Impoten Husband

Impoten Husband
Siap melakukan apapun


__ADS_3

Belum cukup membuat kegaduhan di dalam restoran, Moa kembali mengguncang jiwa setiap orang dengan berdiri di depan pintu mobil Zhen yang tadi tadi di buka asisten Jio.


"Kau menyingkir!" Asisten Jio cukup emosi melihat Moa yang tak henti-hentinya memancing amarah tuannya.


Sayangnya, Moa tak peduli dengan siapapun. Baik Yoshep yang sekarang bersandar ke ambang pintu resto menyesap cerutu sambil menatapnya misterius dan asisten Jio yang kelimpungan.


Di mata Moa, mereka semua batu tegak tak berarti. Ia hanya peduli pada Zhen untuk saat ini.


"Kenapa kau mengabaikan-ku?" Tanya Moa menatap marah Zhen yang sedia dengan wajah datarnya.


"Aku tak punya waktu berdebat."


"Aku tak ingin berdebat. Ayo kita menikah!" Ajak Moa terang-terangan. Zhen melirik tajam Yoshep yang meloloskan tawa kecil melihat aksi Moa dan keberanian wanita itu.


Yoshep penasaran. Jika yang membuat ulah itu orang lain pastilah nasib-nya akan berakhir di ujung peluru anak buah Zhen.


"Bukankah kau menolak?" Zhen menaikan satu alisnya menukik tajam.


"Aku butuh bantuanmu. Hanya kau yang bisa-ku cari untuk saat ini."


Zhen tak langsung menjawab. Tapi, wajahnya tak sebeku tadi hingga Moa sedikit lebih lega menyingkir dari depan pintu mobil.


"Aku tak peduli kau mau meminta apa tapi, bantu aku sekarang."


"Tawaranku tak berlaku lagi," Jawab Zhen di bantu masuk ke dalam mobil oleh asisten Jio sementara Moa masih belum menyerah.


"Kau bisa memulai tawaran baru. Katakan saja syarat mu!"


"Tuanku tak pernah menerima penolakan," Sinis asisten Jio menutup pintu mobil kala Zhen sudah masuk.


Yah, saat Moa menolak mentah-mentah tentu saja Zhen tak akan memaksanya. Harga diri Zhen terlalu tinggi untuk itu.


"Tidak bisa. Kau harus menikahiku!!!"


"Hanya pria malang yang mau menikahimu," Ketus asisten Jio tersenyum remeh pada Moa yang sudah mengepalkan kedua tangannya.


Asisten Jio memasukan kursi roda Zhen ke bagasi sementara Moa masih menatap kaca jendela mobil yang tertutup di depannya dengan mata menajam marah.


Moa tak melihat Zhen tapi pria tampan itu terus memandang datar wajah Moa dari balik kaca.


Apa yang membuat belut betina ini sampai merendahkan harga dirinya?! Terjadi sesuatu pada putranya?


Pikir Zhen namun masih belum tergerak untuk membuka pintu mobil.


"Kau memang tak punya hati nurani sedikitpun. Bagaimana jika Zoe yang ada di posisi Noah?? Kau juga memiliki anak bukaan?" Tanya Moa dengan gigi merapat.


Zhen terdiam. Berarti benar. Keadaan Noah sedang kritis.


Melihat Moa yang membahas soal anak dan bantuan, tentu saja Yoshep tak mau kehilangan kesempatan emas ini.


"Nona cantik! Ada yang bisa-ku bantu?" Berjalan mendekati Moa yang belum mengalihkan pandangan dari jendela mobil.


Asisten Jio hanya menatap santai Yoshep lalu masuk ke mobil.


"Tenang saja. Tak hanya pria tampan itu yang punya pengaruh besar. Aku juga bisa membantumu."


"Kau siapa?" Tanya Moa melirik tajam Yoshep yang merasa merinding tapi ia semakin terpikat oleh kecantikan dan pesona Moa.


"Yoshep Moskho. Aku bisa membantumu dalam segi apapun." Mengulurkan tangan.


"Kau punya pengaruh luas?" Tanya Moa mulai tertarik tapi tak membalas uluran tangan Yoshep.

__ADS_1


"Tentu, sayang! Kau bisa menikah denganku dan.."


Tiba-tiba saja pintu mobil terbuka. Moa menoleh dimana Zhen duduk angkuh dengan sorot mata tajam ke depan tanpa memandangnya.


"Pergilah! Aku akan membantu wanita ini, Zhen!" Sorak Yoshep tapi mobil tak kunjung bergerak.


Moa yang mendapat kesempatan masuk segera duduk di dalam mobil mengacuhkan Yoshep yang seketika tak terima.


"Nona cantik! Dia tak akan membantumu. Menikahlah denganku maka kau akan dapatkan segalanya."


"Dalam mimpimu," Ketus Moa menutup pintu mobil keras mengejutkan Yoshep.


Asisten Jio yang tadi tak berani mengemudi karena tak ada perintah dari Zhen seketika baru melajukan mobil saat Zhen sudah memandangnya dari kaca spion.


"Kali ini aku serius. Kau bisa memberiku misi apapun asal-kau mau mencari seseorang untukku. Ini sangat penting bagi Noah!"


Zhen masih diam. Ia mempertimbangkan perkataan Moa yang tampak begitu tergesa-gesa.


"Baik. Jika itu belum cukup maka kau bisa mengambil tubuhku."


"Jaga bicaramu!!" Zhen menatap tajam Moa yang tak peduli.


"Aku serius. Jika itu bisa membuatmu senang maka aku akan memberikannya. Tapi, bantu putraku. Dia hanya punya waktu satu bulan."


Kedua mata Moa memancarkan kecemasan yang sangat besar. Jujur Zhen tak begitu perhitungan. Tanpa menikah sekalipun ia akan membantu Moa dalam diam tapi, tak di sangka Moa sangat nekat.


"Jika kau ingin aku mencium kakimu maka.."


"Hentikan ocehan mu," Sela Zhen masih terkesan dingin tapi itu lebih baik dari diam tanpa suara.


Zhen menghela nafas. Ia tak ingin menindas Moa yang sudah beberapa kali menyelamatkan nyawa putrinya.


"Benarkah? Kau akan membantuku?" Moa berbinar memeggang kedua paha Zhen yang tersentak.


Wajah penuh harap dan kedua mata putus asa itu sama sekali tak pernah Moa tunjukan sebelumnya.


"Aku akan menikah denganmu. Kau.."


"Tak perlu," Jawab Zhen mengalihkan pandangan ke luar jendela karena wajah cantik Moa sekarang begitu dekat dengannya.


Asisten Jio yang melihat dari kaca spion hanya merotasi jengah pada Moa.


"Anggap saja itu bonus karena kau menyelamatkan putriku."


"Tidak!" Tegas Moa benar-benar punya jiwa loyalitas dan harga diri tinggi.


Menyangkut nyawa Noah ia akan jadi petarung gila bahkan menantang maut sekalipun Moa tak segan.


"Ini soal nyawa putraku. Aku tak ingin dia kasihani dan kita harus menikah. Aku berjanji tak akan mengkhianatimu!"


Saat mengatakan soal khianat, tiba-tiba pikiran Zhen justru beralih pada Cellien. Maknanya, pengkhianat sudah terlalu sering mengucapkan kata-kata bualan seperti itu.


"Aku tak pernah percaya dengan janji." Zhen memandang Moa dingin.


"Aku tak pernah janji. Baru kali ini aku mengatakannya," Jawab Moa serius.


Zhen memandang intens kedua bola mata emerald milik Moa dan dengan karakternya tak mungkin Moa akan mengingkari sumpah atau janjinya.


"Kau tak perlu percaya padaku. Aku akan menjagamu sampai kau benar-benar bisa melindungi diri sendiri."


"Cih, merepotkan," Gumam Zhen membuang muka tapi ia cukup terhenyak dengan ucapan Moa.

__ADS_1


Asisten Jio yang tak mau Moa semakin membuat tungkainya merinding segera mengalihkan pembahasan.


"Tuan! Hari ini jadwal pemeriksaan dan perawatan mu. Dokter Petter sudah menunggu."


"Hm, segera ke sana," Jawab Zhen menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.


Moa diam. Tatapannya turun ke kedua kaki jenjang dan kokoh Zhen yang sangat mendominasi walau lumpuh lalu agak naik ke atas sampai ke bagian resleting celana Zhen yang membengkak padahal bagian rudal itu masih tidur.


"Jaga matamu!" Suara beku Zhen membuat Moa mengalihkan pandangan ke arah depan.


"Emm..itu, aku sedikit paham soal itu mu."


Alis Zhen terangkat sinis dengan apa yang Moa katakan dengan ragu-ragu.


"Maksudmu?"


"Apa kata dokter kau mengalami difusi permanen?" Tanya Moa yang tadi ragu sekarang memberanikan diri untuk lebih sensitif.


"Bukan urusanmu."


"Jangan berpikiran yang aneh. Aku sudah sering melihat pria impoten yang sepertimu. Mereka bisa sembuh asal di pancing terus," Jelas Moa tanpa malu tapi Zhen justru merasa tak nyaman dengan pembahasan ini.


"Diamlah!"


"Itu-pun kalau kau mau. Aku tak memaksa," Gumam Moa duduk dengan tenang.


Dadanya sudah lumayan lega karena Zhen menerima tawarannya. Ia akan segera membawa putranya pergi dan hidup dengan bahagia tanpa bayang-bayang kematian.


"Pernikahan kita tak perlu di hadapan media. Aku mengerti posisimu dan lagi pula, ini hanya sampai kesepakatan kita berakhir."


Zhen tak bicara. Ia membiarkan Moa mengatakan poin-poin penting pernikahan sampai mereka memasuki gerbang rumah sakit.


Mobil masuk ke area loby dimana para pengawal Zhen yang tadi di resto ternyata sudah lebih dulu sampai mengamankan situasi.


"Akan-ku bantu!"


Zhen tersentak saat Moa mengambil inisiatif turun lebih dulu mengeluarkan kursi roda dan membantunya berpindah.


"Jangan menyentuh tuanku!" Asisten Jio tak terima kala Moa ingin memapah Zhen.


"Ini tugasku. Kau urus yang lain!"


"Wanita licik. Hanya demi keuntunganmu kau bersikap baik pada tuanku," Gumam asisten Jio geram.


Moa masa bodoh. Zhen tak bisa melerai dua mahluk yang tak pernah akur ini karena sekarang ia cukup pusing.


"Hati-hati. Selain sumber uangku kau juga malaikat putraku!"


"Diamlah!" Acuh Zhen duduk di atas kursi roda. Moa yang biasa acuh tak acuh padanya tiba-tiba jadi cekatakan memposisikan kedua kaki Zhen dengan benar lalu mendorong asisten Jio menyingkir dari peggangan kursi.


"Kauu!!"


"Aku saja." Moa mendorong kursi roda Zhen keluar loby melewati para pengawal yang berkeliaran tapi menyapa Zhen penuh hormat.


Asisten Jio yang ada di dekat mobil sontak menggeram. Ia berjalan mengikuti Moa yang sudah membawa Zhen masuk ke rumah sakit besar ini.


Masih ada pengunjung seperti biasa tapi mereka tak berani mengambil gambar atau memandang ke arah Zhen yang di jaga ketat.


..


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2