
Salah satu tembakan yang di lakukan tuan Hupent mengenai perut Zhen yang tadi mendorong asisten Jio ke luar lebih dulu. Melihat tuan kesayangannya yang sering melakukan hal seperti ini, tentu saja asisten Jio merutuki kecerobohannya tapi amukan itu menghantam tuan Hupent.
"Tuan!"
Zhen memeggangi perutnya yang berlumuran darah namun, matanya berkilat murka dengan tindakan Hupent.
"Beri dia pelajaran!" Desis Zhen dan asisten Jio segera mendekati Hupent yang masih memeluk ranselnya.
"Kau memang tua bangka sialan!! Dia putramu tapi kau tak pantas menjadi ayahnya!!!"
"Kalian akan mati. Membunuhku memang tak akan mudah," Geramnya membuat asisten Jio gelap mata.
Ia merampas pistol yang ada di tangan tuan Hupent dan menembak dua kali berturut-turut ke arah perut Hupent.
Zhen hanya membiarkan asisten Jio meluapkan kemarahannya. Satu peluru yang bersemayam di perut Zhen tak membuat pria itu lumpuh bahkan ia masih sanggup berdiri tegap dengan satu tangan membekap lukanya.
"K..kalian t..tak akan bisa keluar dari sini. T..tidak akan!" Desis tuan Hupent sudah berlumuran darah masih saja tersenyum penuh kemenangan.
Nafas asisten Jio menggebu-gebu ingin menembak kepala tuan Hupent tapi suara Zhen menghentikannya.
"Jangan membunuhnya sekarang."
"Tidak! Ini kesempatan kita, tuan!! Diaa.."
"Mati lebih cepat itu sangat menyenangkan untuknya," Sela Zhen menatap ganas tuan Hupent yang tertawa dengan mulut berlumuran darah.
"Z..Zhen! Kau akan menyesal. S..sebentar lagi kau akan hancur sehancur-hancurnya!!"
"Diam kauu!!" Geram asisten Jio berapi-api tapi tawa tuan Hupent semakin pecah.
"Kau memelihara pengkhianat, putraku!"
Wajah asisten Jio mengigil dengan emosi sementara Zhen diam melihat sejauh mana Hupent akan bicara.
"Penghianat yang sudah MENUSUKMU dari belakang!" Imbuhnya lagi penuh penekanan. Asisten Jio masih dengan tatapan heroiknya tapi ada hal yang tak bisa di mengerti dari tindakan pria itu.
"Kau pikir kecelakaan mu itu hanya.."
Asisten Jio kembali menembak ke arah perut tuan Hupent hingga pria itu tak lagi sadar karena kehabisan banyak darah.
Zhen memandang datar itu semua. Sorot mata dingin melihat ayahnya berlumuran darah dan pandangan marah dari asisten Jio yang terlihat memendam kebencian.
Mata Zhen melirik ke arah tangan asisten Jio yang gemetar mencengkram pistol itu tapi tak ada yang tahu isi pikirannya sekarang.
"Tuan!"
__ADS_1
Para bawahan Zhen yang tadi mengamankan para penduduk dari sandraan suruhan Hupent muncul. Tapi, mereka syok melihat Zhen tertembak.
"Tuan! K..kau tertembak!"
"Bawa dia ke rumah sakit!" Titah Zhen pada bawahannya yang segera mengurus tuan Hupent.
Zhen berbalik berdiri cukup lama di depan pintu rumah ini memandangi satu persatu mayat yang tadi memerangi mereka.
"T..tuan!" Suara asisten Jio berdiri di belakang Zhen dengan kepala tertunduk.
"Kau masih bisa mengemudi?" Tanya Zhen seperti biasa seperti tak ada satu-pun mengusik ketenangannya.
"Kita kembali ke rumah sakit!" Imbuh Zhen lagi tanpa memandang asisten Jio karena ia fokus membekap lukanya dengan kaos.
Asisten Jio bergegas pergi mengambil mobil bawahan mereka yang sedang mengurus kekacauan disini. Para penduduk yang tadi diamankan sudah keluar. Mereka syok melihat darah dimana-mana bahkan banyak rumah yang mengalami kerusakan.
"Bagaimana dengan rumah kami tuan?"
"Yah. Kami sudah tinggal di pelosok dan kekacauan ini membuat kami rugi besar!" Protes mereka pada Zhen tanpa menghiraukan luka pria tampan itu.
Darah yang tadi banyak keluar perlahan berhenti. Zhen sadar dan ia sangat bertanggung jawab.
"Bagikan uang yang ada di dalam ransel itu!" Titah Zhen pada salah satu bawahannya kala membawa ransel yang tadi di peluk tuan Hupent.
Para penduduk itu terlihat sangat syok kala ransel itu di buka maka tumpukan uang di dalamnya begitu menggiurkan.
Keluarga Pathros menjual Remayon Disney. Uang yang Hupent dapatkan bernominal besar sedangkan rekeningnya sudah Zhen bekukan, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak ini? Pikir Zhen dalam.
Semuanya terjadi secara bersamaan. Tak mungkin terjadi kebetulan, bukan?!
"Tuan!"
Asisten Jio yang kembali dengan mobilnya. Zhen bangkit berjalan sendiri sedangkan asisten Jio membuka pintu mobil.
"Hati-hati, tuan! Saya sudah menghubungi dokter Petter. Dia sudah menunggu, tuan!"
"Jangan beri tahu Moa soal ini. Nanti pagi aku akan menemuinya!" Tegas Zhen duduk di kursi belakang.
Asisten Jio mengangguk segera masuk ke mobil dan mengemudi stabil. Jalanan yang di lewati hanya muat satu mobil itu-pun terjal. Zhen hanya bisa memejamkan matanya sedangkan asisten Jio tampak sangat panik.
....
Di rumah sakit yang sama dengan Noah sana, para team medis sudah menunggu di depan rumah sakit dengan dokter Petter memimpin. Mereka terlihat cemas atas kabar Zhen tertembak.
"Jangan sampai nona atau nyonya besar tahu. Tuan minta kita untuk melakukan semuanya tanpa sepengetahuan mereka agar tak khawatir."
__ADS_1
"Kami mengerti!" Jawab para suster itu membawa bangkar keluar.
Dokter Petter mondar-mandir memperbaiki kacamatanya. Ia sangat cemas karena bisa saja luka tuannya fatal. Setelah keluar dari kondisi kronis lumpuh dan impoten, sekarang malah tertembak.
"Semoga saja luka tuan tak parah."
Mereka munggu sampai satu jam dan barulah mobil asisten Jio memasuki rumah sakit. Para team medis mendekat sementara asisten Jio menghentikan mobil lalu keluar dengan tergesa-gesa.
"Tuan!"
Zhen masih sadar. Hanya saja kaos yang ia bekapkan ke perutnya sudah merah darah tam berbentuk.
"Lukanya pasti dalam. Cepat tangani tuanku!!"
Asisten Jio ingin membantu Zhen turun tapi Zhen masih bisa berjalan. Ia naik sendiri ke atas bangkar yang di bawa ke dalam rumah sakit.
"Dimana istriku?" Tanya Zhen dengan wajah agak pucat karena ia cukup banyak mengeluarkan darah tadi.
"Nona Moa masih di ruangan rawat Noah, tuan!" Mengikuti bangkar itu menuju ruang operasi yang sudah di siapkan.
Orang-orang yang ada di rumah sakit itu hanya menatap para team medis mengiring bangkar Zhen. Tak ada yang berani mengomentari itu atau sekedar mengeluarkan ponsel untuk merekam padahal mereka tahu itu adalah salah satu orang penting di negara ini.
Sementara Asisten Jio juga bergegas ikut tapi ia tak bisa masuk saat sudah di depan ruangan operasi.
Wajahnya menyimpan amarah, kekecewaan bahkan sangat merasa emosi pada dirinya sendiri.
"Siaalll!!" Umpat asisten Jio menendang kursi tunggu itu.
Deru nafasnya naik turun memikirkan ucapan tuan Hupent tadi. Darah mendidih dan mata mengigil marah tersorot tajam menakutkan.
"Tidak! Dia tak boleh tahu. A..aku tak siap," Gumam asisten Jio meremas rambutnya sendiri.
Ia tampak lebih kacau dari Zhen. Duduk di kursi tunggu lalu berdiri melihat kembali ke dalam ruang operasi dan begitulah seterusnya tanpa ada niatan untuk pergi dari tempat itu.
"Tuan Jio!"
Bastian yang datang menemui asisten Jio yang menatapnya tak biasa.
"Bunuh wanita itu!"
"Apa kau yakin? Tuan!" Tanya Bastian merasa agak aneh.
Kepalan asisten Jio menguat. Bastian benar-benar melihat kemarahan yang besar dari sorot pria itu.
"Jika kau tak ingin membunuhnya, maka aku yang akan lakukan!"
__ADS_1
....
Vote and like sayang