Impoten Husband

Impoten Husband
Moa dan peledak


__ADS_3

Mobil Zhen sudah keluar dari apartemen. Seperti biasa, dua mobil pengawal di belakangnya membuntuti kemana-pun baja mahal itu membawa tuannya.


Zhen duduk di dalam mobil terlihat sangat tenang. Matanya menyapu pemandangan jalan yang di lalui banyak kendaraan roda empat menyalip beberapa mobil di sekitarnya.


"Tuan! Belum ada tanda-tanda mereka mengikuti kita."


"Bagaimana dengan Moa?" Tanya Zhen sedari tadi tak melihat mobil Moa di belakang.


"Mungkin, mereka akan menyergap di pertengahan jalan, tuan!"


"Hm."


Zhen kembali fokus ke luar jendela. Ia bisa tenang seperti ini karena baby Zoe tak ikut dan di jaga oleh para pengawal di apartemen.


Setelah beberapa lama mobil ini bergerak memasuki jalur tol kota, tiba-tiba saja ada satu mobil yang muncul dari belakang dengan kecepatan mengerikan.


"Itu mereka?"


"Mungkin, tuan!"


Asisten Jio mengaktifkan alat komunikasi di telinganya seraya menjaga kecepatan mobil agar stabil dengan mata penuh perhitungan pada spion samping mobil.


"Moa!" Panggil asisten Jio berbicara karena alat komunikasi ini juga tersambung pada Moa dan Ebner.


"Tersambung?"


"Tidak, tuan! Tiba-tiba saja putus," Jawab asisten Jio berusaha memanggil Moa tapi nihil.


Zhen kembali melihat ke spion yang masih mempertontonkan kecepatan mobil putih di belakang.


"Ini bukan mobil Moa."


"Jangan-jangan mereka mengkhianati kita, tuan! Mereka bekerjasama dengan musuh untuk membunuh tuan," Geram asisten Jio tapi Zhen hanya diam.


Melihat kecepatan mengerikan satu mobil di belakang sana, asisten Jio tak lagi tetap dalam rencana. Ia tak bisa mengambil resiko hingga ikut memacu tak kalah heroik.


"Hadang mobil yang ada di belakang kalian!" Titah asisten Jio pada dua mobil di belakang mereka.


Terjadi aksi kejar-kejaran di jalan tol lebar utama kota New York yang membuat ketertiban terganggu.


Dua mobil pengawal Zhen yang tadi menerima perintah sontak membuat pola penghadangan. Mereka membanting stir segera membujurkan dua body mobil menghalang baja putih menggila itu hingga hantaman keras tak dapat di hindarkan.


"Berhasil?" Tanya asisten Jio berkomunikasi dengan alat di telinganya.


"Bawa tuan Zhen cepat pergi dari area jalan! Kemungkinan mereka sudah menempatkan banyak anggota di sekitar sini!" Suara salah satu pengawal yang berhasil melumpuhkan mobil itu.


Ketahanan mobil-mobil yang mereka gunakan memang sangat menakutkan. Antisipasi terhadap benturan memang di rancang ketat untuk menghadapi situasi seperti ini.


"Dimana mobil Moa?"


"Tuan! Kemungkinan merekalah yang mengkhianati kita. Kalau bukan begitu, tuan tak akan terjebak disini," Duga asisten Jio memang sangat tak percaya pada Moa.


Sesuai dengan penjelasan para pengawalnya tadi, di sepanjang jalan tol yang mereka lalui juga mulai terjadi penyergapan.


Asisten Jio melihat ada dua mobil di belakang dan satu sudah menunggu di dekat belokan.


"Kalian ingin menantang ku?!" Gumam asisten Jio geram.


Tak ada raut takut di wajah Zhen maupun asisten Jio. Tapi, Zhen sedang memikirkan Moa.


"Tuan! Kita akan menerobos jalan."


"Hm, terserah padamu."


Mendapat izin dari Zhen tentu saja asisten Jio tak menahan diri. Saat tiba di belokan keluar tol, mobil yang tadi menunggu ingin menghadang mereka.


"Akan sedikit berguncang, maaf jika tak nyaman!" Gumam asisten Jio memancing dua mobil di belakang melaju ke arah mereka.


Namun, saat kecepatan mobil begitu bersemangat melindas mobil putih di depan, asisten Jio sontak memutar kemudi gesit hingga ban depan mengerem hebat dan dua ban di belakang berputar membawa mereka berbalik posisi dan melaju ke arah samping jalan.


"Tabrakan!" Gumam Zhen menjentikkan jarinya dan benar saja.


Dua mobil yang tadi mengejar mereka dan satu mobil putih yang menghadang sontak saling menghantam keras sampai body mobil putih itu ringsek dalam skala berpuluh meter dari arena kecelakaan.

__ADS_1


Asisten Jio menyeringai melihat ke spion dimana ada percikan api dari permukaan aspal yang tergores sadis.


Mobil asisten Jio masih berhenti di samping jalan yang di lalui beberapa mobil lain yang syok melihat kejadian itu.


"Tuan! Kita harus kembali ke apartemen."


"Cari wanita itu!" Tegas Zhen tak ingin kembali sebelum memastikan, apa Moa benar-benar mengkhianatinya atau tidak?!


"Tuan! Jika berlama-lama di luar maka.."


Ucapan asisten Jio terhenti kala alat komunikasi di telinganya sudah terhubung dengan Moa dan Ebner.


"Yang mengejar kalian bukanlah kami. Bawa Zhen kembali ke apartemen!"


Suara Moa terdengar tegas dan sedang dalam suasana yang sulit di jelaskan.


"Kalian dimana? Kenapa tidak sesuai rencana?" Menyelipkan nada emosi.


"Itu Moa?" Tanya Zhen melihat wajah kelam asisten Jio yang mengangguk.


"Iya, tuan! Dia.."


"Berikan padaku!"


Asisten Jio segera melepas alat di telinganya lalu memberikan pada Zhen yang mengambil alih.


"Kau dimana? Apa yang terjadi?" Tanya Zhen memasang benda itu ke telinganya.


"Babi jantan! Kembalilah ke kandang mu atau kau akan jadi babi panggang."


"MOA AKU SERIUS," Tekan Zhen gelisah saat mendengar suara berisik baku tembak.


Namun, bukannya menjawab Moa justru memutus sambungan itu. Asisten Jio melihat wajah tuannya begitu beku dan mendidih.


"Lacak dimana tempat wanita ini. Dia benar-benar sudah gila!" Umpat Zhen melempar alat komunikasi di telinganya dengan kasar ke kursi samping.


Asisten Jio tak berani lagi membuat dugaan soal Moa. Ia menjalankan perintah Zhen dengan melacak ponsel wanita itu karena sebelum di kembalikan, Zhen sudah menyadap bahkan memasang pelacak.


Sementara di lain tempat.


Tiga mobil di belakang sana terus menembak ke arah satu mobil putih dengan beberapa sudut lecet terkikis peluru yang tak berhenti melesat tajam.


"Moa! Berhenti menembak, kita harus mencari cela untuk keluar dari buruan ini."


"Aku tak pernah lari dari medan perang," Jawab Moa mengisi peluru di dua pistol lagi lalu melihat ke arah spion.


Ebner yang mengemudi di buat geram dengan 3 mobil asing di belakang. Mereka tadi mengiring 3 mobil itu keluar dari jalan kota karena tembakan mereka akan mengenai orang-orang di sekitar.


Namun, sudah sejauh ini mereka tetap memburu bahkan dengan niat membunuh.


"Sepertinya mereka menargetkan kita karena sudah berkhianat."


"Kita akan tahu, setelah menangkap salah satunya," Jawab Moa menunduk beberapa kali saat ada peluru yang melesat ke kaca mobil.


"Dekatkan mobil ini pada mereka."


"Jangan terlalu gegabah," Gumam Ebner menjalankan perintah Moa.


Laju mobil yang tadi mereka pacu seketika di rem kuat sampai terhenti mendadak sedangkan dua mobil tadi terlanjur melintas di samping mereka.


Seakan tak ingin melewatkan kesempatan, Moa membuka kaca jendela yang retak lalu menembak jitu ke arah dua jendela mobil yang lewat di kiri kanan mereka.


Peluru yang di lepaskan dari dua pistol di tangan Moa sukses menembus kening mereka hingga kehilangan kendali.


"Tabrak yang di belakang!"


"Berpeggangan!" Ucap Ebner pada Moa yang segera menggenggam peggangan di dekatnya.


Ebner melajukan mobil mundur menabrak satu mobil yang tersisa lalu memutar kemudi ke samping memposisikan jendela mobil pas dengan kaca mobil yang tadi ia tabrak.


"Moa!!"


"Yaah!!" Sorak Moa kembali melepaskan dua tembakan ke kaca mobil itu dengan kilat dan tepat sasaran.

__ADS_1


"Sempurnaa!!" Pekik Moa sangat suka ini.


Ebner melirik dengan senyum kagum tapi juga sudah biasa melihat Moa begitu terampil dan aktif.


"Ada lagi?" Tanya Moa meniup dua ujung pistol di tangan kiri dan kanannya.


"Sepertinya tidak."


"Belum," Gumam Moa menyeringai kala melihat ke arah spion dimana 3 mobil yang tadi mengejarnya mengeluarkan dron di bagasinya.


"Moa! Mereka ingin meledakan kita?"


"Mungkin mereka ingin menggunakan dron itu untuk melenyapkan Zhen tapi karena kita sudah jadi target maka, akan jadi pemakai pertama," Santai Moa tak ada takut-takutnya saat 3 dron itu terbang mengikuti mobil mereka.


"Moa! Jika dia melekat ke body mobil dan meledak maka kita akan habis," Agak cemas dan gelisah.


"Begini saja, aku akan menyetir dan kau cari pengendali dron ini."


"Kau.."


"Tak ada negosiasi," Tegas Moa menarik bahu Ebner untuk berpindah tempat tapi mobil masih melaju stabil melewati aspal dengan kiri kanan jalan di penuhi pepohonan tanpa pemukiman.


Moa sudah duduk di kursi kemudi sementara Ebner mengeluarkan ponselnya.


Setelah beberapa lama, mobil ini mulai memasuki pemukiman masyarakat kota.


"Ketemu?"


"Sulit. Sepertinya drone ini di aktifkan dengan satu alat, bukan monitor," Jawab Ebner membuat Moa terdiam menghentikan mobil dan melirik ke arah spion.


"Ada apa?"


"Membawa tiga dron ini ke kota akan membuat keributan," Gumam Moa mempertimbangkan sesuatu.


"Jadi?"


"Bisa buka pintunya?!" Pinta Moa menatap tenang Ebner.


Ebner menurut. Ia membuka pintu mengira Moa punya rencana namun..


"Jika aku tak kembali dalam 10 menit maka jaga putraku!"


"Kau.."


Moa segera mendorong pinggang Ebner kuat dengan satu kakinya hingga terjatuh keluar mobil lalu Moa menutup pintu secara otomatis.


"Moaa!! Moaa, bukaa!!" Memukul pintu itu tapi Moa hanya tersenyum kecil.


"Lihat ke body mobil!" Ucap Moa hingga Ebner menatap body mobil dan..


"I..ini.."


Ia terkejut melihat ada benda hitam berkedip merah yang tertempel di dekat mobil mereka. Ebner tak menyadari hal ini tapi Moa sudah sadar saat melihat ke arah spion tadi.


"Aku akan bawa mobil ini keluar dari area kota! Jika ada waktu, jemput aku!!"


"Moaa!!" Teriak Ebner kala Moa memacu mobil cepat meninggalkannya disini.


Ebner yang memandangi kepergian wanita gila itu sontak sangat cemas dan khawatir.


"Sialan!! Kenapa aku tak menyadarinya lebih cepat?!" Umpat Ebner mengusap wajah frustasi.


Selang beberapa menit kemudian, ada mobil yang melaju cepat dan berhenti di dekat Ebner yang tampak panik.


Jendela terbuka memperlihatkan wajah tampan datar Zhen yang keheranan dengan Ebner.


"Dimana Moa?"


"Kau!!" Ebner ingin marah tapi tak punya waktu untuk itu.


"Moa tadi di kejar oleh tiga dron peledak dan alat pengendalinya ada di mobil yang dia kendarai. Lampu alat itu sudah merah dan.."


"Cepat masuuk!!" Seru asisten Jio karena melihat Zhen tampak ikut cemas dengan apa yang Ebner katakan.

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2