Impoten Husband

Impoten Husband
Sikap Zhen bertambah dingin


__ADS_3

Pagi ini mereka sudah datang ke ruangan sidang perceraian Zhen dan Cellien. Tak ada media yang meliput karena sesuai permintaan Zhen ingin melakukan sidang tertutup.


Tak hanya Zhen yang sudah duduk di kursi rodanya di depan hakim pengadilan. Tetapi, ada Moa yang menggendong baby Zoe dan nyonya Ming tak lupa duduk di deretan kerabat di belakang.


"Apa sudah bisa di mulai??" Suara hakim yang melihat suasana ruang sidang tampak hening.


Pengacara Demazhans yang duduk di sebelah Zhen melihat lawannya yang menunggu kedatangan Cellien dengan tatapan tenang. Pria paruh baya itu tak terpengaruh akan sorot tajam Avokad Cellien.


"Jika sudah bisa di mulai. Silahkan bawa nona Cellien ke ruang sidang!"


Dua penjaga sel tahanan yang bertugas segera membawa Cellien masuk. Namun, nyonya Ming terkejut melihat wanita yang biasa berpenampilan cantik, kulit terawat dan tentu angkuh itu tampak sangat menyedihkan.


"D..dia lumpuh?" Gumam nyonya Ming tak melepas pandangan dari Cellien yang duduk di kursi roda di dorong para petugas kepolisian.


Rambut pirang Cellien berantakan dan seluruh kulit wanita itu di penuhi lebam biru. Wajah lusuh dan tatapan kosong seakan jiwanya sudah tak ada di tempat.


"Jangan terkejut. Itu akibatnya mencari masalah." Suara Moa terkesan dingin masih duduk di samping nyonya Ming yang menatapnya heran.


"Jadi, itu karena Zhen?"


"Zhen tak akan melepas seseorang yang sudah menyakiti putrinya. Dia pantas untuk itu," Jawab Moa tegas karena ia juga tak akan mengampuni siapapun yang berani mengusik anaknya.


Keluarga Cellien sudah datang. Ada istri tuan Dario tapi pria yang dulu menggoda Moa tentu saja tengah berperang dengan malaikat maut di ruang ICU.


Setelah ledakan itu tuan Dario di nyatakan kritis dan Koma. Alhasil, keluarga Cellien benar-benar hancur dan pasti sangat menyesal berurusan dengan Zhen.


"Baik! Sudah bisa di mulai?"


"Sudah, Yang Mulia!" Jawab salah satu pria yang berdiri di mejanya sendiri.


"Hari ini adalah sidang perceraian tuan Zhen Xiveng Ming dan Nona Cellien Pathros. Kami sudah melakukan mediasi untuk mencegah perceraian tapi, pernikahan mereka memang tak bisa lagi di pertahankan."


Cellien yang duduk bersebelahan dengan Zhen melirik ke arah pria tampan penuh pesona yang membeku dengan wajah seriusnya. Kedua mata Cellien berkaca-kaca seakan penyesalan itu tengah menguasai seluruh indra di tubuhnya.


"M..maafkan aku!"


Hanya Zhen yang dapat mendengar suara bergetar Cellien tetapi, telinga dan matanya masih fokus pada Hakim yang membacakan perihal perceraian dan apa saja yang harus mereka patuhi.


"M..maaf!"


Zhen tetap membatu. Munafik jika Zhen tak merasa tersentil karena Cellien memang pernah mengisi relung hatinya. Model kenamaan negara ini pernah ia prioritaskan dan perjuangkan tapi, takdir berkata lain.


"Dalam sidang ini kami akan memutus tali pernikahan secara kenegaraan antara tuan Zhen dan nona Cellien. Tapi, jika masing-masing pihak berubah pikiran bisa katakan sekarang sebelum hasil sidang di umumkan!"


"Tuan!" Bisik pengacara Demazhans seakan meminta jawaban.


"Lanjutkan!" Titah Zhen tak ingin berhenti.


Tapi, tidak dengan Cellien yang justru mulai menangis tersedu-sedu membuat ibunya yang melihat di belakang jadi mengepal.


"Bagaimana? Ada perubahan?"


"Klienku mengatakan tidak, Yang Mulia!" Jawab pengacara Demazhans angkat bicara.


Pengacara Cellien menatapnya sinis karena tak bisa bicara kala Cellien terus menangis.

__ADS_1


"Nona Cellien! Ada yang ingin anda katakan?" Hakim beralih pada Cellien karena tangisan wanita itu terdengar di seluruh penjuru ruangan.


"S..saya tak ingin b..berpisah!"


"Cih," Decih Moa kasar mendengar jawaban Cellien.


Apalagi, mereka seketika syok kala Cellien tiba-tiba berhambur memeluk Zhen dengan kedua kaki lemah ia seret menubruk lantai.


Zhen tetap membeku dengan wajah dinginnya. Tatapan tak peduli dan terkesan acuh itu benar-benar membuat Cellien hancur.


"M..maafkan aku! Aku minta maaf. Aku..aku mohon, jangan ceraikan aku. Aku mohon, Zhen!"


"Cellien!" Geram istri tuan Dario mendidih melihat putrinya bertekuk lutut pada pria sialan itu.


"Ak..aku akan menerima hukumanku. Tapi..tapi jangan berpisah. A..aku janji akan berubah, aku..aku berjanji."


"Aku tak pernah memberi kesempatan kedua seumur hidupku untuk PENGKHIANAT," Suara dingin Zhen membuat Cellien semakin gemetar histeris.


"A..aku mohon. Aku..aku tahu kau masih mencintaiku, Zhen! Aku..aku juga sama. Aku sangat mencintaimu tapi..tapi aku punya penyakit dan kau tahu itu!"


"Kau tak mencintaiku. Kau hanya menganggap aku BUDAK hasratmu!"


Cellien menggeleng keras. Yah, ia akui hanya dengan Zhen-lah ia merasa puas soal ranjang karena kelihaian pria itu. Namun, Cellien juga sangat mencintainya walau tak bisa mengendalikan diri dari godaan Hiper yang ia punya.


"T..tidak. Aku mohon, percayalah! A..aku..aku sangat mencintaimu, Zhen!"


"Tolong jauhkan dia dari tuanku!" Suara asisten Jio yang tadi berusaha menahan diri akan jiwa jijiknya melihat Cellien masih mengemis pada tuannya.


Karena hal itu, dua petugas yang tadi terhanyut segera menarik Cellien kembali duduk ke kursi rodanya.


"Z..Zhen! Zhen aku mohon!"


Proses perceraian tetap berlanjut. Masing-masing pengacara kedua pihak menyerahkan berkas-berkas pernikahan Zhen dan Cellien seperti buku dan beberapa surat resmi yang akan di kembalikan pada negara untuk di lenyapkan secara formalitas.


"Baik. Karena kedua pihak tak mungkin untuk kembali mempertahankan pernikahan maka, hari ini kami memutuskan untuk menyatakan jika TUAN ZHEN XIVENG MING DAN NONA CELLIEN PATROSH RESMI BERCERAI!!!"


Ketukan palu itu seketika membuat Cellien histeris tapi Zhen memejamkan matanya dengan helaan nafas lega. Antara senang tapi juga ada rasa sedih karena pernikahan yang dulu sangat ia jaga akhirnya berakhir di ketukan palu Hakim.


"Tidaak!!! Aku tak ingin berceraai!!! Zhen, jangan lakukan ini padakuu!!"


"Tenanglah, nona!" Ujar para petugas menahan Cellien yang memberontak.


Zhen tak memandang Cellien sama sekali. Ia bersalaman dengan para petugas penting disini sampai pandangannya tertuju pada Moa yang masih memangku baby Zoe.


Ntahlah, Moa tak tahu apa yang ada di pikiran Zhen karena pria itu tampak lebih murung dan tertutup dari semenjak mereka bertemu dulu.


"Apa Zhen begitu mencintai Cellien?" Lirih Moa tanpa sadar di dengar oleh nyonya Ming.


"Zhen pria yang sulit menjalani hubungan tapi, jika dia sudah serius maka apapun akan dia berikan. Saat tahu Cellien hamil karena kesilapan mereka suatu malam itu, Zhen tak bisa menepis tanggung jawab. Dia menikahi Cellien dan melawan bantahan dari kerabat keluarga Ming tapi pasti hatinya hancur karena kebusukan Cellien terbongkar saat kondisinya sedang seperti ini."


Moa terdiam sesak. Ada rasa sakit di hatinya mendengar kesetiaan Zhen dan bagaimana pria itu meratukan Cellien selama ini dan Moa tak bodoh untuk melihat luka pria itu.


Walau Zhen bersikap acuh dan seakan biasa-biasa saja tapi Moa tahu Zhen pasti masih meredam luka dan kekecewaan yang teramat.


"Apa Cellien wanita pertamanya?" Pertanyaan itu lolos tanpa sadar.

__ADS_1


"Dengan sifat Zhen yang tak bisa mudah menerima orang baru, pastilah Cellien wanita pertama untuknya. Tapi, aku tak ingin putraku terlalu larut dalam masa lalu. Dia harus bahagia!"


Moa tersentak saat nyonya Ming menggenggam satu tangannya. Tatapan mereka bertemu sampai terlihat genangan embun di mata sipit nyonya Ming.


"Aku percaya padamu. Walau Zhen terlihat keras dan tak berhati nurani tapi, dia pria yang rapuh. Hidupnya penuh dengan pengkhianatan dan tekanan dari kecil."


"K..kau.."


"Hupent ayah kandungnya tapi, pria itu selalu mencoba membunuh Zhen sedari kecil karena tak patuh pada perintahnya. Zhen sangat membutuhkanmu, nak!" Lirih nyonya Ming seketika mengetuk pintu hati Moa yang tadi tertutup rapat.


Lidah Moa keluh tak tahu ingin mengatakan apa karena sekarang pandangannya beralih pada Zhen yang mulai di giring keluar ruang sidang.


"Nona, nyonya! Sidang sudah selesai!" Sahut salah satu pengawal yang tadi berdiri di beberapa sudut ruangan.


Alhasil, Moa berdiri membawa baby Zoe di gendongannya dan nyonya Ming berjalan berdampingan keluar ruang sidang.


Di depan sana sudah ada Zhen yang tampak serius bicara dengan asisten Jio.


"Proyek itu jangan sampai gagal. Mr Brayen harus tetap menjadi klien Group Ming!"


"Saya mengerti, tuan!" Jawab asisten Jio segera menghubungi para rekan perusahaan agar berhati-hati dengan pekerja yang mengambil proyek ini.


Moa yang melihat Zhen sedang sibuk tentu enggan mendekat tapi, nyonya Ming menarik lengannya lembut berdiri di samping Zhen.


"Zhen! Mommy harus segera kembali ke negara kita, nak!"


"Baiklah, mom! Aku sudah siapkan penjagaan untukmu dan penerbangan akan mulai 2 jam lagi," Ucap Zhen dengan suara tegas melirik baby Zoe yang asik menyandarkan kepalanya ke dada Moa memperhatikan dengan tatapan lucu.


"Selama mommy tak ada jaga baik-baik anak dan istrimu. Ingat, minum obat tepat waktu dan selalu istirahat dengan benar, mengerti?"


"Hm," Jawaban seadanya seakan tak begitu tertarik.


"Baiklah. Mommy bersiap-siap dulu. Moa tolong bantu Zhen, ya?"


Moa mengangguk kecil membiarkan nyonya Ming mengambil alih baby Zoe untuk melepas rindu dengan cucu cantiknya itu.


Nyonya Ming sengaja menjauh beberapa langkah seakan memberikan peluang pada Moa dengan isyarat mata untuk bicara dengan putranya.


"Apa yang harus-ku lakukan?!" Batin Moa bingung.


Karena cukup canggung dan tak bisa berpikir akhirnya Moa memilih untuk membahas soal Noah.


"Apa sudah ada kabar tentang pria itu?"


"Dalam pencarian," Singkat Zhen terdengar dingin. Bahkan, Moa merasa Zhen benar-benar jadi begitu beku melebihi apa yang dia bayangkan.


"Bagaimana bisa begitu lama? Kau.."


Moa menelan ludah seketika berhenti bicara saat lirikan mata tajam membunuh Zhen membuatnya merinding. Kenapa aku jadi takut?! Pikir Moa merasa Zhen sangat menakutkan.


"Orang yang kau cari itu sama dengan mahluk halus di bumi ini. Jika tak ingin menunggu kau bisa mencari bantuan lain!" Tegas Zhen menyudutkan Moa yang seketika mengepal tapi bibirnya jadi tak berani bicara.


Zhen sialan!! Kau babi jantan paling aku benci di dunia ini!!


Batin Moa memaki-maki Zhen yang sudah bergerak menjauh darinya. Ntahlah, pria itu benar-benar sukses merendahkan Moa yang selama ini tak pernah di acuhkan para pria.

__ADS_1


.....


Vote and like sayang


__ADS_2