Impoten Husband

Impoten Husband
Kemana dia?


__ADS_3

Pagi ini Moa terbangun dari kasur karetnya yang ada di kamar mandi. Yah, untuk mengantisipasi jika Marco akan macam-macam dengannya kalau tidur di ranjang hingga Moa nekat membentangkan kasur karet di lantai kamar mandi dekat wastafel.


Tentu cukup nyaman karena kamar mandi ini luas dan wangi. Setidaknya ia aman dari terkaman di segala penjuru ketika sedang bermimpi, pikir Moa.


"Haiss..ternyata tidur disini lumayan," Gumam Moa merenggangkan tulang-tulangnya.


Moa bangkit dan mulai ritual mandinya dengan santai. Jika di lihat, Moa tak sedang dalam markas musuh melainkan rumah sendiri.


Tak ada rasa takut apapun karena baginya, berani  dan tenang adalah kunci kesuksesan misi.


Setelah beberapa lama Moa selesai mandi. Untung ia sempat mencuci pakaiannya semalam dan meletakkannya di penghangat kamar mandi hingga kering.


"Nona!" Suara pelayan mengetuk pintu kamar mandi karena mendengar suara shower tadi.


Moa buru-buru mengenakan pakaiannya lalu menata rambut panjang sepunggung yang tak kusut sama sekali.


"Babi!" Panggil Moa seraya memasang erapich di telinga kiri.


"Babi! Kau masih tidur?"


Tak ada jawaban dari Zhen. Moa menghela nafas segera membereskan barang-barangnya kembali dan barulah ia membuka kuncian kamar mandi.


"Ada apa?" Tanya Moa datar pada pelayan wanita yang semalam mengantarkan pakaian padanya.


"Tuan menunggu anda untuk sarapan di luar, nona! Dan ini pakaian anda!" Meletakan dress santai yang cukup terbuka di atas ranjang.


"Dia sangat berbeda dengan Zhen. Sepertinya memang suka memamerkan bentuk tubuh kekasihnya," Gumam Moa mengacuhkan pakaian itu.


Ia melenggang pergi keluar kamar tak menghiraukan pelayan wanita yang memanggilnya untuk berganti pakaian.


"Nona! Ini pakaian di pilih oleh tuan sendiri. Nona!"


"Masa bodoh. Tak mungkin aku melompat dengan dress seperti itu," Acuh Moa menyusuri lorong ini.


Sampai pada satu pintu dimana kemaren ia mendengar percakapan Carlos, Mubai dan Marco tentang bisnis gelap mereka.


"Bos! Kau yakin wanita itu tak akan berbahaya?"


"Melihatnya saja kami sudah tahu jika dia ada maksud dan tujuan yang besar datang kesini."


Suara Carlos dan Mubai mempengaruhi Marco soal Moa.


Tak ada sahutan apapun dari Marco seakan-akan ucapan kaki tangannya itu hanya sekedar angin lalu atau lebih tepatnya ia sudah sangat tahu.


"Bos! Kami.."


Marco melirik tajam Mubai yang seketika diam karena Marco tahu jika Moa sudah berdiri di belakang pintu.


"Masuklah!"


Dengan enteng Moa masuk tanpa rasa hormat atau segan duduk berhadapan dengan Marco. Carlos dan Mubai hanya di buat saling pandang akan kelancangan Moa.


"Pagi!" Sapa Moa mengambil sebutir anggur di atas piring meja sofa lalu memakannya.


Tatapan Marco terus memandang Moa dengan datar tapi lebih pada menyelidik. Moa berusaha tak menghiraukan itu karena ia sudah lapar.


Tanpa malu mengambil sepotong sandwich di piring Marco seakan-akan hidangan ini hanya di buat untuknya.


Sungguh, Carlos di buat geram tapi Mubai justru mengagumi Moa.


"Janjimu kemaren ingin membawaku berkeliling. Sangat terhormat di layani bos besar disini."


"Lepas alat di telingamu!"


Kunyahan Moa sontak terhenti akan ucapan Marco. Pandangan keduanya mulai beradu dan Moa sadar jika Marco memang sangat menyebalkan.


"Alat?" Gumamnya pura-pura tak tahu.


Untung Moa masih sempat memakai lensa yang kemaren ia lepas walau rasanya sangat tak nyaman di matanya.

__ADS_1


"Kau tak dengar?" Geram Marco seperti sangat kesal akan hal itu.


Moa menghela nafas. Ia melepas earpich di telinganya dan itu mengejutkan Carlos dan Mubai yang tak menyadari jika Moa memakai alat itu.


"Lensa matamu!"


"I..ini mata asli," Sangkal Moa tapi melihat ekspresi datar Marco, ia langsung pasrah membuka kedua lensa kontaknya.


Mubai dan Carlos saling pandang merasa Moa sangat pandai menipu. Pandangan mereka bergulir ke dada Moa yang menonjol di balik tank thop-nya hingga keduanya menggeleng.


"Itu asli," Gumamnya salut.


Melihat tatapan cabul itu, Moa melempar piring di meja ke wajah Carlos yang seketika mendidih.


"Kauu!!"


"Kalian keluar!" Titah Marco hingga Carlos hanya bisa meredam amarahnya.


Mubai menenagkan sang rekan dan mengiringnya keluar ruangan meninggalkan Marco dan Moa berdua. 


Untuk sesaat sunyi. Moa bingung, kenapa Marco bisa tahu semua alat di tubuhnya padahal semula pria ini tak sadar?! Dan lagi, Zhen tiba-tiba tak ada kabar membuat Moa berkecamuk.


"Kau memikirkan pria itu?"


"Shiitt! Apa dia cenayang?" Batin Moa tersentak kala Marco menebak semuanya dengan benar.


Apa yang terjadi semalam? Apa yang pria ini lakukan pada Zhen?


"Jangan cemas. Aku hanya mengirim anggotaku untuk memberinya peringatan!"


Degg..


Moa terkejut. Kedua tangannya mengepal mengingat keadaan Zhen saat ini dan apalagi ada baby Zoe.


Melihat amarah yang berkobar di mata Moa, tentu saja Marco menyeringai licik.


"Aku sudah katakan, bukan? Kau tak akan keluar dari sini dengan mudah. Aku tak akan menyerahkan sesuatu yang sudah datang dengan sendirinya ke tempatku."


Ia terlalu meremehkan Marco hingga pria ini berbuat sesukanya.


"Jangan emosi. Kau tampak lebih seksi dengan mata itu!"


Amarah Moa sudah tak terbendung. Ia langsung menendang meja di hadapannya hingga ingin membentur lutut Marco yang segera menahan benda itu dengan kaki kokohnya.


"Jika sampai terjadi sesuatu padanya. Aku bersumpah akan MEMBUNUHMU!!" Geram Moa bangkit ingin beranjak pergi melewati Marco tapi lengannya langsung di cengkal pria itu.


Patut di akui sebagai bos besar disini karena dalam sekali sentakan tubuh Moa mundur. Marco berdiri dan mendorong tubuh Moa ke dinding membelakanginya.


"Shitt!! Dia sama saja dengan Zhen. Sangat kuat," Batin Moa sulit melepaskan diri dari kuncian tangan Marco yang memelintir kedua lengannya di belakang.


"Aku lebih baik darinya. Jangan mencoba menguji kesabaranku."


"Cih. Kau bahkan tak bisa menandingi debu di kakinya," Desis Moa membuat rahang Marco mengeras memelintir lengan Moa sampai desisan sakit itu keluar tertahan.


"Jangan bermain denganku. Aku bukan pria lumpuh yang penuh cinta seperti idamanmu itu."


Walaupun tangannya serasa mau patah Moa tetap tak akan membiarkan Marco menghina suaminya sesuka hati.


Tawa getir mengejek Moa pecah menyulut emosi Marco yang mendidih.


"Yah. Aku lebih suka pria penuh cinta dari pada penuh amarah sepertimu. Dia lebih menantang!"


"Lihat betapa menantangnya diriku," Geram Marco menarik dagu Moa untuk menoleh padanya berniat menyambar bibir Moa tapi dengan kilat Moa menyikut perut Marco keras hingga kuncian pria itu lepas.


Merasa tak aman disini, Moa segera ingin membuka pintu tapi nihil. Benda ini di kunci sangat rapat.


"Kau tak akan bisa lari dariku!" Desis Marco berdiri tegap menatap penuh kemenangan pada Moa yang diam.


Wajah cantiknya tak lagi sesantai itu untuk berunding dengan Marco karena pria ini lebih dulu menunjukan taringnya.

__ADS_1


"Kau ingin menikmati tubuhku?" Tanya Moa dingin.


"Tak hanya itu, aku ingin semuanya."


Moa membiarkan Marco berjalan mendekatinya. Tak ada cela atau tempat keluar sedikitpun disini membuat Moa berpikir keras.


"Sudahi ini. Dia tak pantas untukmu!"


"Bukan-kau yang menentukan dia pantas atau tidaknya," Desis Moa kala Marco sudah ada di hadapannya sekarang.


Tangan Moa perlahan terulur masuk ke dalam sela celana jeansnya karena Moa masih punya pisau kecil yang tak ia jatuhkan saat di ruangan berkas itu.


"Tapi, kau MILIKKU," Desis Marco kembali ingin menguasai tubuh Moa.


Tapi, tak semudah membalikan telapak tangan. Moa mengeluarkan pisaunya dan menancapkan benda itu ke perut Marco yang terkejut.


Belum sempat ia bicara, Moa meninju rahang Marco sampai tersungkur di lantai.


"Kau pikir aku suka di sentuh pria sepertimu?! Cih,MENJIJIKAN!!" Geram Moa menatap pisaunya yang berlumuran darah.


Marco memeggangi perut sebelah kirinya yang berdarah karena di tusuk pisau milik Moa.


Melihat ini Marco bertambah ingin memiliki Moa yang tak boleh jatuh ke tangan orang lain.


"Kau tak akan bisa keluar dari sini!" Desis Marco tak menghiraukan luka itu.


"Maka aku akan membunuhmu," Geram Moa menunjukan kepercayaan diri dan kata-kata bukan omong kosong.


Dia berani menusuk Marco maka Moa juga tak segan menggorok leher pria itu disini.


"Boos!!" Suara Mubai dari balik pintu.


Marco mendekati Moa yang waspada dengan pisaunya.


"Kau lolos kali ini!"


Mendorong bahu Moa ke dinding sampai terbentur. Ia membuka pintu itu dan melihat Mubai datang dengan wajah serius tapi syok melihat Marco memeggangi perutnya yang berdarah.


"Bos! Kau..kau bagaimana bisa terluka? Ini.."


"Cepaat!!" Keras Marco tak punya kesabaran ekstra karena ia cukup emosi meladeni Moa.


"Anggota kita berhasil menyerang mereka. Sekarang, pria itu terluka parah!"


Moa yang mendengar itu sontak langsung terkejut bukan main. Dengan kekuasaan Marco dan anak buahnya tentu bisa menyerang Zhen apalagi pria itu hanya bergantung pada bawahannya.


"Brengseek!!! Kau apa-kan dia, haa???" Amuk Moa ingin menikam Marco tapi pintu itu sudah di tutup rapat oleh Marco yang keluar.


Moa memberontak dengan menendang pintu itu berulang kali lalu memukulkan kursi yang ada di sudut ruangan hingga terdengar sangat keras dari luar.


"Jika kau berani mengusiknya aku tak akan segan menghancurkan tempat ini!!! Sekali-pun aku matii kau tak akan loloos!!!" Teriak Moa terdengar kehilangan kendali.


Marco diam mendengar amukan wanita itu. Wajahnya tak bahagia atau senang mendengar kabar ini. Melainkan raut dingin yang tak bisa di tebak.


"Bos! Ini kabar luar biasa. Selama ini bos selalu bersaing dengannya dan ketika lumpuh seperti ini kita dengan mudah membunuhnya. Kita.."


"Aku tak menyuruh kalian membunuhnya," Geram Marco karena ia ingin bersaing secara jantan dengan Zhen.


Anggota yang ia kirim juga hanya berguna untuk memperingati pria itu saja, tak lebih.


"Maaf, bos! Tapi, kabarnya anggota kita menyerang brutal."


"Kau mencari mati," Geram Marco lalu beranjak pergi sementara Moa masih memporak-porandakan ruangan itu.


Bagaimana dengan Zoe? Apa Zhen berhasil lolos? Kenapa aku tak mendengarkan dia sebelumnya? Seharusnya aku tak meninggalkan mereka.


Batin Moa merasa kacau dan bersalah. Ia terlalu tergesa-gesa dan menganggap remeh Marco padahal Zhen sudah memperingatkannya lebih awal.


.......

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2