Impoten Husband

Impoten Husband
Sampai kau lemas!


__ADS_3

Kedatangan Moa ke perusahaan benar-benar menjadi kejutan bagi para karyawan ataupun para penjaga yang kemaren sudah melihat betapa spesialnya wanita itu bagi presdirnya hingga tak ada satu-pun yang berani menyinggung.


"Selamat datang, nona!" Sapa mereka kala Moa berlalu ke arah lift menuju ruang kerja Zhen.


Moa berlalu melempar senyum angkuh penuh pesona dengan mantel bulu yang ia pakai menyembunyikan kejutan berpotensi akan membuat babi jantan itu mimisan.


"Dia benar-benar cantik dan mahal. Semua yang melekat di tubuhnya berharga fantastis."


"Aku dengar wanita itu ibu sambungnya nona kecil. Apa mungkin dia calon istri presdir?"


"Semoga saja. Aku rasa dia lebih dari model kenamaan Amerika itu."


Desas-desus mereka membicarakan Moa yang sudah masuk ke lift. Tapi, ada beberapa karyawan yang tak menyukai Moa mulai bergosip kala tak ada lagi wanita itu.


"Asa usul wanita ini tak jelas. Aku yakin, barang-barang mahal yang dia pakai itu hasil kotor."


"Benarkah? Tapi, aku cari di internet dia memang tak punya jejak media apapun."


Mereka mulai menyebar rumor soal Moa yang sudah sampai ke lantai ruangan Zhen. Moa memakai kacamata tembus pandang dengan rambut di kibas kanan kiri dengan gaya centilnya.


"Sempurna!" Decah Moa melihat wajahnya dari pantulan kaca di dekat dinding.


Tas yang ia tenteng di tangan kiri melenggang indah dengan cara jalan bak primadona dunia itu. Kepercayaan diri yang tinggi dan tak tertandingi.


"Dia pasti sedang rapat. Dimana ruangannya?!"


Moa menerka-nerka area di lantai ini. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke ruangan Zhen dan berbalik ke arah ruangan asisten Jio.


Ntahlah, ia ingin membalas dendam pada pria itu. Ntah dendam apa Moa-pun tak tahu.


"Lihat saja. Apa kau masih ingin mencari masalah denganku atau tidak?!" Gumam Moa menyeringai setelah mendobrak pintu ruangan asisten Jio tanpa rasa bersalah.


Moa mengedarkan pandangannya pada meja kerja asisten Jio dan ruangan ini cukup luas walau tak selengkap ruangan Zhen.


"Membosankan. Dia seperti maniak, cih!" Decih Moa melihat ada beberapa foto yang di bingkai rapi berjejer di atas meja.


Moa mengambilnya satu persatu. Pupil matanya melebar melihat foto Zhen dan asisten Jio yang tampak sama-sama gagah saat naik ke podium acara besar menerima penghargaan.


"Apa dia menyukai Zhen?! Yang benar saja!" Pekik Moa melihat wajah asisten Jio di setiap foto ini terlihat cerah dan yang hebatnya lagi, semuanya foto bersama Zhen dan tak ada satu-pun orang lain disini.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Suara pemilik ruangan ini terdengar. Moa menoleh dan dengan santai menunjukan bingkai foto di tangannya.


"Apa ini?"


Asisten Jio tersentak segera merampas foto itu lalu buru-buru menyimpannya ke laci meja kerja. Ekspresi wajah asisten Jio tampak beku.


"Jangan menyentuh barang-barangku!!"


"Jangan bilang kau homo!" Tebak Moa merinding dan asisten Jio langsung mendidih.


Ia kembali ke ruangannya ingin mengambil berkas yang tertinggal tapi tak di sangka wanita ini tiba-tiba ada disini.


"Jangan asal bicara. Cepat pergi dari sini!!"


"Oh, jadi itu karenanya kau memusuhiku selama ini." Tebak Moa berkacak pinggang.


"Jangan mulai lagi! Kau yang tiba-tiba datang dan merebut tuanku!"


"Shitt! Kau ternyata kelainan," Decah Moa tak menyangka tapi semakin memancing asisten Jio yang benar-benar frustasi menghadapi wanita ini.


"Kelainan kepalamu, haa??! Jika kau ingin mencobanya kau akan menyesal!!"


"Jadi kau ingin melecehkan ku?" Syok Moa mendramatisir suasana.


Asisten Jio mengusap wajahnya frustasi bahkan kumis tipis di atas bibirnya sudah berkeringat meladeni Moa.


"Aku akan laporkan pada Zhen agar kau di usir dan tak bisa bekerja disini."


"Kauu.."


"Zheen!!" Panggil Moa berjalan keluar ruangan.


Asisten Jio panik segera mengambil berkas di meja dan mengejar wanita lucknat ini.


"Zheen!! Jio ingin melecehkanku!"


"Diam!! Aku tak bicara seperti itu," Bantah asisten Jio mencegat langkah Moa yang menaikan kacamatanya ke atas kepala dengan sorot mata sinis.


"Jadi, inilah rahasia-mu selama ini."


"Rahasia apa??? Jangan menyebar rumor tak pantas tentangku. Atau.."


"Atau apa? Kau akan memukulku? Atau kau akan mempengaruhi Zhen agar membenciku, iya??"


"Aku tak sabar lagi denganmu," Desis asisten Jio menarik rambut Moa tapi dengan cepat Moa juga menjambak rambut asisten Jio.


"Jangan ganggu suamiku!!"


"Kaulah yang merebut tuan dariku! Kau wanita pecinta dompet tebal!!"

__ADS_1


"Dasar miskin!!" Maki Moa beralih menarik dasi asisten Jio lalu melilitkan benda itu ke leher kokoh sang asisten.


"Lihat saja. Akan-ku bongkar rahasia kelainan mu ini pada Zhen," Desis Moa mencegat leher asisten Jio yang terpadat ke dinding.


"K..kau.."


Moa memasukan tangannya ke saku celana asisten Jio lalu mengambil dompet pria itu.


"Dompetmu sebagai jaminan."


"Shitt!!" Umpat asisten Jio kala Moa melepaskan ikatan dasinya lalu berlalu pergi menuju ruang rapat Zhen.


"Kembalikan dompet kuu!!" Mengejar Moa yang bergegas.


Moa memasukan dompet asisten Jio ke dalam tasnya lalu berdiri di ruang rapat Zhen. Ia berbalik menatap penuh kemenagan pada asisten Jio yang datang dengan tampilan kacau.


"Kau.."


"Hm?" Satu alis Moa terangkat sinis


Asisten Jio mengambil nafas dalam. Berkas di tangannya sudah lecet dan dasi serta rambutnya acak-acakan.


"Sudahlah. Berikan berkas itu padaku!" Ucap Moa dengan suara pelan.


Asisten Jio acuh. Ia membenahi pakaiannya lalu mendekat ke pintu ruangan. Kala tangannya ingin memeggang gagang pintu, Moa mendorong bahu asisten Jio kuat dan merampas berkas di tangan pria itu.


"Kauu.."


"Kau yakin ingin masuk dengan tampilan seperti itu?!" Sinis Moa mengedipkan satu matanya lalu mendorong pintu dengan angkuh.


Asisten Jio mengumpat. Ia baru sadar jika kancing kemejanya sudah putus di tarik Moa.


"Dia sengaja melakukan ini. Wanita licik," Umpat asisten Jio lalu pergi untuk berganti pakaian.


Di dalam sana, Zhen tampak serius membicarakan soal proyek besar perusahaan yang digadang-gadang akan membuat perubahan besar di industri bisnis Ming.


"Industri perfilman akan kita ambil alih. Kali ini kita akan menggunakan aktris lokal sesuai permintaan para investor!" Jelas Zhen berdiri menjelaskan semua data dan proyek yang di tampilkan di layar depan.


Posisi Zhen membelakangi pintu jadi ia tak tahu kenapa para team yang ikut rapat kali ini justru memandang ke arah pintu tanpa berkedip.


"Kalian dengar atau tidak?" Tanya Zhen dengan intonasi dingin hingga mereka langsung tersentak dan mulai bingung.


"M..maaf presdir! Kami sangat kagum dengan rincian proyek kali ini. Presdir sangat luar biasa!" Puji mereka mengalihkan ketakutan.


Zhen diam dengan ekspresi datar menoleh kebelakang. Seketika ia tersentak melihat Moa berdiri dengan wajah cantik yang dilapisi riasan yang cukup menonjolkan keunggulannya.


Bibir seksi glossy dengan teknik riasan yang pas tak menor itu sukses membuat siapapun pangling.


"Saya di perintahkan asisten Jio untuk mengantarkan berkas pertemuan. Dia sedang ada urusan penting. Jadi, tak masalah-kan?"


"T..tentu tidak, nona!" Jawab mereka gugup akan wajah dingin Zhen yang semakin tak bersahabat.


Moa acuh. Ia berjalan mendekati Zhen yang menyelidik ke arahnya.


"Ini, presdir!"


Zhen memendam rasa kesalnya dengan mengambil berkas yang Moa sodorkan.


"Tunggu di ruang kerjaku!" Bisik Zhen tapi Moa tak peduli.


Ia duduk di kursi Zhen membuat semua orang terkejut khususnya para divisi wanita yang tadi puas-puas memandangi ketampanan Zhen tapi kedatangan Moa sangat mengganggu.


Sekretaris Xiho yang juga duduk tak jauh dari kursi Zhen hanya diam melihat respon para wanita yang tak suka dengan Moa.


"Maaf sebelumnya. Tapi, itu kursi khusus presdir!" Tegur salah seorang staf divisi bernama Fuyen.


Moa menatap datar Fuyen lalu melirik ke arah dua teman wanita itu. Sepertinya, banyak lintah yang mengidolakan suaminya.


"Benarkah? Lalu kenapa?"


Fuyen mengepal menahan emosi. Wanita bermata sipit dengan wajah tak lebih dari Moa itu cukup panas.


"Baiklah. Tampaknya seseorang juga tak menyambutku dengan baik disini," Decah Moa ingin berdiri tapi tangan Zhen menahan bahunya hingga tetap duduk.


Semua orang saling pandang heran. Zhen tak peduli dengan pandangan penuh tanya itu dan kembali melanjutkan penjelasannya.


"Proyek ini selesai dalam jangka waktu dua tahun sesuai target. Jika tak selesai, maka akan ada denda besar. Siapa yang ditunjuk mengambil proyek ini dialah yang bertanggung jawab dan siap menerima konsekuensinya!" Jelas Zhen menjabarkan semua alur proyek dengan tegas dan berwibawah.


Moa memutar kursi kerja itu membelakangi arah para audiens dan fokus pada Zhen yang awalnya tak menghiraukan Moa yang bersandar ke kursi menatapnya kagum dan dalam.


"Dia sangat seksi," Batin Moa bertopang kaki dengan kedua tangan ada di sisi lengan kursi.


Wajah tampan Zhen yang serius sesekali melirik Moa yang memandang tak berkedip dirinya. Wajah mulus dengan rahang tegas dan porsi bibir sensual pink muda itu menjabarkan semuanya dengan penuh kharisma membuat Moa mulai berfantasi.


"Aku ingin sekali mencekik leher kekar itu dan menyiksanya dengan kenikmatan," Pikir Moa senyam-senyum sendiri mengigit bibir bawahnya.


Sorot mata mesum Moa memindai dada bidang dan bahu lebar Zhen yang dibaluti kemeja dan jas lengkap. Kedua kaki berdiri kokoh menambah kesan pemimpin yang mendominasi.


"Kalian mengerti?" Tanya Zhen berdiri tepat di hadapan Moa menatap wajah serius para manusia disini.


Fuyen yang tadi tak fokus karena larut dalam pesona Zhen mulai mencari perhatian.

__ADS_1


"Presdir! Maaf."


Fuyen berdiri membawa dokumennya ke depan. Zhen diam setia dengan pandangan datarnya sedangkan Moa mulai sadar dengan ide kuno wanita buluk ini.


"Presdir! Saya kurang mengerti dengan rincian proyek bagian ini!" Sengaja merapat ke arah Zhen yang mundur kala Fuyen menunjukan dokumennya.


"Presdir! Dasi anda."


Mulai mencari kesempatan untuk membenarkan dasi Zhen yang risih menepis tangan Fuyen.


"Kembali ke tempatmu!" Titah Zhen dingin karena memang tak suka.


Fuyen tak menyerah. Ia ingin membuktikan pada Moa jika Zhen adalah miliknya.


"P..Presdir!" Fuyen pura-pura pusing dengan dokumen terlepas seiring dengan tubuhnya yang tumbang ke arah Zhen.


Tapi, tak disangka Zhen maju ke kursi Moa hingga Fuyen terjerumus ke lantai menjadi tontonan semua orang.


Mereka ingin tertawa tapi di tahan. Namun, tidak dengan Moa yang justru terbahak melihat Fuyen mencium lantai.


"Ayolah! Dia cocok jadi pemain sirkus di kota ini!"


"Kauu!!" Fuyen emosi dan kembali berdiri. Moa masih menertawakannya seakan-akan itu sangat lucu dan tak bersimpati.


"Tak jadi pusing?" Sindir Moa masih berusaha menahan kegelian.


"Sialan!!" Umpat Fuyen mengambil dokumen di lantai lalu kembali tempat duduknya masih dengan drama pusing agar tak terlalu malu.


Zhen menghela nafas. Jika tadi Fuyen berani memaki Moa pasti ia tak akan segan mendepak wanita itu keluar.


"Analisis dokumen itu. Ku tunggu tanggapan kalian 5 menit!"


"Baik, presdir!" Jawab mereka fokus pada dokumen itu.


Zhen duduk di kursi asisten Jio menghadap ke arah para anggota rapat hingga mereka duduk berlawanan arah tapi masih sejajar.


"Sust!" Bisik Moa membuat Zhen menoleh datar. Ekspresi kesal pagi tadi masih Zhen pertahankan.


"Jadi lembur?"


"Hm."


Zhen mengabaikan Moa. Ia mengambil gelas kopinya lalu menyeduh dengan pelan tapi matanya melirik Moa.


"Seksi tidak?" Moa membuka kancing mantelnya menunjukkan pakaian lucnat apa yang ia pakai.


Mata Zhen membuat kala Moa memakai lingerie bermodel jaring. Bra yang berbentuk jaring laba-laba dengan bulatan kain tipis menutupi area puncak kedua bukit kembar itu sementara permukaan lainnya tampak jelas membuat Zhen berkeringat dingin.


"Uhuuk!!"


Sontak Zhen tersedak keras mengejutkan semua orang. Moa merapatkan kembali mantelnya dengan senyum puas melihat Zhen terbatuk-batuk.


"Presdir!!" Mereka ingin berdiri tapi Zhen mengangkat tangannya.


"K..kerjakan!"


Mereka saling pandang kembali melihat dokumen di meja. Sekretaris Xiho keluar ruangan dan masuk membawa botol air putih.


"Ini presdir!"


Zhen mengambilnya. Ia menegguk botol itu dengan cepat. Moa sangat gemas kembali membuka kancing mantelnya dan kali ini Moa sengaja membuka pahanya lebar hingga daleman permodelan jaring berwarna hitam itu kembali tampak jelas apalagi modelnya memiliki bolongan di area inti.


Tegukan Zhen semakin cepat bahkan jakunnya naik turun dengan mata tak berkedip melihat pemandangan indah ini.


"Suka?" Tanya Moa sengaja menjulurkan lidahnya dan kali ini Zhen tak sanggup.


Brakk..


Semuanya terperanjat kala botol minum itu Zhen hentakan ke atas meja dengan wajah tampan merah padam dan nafas berat.


"Rapat selesai!" Ucapnya tegas.


Moa tersenyum geli kembali menutup mantelnya dan memasang kacamata. Satu persatu orang keluar dari ruangan termasuk Fuyen yang melempar tatapan emosi pada Moa yang acuh.


"Karena rapatnya sudah selesai jadi saya pamit pergi, presdir!" Ucap Moa berdiri melangkahkan kakinya ke arah pintu namun tangan Zhen sigap menarik pinggang Moa hingga jatuh ke pangkuannya.


Nafas memburu dan tatapan bak predator buas mendominasi.


"Presdir! Jaga sikap anda. Ini ruang rapat!" Goda Moa pura-pura menolak tapi Zhen sudah membelit pinggangnya.


"Kenapa kau semakin nakal, hm?" Serak Zhen menarik lepas kancing mantel Moa hingga pemandangan seksi ini benar-benar mengobrak-abrik jiwa Zhen.


Saat Zhen ingin menyambar bibirnya Moa langsung menahan kepala pria itu.


"Bertahan berapa lama?" Tanya Moa mengusap bibir Zhen dengan jempolnya.


"Sampai kau lemas!"


....


Vote and like sayang..

__ADS_1


Sabaar🤣


__ADS_2