
Setelah menggunakan kolam sebagai tempat bercinta tadi, Zhen dan Moa pindah ke area kursi di samping kolam menyambung kembali ronde ketiga dari pertempuran mereka.
Keduanya sama-sama berhasrat tinggi. Zhen memacu cepat dari belakang sedangkan Moa hanya bisa terpekik-pekik berpeggangan ke lengan Zhen dengan satu kaki terangkat ke atas kursi.
"Zzz..Zheen eemmm!!!"
"Kau sangat nikmat," Erang Zhen memeluk erat pinggang Moa dengan pacuan semakin menggila.
Keringat bercucuran dengan nafas memburu ingin mendaki puncak nirwana yang akan mereka capai untuk yang kesekian kalinya.
Satu tangan Zhen beralih mencengkram salah satu bukit kembar penuh yang sudah merah karena tangannya sedangkan tangan satunya memeggang pinggang Moa agar tetap berdiri walau tubuh Moa sudah tak bertenaga.
"Zheen!!!" Pekik Moa ingin mencapai pelepasannya dan Zhen tak menyia-nyiakan itu.
Ia bergerak semakin ganas menyusul Moa hingga sepersekian detik kemudian lenguhan panjang dengan tubuh meneggang hebat itu terjadi.
"S..sayang!" Bisik Zhen dengan nafas terengah begitu juga Moa sudah tak bertenaga lagi.
Kedua kakinya lemas agak gemetar dengan pinggang terasa sangat pegal.
"Kau..kau tak punya batasan, ha?!" Kesal Moa mencubit lengan kekar Zhen.
Namun, pria tampan dengan wajah sumringah itu hanya tersenyum tipis dengan perlahan duduk di kursi sementara Moa masih ada di pangkuannya dalam keadaan menyatu.
Moa yang kehabisan tenaga hanya pasrah bersandar di dada bidang Zhen dengan mata lelah menyapu indahnya pemandangan dari atas sini.
"Kau suka disini?" Tanya Zhen membenamkan wajahnya ke rambut Moa menghirup aroma keringat setelah bercinta dengan sang istri.
"Suka. Lautannya biru dan damai. Cocok untuk menenagkan pikiran kita," Jawab Moa menikmati momen seperti ini.
Zhen diam dan begitu juga Moa. Keduanya seakan larut dalam pikiran masing-masing tapi masih nyaman dalam posisi seperti ini.
"Maafkan aku!" Bisik Zhen masih merasa tak cukup hanya meminta maaf berulang kali.
"Beberapa hari ini aku membuat kalian terutama kau dalam masa sulit. Suasana keluarga kita jadi sangat berbeda karena aku."
"Tidak masalah. Yang penting kau sadar dengan cepat. Tapi.."
Moa mengadah menatap wajah tampan Zhen yang terlihat sangat mempesona dengan rambut acak-acakan dan keringat di pelipis itu.
"Tapi, sebelumnya aku berniat untuk kawin lari dengan Marco!"
"Moaa!!!" Keras Zhen dengan ekspresi marah dan tawa Moa pecah setelah sukses memancing emosi babi jantannya.
"Siapa suruh kau terus bertengkar denganku?! Melihat Marco yang tak kalah mapan tentu saja aku akan me.. Aaass Zheen!!" Pekik Moa kala Zhen mengigit telinganya untuk menghentikan pujian Moa pada Marco, monyet sialan itu.
"Puji dia lagi aku akan menenggelamkan kapal ini ke dasar laut!"
"Haiss..lepas dulu!" Rengek Moa karena Zhen masih mengigit daun telinganya.
Zhen melepaskan gigitannya tapi raut wajah tampan itu di tutupi oleh kabut kecemburuan. Yah, Zhen tak pernah berubah soal urusan cemburu masih nomor satu. Tapi, anehnya dia lebih blak-balakan dari pada biasanya.
Moa menghela nafas seraya mengusap daun telinganya yang merah di gigit Zhen.
"Aku hanya bercanda. Marco tak akan seberani itu ingin mengusikmu untuk yang kedua kalinya."
"Aku tak percaya pada mereka terutama KAU!" Tekan Zhen memeluk erat Moa yang hanya bisa menggeleng jengah.
"Lepaskan aku! Anak-anak pasti mencari kita."
"Mereka ada yang mengawasi. Tak perlu cemas," Jawab Zhen ingin berduaan lebih lama dengan Moa.
Moa sadar Zhen lebih manja dari sebelumnya jadi ia hanya pasrah menemani pria ini walau hanya sekedar berpelukan dalam keadaan masih menyatu.
Namun, beberapa saat kemudian Moa merasakan nyeri di bagian perut bawahnya.
"Kenapa? Sayang!" Tanya Zhen merasakan pergerakan tak nyaman Moa.
"N..ntahlah. Perutku sedikit sakit." Memeggangi perutnya.
Melihat wajah Moa pucat tentu saja Zhen tak lagi sesaintai itu. Ia perlahan melepas penyatuan mereka lalu mendudukan Moa dengan hati-hati.
"Aku rasa aku masih membatasinya," Gumam Zhen cemas tapi perkataanya membuat Moa jengkel.
Membatasi apa?! Sudah jelas ia kesetanan bahkan tak memberinya jeda untuk bernafas lebih santai.
Namun, semakin lama rasa nyeri itu kian naik dan terasa sampai membuat Moa meremas peggangan kursi dengan keringat dingin di keningnya.
__ADS_1
"Z..Zhen!" Desis Moa membungkukkan tubuh polosnya seraya memeggang perut.
Zhen tak bisa tenang dan menunggu. Ia bergerak cepat mengambil jubah mandi di area pegangan kolam lalu mendekati Moa.
Tapi, jantung Zhen seakan terlepas melihat darah mengalir di sela paha dan betis Moa yang semakin menahan sakit.
"Z..Zhen!"
Tanpa banyak bicara lagi Zhen membelitkan handuk ke pinggangnya lalu memakaikan bathrobe ke tubuh Moa.
Dengan wajah panik dan perasaan campur aduk Zhen menggendong Moa ringan dan bergegas masuk kembali ke dalam area kapal.
"Petteeer!!!" Panggil Zhen dengan suara menggelegar.
Marco dan Chan yang ada di bawah seketika langsung naik ke lantai atas dimana Zhen tengah menendang pintu kamar yang lebih dekat dari area kolam.
Dada Zhen semakin terasa berat melihat darah di kaki Moa bercucuran di lantai. Matanya kian menggelap diselubungi amarah dan ketakutan.
"Petter!!!"
"I..iya, tuan!" Dokter Petter berlari masuk diikuti semua orang yang tadi terkejut dengan suara keras Zhen.
"Periksa istriku! Dia mengeluarkan darah! Periksa diaa!!" Pinta Zhen membaringkan Moa di atas ranjang.
Mereka syok melihat darah menetes di lantai yang Zhen lewati tadi terutama spray putih di ranjang.
"Z..Zhen!"
"Kau akan baik-baik saja, Sayang!" Ucap Zhen walau dirinya sendiri tengah di lalap kepanikan.
Dokter Petter mendekat. Darah yang keluar dari area pribadi Moa memang tak begitu banyak tapi ini terlihat mengerikan.
"Nyonya muda! Apa yang kau rasakan?"
"Perutku..sakit," Jawab Moa mengambil nafas dalam berusaha agar tetap tenang.
"Tuan! Tolong kompres perut nyonya dengan air hangat dulu. Saya akan segera kembali!"
Dokter Petter bergegas keluar sedangkan Chan yang tadi mendengar arahan dokter Petter juga buru-buru turun ke bawah mengambil air hangat.
Untung baby Zoe dan Noah tadi bermain di lantai dasar bersama Yoshep. Jadi, hanya Marco yang berdiri menatap cemas Moa yang tengah pucat.
Marco mengerti. Ia segera menghubungi team medis yang lengkap untuk datang kesini karena Zhen tak akan tenang jika nanti keadaan semakin memburuk sementara mereka sedang tak di darat.
"Zhen! A..aku rasa..dokter Petter cukup."
"Tidak. Kau harus di periksa secara menyeluruh dan bila perlu kita akan kembali ke daratan!" Tegas Zhen tak akan tenang.
Alhasil Moa pasrah. Ia adalah sosok yang paling tenang disini karena Zhen sudah sangat mendingin melihat kondisinya.
"Maafkan aku! Aku terlalu berlebihan padamu."
"Em. Perutku hanya sakit," Gumam Moa menahan nyeri itu agar Zhen tak semakin mati karena ketakutannya.
Tak berselang lama dokter Petter datang membawa tas medis lengkap miliknya.
"Nyonya! Kau mengalami pendarahan ringan. Saya akan memeriksa penyebab semua ini!"
Zhen membiarkan dokter Petter memeggang perut Moa yang masih di baluti bathrobe. Jika Zhen bisa mengambil alih ia tak akan sudi istrinya di peggang tapi egonya ia tekan keras dan lebih fokus pada Moa.
"Tuan! Bisa bersihkan dulu darah di area pribadi, nyonya?"
Zhen segera menerima kapas yang di berikan dokter Petter. Ia menyelimuti Moa sampai ke pinggang lalu membersihkan darah yang ada di bawah sana.
"Nyonya! Saya akan melakukan injeksi untuk menghentikan pendarahan mu. Tenanglah!"
Moa hanya menurut. Dokter Petter melakukan injeksi sebanyak tiga kali. Di bagian perut, lengan dan bokongnya yang Zhen buka sedikit seberapa muat jarum itu menusuk.
"Tuan!"
Chan sudah kembali dengan baskom air hangat dan handuk kecilnya.
"Kompres perut nyonya dan tolong ambilkan segelas air!" Pinta dokter Petter dan Chan sigap pergi keluar setelah meletakan baskom dan handuk itu di samping Zhen yang masih membersihkan bagian bawah Moa dengan kapas berubah merah.
"Nyonya! Di bagian mana saja yang sakit?"
"Perut bagian bawah. Sangat nyeri dan aneh," Jawab Moa memejamkan matanya.
__ADS_1
Dokter Petter berdiri duduk di samping ranjang menekan perut Moa hati-hati. Melihat dari gejala pendarahan dan area yang nyeri, ia sudah paham tapi masih belum yakin.
"Dia kenapa?" Tanya Zhen beralih mengompres perut Moa dengan telaten.
"Pendarahan yang nyonya alami ini sering terjadi pada wanita yang kelelahan dan terlalu banyak beraktifitas intim berlebihan. Hal itu membuat guncangan terhadap rahim yang masih awal mengandung janin trimester pertama."
"S..sebentar!" Gumam Zhen tersadar akan sesuatu.
Wajahnya agak membodoh dengan kalimat terakhir yang dokter Petter katakan termasuk Moa membuka matanya.
"Mm..maksudmu istriku ini.."
"Menurut perkiraan saya. Nyonya mudah tengah hamil trimester pertama dan usia janinnya masih satu minggu. Sangat muda dan belum kuat."
Degg..
Zhen mematung dengan tatapan kosong ke arah perut Moa lalu bergantian pada wajah cantik pucat sang istri.
"H..hamil! K..kau..kau hamil, sayang?" Gumam Zhen tak percaya ini.
Moa-pun sama. Ia tak menyangka akan secepat ini padahal tak ada tanda apapun.
"Kau..kau tak bercanda kan? Istriku benar-benar hamil-kan?" Tanya Zhen masih memastikan ini seakan takut bermimpi.
"Iya, tuan! Jika ingin lebih pasti, nona harus di USG!"
Zhen tak bisa membendung perasaan yang membuncah di dadanya hingga langsung memeluk Moa yang juga masih termenung.
"Kau hamil! Kau mengandung anakku, Moa!" Bisik Zhen memeluk erat Moa membenamkan wajahnya ke ceruk leher wanita itu karena tak mampu membendung perasaan senang, haru dan sedih bersamaan.
Moa juga ikut bahagia. Ia sadar jika Noah dan baby Zoe hanyalah anak angkat mereka sedangkan yang sekarang hadir adalah darah daging mereka sesungguhnya. Bagaimana bisa keduanya tak senang akan hal itu?!
"Kita akan punya banyak anak."
"Hm. Noah dan Zoe akan punya adik," Jawab Moa mengusap kepala Zhen yang kali ini hanya bisa memeluknya padahal Zhen ingin berteriak keras mengumumkan pada dunia kalau ia sudah jadi ayah dari anak biologisnya.
Marco yang sudah mendengar dari luar sana ikut senang. Walau ia tak bisa memiliki Moa tapi jika wanita itu bahagia maka hatinya ikut lega.
"Selamat," Gumamnya memandangi dari pintu dengan suara hanya bisa ia dengar sendiri.
Zhen tampak menghujani perut Moa dengan kecupan penuh cinta sampai mata pria itu merah karena memang sangat menantikan kabar ini sejak lama.
"Mommy!!" Dua bocah itu datang dengan Yoshep yang tadi mendapat kabar dari Chan di bawah.
Noah dan baby Zoe memanjat ranjang dengan panik melihat darah di spray
"Mommy!! Mommy kenapa? Mommy berdarah!" Panik Noah duduk di samping dokter Petter yang beranjak membiarkan ranjang ini di penuhi oleh keluarga kecil itu.
"Singa!" Baby Zoe merangkak ke pangkuan Zhen yang dengan hangat memeluk putrinya.
"Si..singa!" Bibir bergetar ingin menangis.
"Kenapa kalian begitu panik? Mommy baik-baik saja!" Moa mengusap kepala Noah dan baby Zoe yang langsung berhambur memeluknya.
Zhen hanya bisa diam dengan tangan mengusap perut Moa yang akan memberinya sosok mungil yang baru.
Yoshep dan Marco membisu di depan ruangan. Chan sudah masuk membawa gelas air yang di berikan pada dokter Petter.
"Kau tak berencana punya anak?" Tanya Yoshep merasa hangat melihat Zhen di kelilingi anak-anak.
Wajah datar Marco tak berubah lembut atau mengiyakan.
"Zhen sudah mau jadi ayah sejati. Bagaimana denganmu?"
"Takutnya anak itu tak akan berumur lama di tanganku," Jawab Marco terdengar dingin.
Yoshep seketika bergidik. Tak bisa ia bayangkan bagaimana Marco akan punya anak dengan wataknya yang kasar dan emosian seperti ini.
"Tuhan memang tahu pria mana yang pantas jadi ayah atau malaikat maut," Gumam Yoshep menjaga jarak dari Marco.
"Tadi Jio menghubungiku. Dia ingin hadir di pesta ulang tahun Zoe. Menurutmu apa Zhen akan membiarkannya?" Tanya Yoshep menatap Marco.
"Zhen akan semakin berhati-hati melindungi keluarganya. Apalagi, Jio sedang membuat scandal. Melihatnya datang hanya akan membawa ancaman bagi mereka."
"Kau terlalu kejam. Tapi, benar juga. Biarkan Jio menanggung hukumannya dulu. Zhen benar-benar memberinya hadiah istimewa," Gumam Yoshep senang dengan berita hangat yang sekarang menjadi topik utama.
....
__ADS_1
Vote and like sayang.