
Moa tengah menyelimuti baby Zoe dan Noah yang masih begitu nyenyak tertidur. Baby Zoe masih enggan melepas pelukannya pada boneka kelinci itu dengan satu kaki terbiasa menindih perut Noah.
Namun, di sela kegiatannya Moa merasakan kehadiran seseorang. Ia masih diam tak beranjak dari samping ranjang kedua anaknya sampai pintu ruangan terbuka.
"Dimana tuan?"
Suara seseorang yang sedari semalam tak menampakan batang hidungnya terdengar.
Wajah Moa datar tak menunjukan ekspresi apapun tapi, ia berbalik memandang ke arah sosok itu.
Yah, asisten Jio berdiri dengan tatapan tak sukanya pada Moa dan itu sudah biasa.
"Dimana tuan?"
"Kau kemana saja?" Tanya Moa menaikan satu alisnya beralih memperbaiki selimut Noah.
"Ada pekerjaan yang harus-ku urus. Tuan dimana?"
"Coba kau hubungi!" Pinta Moa seakan tak terjadi apapun.
"Tuan tak mengangkat panggilanku. Coba kau yang menghubunginya!"
Moa terdiam sejenak berjalan mendekati asisten Jio. Keduanya berdiri saling pandang dengan hawa yang tak biasa.
"Bukankah kau ada di Amerika?" Tanya Moa terdengar dingin.
"Yah. Tapi, aku kembali dengan cepat karena ada yang ingin-ku laporkan pada, tuan!"
Senyum tipis Moa langsung mekar. Tawa getirnya muncul tapi tak mengusik lelapnya tidur Noah dan baby Zoe.
"Katakan padaku! Berita penting apa sampai kau terbang dari Amerika ke China dalam waktu sesingkat ini, hm?"
Asisten Jio membisu. Ia sengaja membuat jadwal terbang ke Amerika di bandara agar Zhen pergi dan Moa sendiri disini. Tapi, ternyata wanita ini memang sangat susah dikelabui.
"Aku tak bisa mengatakannya padamu."
"Hm. Baiklah, tunggu saja dia kembali," Gumam Moa santai.
"Siall!! Tak biasanya dia mengabaikan laporan penting untuk Zhen. Moa selalu ingin tahu apapun masalahnya," Batin asisten Jio mencari jalan lain.
"Aku ingin bicara soal Noah!"
"Katakan! Ada apa dengan putraku?" Tanya Moa menunggu sejauh mana asisten Jio akan bertindak.
"Tapi, aku tak bisa memberitahumu disini. Ayo ikut aku!" Keluar lebih dulu.
Moa diam sejenak melihat ke arah Noah dan baby Zoe lalu berjalan keluar mengikuti asisten Jio yang membawanya menjauh dari ruangan itu.
"Katakan!" Pinta Moa serius.
"Aku sudah mencari latar belakang, Noah!"
Ekspresi Moa masih tak berubah namun lebih dingin dari itu.
"Untuk apa kau menyelidiki anakku?"
__ADS_1
"Dia bukan anakmu tapi putra kakakmu, bukan?" Tanya asisten Jio tenang tapi ia melihat Bastian sudah masuk ke ruangan rawat Noah tanpa disadari Moa sama sekali.
"Lalu? Apa masalahmu?"
"Kakakmu meninggal karena sebuah kecelakaan dan kau mengambil alih tugas kakakmu sebagai ibu dari Noah. Tapi, apa kau tak berpikir jika ayah dari anak itu akan mencari putranya kembali?"
Moa diam. Dari mana asisten Jio tahu kalau Noah memang anak kakaknya dan hubungan mendiang kakak dan suaminya tidaklah baik hingga berpisah sebelum Noah lahir.
Tapi, Moa tak akan percaya begitu mudah. Kalau sudah jadi pengkhianat maka tetaplah berkhianat selamanya.
"Untuk apa kau mengatakan ini padaku?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin kau meninggalkan tuanku!"
Kali ini Moa dan Asisten Jio bersitatap tajam dan keduanya sama-sama punya amarah yang di pendam.
Asisten Jio melihat Bastian sudah menggendong baby Zoe keluar ruangan dalam keadaan pingsan karena di beri obat bius sesuai rencana mereka.
Asisten Jio mengisyaratkan dari matanya agar Bastian pergi dan pria itu bergegas keluar dari lantai ini.
"Baguslah! Moa tak menyadari ini," Batin asisten Jio lega.
"Aku tak punya tujuan apapun. Tapi, tuan memerintahkan ku sebelumnya untuk menyelidiki soal Noah. Jadi, kau tak perlu cemas akan apapun," Ujar asisten Jio memberi senyum santai.
Moa tak menanggapi hal itu karena perasaanya sudah tak tenang ingin kembali ke ruang rawat anak-anaknya.
"Jangan kau ganggu kedua anakku!!" Tekan Moa berbalik pergi ke ruang rawat.
Asisten Jio terdiam menatap kepergian Moa dengan pikirannya sendiri. Ia menunggu rencana kedua berjalan.
"Zoee!!" Suara Moa terdengar panik keluar dari ruangan.
"Zoe! Dia..dia menghilang. Tadi..tadi dia didalam," Ucap Moa menyusuri area lantai ini mencari baby Zoe namun tak di temukan.
"Aku akan mencarinya!"
"Kerahkan para pengawal juga!" Pinta Moa panik membiarkan asisten Jio pergi memasuki lift.
Asisten Jio melihat jam di pergelangan tangannya. Bastian pasti sudah membawa baby Zoe pergi ke gereja tua yang tadi telah mereka rencanakan.
"Maaf untuk ini. Aku tak akan membiarkan dia hidup," Gumam asisten Jio mengambil nafas dalam.
Saat pintu lift terbuka, asisten Jio buru-buru keluar tapi ia tetap seperti biasa tak ingin menimbulkan kecurigaan pada para pengawal yang berjaga di tempat ini.
"Asisten Jio!" Sapa salah satu penjaga di depan menyela langkah asisten Jio yang menggeram tapi ia menahan diri.
"Ada apa?"
"Kami pikir asisten Jio tak ada di negara ini. Tapi, syukurlah kau datang karena sekarang hanya Nona Moa yang menjaga kedua anaknya disini," Ucap pria itu bernafas lega.
"Yah. Syukurlah!" Menjawab seadanya lalu ingin pergi tapi lagi-lagi pria itu mencegatnya.
"Apa tak ada yang perlu kami bantu, asisten Jio?"
"Tidak. Kalian lanjutkan pekerjaan!" Pinta asisten Jio segera bergegas masuk ke mobilnya dan mengemudi cepat keluar dari lingkungan rumah sakit.
__ADS_1
Asisten Jio menghubungi Bastian untuk memperingatkan pria itu.
"Hello!"
"Jangan melewati jalur utama. Mereka akan mudah menemukanmu jika sampai tertangkap area cctv!"
"Baiklah."
Asisten Jio mematikan sambungan lalu menambah kecepatan mobilnya. Dengan keahlian mengemudi yang handal asisten Jio bisa menyalip beberapa kendaraan di depannya lalu mengambil jalan pintas berpacu dengan waktu.
Aku harus cepat sebelum tuan menyadari semua ini, pikir asisten Jio masuk ke sebuah jalan sempit di area yang cukup jauh dari jalan utama.
Setengah jam kemudian ia sampai di depan bangunan gereja tua dimana sudah ada mobil Bastian di sana.
Asisten Jio keluar dari mobil seraya mengambil pistolnya lalu bergegas masuk ke gedung besar ini.
"Apa ada yang melihatmu ketika kesini tadi?" Tanya asisten Jio berjalan mendekati Bastian yang berdiri di bawah altar dan ransel yang ia tenteng berat.
"Tidak ada. Sesuai dengan rencanamu!"
Asisten Jio beralih menatap ransel yang Bastian peggang. Pandangannya yang tampak berat dan ada tekanan dari batinnya.
Tahu akan arah tatapan asisten Jio tentu saja Bastian langsung melemah.
"Dia masih kecil. Dia tak salah apapun. Ini terlalu kejam untuknya."
"Sampai kapan kau akan membiarkan anak dari hasil hubungan kotor ini untuk bertahan di sisi tuanku, hm?"
Bastian diam. Ia tak tega melakukan ini karena ia tahu betapa Zhen menyayangi baby Zoe bahkan lebih dari hidupnya sendiri.
"Dia memang tak tahu apa-apa tapi dia akan jadi masalah besar jika sampai tumbuh dewasa."
"A..aku tak sanggup," Gumam Bastian memejamkan matanya.
Asisten Jio mengeluarkan pistol dari balik jaket yang ia pakai. Ia sering menggendong si kecil ini bahkan dulu baby Zoe lebih sering bermain dengannya dari pada Zhen yang giat bekerja.
"Dari pada besar dia akan semakin sengsara lebih baik aku membebaskannya sedari kecil!" Mengarahkan pistol itu ke ransel yang di tenteng Bastian.
"A..apa tak sebaiknya kita bicarakan dengan, tuan!"
"Tuan tak akan sanggup melakukan ini. Setelah membunuhnya aku akan membuat kronologi kematian Zoe," Jelas asisten Jio menarik nafas dalam-dalam dan mengumpulkan kekejaman di dalam dirinya.
Bastian memejamkan mata saat melihat asisten Jio mulai memantapkan pandangannya.
"Tempatmu bukan disini," Gumamnya memejamkan mata seraya melepaskan dua tembakan ke arah ransel itu.
Dada asisten Jio bergemuruh. Suara nyaring dari tembakan tadi masih menggema ke seluruh gedung ini bahkan menciptakan dengungan di telinga mereka.
"Maafkan aku," Batin asisten Jio lalu membuka matanya.
Tapi, seketika pupilnya melebar saat melihat siapa yang sudah berdiri di hadapannya dengan sorot mata yang begitu tajam dan membunuh.
"Apa maksudmu dengan semua ini??"
Degg...
__ADS_1
....
Vote and like sayang