Impoten Husband

Impoten Husband
Aku menyukaimu


__ADS_3

Tulisan yang ada di layar komputer itu sukses membuat asisten Jio naik pitam. Gregor segera mencari sumber yang melakukan ini hingga dalam beberapa menit kemudian ia menemukannya.


"Di Stars Sea!"


"Kau pantau itu terus. Aku akan mencarinya," Pinta asisten Jio buru-buru keluar dari gedung IT itu.


Ia masuk ke mobil tanpa menghiraukan apapun lalu memacu cepat menuju pantai dimana tempat kapal pesiar Zhen semalam berlayar.


Benar dugaanku tak salah. Dia memang ada malam itu membuat kekacauan dimana-mana. Pikir asisten Jio menahan kesal pergi menuju pantai yang tadi di lacak oleh Gregor.


Menempuh perjalanan selama 20 menit akhirnya ia sampai ke sana. Mobil di berhentikan ditepi jalan sementara ia keluar melihat keadaan pantai yang sepi dengan restoran yang terletak tak jauh dari sini.


"Dimana dia?!" Gumam asisten Jio merotasikan matanya ke berbagai penjuru seraya menghubungi Gregor.


"Sinyalnya masih di sana, asisten Jio! Dia belum pergi kemanapun!" Suara Gregor masih memantau.


"Kau arahkan aku untuk menemukannya!" Seraya melihat-lihat dengan intens.


"Ke selatan tak jauh dari jalan utama masuk wilayah pantai. Sinyalnya semakin melemah, kemungkinan dia mulai beranjak dari sana!"


Mendengar itu asisten Jio buru-buru bergegas mencari wanita misterius itu di sekitar tempat ini. Karena hanya ada pengurus pantai dan petugas patroli jadilah asisten Jio mudah mau melangkah kemana saja.


Namun, kala hampir 30 menit berkeliling ke setiap tempat tak ada tanda-tanda kehadiran wanita itu.


"Dia sudah pergi?"


"Masih di sana. Perangkatnya menyala aktif walau lemah," Jawab Gregor memantau dari gedung.


Asisten Jio tak menyerah. Ia benar-benar berniat mendapatkan wanita itu lalu menyiksanya habis-habisan karena telah berani mencoreng nama baiknya terutama mengambil keperjakaannya.


"Siall!!" Umpat asisten Jio tak mendapatkan apapun.


"Bukankah itu asistennya presdir Zhen?"


"Yah. Itu dia!"


"Cepat!! Kita tak boleh ketinggalan!!"


Asisten Jio tersentak saat ada beberapa orang yang menyadari keberadaanya dari arah restoran sana. Tahu akan niat mereka asisten Jio buru-buru pergi kembali ke mobil.


"Asisten Jioo!!"


"Kau sangat terkenaal!!"


Teriak mereka mengejar asisten Jio yang tak tahan lagi. Dengan marah ia membuka pintu mobil lalu membantingnya keras.


Setidaknya ada 10 wanita dan 3 pria bertulang lunak yang mengejarnya. Asisten Jio menyalakan mesin mobil lalu memacu cepat meninggalkan para monster itu.


"Siall!!! Sialll!!" Umpatnya memukul kemudi dengan marah.


Semenjak topik panas itu beredar hidupnya tak lagi tenang. Kemana-pun pergi pasti akan ada kerumunan dan masalah. Mungkin, karena asisten Jio adalah orang Zhen yang memang selalu di perhatikan selama ini.


"Ada apa asisten Jio?"


"Kau cari identitas wanita itu dengan cara apapun. Kirim juga tugas yang tadi tuan minta laporannya!" Pinta asisten Jio lalu mematikan sambungan dengan nafas bergumul emosi.


Ia berkendara dengan kecepatan tinggi karena kebetulan jalan ini cukup sepi. Selain merilekskan pikiran asisten Jio juga ingin menyusun rencana menangkap wanita sialan itu.


Namun. Tak di sangka-sangka seekor kucing melintas di depan mobil membuat asisten Jio terkejut segera membanting stir ke kanan hingga menabrak pembatas jalan.


Kepalanya terbentur kemudi dengan hantaman kuat di bagian dada membuat asisten Jio meringis memeggangi dadanya yang sakit.


Darah di kening dan mulut keluar cukup banyak tapi ia masih sadar.


"Apa aku akan mati disini?!" Pikirnya karena pandangan mulai terasa gelap dan bagian depan mobil mengeluarkan asap.


Tak pernah seumur-umur ia kecelakaan dalam mengemudi. Ini semua gara-gara wanita sialan itu, otaknya jadi kacau.


Disela kesadarannya, asisten Jio membuka pintu mobil. Tubuhnya di tarik paksa keluar sampai jatuh berlutut di aspal panas ini.


Namun, matanya justru terfokus pada dua kaki jenjang berdiri memakai heels merah tepat dihadapannya.


"K..kau.."


Wajah asisten Jio yang berdarah mendongak.


Degg..


Jantungnya seakan mau lepas melihat sosok wanita yang sudah lama ia cari tengah bersidekap dada dengan bibir tipis tersenyum sinis dan penuh kemenangan.


"Terkejut? Sayang!"


Kepalan asisten Jio menguat. Walau tubuhnya sakit dan kepala pusing ia masih sanggup berdiri mencengkram lengan wanita itu dengan ganas.


"Kau yang sudah me.."


"Mencuri keperjakaanmu?" Tebak wanita itu tersenyum tenang.

__ADS_1


Asisten Jio semakin tak terkendali. Ia tak tahu harus melakukan apa hingga dengan segera mengeluarkan ponsel di dalam saku menghubungi Gregor tapi sialnya pandangan itu kabur dan samar-samar gelap.


"Jangan di paksakan! Ikut aku!"


"Diaam!!! Kau harus mendapat ganjaran yang setimpal!!" Bentak asisten Jio tak melepaskan cengkraman ke lengan wanita itu dan masih berusaha menormalkan pandangannya.


Tapi, sekuat apapun ia mencoba tetap saja kepalanya sudah terbentur cukup keras hingga tubuh asisten Jio kehilangan keseimbangan.


"Hanya seekor kucing yang-ku lempar ke jalan kau sudah begini. Bagaimana jika sapi atau rusa?"


"J..jadi kau.."


Asisten Jio tak percaya akan ucapan wanita gila ini. Dia sengaja melempar kucing ke jalan untuk menghentikan mobilnya.


"Yah. Jika dalam keadaan sehat kau pasti akan membunuhku." Menyeringai licik.


Asisten Jio ingin membentak tapi ia sudah kehilangan banyak darah hingga tumbang tak sadarkan diri di samping mobil.


Wanita itu terdiam masih belum bergerak. Wajah cantik dengan rambut hitam pendek itu berkibar bersama ekor dressnya.


"Aku menyukaimu!"


....


APARTEMEN..


Karena tadi merasa kurang sehat akhirnya Zhen kembali ke apartemen bersama Moa. Ia muntah-muntah dan tak jarang menyusahkan Moa yang harus terus menemaninya di ranjang tak boleh kemanapun.


Moa pasrah. Lagi pula Zhen begini karena bawaan bayi mereka. Ntah kenapa Moa tak merasakan momen ini walau ia sangat ingin mencobanya?!


"Minumlah dulu. Mommy bilang ini bisa meredakan mual mu!" Pinta Moa menepuk bahu kokoh Zhen yang sangat nyaman di pelukannya dengan wajah terbenam ke dada empuk sang istri.


Zhen tak menjawab. Hanya aroma mawar putih di tubuh Moa-lah yang bisa meredam rasa mual dan pusingnya. Obat dari dokter Petter sama sekali tak berpengaruh padahal harganya sangat mahal tentunya.


"Babi!" Panggil Moa lagi beralih mengusap kepala Zhen dan barulah pria itu menggeliat.


"Aku tak haus."


"Tapi, ini bisa merilekskan perutmu. Ayo bangun sebentar!" Bujuk Moa lembut terus mengusap kepala Zhen yang akhirnya pasrah.


Ia duduk seraya membiarkan Moa mengambil gelas air hangat yang di tambah dengan perasan lemon dicampur beberapa racikan tradisional China itu dari meja nakas.


"Ini! Mommy yang membuatnya tadi!" Menyodorkannya ke bibir pucat Zhen yang seketika kembali bergejolak.


Secepat kilat ia turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi. Moa cemas meletakan gelasnya di nakas lalu menyusul Zhen yang muntah.


"B..Belut emm!!"


Sungguh, Zhen tak pernah merasakan ini sebelumnya kala Cellien mengandung Zoe. Apa mungkin karena saat itu Zoe bukan anaknya dan sekarang Moa hamil dari benihnya langsung?!


"Sudah?" Tanya Moa melihat Zhen berkumur-kumur di wastafel dan membasuh wajah tampannya.


"Hm. Tapi, perutku rasanya tak enak," Keluh Zhen menatap manja Moa yang beralih mengambil handuk kecil di lemari kaca kamar mandi.


Moa mendekati Zhen yang langsung membelit pinggang rampingnya membiarkan Moa mengusapkan handuk itu ke wajah tampannya yang basah.


"Mau makan apa?"


"Tidak selera makan," Gumam Zhen memilih berpelukan.


Moa menghela nafas. Ia harus sabar menghadapi Zhen yang manjanya tidak ketulungan. Bahkan sejak datang tadi Moa belum pernah keluar kamar dan hanya menunggu beberapa pelayan mengantarkan minum atau makanan.


"Perutmu kosong sedari pagi. Siang ini harus makan. Aku akan memasak jika kau mau!"


"Memasak?" Tanya Zhen tertarik menatap Moa yang mengangguk.


"Iya. Mau makan apa?"


"Spaghetti buatanmu!" Bersemangat dan ingin.


Moa mengiring Zhen kembali ke ranjang. Pria itu duduk dengan patuh membiarkan Moa mengambil gelas itu.


"Sayang! Baunya tak sedap." Menolak.


"Tapi ini obat. Jika enak itu bukan obat namanya!" Memaksa.


Namun, Zhen tetap menolak. Alhasil Moa menghela nafas. Mengurus Zhen lebih memusingkan dari pada mengurus baby Zoe atau Noah jika sakit. Pria ini manja melebihi anak-anaknya.


"Baiklah. Mau aku yang bantu meminumkannya?" Tawar Moa dan Zhen berbinar.


Moa mengulum senyum geli mencubit pipi Zhen. Ternyata pria ini memang messum sejak lama.


"Kalau itu aku mau."


"Berarti bukan masalah baunya tapi karena babi mau enak-enak!" Ketus Moa menoyor bahu kekar Zhen tapi pria itu hanya tersenyum tipis menunggu.


Moa meminum air di gelas itu tapi menahan di kerongkongan. Zhen dengan sukarela membuka mulutnya kecil memberi akses Moa yang segera menyatukan bibir mereka tapi beriringan dengan itu ia menyalurkan kembali air yang tadi ia tahan.

__ADS_1


Sangat ahli dan profesional. Jika salah-salah teknik maka Zhen akan tersedak tapi Moa pandai mengantarkan lidahnya lebih lembut.


Zhen meneguknya stabil tapi saat Moa ingin menarik diri Zhen langsung menahan tengkuk Moa dan mencumbu bibir manis berisi wanita itu dengan sangat ganas.


"Ehmm!!" Pekik Moa tertahan kala Zhen menarik tubuhnya hingga ia jatuh setengah berbaring di ranjang sedangkan Zhen naik mengungkung.


Dari mana pria ini mendapatkan tenaga sekuat ini padahal dia tak makan apapun sedari pagi, pikir Moa kewalahan meladeni ciuman babi jantan itu.


Namun, lama-kelamaan ciuman Zhen benar-benar memabukkan seakan merayu Moa untuk hanyut kedalamnya.


Alhasil Moa jadi lupa diri. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Zhen yang memeggang rahangnya dengan bibir saling membalas ciuman begitu lincah dan erotis.


Perang lidah dan ritme nafas. Keduanya sudah sangat ahli dalam hal itu.


"Ehmm!" Geraman Moa disela ciuman brutal itu karena satu tangan Zhen sudah menelusup ke bawah dress yang ia pakai bahkan menyelinap masuk ke dalam benda segitiga itu.


"Daddy!!"


Duarr..


Mata mereka berdua langsung terbuka lebar akan suara pekikan baby Zoe di depan pintu yang terbuka. Moa mendorong bahu Zhen cepat sampai pria itu terdampar ke atas ranjang di sampingnya.


"Z..Zoe!" Gugup Moa buru-buru memperbaiki pakaiannya yang sudah tersingkap akibat tangan nakal Zhen.


"Singa! Kenapa daddy di atas? Daddy gigit Singa!" Baby Zoe berkaca-kaca mengira Zhen sedang menyakiti Moa dan keduanya tengah berkelahi seperti adegan predator di tv-tv.


Moa gelagapan menatap Zhen yang hanya santai berbaring dengan kedua kaki menjulur ke lantai. Tapi, melihat bagian inti Zhen sudah bengkak Moa segera mengambil bantal dan menutupi area itu.


"Kau lupa menutup pintu lagi, sayang!" Kesal Zhen karena ia sudah kepalang tanggung.


"Salahmu sendiri menyerang tak tahu kondisi."


"Tapi, aku ingin!" Terdengar seperti rengekan yang menggelikan di telinga Moa.


Jika orang lain melihat itu jelas ia akan jatuh cinta pada sikap manja sang presdir yang melewati batas.


"Daddy kenapa gigit Singa?" Suara cadel yang kental.


"Daddy hanya gemas pada Singa. Itu saja!" Jawab Moa mencari aman turun dari ranjang tapi Zhen menahan lengannya.


"Babi!" Penuh peringatan hingga barulah Zhen menurut.


"Daddy kenapa jahat?? Daddy sakit lagi?" Suara parau menahan tangis.


Zhen menghela nafas.


"Tidak. Daddy hanya bermain perang-perangan dengan singa mu!" Terdengar hangat dan lembut.


Tapi, baby Zoe sudah trauma dengan sikap Zhen seminggu yang lalu. Jadilah ia menangis lantang sambil memeluk Moa yang berjongkok didekatnya.


"Daddy sakit? Hiks! Daddy gigit singaa!!"


"Susst!! Tidak begitu, Zoe!" Mengusap kepala baby Zoe tapi tatapan tajam Moa menusuk Zhen yang hanya diam memandangnya.


"Kenapa? Daddy gigit bibir Singa? Daddy lapar?"


Moa semakin di buat tak tahu harus menjawab apa.


"Daddy.."


"Zoe!" Panggil Noah yang tadi buru-buru ke kamar mommynya kala mendengar tangisan sang adik.


Bahkan, wajahnya masih panik segera mendekati Moa yang masih berjongkok.


"Mom?" Penuh tanya.


"Kakak!! Daddy lapar sampai gigit singa!" Isak baby Zoe beralih memeluk Noah yang tahu arti kata singa itu untuk siapa.


Noah diam sejenak melihat bibir mommynya bengkak lalu beralih pada Zhen yang berbaring dengan bantal di bagian bawah.


Dasar orang dewasa tak tahu malu. Pikir Noah sudah tahu maksud dari tangisan baby Zoe.


"Daddy lapar! Daddy mau makan singa!!"


"Mereka sedang bercanda. Ayo main!" Ajak Noah menggendong baby Zoe keluar kamar hingga isakan anak itu mereda.


"Ini semua karena kau!!" Ketus Moa berdiri menatap kesal Zhen yang memandangnya syok.


"Sayang! Kenapa kau jadi marah padaku??" Tak kalah histeris melempar bantal itu ke kaki Moa lalu masuk ke dalam selimut tanpa bicara apapun.


Moa ingin sekali berteriak kesal tapi sekarang akal Zhen dan baby Zoe tak kalah pendek.


"Mengurus tiga anak sekaligus memang sangat melelahkan," Gumam Moa berkacak pinggang dengan pasrah kembali membujuk Zhen.


...


Vote and like sayang..

__ADS_1


Maaf ya baru up say😢


Jan lupa mampir di novel KEMALUT SENJA. Fe**zo ya


__ADS_2