Impoten Husband

Impoten Husband
Kalau bisa dua kenapa satu?


__ADS_3

Ledakan yang kuat dari tiga dron tadi membuat gudang bertingkat pakan kuda itu hancur total. Kobaran api melambung ke sela jendela dan pintu dengan asap mengepul menakutkan.


"Tuaan!!!" Teriak asisten Jio terkejut melihat kobaran api yang membakar gudang.


Ebner yang melihat itu juga tak kalah syok karena Zhen tak tampak sama sekali.


"Dimana tuanmu?"


"Tidak ada. Aku..aku yakin tuan di dalam," Panik asisten Jio nekat masuk ke dalam gedung yang di penuhi asap dan api merah menantang.


Ebner yang tak bisa diam saja segera menghubungi petugas pemadam. Ia menunggu dengan panik karena tak mungkin masuk ke dalam gudang yang akan roboh sepersekian menit.


Di dalam sana, asisten Jio berusaha menahan nafas. Semburan ganas api datang dari segala penjuru apalagi disini gudang jerami hingga menambah kegentingan suasana.


"Tuaan!!! Tuan Zheen!!" Panggil asisten Jil sesekali menghindari reruntuhan.


Ia tak bisa masuk semakin dalam karena di dalam sana sudah seperti aliran lava gunung yang menyambar tak terkendali.


"Tuaaan!!! Tuaan, kau dimana??"


Asisten Jio panik bukan main. Matanya yang dijalari rasa perih dan mulai berair karena kepulan asap dan panas tak di pedulikan asal bisa mencari tuannya.


"Tuaan!! Tuan Zheen!!"


"J..Jioo!!" Suara Moa terdengar sayup-sayup. Asisten Jio mencari asal suara itu sampai ia melihat kursi roda tuannya yang terbakar dan di samping itu ada Moa dan Zhen yang tampak mengalami luka bakar di punggungnya.


"Tuaan!!" Berlari mendekat.


Ia mendorong deretan kotak jerami yang melindungi Moa dan Zhen tadi agar tak terlalu menghambat.


"Tuan!"


"Bantu aku memapahnya!" Pinta Moa bercampur cemas karena bagian punggung Zhen terbakar bahkan memperlihatkan kulit putihnya yang merah daging karena melindunginya tadi.


Asisten Jio memapah Zhen yang masih sadar keluar dari kobaran api. Moa ikut menopang lengan Zhen tak bisa berjalan hingga keduanya harus bekerja keras.


"H..hati-hati!" Lirih Zhen saat ada reruntuhan kayu yang menghadang pintu keluar.


"Apinya semakin membesar dan bangunan ini akan roboh. Aku akan berjalan lebih dulu untuk.."


"Jangan bertindak gegabah," Tekan Zhen yang tahu Moa juga kesulitan bernafas.


Melihat tatapan tegas dari Zhen dan kondisi pria itu terluka karena melindunginya tentu saja Moa mematung. Luka di punggung dan aksi nekat Zhen memeluknya tadi terus terngiang-ngiang di kepala Moa.


"Kenapa kau melindungi ku?" Batin Moa menatap lekat wajah Zhen yang ada di sampingnya.


"Kita harus keluar dengan cepat atau akan mati disini!" Zhen menyadarkan Moa yang segera fokus ke depan.


Setelah beberapa lama berjuang, akhirnya mereka bisa sampai ke pintu keluar dimana ada mobil pemadam kebakaran, para pengawal dan satu mobil ambulans sudah terparkir di depan.


"Moaa!!" Ebner tersentak melihat Moa keluar dari semburan api ganas di dalam gudang.


Para petugas pemadam sontak bekerjasama memadamkan api yang meluap-luap agar tak menjalar ke lain tempat.


Sementara team medis, segera menyongsong Zhen dengan bangkar rumah sakit.


"Tuan!"


"Punggungnya terluka. Cepat tangani, tuanku!" Panik asisten Jio mendudukan Zhen ke atas bangkar.


Zhen di beri alat bantu nafas karena terlalu lama di dalam. Kedua mata Zhen yang masih terbuka sempurna melihat Moa yang juga sesak di tanyai Ebner yang memeluknya  panik.


"Moa! Moa, kau baik-baik saja? Kau.."


"Aku baik-baik saja," Jawab Moa melepas pelukan Ebner yang panik setengah mati.


Pandangan Moa beralih pada Zhen yang juga memandangnya. Kali ini, tak ada unsur pertengkaran melainkan ada rasa segan di mata Moa melihat bagian bahu Zhen yang terluka.

__ADS_1


"Tuan! Saya akan bantu anda tengkurap agar luka di.."


"Bawa wanita itu ke sini!" Titah Zhen seraya masih bernafas di alat bantu yang ia pakai.


Team medis wanita yang tadi ada di samping bangkar segera mendekati Moa.


"Nona! Apa kau baik-baik saja?"


"Hm." Moa mengangguk. Hanya ada bekas asap hitam di pipi serta keningnya.


"Tuan memanggil nona!"


"Untuk apa?!" Tanya Ebner tapi Moa justru memandang Zhen yang juga melihatnya.


"Ebner! Kau kembalilah, besok kita bicarakan lagi!"


"Moa! Kau sudah seperti ini dan masih ingin tetap bersamanya?" Tanya Ebner menyelipkan nada marah karena nyaris kehilangan Moa.


"Ebner! Aku tahu kau mengkhawatirkan aku tapi, ini belum berakhir."


"Moa!" Lirih Ebner kembali memeluk Moa sampai Zhen memalingkan wajah datarnya.


Zhen tak merasakan sakit akan luka di punggung yang sekarang di beri penanganan pertama oleh para team medis tapi, ia cukup risih melihat Ebner terus memeluk Moa.


"Pergilah!"


"Baik. Tapi, kau harus menghubungiku setelah kau kembali. Paham?"


Moa mengangguk. Ebner melempar pandangan tak sukanya pada Zhen dan barulah ia pergi dengan salah satu pengawal milik Zhen yang mengantarnya kembali.


Selepas kepergian Ebner, barulah Moa berjalan mendekati bangkar Zhen di dekat ambulans.


"Ada apa?" Tanya Moa tapi matanya tertuju pada team medis yang membuka kemeja dan jas yang Zhen pakai hingga tubuh atletis pria itu terpampang nyata membuat Moa tertegun sesaat.


"Lukamu cukup serius."


"Bukan apa-apa," Jawab Zhen seraya melepas alat bantu pernapasannya.


"Aku tak minta kau lindungi. Kau.."


"Pakai!" Zhen menempelkan alat bantu pernafasan yang tadi ia pakai ke wajah Moa.


"K..kau.."


"Putramu masih terlalu kecil menerima kabar kematian ibunya," Gumam Zhen tapi masih dapat terdengar oleh Moa yang terdiam.


Zhen tak mempermasalahkan soal luka di punggungnya padahal, kalau bukan karena melindungi Moa dari semburan api tadi, ia mungkin tak akan terluka seperti itu.


"Punggung tuan mengalami luka bakar cukup berat. Kita harus segera ke rumah sakit dan membersihkan luka tuan dalam perjalanan," Ucap dokter yang tadi melihat luka bakar di punggung Zhen.


Asisten Jio yang tadi menelfon pihak kepolisian sudah kembali mendekati Zhen.


"Tuan! Apa kau baik-baik saja?"


"Hm, bagaimana dengan putriku?" Tanya Zhen tapi matanya terus memandang Moa yang terpaksa memakai alat bantu pernafasan itu karena dadanya cukup sesak.


"Nona kecil baik-baik saja, tuan! Tapi, pengawal melaporkan jika nyonya Ming sudah berkunjung ke apartemen."


"Apa dia tahu kejadian ini?" Tanya Zhen tak ingin ibunya khawatir.


Asisten Jio terlihat bimbang tapi, dari raut wajahnya Zhen seketika paham jika nyonya Ming memang sudah tahu soal kebakaran ini.


"Kau pulanglah lebih dulu!"


"Tapi, tuan.."


"Aku akan segera menyusul," Tegas Zhen menghela nafas.

__ADS_1


Alhasil asisten Jio mengangguk. Sebelum pergi ia menatap Moa dengan pandangan selalu tak suka tapi Moa hanya masa bodoh.


"Kau punya asisten yang menyebalkan."


"Jio memang seperti itu," Jawab Zhen tak heran lagi dengan sikap waspada dan tempramental Jio yang lebih parah dari Zhen.


Moa hanya mendengus beralih duduk di atas bangkar Zhen tepat di samping pria itu. Para team medis dan beberapa pengawal Zhen yang melihat hanya saling pandang heran.


"Kenapa tuan Zhen tak marah?"


"Siapa wanita itu?"


Tanya para suster yang hanya bisa berbisik. Dokter laki-laki yang tengah memasang perban di punggung dan bahu kekar Zhen menatap tajam mereka agar berhenti bergosip.


"Kau kenal pria tua tadi?" Tanya Moa seraya melepas alat bantu pernafasannya karena sudah merasa lebih baik lalu meletakannya di atas bangkar.


"Hm."


"Dia siapa?"


Zhen tak langsung menjawab. Pandangan netra hazel pekatnya masih menyapu pemandangan asap dan api yang berhasil di taklukan oleh anggota pemadam.


"Ayah mertuamu?" Goda Moa menyeringai hingga Zhen menghela nafas.


"Tidak lagi."


"Cih, menantu yang buruk," Ejek Moa mendapat tatapan datar Zhen.


"Bukankah kau tertarik dengan tua bangka itu?"


"Yah, dia cukup SEKSI," Jahil Moa mengedipkan satu matanya pada Zhen yang sontak membuang muka jenuh.


"Seleramu sangat menjijikan."


"Di bandingkan denganmu, dia tak buruk."


"Aku?" Tanya Zhen tersentak dengan kalimat Moa membandingkannya dengan tuan Dario yang kenyataanya tak bisa bersaing sama sekali dengan kesempurnaan Zhen.


"Yah, kau!"


"Cih, benar-benar tak tertolong," Decah Zhen tak percaya dengan jawaban Moa.


Melihat wajah masam tak bersahabat Zhen yang tak suka dengan bualan darinya tadi, tentu Moa tersenyum sempit.


"Mana bayaranku!"


"Apa?" Tanya Zhen menaikan alisnya sinis kala Moa membuka tangan seperti meminta uang.


"Bayaranku!"


"Kau belut penghianat. Untuk apa aku membayar-mu," Acuh Zhen membuat Moa mendidih.


"Kau jangan menipuku, ya?! Misi selesai dan uang.."


"Minta pada pria SEKSI itu," Desis Zhen mendorong halus Moa turun dari bangkar yang mulai di bawa masuk ke dalam ambulans.


Moa terperangah tak percaya itu. Kedua mata mereka saling bersitatap penuh permusuhan sampai sudut bibir Moa terangkat licik mengeluarkan dua dompet yang tadi ia sembunyikan.


"Milikku!" Desis Moa membuat Zhen tersentak segera memeriksa saku celananya dan benar saja.


Dompetnya hilang dalam sekejap berpindah tangan pada belut licin itu.


"Kau memang benar-benar," Gumam Zhen namun Moa tersenyum puas.


Dompet di tangan kiri milik tuan Dario yang tadi ia ambil saat menggoda pria itu dan dompet di kanan milik Zhen.


"Kalau bisa dua, kenapa satu?!" Gumam Moa menatap penuh kemenagan pada Zhen.

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2