
Pagi ini mereka sarapan seperti biasa. Beda-nya, sarapan pagi ini di buat oleh Moa tak lagi di bawakan oleh asisten Jio. Walau hanya sub wortel dengan kol serta hidangan sehat ala Moa yaitu salad sayur dengan racikan dari nyonya Ming tentu saja rasanya sangat lezat.
Ntah kapan Moa mempelajari menu makanan sehat dari nyonya Ming, mereka juga bingung.
"Bagaimana dengan dokter itu? Apa dia sudah di temukan?" Tanya Moa seraya menyuapi makanan ke mulut baby Zoe di atas meja.
"Bawahanku semalam mendapat beberapa informasi."
"Lalu? Dia sudah di temukan?" Tanya Moa tak sabaran.
Zhen menyedu segelas air putih di dekat piringnya yang sudah kosong dengan ekspresi tenang di wajah tampannya.
"Ada beberapa tempat yang pernah dia datangi sebelum dia menutup diri. Kita bisa cari di sana."
"Kalau begitu sekarang saja!" Ajak Moa benar-benar tak bisa lagi menunggu.
Zhen menghela nafas beriringan dengan asisten Jio yang baru datang memasuki ruang makan. Tanpa memandang Moa yang akan merusak mood-nya, asisten Jio segera berdiri di samping Zhen.
"Tuan! Saya sudah menyelidiki beberapa kasus penyebab Lie Wenliang yang tuan minta."
"Langsung ke ruang kerja!"
Asisten Jio mengangguk. Zhen segera menyudahi acara makannya lalu bergerak ke luar ruangan.
Moa masih bersabar untuk menyuapi baby Zoe sampai selesai lalu, menggendong si kecil itu seraya meraih botol susu di atas meja.
"Singa!"
"Jika masih lapar, minum susumu!" Ucap Moa membawa baby Zoe ke ruang kerja Zhen dimana pria itu sudah duduk di kursi kerjanya dengan asisten Jio memberikan berkas laporan yang ia kumpulkan.
Moa baru pertama kali ke ruang kerja Zhen hingga matanya menyapu dua lemari buku tinggi sampai ke langit-langit atas bercorak putih tulang.
Semuanya di tata rapi dan pencahayaan tempat ini juga bagus. Ada jendela kaca memanjang di dekat meja Zhen yang dipenuhi banyak berkas dan satu Laptop.
"Sebelum dia mundur dari dunia medis dia sempat melakukan satu tindakan operasi yang kasusnya sama seperti Noah. Tapi, setelah itu dia tiba-tiba mundur tanpa alasan yang jelas. Dan ini ada foto-foto beberapa orang yang sempat berkomunikasi dengannya sebelum menghilang."
Penjelasan asisten Jio menjabarkan isi kertas itu. Zhen menatap datar tapi teliti 5 foto yang terpapar di sini.
Tiga pria dewasa dan dua wanita paruh baya yang campur. Ada dari China dan beberapa wilayah eropa.
"Ini pasien terakhir pria itu, tuan!" Menunjuk ke arah biografi dan kilas hidup seorang bocah berumur 7 tahun yang tampak terbaring di meja operasi.
"Apa dia selamat sampai saat ini?"
"Untuk saat ini tak ada berita apapun. Tapi, beberapa tahun yang lalu anak ini memang menjadi sorotan dan tepat menghilang di saat dokter Wen juga mundur dari dunia medis."
Zhen terdiam. Hilangnya anak ini dan kemisteriusan dokter Wenliang berarti saling bersangkutan.
"Jadi, bagaimana?" Moa duduk di kursi depan meja kerja Zhen.
__ADS_1
Tapi, asisten Jio terkejut melihat ada beberapa tanda merah di sekujur leher Moa dan wanita itu juga tak ada niat untuk menyembunyikannya.
"Dia menggoda tuanku!" Batin asisten Jio dengan wajah merah padam.
Saat di ruang makan tadi asisten Jio tak begitu memperhatikan Moa tapi, pandangannya memanas melihat stempel kepemilikan yang tampak sangat kontras dengan kulit putih Moa.
Sadar di pandangi dengan sorot mata membunuh oleh asisten Jio, senyum iblis Moa muncul tanpa malu menyibak rambutnya ke belakang agar pemandangan itu semakin nyata.
"Zoe! Ruangan ini cukup panas. Zoe merasakannya?" Tanya Moa seraya mengibas bagian lehernya pura-pura gerah.
Zhen menarik pandangan ke arah Moa yang tampak memamerkan jejak petualang Zhen semalam hingga wajah pria itu seketika malas.
"Jangan bertengkar di ruanganku!"
"Tuan! Dia memang tak tahu malu," Adu asisten Jio geram tapi Moa justru sangat puas telah membakar keangkuhan pria berkumis tipis itu.
"Malu kenapa? Ini tanda cinta dari suamiku."
"Kauu!!"
"Keluar!" Tegas Zhen pusing dengan perdebatan mereka hingga asisten Jio meredam amarahnya.
"Maafkan saya, tuan!" Asisten Jio mengalah tapi Moa tersenyum penuh kemenangan.
Tak ingin menyulut emosi Zhen, asisten Jio kembali fokus pada pembahasan mereka kali ini.
"Orang-orang kita sudah mendatangi beberapa tempat terakhir dan yang biasa dia kunjungi dan hasilnya nihil. Mereka tak mengatakan apapun selain mengusir."
"Tuan! Mereka sangat tertutup. Bisa di hitung berapa kali mereka keluar dalam satu minggu. Mereka seperti ketakutan saat orang kita datang," Jelas asisten Jio membuat Moa bertindak.
"Aku akan menyelinap ke sana. Kalian bisa bantu mengamati interaksi mereka."
"Terlalu beresiko," Jawab Zhen saat melihat tempat-tempat ini benar-benar jauh dari pusat kota.
Pasti ada sesuatu yang membuat mereka mengasingkan diri sampai seperti itu.
"Aku tak peduli. Yang harus di lakukan sekarang adalah masuk ke ranah mereka. Bisa saja dokter itu dalam bahaya atau terjadi sesuatu yang buruk sebelumnya," Bantah Moa yang tak akan bisa duduk diam dan menunggu.
"Tunggu sampai orangku memastikan jika di sana aman untuk.."
"Babi! Jika kita hanya menunggu dan tanpa bertindak itu sama saja omong kosong," Tegas Moa dengan ekspresi serius.
Melihat itu tentu saja Zhen paham sifat Moa. Dia tak akan mau duduk manis seperti ini tapi yang ia pertimbangkan adalah sesuatu yang tersembunyi di sana.
"Aku yang akan turun langsung. Ini masalah putraku."
"Baik. Tapi, jika terjadi sesuatu yang lebih buruk aku tak ingin di repot kan," Jawab Zhen terdengar egois tapi hanya di mulut saja.
Mendengar itu sudut bibir Moa terangkat. Ia membutuhkan Zhen hanya untuk mencari informasi dan keberadaan pria itu, selebihnya ia bisa berjuang sendiri.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Aku tak akan meminta lebih dari kesepakatan kita."
"Hm, aku harap begitu," Jawab Zhen kembali memandangi laporan ini.
Baby Zoe menyesap botol susunya dan sesekali memperhatikan wajah tampan sang daddy dan wajah cantik Moa yang terlihat tak sabaran.
"Aku pergi malam ini!"
"Pergi bersama. Aku juga ingin kembali ke negaraku dan Zoe butuh kau," Tegas Zhen dan diangguki Moa.
Dalam keheningan ini pikiran Moa tertuju pada Ebner. Apa pria itu masih marah padanya? Tak satu-pun panggilan yang di jawab Ebner seakan pria itu hilang kontak.
Drett..
Ponsel Moa berbunyi. Baby Zoe sempat terperanjat tapi ia kembali tenang kala Moa menunjukan layar ponselnya untuk menenagkan bocah itu.
"Hanya getaran ponsel, hm?!"
Zhen melirik ke arah layar benda itu. Ada nama Ebner di sana tapi wajah Zhen tetap tanpa ekspresi kembali fokus pada berkas di mejanya.
"Hello! Ebner!"
"Moa! Bisa kita bertemu?" Tanya Ebner dan terdengar seperti biasa. Hanya saja suara pria itu agak serak membuat Moa khawatir.
"Kau baik-baik saja? Kau sakit?" Tanya Moa bangkit sementara baby Zoe ia dudukan di atas kursi.
"Aku di rumah sakit. Kemaren kecelakaan."
"Kenapa bisa? Kau ini memang sangat ceroboh. Kenapa-ku hubungi kau tak menjawab? Aku tahu kau marah tapi setidaknya pedulikan nyawamu!!" Emosi Moa menggebu-gebu sampai asisten Jio terdiam.
Zhen membisu tapi ada rasa tak suka di hatinya melihat Moa begitu peduli pada Ebner sampai-sampai meninggikan suaranya.
"Keluar jika ingin berteriak. Telinga putriku bukan tempat kau membentak!" Dingin Zhen menyadarkan Moa yang menatap baby Zoe.
Bocah imut itu menciut melihat Moa emosi tapi segera luluh saat jemari lentik Moa mengusap kepalanya.
"Maaf Zoe. Mertuamu ada urusan sebentar. Ingat, jangan nakal," Bisik Moa mencium kedua pipi gembul baby Zoe lalu segera pergi.
Baby Zoe tersenyum menatap kepergian Moa tapi tidak dengan Zhen yang membeku. Asisten Jio sadar perubahan hawa di tempat ini hingga mulai membentengi diri agar tak terkena amukan tuannya.
"Panggil dokter Petter ke sini!"
"Bukannya jadwal pemeriksaan tuan itu bulan de.."
"Sejak kapan kau bisa memerintahku?!" Dingin Zhen membuat asisten Jio ciut. Ia bergegas pergi karena hanya Zhen-lah yang ia takutkan di dunia ini.
Yah, asisten Jio memang punya tempramen buruk dengan orang-orang yang tak ia suka tapi, di banding Zhen yang biasa bersikap lebih tenang darinya asisten Jio juga gelagapan saat emosi tuannya sedang tak stabil.
"Lebih baik mencari aman."
__ADS_1
....
Vote and like sayang