Impoten Husband

Impoten Husband
Kalian mulai berdatangan


__ADS_3

Asisten Jio memeriksa cctv club yang tersembunyi malam itu. Ia benar-benar gencar mencari wanita yang sudah berhasil mencuri benih ekslusifnya tak pernah ia sebar ke rahim wanita manapun selama ini.


"Cctvnya di rusak, tuan! Ini sudah di rencanakan sebelumnya!"


"Sialan!!" Umpat asisten Jio menatap geram layar monitor cctv yang tak stabil karena sudah disabotase.


Dengan emosi asisten Jio menarik pria itu bangkit dari kursinya lalu ia yang mengotak-atik komputer dengan keahlian IT yang tak dapat di remehkan.


"Luar biasa! Asisten presdir Zhen benar-benar sangat ahli," Puji pria itu tapi asisten Jio mengacuhkannya.


Kedua mata fokus ke layar monitor yang rusak sementara jari menekan keyboard komputer dengan perhitungan angka yang muncul dengan acak.


Setelah berlangsung selama 5 menit akhirnya rekaman cctv itu berhasil di perbaiki bahkan asisten Jio bisa menjernihkan kualitasnya.


"Aku mendapatkanmu," Desis asisten Jio melihat sosok wanita berambut hitam pekat sebahu yang mendekatinya di meja bar.


Wanita itu tampak sangat profesional membujuknya dalam keadaan mabuk menuju kamar pribadi VIP di club ini.


"Tuan! Di dalam kamar kami tak memasang cctv untuk menjaga privasi tamu."


"Kau tak akan lolos kali ini," Gumam asisten Jio memindahkan salinan rekaman ini ke ponselnya lalu bangkit.


"Jika dia terlihat di sekitar tempat ini. Kau hubungi aku!" Meninggalkan kartu namanya lalu pergi membanting pintu.


Asisten Jio buru-buru keluar dari club seraya menghubungi Bastian yang masih menjalin hubungan dengannya sampai saat ini.


"Hello!"


"Kau cari wanita ini! Dapatkan dia hidup atau mati!" Tegas asisten Jio mengirim rekaman itu pada Bastian.


"Saya sekarang sibuk membantu urusan perusahaan tuan Zhen. Mungkin akan lama untuk menemukannya!"


"Disana tak hanya ada kau. Sekretaris Xiho juga masih hidup. Serahkan pekerjaan itu padanya!" Keras asisten Jio masuk ke mobil dan mengemudi menuju perusahaan publik milik keluarga Ming.


Semenjak bekerja dengan Zhen, ia sudah menjalin kerjasama akrab dengan beberapa petinggi disana. Perusahaan media utama keluarga Ming juga sudah mengenal baik namanya.


"Tidak bisa. Tuan Zhen sedang tak di kota. Kami sangat sibuk."


"Kauu.."


Bastian mematikan sambungan itu hingga asisten Jio memukul kemudi. Zhen benar-benar memberinya pelajaran yang membuat hidupnya berubah 180° lebih buruk.


"Siall!! Aku terpaksa harus mencarinya sendiri," Gumam asisten Jio sungguh malas berurusan dengan Zhen yang tak lagi mau menemuinya.


Drett..


Ponsel asisten Jio berbunyi. Ada nama Yoshep di sana tapi karena ia sedang dalam kondisi buruk, asisten Jio menduga jika itu Bastian yang ingin mencari gara-gara dengannya.


Dengan emosi yang mengubun, asisten Jio mengemudi seraya mengangkat panggilan itu.


"Jika tak ingin membantuku sebaiknya jangan tunjukan wajahmu di hadapanku lagii!!"


"Ouhh, ada apa? Kawan! Kau terdengar depresi," Kelakar Yoshep menertawakan asisten Jio yang segera mengumpat salah sasaran.


"Ada apa?" Tanyanya mulai membaik.


"Jangan terlalu emosi. Nikmati saja popularitasmu akhir-akhir ini."


Asisten Jio hanya mendengus. Jika bukan karena Yoshep yang asik bercinta dengan para lacur itu, maka tak mungkin ia akan kebobolan.


"Katakan cepat! Aku tak ada waktu."


"Baiklah. Aku tahu kau sedang berburu ular betina yang mencuri benihmu. Tapi, sekedar undangan rasa kasihan dariku. Datanglah ke pesta ulang tahun Zoe malam ini!"


Asisten Jio sontak menghentikan mobilnya sampai-sampai para pengemudi di belakang mengeram mendadak bahkan memakinya dengan suara klakson melengking.


"Kau ingin mati jangan membawa orang!!"


"Pria aneeh!! Dia gila!!"

__ADS_1


Makian yang diabaikan asisten Jio karena ia sedang melamun.


"Datanglah!"


"Apa tuan yang memintanya?" Tanya asisten Jio terdengar cukup sendu dan ragu.


Suara tawa Yoshep menggelegar membuat wajahnya berubah kesal.


"Ayolah. Jangan bilang kau merajuk tak mau pulang jika bukan Zhen yang memintanya."


"Omong kosong," Umpat asisten Jio mematikan panggilan.


Asisten Jio termenggu sesaat. Jujur ia ingin kembali menjadi orang terdekat Zhen apalagi pria itu sudah memiliki tempat yang sulit di gantikan dalam hidupnya.


"Tuan tak mungkin mau memaafkanku," Gumam asisten Jio membuang nafas dalam-dalam lalu pergi melanjutkan pemburuannya.


.......


Sementara di kapal Pesiar yang besar dan megah itu sudah benar-benar di sulap jadi semakin ramai dengan balon dan banyak bunga cantik di sepanjang dinding dan lantai.


Ini masih sore tapi Zhen sibuk menyiapkan semuanya sampai-sampai ia harus mengundang media dan beberapa tamu penting untuk datang kesini nanti malam.


"Aku tak mau ada yang kurang sedikit-pun. Kirim helikopter untuk menjemput para tamu yang-ku undang dan pastikan keselamatan mereka terjamin!"


"Saya mengerti tuan!" Jawab kepala penanggung jawab keamanan yang Zhen siapkan agar pesta kali ini tak akan gagal.


Setelah mengetahui kabar kehamilan Moa, Zhen benar-benar jadi gila mempersiapkan apapun bahkan Marco dan Yoshep juga ikut bekerja keras oleh calon ayah itu.


"Ini dimana letaknya?" Tanya Yoshep tengah memeggang rangkaian bunga sedangkan Marco ikut memeggang balon besar berbentuk monyet.


"Letakan di setiap sudut ruangan. Aku ingin mengadakan pesta di lantai utama!"


Yoshep dan Marco hanya menurut walau berwajah masam. Sudah jelas banyak sekali orang di kapal ini tapi Zhen justru ingin mereka yang melakukannya.


"Undangannya sudah di sebar?" Tanya Zhen pada penanggung jawab undangan untuk pesta putrinya.


"Bagus. Katakan pada mereka harus datang. Jika tidak aku akan memutus kerjasama perusahaan tanpa terkecuali!"


Pria itu hanya mengangguk merasa pesta ini benar-benar melelahkan. Selain mempersiapkan banyak hal mereka juga harus bersedia menghadapi sang tuan muda yang benar-benar sangat perfeksionis tak ingin ada kesalahan sedikitpun.


Ntahlah, Zhen merasa selalu tidak tenang jika bukan ia yang memeriksa semua pekerjaan yang di lakukan bawahannya.


Karena semuanya berjalan sangat baik akhirnya Zhen menelfon Bastian untuk mendengar kabar perusahaan.


"Hello, tuan!"


"Bagaimana? Ada masalah?" Tanya Zhen berdiri di dekat jendela kapal melihat pemandangan laut lepas yang sangat indah apalagi matahari mulai tergelincir ke barat.


"Perusahaan baik-baik saja, tuan! Hanya saja asisten Jio menghubungi saya beberapa menit yang lalu, tuan!"


Zhen terdiam. Ia memang memasukan nama asisten Jio ke dalam daftar blacklist perusahaan tapi selama ini Zhen selalu mengawasi Jio dari jauh.


"Apa yang dia lakukan?"


"Dia ingin mencari wanita yang menjebaknya malam itu. Sepertinya dia sangat marah sampai terdengar emosi," Ucap Bastian masih mengingat kejadian tadi.


Zhen melirik ke arah samping dimana ada pria bermasker yang tadi pagi membantu Noah.


"Kau cari wanita itu. Dapatkan dia sebelum Jio menemukannya!"


"Baik, tuan!"


Zhen mematikan sambungan. Lirikan matanya masih mengamati sosok pria bermasker itu lalu kembali melihat ke luar jendela.


"Unclee!!"


Suara Noa turun dari tangga setengah berlari. Pria bermasker itu mematung memandang Noah seakan-akan takut Noah jatuh dari tangga.


"Uncle!! Mommy mencarimu!" Ucap Noah berdiri di depan Zhen.

__ADS_1


"Mommy sudah bangun?"


"Sudah. Dia bilang uncle harus mengurangi dokter-dokter yang ada di kamarnya!" Jawab Noah menyampaikan pesan Moa.


Bagaimana tidak?! Karena cemas terjadi sesuatu pada Moa akhirnya Zhen memutuskan untuk membiarkan semua dokter spesialis berjumlah 15 orang itu untuk tinggal di luar kamar istrinya.


"Katakan pada mommy jika itu perintah. Mereka akan tetap di sana sampai keadaanya sudah membaik," Tegas Zhen berjongkok mengusap kepala Noah.


"Tapi. Mommy tak akan menurut, uncle! Mommy risih."


Akhirnya Zhen menghela nafas ringan. Pandangannya beralih pada pria bermasker tadi hingga pria itu buru-buru mengalihkan pandangan ke area dinding kapal yang mau di hias.


Noah mengikuti arah pandangan Zhen hingga ia sadar jika pria itu yang tadi pagi menolongnya.


"Uncle! Dia yang menolongku saat hampir menabrak tangga tadi pagi." Berbisik ke telinga Zhen.


"Dia?"


"Iya. Uncle! Tapi rahasiakan dari mommy. Bisa-bisa aunty Chan nanti kena marah," Jawab Noah tahu bagaimana cemasnya Moa jika tahu kabar itu.


Zhen sudah tahu kabar ini dari Chan yang tadi melapor padanya. Hanya saja, Zhen merasa pria bermasker ini tak sesederhana itu.


"Kau kemari!" Pinta Zhen berdiri menatap datar pria itu.


"Saya tuan?" Menunjuk diri sendiri diantara para pelayan lain.


"Hm."


Pria itu berjalan mendekat. Matanya berwarna coklat kehitaman sama seperti milik Noah dengan rambut coklat kotor.


"Ada apa? Tuan!"


"Mulai sekarang kau akan menjadi pengawal putraku!"


Pria itu terkejut dengan apa yang Zhen katakan termasuk Noah.


"Uncle! Aku tak perlu pengawal."


"Kau sudah menjadi bagian dari keluarga Ming. Keselamatanmu adalah prioritas!" Tegas Zhen mengelus kepala Noah lalu pergi menaiki tangga menuju lantai atas.


Pria itu masih diam seperti belum percaya dengan semua ini tapi Noah tahu perintah Zhen tak akan bisa di ubah.


"Tak masalah, uncle! Kau bisa bekerja seperti biasa!" Ucap Noah tak tersenyum tapi pandangannya bersahabat.


Di atas sana Zhen berpapasan dengan Marco yang memandangnya dengan makna tersembunyi.


"Ikut aku!"


Zhen masuk ke sebuah ruangan tertutup di dekat tangga sementara Marco berjalan masuk mengikutinya.


"Kau sudah menyadarinya?" Tanya Marco seakan tahu maksud Zhen.


"Hm. Dia sudah menjadi pengawal Noah."


Marco tersenyum tipis. Cara pria ini menjebak dan menangkap terlalu sulit di tebak.


"Menjadikannya pengawal anak itu memang terlalu beresiko. Kau tak tahu motif apa yang dia punya mendekati putra angkat istrimu."


"Untuk mengetahui niat dan tujuan targetmu, kau harus menjinakkannya lebih dulu," Jawab Zhen penuh perhitungan membuat Marco terkekeh kecil.


"Malam nanti belum tentu hanya kembang api yang menyala. Persiapkan dirimu, kawan!"


Marco keluar sedangkan Zhen tetap di dalam. Wajahnya berubah dingin dengan pandangan penuh ketegasan.


"Kalian mulai berdatangan!"


...


Vote and like sayangku

__ADS_1


__ADS_2