
Karena semalam Zhen tak ingin pulang akhirnya Moa menemani pria itu menginap di apartemen sampai siang ini. Sayangnya, Moa kira Zhen memang hanya ingin tidur disini satu malam tapi siapa sangka siang ini Zhen masih menolak pergi kemanapun.
Bahkan, setelah mandi dan berpakaian ia masih mau berbaring di atas ranjang tanpa melepaskan Moa sama sekali.
"Ini sudah siang. Kita harus kembali ke rumah sakit," Ucap Moa memeggang rahang tegas Zhen yang sedang memeluknya dari belakang.
Sedari tadi Zhen memang tidak bicara. Hanya memeluk dan berbaring tanpa mau melakukan apapun. Masalahnya, nyonya Ming sudah berkali-kali menelfon Moa karena baby Zoe terus menanyakan Zhen dan kapan daddynya akan pulang?!
"Zhen!"
"Noah baik-baik saja-kan?" Tanya Zhen baru kali ini bersuara itupun wajahnya masih di benamkan ke rambut Moa.
"Yah. Dia masih dalam masa pemulihan dan akan pulang setelah satu minggu."
"Hm. Ayo jalan-jalan," Ajak Zhen membuat Moa terdiam.
Apa Zhen ingin menghindari baby Zoe atau asisten Jio?! Pikirnya keras.
"Zhen! Aku.."
"Setelah menikah kita tak pernah pergi berdua. Bagaimana kalau kita.."
"Zhen! Kita harus ke rumah sakit. Zoe mencarimu."
"Bisa tidak jangan bahas dia!!" Sambar Zhen sedikit meninggikan suaranya.
Moa terdiam kala Zhen duduk di tepi ranjang dengan wajah mengeras dan sorot mata dingin.
"Zhen!"
"Aku bicara soal kita. Saat bersamaku jangan membahas orang asing," Tegas Zhen lalu masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu itu keras.
Moa mematung dengan pandangan rumit. Sulit bagi Zhen menerima ini tapi, apa yang harus ia lakukan agar pria itu bisa berdamai dengan masa lalunya?!
Drett..
Ponsel Moa berdering dan ada panggilan dari nyonya Ming. Moa beringsut duduk dan menjawab panggilan itu.
"Moa! Aku sudah datang ke apartemen kalian!"
"Apaa??" Syok Moa karena keadaan akan semakin rumit jika sampai Zhen bertemu dengan baby Zoe secepat ini.
"Kalian masih di kamar-kan? Zoe sedari pagi menangis merindukan daddy-nya."
"T..tunggu! Zoe.."
Panggilan itu terputus karena daya ponsel Moa habis. Sialnya ia lupa mengisi daya ponselnya lagi.
"Siall!!" Umpat Moa turun dari ranjang lalu segera memakai blazer menutupi dress tanpa lengan yang ia pakai.
Moa membuka pintu kamar dan berjalan ke arah pintu depan tapi, wajahnya semakin resah melihat nyonya Ming baru saja masuk menggendong baby Zoe yang tampak senang melihat Moa.
"Singaa!!" Pekiknya merentangkan tangan pada Moa.
"Dimana Zhen? Dia tak menjawab panggilan dariku. Apa yang terjadi pada anak itu?" Decah nyonya Ming memberikan baby Zoe pada Moa.
Nyonya Ming belum tahu apapun masalahnya karena tadi pagi ia datang ruangan rawat Noah sepi. Asisten Jio pergi ke perusahaan sementara penjaga di luar masih berkeliaran.
Karena melihat baby Zoe menangis berusaha di bujuk Noah jadilah nyonya Ming membawa baby Zoe kemari sesuai informasi para bawahan Zhen yang tadi bingung harus melakukan apa.
"Daddy, hiks!"
"Susst!! Daddy sedang tak sehat. Sekarang jalan-jalan dengan grandma, ya?" Ucap Moa mengusap kepala baby Zoe.
__ADS_1
"Zhen sakit?" Nyonya Ming terkejut cemas.
"Bawa dulu Zoe keluar dari sini. Nanti akan-ku beritahu."
"M..maksudmu apa? Moa!" Bingung nyonya Ming tapi tetap menerima baby Zoe yang kembali di berikan padanya.
"Ini masalah serius. Untuk saat ini jangan dulu menunjukan Zoe pada Zhen. Aku mohon!"
Mengiring nyonya Ming kembali ke luar. Namun, kedua mata baby Zoe berbinar cerah melihat Zhen keluar dari kamar dengan pakaian rapi stelan kerjanya.
"Daddy!!" Pekiknya memberontak dan buru-buru turun dari gendongan nyonya Ming lalu berlari ke arah Zhen yang tampak aneh.
Moa seketika pucat kala baby Zoe melakukan kebiasannya dengan memeluk kaki Zhen yang berdiri di depan pintu tanpa bergeming.
Matanya beralih memandang dingin wajah baby Zoe terlihat bahagia bertemu dengannya tapi tak ada rasa hangat atau kasih yang Zhen berikan.
"Daddy!" Panggil baby Zoe mengeratkan pelukannya ke kaki Zhen yang mengepal.
Melihat dua manik emas milik baby Zoe ia terbayang dengan wajah Cellien. Wanita sialan yang telah berani menginjak-injak harga dirinya.
"Z...Zoe! Zoe ayo bermain. Ayo, sayang!" Seru Moa mendekat tapi baby Zoe masih enggan.
"Daddy! Daddy peluk!" Meraih tangan Zhen namun di tepis kasar oleh pria itu sampai baby Zoe terduduk jatuh ke lantai.
"Zoee!!" Pekik nyonya Ming dan Moa buru-buru menggendong baby Zoe menjauh dari Zhen tampak sangat berbeda.
Sorot mata pria itu tak lagi sehangat biasanya. Tanpa bicara satu patah-katapun Zhen berlalu pergi bahkan tak menyapa nyonya Ming yang bingung dengan perubahan putranya.
"D..daddy!! Daddy!!" Teriak baby Zoe memberontak hebat kala Zhen keluar dari pintu ruangan.
"Daddy!! Daddy!!"
"Susst!! Daddy sedang sakit. Zoe jangan ganggu daddy dulu, hm?" Bujuk Moa tapi tangis baby Zoe seketika melengking lantang merasa sangat merindukan pelukan sang ayah.
"D..daddy, hiks! Z..Zoe mau daddy!"
Beberapa detik kemudian pintu ruangan terbuka memperlihatkan Yoshep yang datang dengan tergesa-gesa.
"Z..Zhen! Dia pergi dan Zoe.."
"Kenapa kau membiarkan Zoe kesini, haa??" Geram Moa naik pitam.
Yoshep-pun merasa bersalah. Ia tadi tengah mengurus Ming Yue yang ingin kembali ke China tapi tak jadi karena rayuan dari Yoshep yang akan mengunjunginya ke negara tempat ia di asingkan oleh Zhen.
Jika bawahan Zhen tadi tak menelponnya dan ada kemungkinan besar ia akan datang sangat terlambat walau kenyataanya memang sudah terlambat.
"Maafkan aku. Para bawahan Zhen juga tahu soal ini tapi mereka segan membicarakannya."
"Membicarakan apa?" Tanya nyonya Ming heran dan sesekali membujuk baby Zoe yang digendong Moa.
"Zoe! Main dulu dengan uncle Yoshep. Nanti mommy menyusul," Ucap Moa mengelus kepala baby Zoe yang sudah meredakan tangisnya.
Yoshep mengambil alih baby Zoe dan mengajaknya keluar. Tinggallah nyonya Ming dan Moa yang tak tahu harus mengatakan mulai dari mana.
"Jelaskan padaku kenapa Zhen bisa sekasar itu dengan Zoe? Mau apa dia??" Penuh amarah.
"Duduklah dulu!" Pinta Moa mengiring nyonya Ming duduk di sofa sudut ruangan.
Moa menghela nafas sementara nyonya Ming sangat bingung.
"Sebenarnya sudah banyak hal yang terjadi yang mempengaruhi emosi Zhen. Di mulai dari pengkhianatan asisten Jio yang ikut ambil dalam kecelakaannya dan kenyataan pahit tentang Hupent."
"Jio berkhianat??" Syok nyonya Ming dan Moa mengangguk.
__ADS_1
"Yah. Itu terjadi sebelum Zhen kecelakaan tapi setelah melihat kesungguhan Zhen padanya asisten Jio jadi menghilangkan dendamnya pada Zhen."
"Tunggu! Kenapa Jio berkhianat dan dendam apa??" Tanya nyonya Ming benar-benar tak percaya ini. Dia menganggap asisten Jio seperti putranya sendiri tapi..
"Sebenarnya kita tak bisa menyalahkan Jio sepenuhnya. Dia marah dan dendam pada Zhen karena Hupent telah membuat ibunya bunuh diri dan dia menjadi gelandangan sedangkan Zhen hidup mewah berkecukupan."
"Moa! Jio berkhianat karena Hupent lalu apa hubungannya dengan Zhen dan kemewahan?"
Moa benar-benar segan dan tak berdaya untuk menjelaskan hal paling pedih dari ini.
"Sebenarnya Hupent telah menghamili dua wanita selain kau, nyonya!"
Degg..
Nyonya Ming terkejut bukan main dengan apa yang barusan Moa katakan.
"M..Menghamili?"
"Yah. Salah satunya adalah ibu asisten Jio yang merupakan anak dari Hupent. Dia dendam atas kematian ibunya dan berniat menghancurkan Hupent dan Zhen tapi ternyata dia sadar Zhen tak salah hingga bertekad membunuh Hupent."
Nyonya Ming masih terdiam kosong bahkan kabar ini benar-benar mengguncang batinnya. Jadi, asisten Jio adalah anak dari wanita yang sudah dihamili Hupent pria bajingan itu.
"L..lalu Zhen.."
"Dan wanita kedua yang menjadi pelampiasannya adalah ..Cellien!"
Duarr..
Nyonya Ming melebarkan matanya dengan jantung berdegup kencang. Pikiran tiba-tiba jadi buyar bahkan benaknya berdenyut membayangkan hal terburuk dari itu.
"J..jangan bilang jika..Z..Zoe.."
Moa mengangguk hingga nyonya Ming nyaris pingsan tapi Moa segera memeluk bahu wanita paruh baya itu.
Kedua kata nyonya Ming berkaca-kaca bahkan ia menutup mulutnya karena tak siap mendengar kabar ini.
Zoe adalah hasil hubungan kotor Hupent dan Cellien. Jadi, selama ini Zhen menyentuh wanita yang sudah digauli oleh ayahnya sendiri dan malangnya pria itu membesarkan anak selingkuhan mantan istirnya.
"Z..Zhen!"
"Zhen sangat hancur dan terpukul. Dia tak bisa menentukan sikap menghadapi semua ini tapi yang jelas, Hupent sudah tiada di tangannya," Jelas Moa menyaksikan sendiri tubuh Hupent sudah tak berbentuk karena amukan Zhen malam itu.
Selain bagi Zhen, ini juga berat untuk nyonya Ming yang sudah menganggap Zoe sebagai cucu kesayangannya tapi pada kenyataanya Zoe bukanlah darah daging putranya.
"Aku mohon. Zhen boleh tak peduli pada Zoe tapi kau jangan. Dia tak punya siapapun lagi selain grandma-nya dan aku," Pinta Moa tahu kondisi Zhen sedang tak bisa di ajak berdamai.
Nyonya Ming hanya diam masih larut dengan kabar yang mengguncang dunianya itu. Moa bersedia menemani nyonya Ming dan mengatakan hal yang bisa menenagkan wanita itu.
"Perlahan-lahan kita berusaha mengembalikan Zhen pada Zoe. Walau aku tak tahu apa dia akan bisa kembali atau tidak," Gumam Moa merasa Zhen mulai asing dan tak dapat di kenali olehnya.
....
Yoshep membawa baby Zoe berkeliling di taman sekitar apartemen. Balita kecil itu sama sekali tak mau bermain apapun dan ia hanya bertanya tentang Zhen dan dimana daddynya sekarang?!
"Daddy!" Dengan kedua mata sembab berkaca-kaca menatap Yoshep yang iba.
"Daddy-mu sedang sakit. Nanti, jika melihatnya Zoe jangan langsung peluk, ok?"
"D..daddy sakit?" Tanya baby Zoe paham dengan apa yang Yoshep katakan ketika melihat gerak bibir pria itu.
"Yah. Sakitnya disini!" Mengarahkan tangan baby Zoe ke bagian dadanya yang di lapisi kemeja.
Mata bening itu mengerijab beberapa kali. Yoshep melihat wajah baby Zoe sangat mirip dengan Cellien di beberapa bagian seperti mata, hidung dan bibirnya. Pantas Zhen akan emosi jika melihat wajah baby Zoe karena akan mengingat kembali wanita ja**lang itu.
__ADS_1
....
Vote and like sayang