karena dulu ia sering dijahati gadis ini.
"Ini yang kau sebut hubungan saudara? Apa ini?"
"Kau sudah cukup mempermalukan diri sendiri," Tekan Zhen memutar kursi roda ingin memboyong anak dan istrinya ke dalam.
__ADS_1
"Setelah bercerai dari wanita itu kau mencari ja**lang baru! Woww, kakak. Kau luar biasa!!"
Kursi roda Zhen terhenti. Kedua tangannya mengepal dengan sorot mata membendung kemarahan. Baby Zoe yang melihat itu sampai takut dan meraih tangan Moa minta di gendong.
"Aku sangat malu memiliki saudara sepertimu!! Sudah berapa wanita yang kau hamili? Apa dia salah satunya? Atau.."
Zhen berbalik menatap tajam Ming Yue yang menelan ludah berat. Wajahnya pucat tapi tetap saja nekat memancing emosi kakaknya.
"A..apa jangan-jangan, wanita ini juga akan menjadi Nyonya?"
"Nona! Jaga bicara anda!" Keras para penjaga itu menarik Ming Yue dan memaksa gadis itu berlutut di hadapan Zhen yang sudah mendingin.
Moa yang tahu Zhen sedang menahan emosi merasa Ming Yue terlalu bodoh.
"Kau ingin memukulku, hm? Jika berani, ayo pukuul!! Pukul sampai kau.."
Plaaak...
Satu tamparan dari Zhen mampu membuat Ming Yue tersungkur bahkan kedua telinga gadis itu berdengung hebat.
Mereka syok tapi tak ada yang berkutik sama sekali.
"K..kau..m..menamparku?" Desis Ming Yue memeggangi satu pipi kirinya dengan satu tangan.
Lelehan darah di bibir yang koyak dan hidung kembali tampak di wajah cantiknya.
Dengan kedua mata berair. Ming Yue berteriak keras.
"KAU MEMUKULKU HANYA DEMI WANITA JA**LANG INI??"
Lagi-lagi Zhen melakukan hal yang sama bahkan kali ini Ming Yue nyaris pingsan. Moa sedikit meringis seraya menggendong baby Zoe.
Dengan emosi menguasai dirinya, Zhen mencengkram rambut Ming Yue sampai wajah menyedihkan sang adik di pertontonkan ke seluruh khalayak ramai.
"Jika tak berpikir dua kali karena kau ADIKKU dan mommy selalu menangis karena mu. SUMPAH demi apapun, kau sudah-ku lenyapkan sedari awal!" Desis Zhen tak peduli jika rambut panjang itu akan terlepas karena kuatnya tarikan Zhen.
Air mata Ming Yue menetes. Tampak jelas ia sangat kesakitan menerima pukulan keras itu tapi kebenciannya semakin terpupuk.
"A..aku..mem..bencimu!"
"Benci sampai aku mati sekalipun aku tak peduli. Tapi,..."
Zhen menekan kalimatnya semakin menguatkan cengkraman itu dengan kedua mata mengigil marah.
"JANGAN MENGUSIK ISTRI DAN ANAKKU!"
Degg..
Ming Yue terkejut bukan main akan desisan penuh penekanan Zhen yang hanya ia yang bisa mendengarnya.
"K..kalian.."
"Asingkan dia ke negara lain!" Titah Zhen mendorong Ming Yue sampai tersungkur ke lantai depan.
Tanpa banyak bicara lagi, Zhen membawa kursi rodanya masuk ke dalam perusahaan di ikuti sekretaris Xiho yang terheran-heran.
Moa masih belum bergerak. Ada rasa iba melihat Ming Yue menjadi korban keserakahan ayah dan masalah keluarganya tapi, tak ada yang bisa ia lakukan.
"Bersyukurlah Zhen masih menahan diri untuk memukulmu. Jika dia mau, kau sudah lama tinggal nama," Ucap Moa berbalik pergi tanpa menoleh sama sekali.
__ADS_1
....
Vote and like sayang