Impoten Husband

Impoten Husband
Kemarahan Ebner


__ADS_3

Ciuman yang tadi menggelora spontan terlepas dengan wajah terkejut dan nafas memburu satu sama lain.


Bahkan, yang lebih panas lagi untaian benang saliva dari bibir mereka masih terhubung membuktikan betapa skill dewa itu berjalan.


Belum terlepas atas keterkejutan ini, Moa justru semakin tegang saat melihat Ebner yang tadi membentak telah berdiri dengan sorot mata membunuh pada Zhen di bawah sana.


"E..Ebner!"


Langkah Ebner maju dengan amarah. Moa sontak bangkit dari pangkuan Zhen yang mengusap bibir basahnya tanpa ada rasa takut sama sekali saat Ebner mendekat.


"Kau memang bajingaan!!" Melayangkan tinjunya ke arah Zhen tapi Moa menarik lengannya hingga terjerap beberapa langkah ke belakang.


"Kau apa-apaan? Haa??"


"Kau yang kenapa??" Bentak Ebner dengan kedua mata mengigil. Emosi, kecewa geram dan marah bercampur jadi satu dari sorot matanya.


"Kenapa kau mau seperti itu dengannya dan..dan kenapa kau ada disini?? Kenapa Moaa??"


Moa tercekat. Posisi mereka sekarang seperti tengah di pergoki selingkuh oleh pasangan.


"Aku.."


"Apa lagi yang kau lakukan?" Tanya Ebner dengan nafas lemah dan tatapan kacau.


Saat melihat adegan panas barusan ini benar-benar kehilangan kendali dari tubuhnya. Moa tak pernah mau di sentuh pria dan kali ini ia benar-benar melakukannya.


"Aku sudah menikah dengannya."


"M..Menikah?" Lirih Ebner tak percaya itu. Walau sudah jelas perkataan itu benar dengan altar dan gedung pernikahan yang membuktikan tapi tetap saja Ebner masih tak mau percaya.


"Moa! Ayo kembali!" Menarik lengan Moa turun dari altar.


Zhen hanya menatap datar perseteruan Moa dan Ebner tanpa berniat untuk ikut campur.


"Ebneer!!"


"Jangan berurusan lagi dengan pria bajingan itu!" Maki Ebner tapi saat di pertengahan pintu keluar, Moa langsung menyentak kasar tangannya dari genggaman Ebner.


"Lepaskaan!!"


"Kau menyukainya?" Tanya Ebner berbalik dengan wajah kelap.


"Aku tak punya cara lain. Waktu perawatan Noah hanya sampai 1 bulan. Jika sampai aku tak menemukan dokter itu maka putraku akan tiadaa!!"


"Tapi. Bukan dengan menikah seperti ini, Moaa!!" Keras Ebner tampak benar-benar kecewa.


Melihat jari manis Moa sudah melingkar cincin pernikahan, hidupnya seketika langsung runtuh sehancur mungkin.


"Dia sangat licik memanfaatkan masalahmu untuk memaksamu menikah dengannya. Dia.."


"Aku yang ingin menikah dengan dia," Sela Moa dengan ekspresi serius.


Ebner mematung diam. Keduanya bersitatap tegang tanpa ada yang mau mengalah.


"Ebner! Kau tahu sendiri jika aku tak suka di kasihani. Dia membantuku dan aku juga harus membantunya. Itu adil."


Tawa getir Ebner terlontar ringan dengan kedua mata merah karena menahan emosi sekaligus rasa sesak.

__ADS_1


Bertahun-tahun ia bersama Moa dan melakukan semuanya untuk wanita itu tapi, Moa tak pernah menunjukan ketertarikan padanya.


"Apa dengan menikah? Ini sangat lucu."


"Hanya sementara. Saat dia sudah tak punya masalah dan putraku sehat aku akan bercerai dengannya! Aku.."


"Dia tak akan pernah keluar dari masalah apapun," Sela Ebner sangat menentang pernikahan ini.


"Dan kaau!! Kau akan terjebak SELAMANYA."


"Kenapa kau begitu tak suka padanya?" Tanya Moa tak menghiraukan semua ucapan Ebner.


Keras kepala dan arogan itulah yang tampak sekarang.


"Ebner! Lagi pula aku tak peduli soal hidupku. Yang penting bagiku adalah Noah," Imbuh Moa membuat Ebner terpancing.


"Tapi, kau penting untukku. Kau SANGAT penting, Moa!"


Setelah menekan kata itu Ebner langsung pergi. Moa mematung dengan arti kalimat Ebner yang menjerumus soal perasaan.


Apa mungkin Ebner begitu menyukainya? Kenapa dia sangat marah?! Apa karena aku tak membicarakan dengannya dulu?!


Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di kepala Moa. Ia benar-benar tak pernah berpikir hal seperti itu karena baginya Ebner sama dengan saudara laki-laki.


Mereka bersama sudah lebih dari 7 tahun sejak Noah masih bayi.


"Dia menyukaimu."


Pandangan Moa beralih pada Zhen yang ternyata sudah turun dari altar dengan kursi rodanya. Ntah bagaimana pria itu turun Moa tak begitu peduli.


"Dia sudah seperti saudara bagiku. Mana-mungkin dia punya perasaan seperti itu," Bantah Moa tak percaya ucapan Zhen tapi pikirannya memang tadi tertuju ke arah sana.


"Itu bagimu. Tak ada yang murni berteman antara pria dan wanita."


"Tidak mungkin. Ebner itu juga sama sepertiku. Dia suka bermain di luar dan tak mau terikat dengan wanita. Aku tahu dia!"


"Kalian terlihat begitu serasi," Sarkas Zhen dengan wajah masih sama.


Kursi rodanya membawa Zhen ke pintu keluar sementara Moa di buat kebingungan. Karena pusing memikirkan semua ini Moa jadi enggan membahas itu lagi.


"Zhen! Kapan kau akan menemukan pria yang ingin ku cari kemaren?" Berjalan di samping Zhen yang tak langsung menjawab.


Mereka sudah di luar gedung dimana asisten Jio menunggu di dekat mobil segera menyongsongnya.


"Jelaskan pada Jio!"


"Asisten dungu-mu itu?" Sinis Moa kala asisten Jio sudah mendekat dan melempar tatapan tak sukanya.


Zhen menepis hawa tak bersahabat dari dua kubu ini karena urusan Moa lebih di utamakan.


"Lie Wenliang bukanlah orang sembarangan. Beberapa tahun terakhir dia tak pernah muncul di media."


"Kau sudah tahu dia?" Tanya Moa tersentak saat Zhen bicara soal sosok misterius itu.


Zhen mengangguk kecil. Saat Moa datang ke resto dan mengajaknya menikah secara terang-terangan, Zhen sudah memerintahkan pada bawahannya untuk mencari tahu kondisi Noah dan apa yang di butuhkan anak itu.


"Di beberapa negara yang bersangkutan dengannya sudah di periksa. Tak ada tanda-tanda kehadirannya dan kemungkinan dia masih di China."

__ADS_1


"Bagaimana dengan kondisi keluarganya? Dokter Corner mengatakan jika dia sudah berhenti dari dunia medis dan apa akan sulit membawanya kembali?" Cecer Moa tak sabaran.


Zhen paham kekhawatiran Moa. Membawa pria itu kembali ke dunia medis hampir mustahil tapi karena menyangkut nyawa seseorang apalagi putra Moah maka ia harus bekerja keras.


"Mustahil membawanya kembali ke dunia medis karena sudah banyak kasus seperti putramu yang dia acuhkan."


"A..apa?" Gagu Moa seketika berkecamuk.


"Jika kau ingin menyerah sekarang, aku tak akan memperdalam pencarian lagi," Ucap Zhen seakan tak punya hati sama sekali.


"Tidak. Walau-pun itu mustahil, dia harus tetap menyelamatkan putraku."


Zhen terdiam. Ucapan Moa berapi-api dan penuh keyakinan.


"Hm. Aku hanya membantumu menemukan pria itu. Selebihnya kau andalkan diri sendiri!"


"Siap, Babi!"


Panggilan Moa membuat Zhen tersentak tapi asisten Jio-lah yang tak bisa mengendalikan emosi dengan semua itu.


"Perhatikan kata-katamu pada tuankuu!!"


"Memangnya kenapa? Zhen saja tak masalah," Acuh Moa menarik alisnya sinis.


Zhen tak asing lagi dengan panggilan itu tapi ia tak menyangka Moa akan menjulukinya hewan yang agak ambigu sampai saat ini.


Seakan tak ingin meladeni Moa, asisten Jio bergegas membahas soal perceraian Zhen yang besok akan sidang.


"Tuan! Besok adalah sidang perceraian-mu sekaligus putusan pengadilan soal hukuman wanita itu. Apa tuan akan datang?"


"Tentu," Jawab Zhen dengan wajah berubah dingin. Yah, ia menunggu momen ini dimana Cellien benar-benar akan hancur bahkan tak akan dapat bangkit kembali.


"Aku ikut!!" Moa menyambar bersemangat.


"Orang ASING tak layak ikut campur," Tekan asisten Jio marah.


"Asing? Yang benar saja. Aku sudah menikah dengan tuanmu dan dia MILIKKU.."


Hampir saja Zhen tersedak dengan ujung kalimat Moa. Walau ia tahu Moa hanya asal bicara tapi makna kata itu benar-benar membuatnya berkeringat dingin.


Tiba-tiba saja ingatan Zhen terulang kembali pada saat Moa mencium bibirnya tadi. Wanita itu sangat lihai dan memikat hingga Zhen berpikir jika Moa memang ahli dalam merayu dan menggoda pria.


Ntah berapa banyak yang telah menyentuh wanita itu Zhen tak tahu. Tiba-tiba saja ia jadi panas kala mengingat soal para pria yang menyentuh Moa.


"Bukan urusanku," Batin Zhen menepis pikiran seperti itu segera dari benaknya.


........


Mobil yang di kemudikan Ebner melaju dengan gila. Tak ada rem atau akal sehat kala menginjak pedal gas bahkan kepalanya sekarang tengah dihantui oleh momen panas Moa dan Zhen tadi.


"Aku mencintaimu! Aku mencintaimu tapi kenapaa???!! Kenapa Moaa???" Bentaknya memukul-mukul kemudi dengan hati hancur dan frustasi.


Dadanya sangat sakit seakan di tusuk ribuan jarum. Ia mencintai Moa tapi selama ini Ebner tak berani mengungkapkan perasaan itu. Berhubungan badan dengan wanita lain hanya perantara Ebner untuk melampiaskan hasratnya karena tak mungkin menyentuh Moa.


Tapi. Hari ini ia benar-benar putus asa. Moa menikah tanpa sepengetahuannya dan parahnya lagi pria itu adalah Zhen.


"Zheen!! Kau memang selalu ingin di lenyapkan!"

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2