Impoten Husband

Impoten Husband
Kartu As


__ADS_3

Pagi ini asisten Jio di sibukkan dengan pekerjaan yang begitu banyak. Mejanya sudah di penuhi banyak berkas penting yang harus di lihat padahal sebagain besar dari pekerjaan itu adalah milik Zhen.


Asisten Jio lembur dari semalam bahkan ia tidur di ruangannya itu-pun sebentar lalu memeriksa kembali proposal pengajuan dan beberapa data penting perusahaan.


"Permisi!" Suara sekretaris Xiho mengetuk pintu.


"Masuk!" Tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


Pintu itu terbuka menampakan sekretaris Xiho yang masuk dengan cangkir kopi di tangannya.


"Ini kopi untuk anda!"


"Letakan saja!" Jawab asisten Jio tanpa menoleh sedikit-pun seakan objek di permukaan layar benda pintar itu lebih menarik.


Sekretaris Xiho diam sejenak. Wanita berambut pendek sebahu dengan perawakan China asli itu masih memandang asisten Jio yang sadar.


"Ada lagi?"


"Sedari pagi saya tak melihat presdir! Seharusnya presdir ada jadwal dengan Mr Feronico, bukan?"


Asisten Jio menghela nafas berat dan setengah menahan kesal. Mata hitamnya berkilat jengkel tak berdaya.


"Tunda pertemuan itu. Presdir sedang sibuk."


"Membuat anak," Batin asisten Jio menyambung kalimat sendiri dengan dongkol.


"Tapi, tuan! Pertemuan ini sudah di tunda terus dari minggu lalu. Saya rasa.."


"Jika kau mau pergilah ketuk ruangannya!" Sambar asisten Jio setengah frustasi karena pasti Moa tengah menguasai sang tuan.


Melihat wajah asisten Jio yang tak bersahabat akhirnya sekretaris Xiho mengurungkan niatnya untuk berlama-lama disini.


"Saya permisi, tuan!"


"Tutup pintunya!"


Sekretaris Xiho mengangguk. Rasa gugup dan ngeri melihat suasana hati pria itu membuatnya jadi semakin takut untuk berinteraksi.


"Sebenarnya presdir kemana? Haiss..sudah banyak pertemuan yang di undur," Gumam sekretaris Xiho pusing dan beralih pergi ke ruangan Zhen.


Awalnya ia ingin memastikan apa pria tampan berwibawah itu ada disini atau tidak tapi, saat memikirkan kembali reaksi asisten Jio tadi sekretaris Xiho jadi ragu.


"Kemaren nona Moa datang dan sejak itu presdir menghilang bak di telan bumi. Apa jangan-jangan.."


Sekretaris Xiho segera menutup mulutnya lalu buru-buru pergi dari depan ruangan Zhen. Pikiran kotor itu bergelut di benaknya membuat sekretaris Xiho malu bukan main.


Tapi, terlepas dari semua itu dugaannya memanglah tepat. Moa maupun Zhen masih belum mau keluar dari kamar pribadi miliknya bahkan tak peduli jika ruangan itu berantakan mereka akan tetap bermain gila menyambung adegan semalam.


"Akhss f..faster!" Erang Moa tengah di gagahi dengan sangat perkasa oleh Zhen yang kesetanan mengeksplore kenikmatan duniawi itu.


Moa terpekik-pekik berpeggangan ke lengan Zhen yang tengah memacu di belakangnya. Sungguh, sofa itu berderit dengan lantai, suara hantaman kulit beradu nyaring.


"Shittt ****!!" Umpat Zhen memukul-mukul gemas bagian belakang Moa sampai merah karena menjadi objek mainanya.


Tubuh yang sama-sama polos dan dibanjiri keringat itu semakin memanas kala sebentar lagi mereka akan mencapai pelepasan yang ntah keberapa kalinya di raih.


Pacuan Zhen semakin menggila memeggang kedua pinggul Moa yang seperti tengah di hujam dengan sangat hebat namun ia menyukai ini.


"Z..Zhen!!" Lirih Moa karena ia akan segera sampai.


"Tunggu aku, Sayang!" Serak Zhen menarik rambut Moa sampai kepala wanita itu terdongak dengan racauan nikmat tak tertahankan.


Zhen-pun sama. Ia benar-benar sudah hilang akal kali ini hingga memacu dengan cepat mendorong miliknya semakin jauh membuat Moa mencengkram lengannya menahan fenomena dahsyat.


"Z..Zhenn!!!"


"Ssss sayaang!" Desis Zhen menekan hebat miliknya sampai Moa menjerit dengan tubuh mengejang beberapa kali karena ledakan lahar panas itu sudah menyembur hangat.

__ADS_1


Deru nafas keduanya memburu bahkan tenaga Moa sudah terkuras habis. Sensasi pelepasan dahsyat itu masih menjalar di sekujur tubuh mereka hingga Zhen hanya bisa memeluk Moa dari belakang dengan satu tangan menahan bobot tubuh di lengan sofa.


"Masih ingin?" Tanya Zhen mengecupi pundak mulus Moa yang dibanjiri keringat mereka yang bercampur.


"A..aku belum..belum kalah," Protes Moa karena tadi mereka bertanding siapa yang bertahan lebih lama maka dia yang menang.


Nyatanya, Zhen-lah yang masih punya energi untuk melanjutkan ronde berikutnya tapi Moa tak berdaya lagi. Hanya saja, belut betina yang angkuh itu tetap tak mau mengaku kalah.


"Ayo lanjutkan lagi?" Bisik Zhen menjilati tai lalat di belakang telinga Moa dengan sedikit menekan miliknya lebih jauh membuat wajah Moa melemah.


"S..sudah dulu. I..ingat, kau..kau baru sembuh," Ucapnya tergagap.


Melihat itu Zhen tersenyum kecil. Wajah lelah mereka terlihat namun sangat bahagia akan itu.


"Istirahat dulu!"


Membalikan posisinya dengan duduk di sofa dan Moa ada di atas pangkuannya. Penyatuan itu masih belum di lepas seakan Zhen masih betah berlama-lama dalam posisi ini.


Mata lelah Moa menatap sayu ke arah ranjang. Tubuhnya yang bersandar pada Zhen bergetar karena ia tertawa kecil.


"Kenapa?"


"Siapa yang akan bersihkan semua ini, hm? Aku tak mau repot," Jawab Moa masih memandang ranjang besar yang sudah basah dan selimut tergorok di lantai.


Mereka mengabsen setiap sudut kamar ini seakan sama-sama ingin mencoba berbagai posisi yang akan berakhir dengan lulungan kenikmatan.


"Kalau tidak, panggil pelayan saja?" Tawar Moa membiarkan Zhen mencium lehernya menghirup aroma fronom khas habis bercinta yang gila ini.


"Nanti-ku bersihkan."


"Seorang presdir membersihkan kekacauan ini? Kenapa tak serahkan pada pelayan?" Tanya Moa menyandarkan pelipisnya ke pipi Zhen yang tengah bertopang dagu ke bahunya.


"Kau ingin mereka menghirup aroma tubuhmu?!" Dingin Zhen mengigit bahu Moa yang tersenyum kecut.


Sebenarnya ia tahu, Zhen tak akan sudi membiarkan orang lain melihat betapa hebatnya fenomena bercinta mereka apalagi, di atas ranjang sana sudah basah karena Moa akan selalu memancar setiap ingin keluar.


"Hm?" Gumam Zhen menempelkan hidungnya ke ceruk leher Moa menikmati aroma tubuh wanita ini.


"Kau keluarkan di dalam?"


"Hm!" Mengangguk tanpa beban. Moa diam sesaat seakan itu menjadi masalah untuknya.


"Zhen! Bagaimana jika nanti aku.."


"Hamil?"


Moa mengangguk beralih memiringkan kepalanya melihat wajah tampan Zhen yang tampak semakin mempesona dengan rambut acak-acakan dan leher dipenuhi keganasan Moa.


"Apa yang kau takutkan?" Tanya Zhen menangkap arti pandangan Moa.


"Pernikahan kita."


"Masalahnya?" Tanya Zhen menegakkan kepalanya tapi Moa masih bisa memandang dari ekor matanya.


"Apa kau serius dengan pernikahan kita?"


"Menurutmu?" Tanya Zhen dengan sorot mata benar-benar sudah membuktikan apa jawabannya.


"Kau yakin?"


"Yah. Bagaimana denganmu?" Tanya Zhen ingin tahu jawaban Moa.


Sejenak Moa diam seperti mencari-cari perasaan apa yang ia punya untuk Zhen. Ntahlah, mungkin selama ini dia tak pernah jatuh cinta maka agak bingung menyimpulkannya.


"Aku bingung. Kau pria berpengalaman soal hati dan aku tidak. Aku hanya suka bermain-main."


"Apa kau bermain denganku?" Tanya Zhen tapi dia tak marah karena memahami kebingungan Moa.

__ADS_1


Moa menghela nafas. Jika boleh jujur ia merasa punya perasaan seperti pada Noah.


"Kau tak serius denganku?"


"Ntahlah. Tapi, aku hanya tahu kalau kau sama seperti Noah."


Jawaban Moa simpel tapi membuat Zhen tertegun. Dadanya menghangat mendengar itu karena Zhen tahu betul betapa pentingnya Noah di hidup Moa.


"Tapi, aku tak mengerti. Sebenarnya kenapa kau serius denganku? Aku hanya menyebabkan masalah dan menguras uangmu. Aku rasa aku tak punya kelebihan yah..walau aku memang sempurna secara fisik," Ucap Moa masih dengan kebanggaannya.


Zhen menghela nafas. Pertanyaan Moa tak bisa ia jawab karena ia suka semua yang ada pada belut betinanya tanpa terkecuali.


"Aku suka semuanya!"


"Cih. Mulutmu sangat berbisa," Decah Moa memejamkan matanya bersandar ke dada bidang Zhen sekedar untuk mengisi tenaga.


"Apa yang kau suka dariku?"


"Dompetmu tebal." Singkat Moa membuat Zhen membelo jengah. Ia lupa menambahkan larangan menyebut uang pada pertanyaanya tadi.


"Baiklah. Aku akan giat bekerja untuk mengikatmu."


"Hm. Jika dompet-mu mulai tipis. Aku akan siap-siap mencari Bank yang lain."


"Cih. Tidak akan," Umpat Zhen ikut bersandar ke punggung sofa sementara Moa menyunggingkan senyum samar.


Kedua lengan Zhen memeluk perut datar Moa bahkan dia sengaja mengusapnya lembut seakan-akan mendoakan sesuatu.


Keduanya terlelap dalam posisi masih menyatu tapi tak risih bahkan semakin terasa intens dan hangat.


....


Di pemukiman terpencil kota yang jauh dari keramaian itu tampaklah tuan Hupent berbicara dengan seorang pria.


Pria bertubuh tinggi memakai topi hitam dan jaket tengah duduk di sofa ruang tamunya yang kecil membawa beberapa uang.


"Hanya ini?" Tanya tuan Hupent menerima beberapa ratus dolar yang di bawa pria ini.


"Aku hanya mendapatkan itu dari sisa kartu anda, tuan! Pihak bank membelokirnya atas perintah tuan Zhen!"


"Siall!!" Tuan Hupent memukul meja lalu mengusap dagunya yang di tumbuhi janggut yang mulai lebat pertanda ia tak lagi mengurus diri.


"Aparat kepolisian juga telah menyebar mencari-mu. Kau tak bisa bersembunyi disini terlalu lama."


"Aku tahu. Anak sialan itu memang sangat tak tahu diri," Gumam tuan Hupent merutuki Zhen.


Jika ia tahu anak yang dulu ia harapkan akan membawanya ke puncak kejayaan berbalik menghakiminya maka sudah ia lenyapkan dari kecil.


Namun, setelah merenung seperti ini tuan Hupent tiba-tiba ingat kartu as miliknya.


"Bagaimana dengan wanita di penjara itu?"


"Dia masih di tahan dalam jangka waktu 5 tahun kedepan. Ayahnya juga masih kritis di rumah sakit."


Seringaian tuan Hupent menajam seakan punua rencana emas yang akan menghancurkan Zhen dengan cepat.


"Aku butuh uang. Kirim surat yang-ku tulis pada wanita itu!"


....


Vote and like sayang


Kemaren ada yg minta visual Asisten Jio say.


Udah tersedia di


Ig:Toonovel

__ADS_1


Tiktok:Willycar5


__ADS_2