Impoten Husband

Impoten Husband
Menikah?


__ADS_3

Setelah melakukan perawatan luka yang intensif di rumah sakit tadi, Zhen akhirnya kembali ke apartemen bersama Moa yang sekarang ada di dalam lift.


Hanya mereka berdua karena Moa cukup risih jika ada banyak pengawal yang mengikutinya.


"Ini!" Moa melempar dompet ke pangkuan Zhen.


"Tak tahu sandinya?" Licik Zhen tapi Moa hanya mendengus halus.


Zhen membuka dompet itu dengan senyum pelit yang samar. Namun, senyum Zhen berubah masam saat black cardnya tak di temukan.


"Matamu cukup jeli membedakan warna."


"Tentu. Kau tak akan bangkrut-kan?!" Tanya Moa bersandar ke dinding lift dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


Zhen menghela nafas. Ia menyimpan dompetnya kembali tanpa mempermasalahkan soal kartunya yang sudah di rampok seorang wanita.


"Kenapa dia tak marah?! Seharusnya dia meminta kartu itu kembali, bukan bermain ponsel begitu," Batin Moa sangat suka memancing-mancing kemarahan Zhen.


"Aku akan membeli apartemen baru!"


"Hm," Gumam Zhen tak peduli soal itu. Moa jengkel. Wajahnya tertekuk masam merasa tak lagi menantang.


Drett..


Ponsel Moa mendapat pesan. Moa melihat layar benda itu dan..


"Kauu!!" Moa syok saat ada notif dari Bank khusus yang memberinya sandi kartu milik Zhen.


"Pakai sesukamu," Santai Zhen menyimpan kembali ponselnya.


Moa yang mengerijab tak percaya sontak langsung berdiri di hadapan Zhen dengan wajah waspada.


"Kau pasti merencanakan sesuatu yang buruk?" Kedua mata menyipit penuh selidik.


"Berikan dompet pria tua itu!" Pinta Zhen datar.


"Cih, jadi kau ingin perhitungan denganku?! Pantas saja kau.."


"Polisi akan mencari benda itu," Sela Zhen membuat Moa terdiam sejenak.


Rasa berat hati memenuhi dadanya dengan tangan perlahan merogoh saku celana yang ia pakai. 


"Aku ambil kartunya dan kau bawa dompetnya!" Masih belum rela.


"Kartu yang kau peggang itu lebih berharga dari milik pria itu!" Tekan Zhen merampas dompet di tangan Moa yang seketika kesal.


"Awas saja jika kartumu kosong."


"Hm, menyingkir!" Ketus Zhen mendorong pinggang Moa kala lift sudah terbuka.


Kursi rodanya bergerak keluar sementara Moa berjalan di belakang Zhen yang mengarah pada ruangannya. Dua pengawal yang berjaga di depan pintu itu menunduk.


"Selamat datang, tuan!"


Zhen hanya mengangguk seadanya dengan pintu yang terbuka otomatis. Zhen masuk dan Moa ikut walau gayanya sama sekali tak seperti tamu yang baik.


"Zheen!" Suara nyonya Ming datang menyapa.


Wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya di sofa dekat pintu segera mendekati sang putra.


"Zhen! Mommy sangat khawatir padamu, nak! Kau kenapa bisa pergi ke tempat seperti itu? Lihat kondisimu saat ini! Kau.."


"Aku baik-baik saja," Jawab Zhen kala nyonya Ming memeriksa tubuhnya.


Zhen memakai kemeja lengan pendek berwarna biru muda tanpa kancing  dengan kaos santai di dalam menutupi perban yang terbalut di punggung.


"Bagaimana dengan luka bakarmu? Apa sudah di periksa?"


"Mom! Itu bukan masalah untukku," Ucap Zhen membuat nyonya Ming menghela nafas.


Namun, pandangannya beralih pada Moa yang tak tersenyum atau menyapa tapi, nyonya Ming ingat jika ini babysitter saat itu.

__ADS_1


"Kau baby sitter Zoe bukan?"


"Tidak lagi," Santai Moa tenang tapi tak kurang ajar.


Nyonya Ming mengerutkan dahinya beralih menatap Zhen penuh tanya.


"Dia masih bekerja disini."


"Tapi, dia bilang.."


"Bukan sebagai babysitter tapi dia orangku," Jawab Zhen berusaha tak begitu menjabarkan Moa yang tak suka identitasnya di sebar.


Nyonya Ming diam. Ia menatap Zhen lalu Moa yang tak menanggapi apapun bahkan, wajahnya yang cantik terasa sangat dingin.


"Mom! Kenapa tak menghubungiku dulu sebelum kesini?"


"Jadi, aku harus pamit padamu untuk menjenguk cucuku?" Tanya nyonya Ming menyelipkan nada tak suka.


Zhen menggeleng kecil melirik Moa yang berjalan menuju kamarnya untuk melihat baby Zoe.


"Zhen! Siapa dia?" Kali ini lebih serius.


"Dia orangku."


"Kau tak mau jujur?" Tanya nyonya Ming membuat Zhen terdiam berat.


Nyonya Ming kembali duduk di sofa yang tadi ia tempati sedangkan Zhen bergerak mendekatinya.


"Katakan sejujurnya! Kenapa dia bisa berubah seperti itu?"


"Berubah?" Tanya Zhen agak tergelitik dengan makna kata itu.


"Yah. Dulu dia sangat penurut dan tatapannya tak seberani itu. Tapi sekarang.."


"Dia adalah suruhan Dario yang saat itu ingin menghabisi ku."


"Apaa??" Syok nyonya Ming terkejut tapi respon Zhen sangat tenang.


"Dia..dia ingin membunuhmu dan kau biarkan dia disini?"


Penjelasan Zhen berusaha di pahami oleh nyonya Ming. Hanya saja, rasa cemas dan khawatir jika Moa akan menjadi masalah besar bagi putranya membuat nyonya Ming gelisah.


"Zhen! Kau yakin dia tak akan mengkhianatimu, nak?"


"Hm, jika dia mau pasti aku sudah lama tewas," Jawab Zhen tanpa ragu sama sekali.


Nyonya Ming terdiam. Kecemasan di matanya kian redup kala Zhen beralih menggenggam satu tangannya.


"Mom! Percayalah padaku kali ini. Dia bisa diandalkan."


"Mommy hanya takut kau salah mengenali orang," Gumam nyonya Ming sudah sangat trauma dengan wanita yang mendekati putranya.


"Mom! Kau tak perlu cemas. Aku sudah punya sesuatu yang bisa membuatnya berpikir dua kali untuk menghianatiku."


Nyonya Ming menatap wajah tampan Zhen yang mencoba untuk memberi pengertian.


"Daddy!!"


Suara baby Zoe terdengar dari arah depan. Mereka menoleh hingga terlihatlah Moa yang menggendong baby Zoe dengan fasih.


"Zoe!" Nyonya Ming berdiri sesekali menatap Zhen yang mengangguk.


"Zoe! Kau sudah bangun?"


Moa tak begitu menyapa nyonya Ming karena ia rasa tak perlu.


"Daddy!!"


"Apa dia sudah di beri susu?" Tanya nyonya Ming mengambil alih baby Zoe dari gendongan Moa.


"Akan-ku buatkan!"

__ADS_1


"A..baiklah," Jawab nyonya Ming membiarkan Moa pergi ke dapur.


"Tenanglah! Dia sudah sering merawat Zoe!" Zhen yang tahu pikiran ibunya menyahut.


"Kau harus tetap awasi dia. Mommy tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Zoe!"


"Mom! Dia juga punya anak."


Nyonya Ming tersentak. Ia berjalan kembali duduk di sofa tadi bahkan, wajahnya benar-benar terkejut.


"Jadi, dia sudah bersuami?"


"Ntahlah, tapi dia punya anak laki-laki berumur 7 tahun. Bocah itu mengidap sakit jantung kronis sampai Moa mau melakukan pekerjaan seperti itu untuk membiayai perawatan putranya," Jelas Zhen mengambil alih baby Zoe untuk duduk di pangkuannya.


Tatapan curiga dan firasat buruk nyonya Ming pada Moa tadi seketika melemah. Ia seorang ibu dan tahu bagaimana rasanya di posisi Moa yang pasti sulit.


"Ternyata begitu. Saat melihatnya mommy kira dia wanita yang bebas tapi, ternyata cukup kasihan."


Zhen memiringkan bibirnya jenaka. Jika Moa mendengar nyonya Ming mengasihaninya pasti kepala Moa sudah bertanduk sekarang.


"Jangan begitu meremehkannya. Dia tak suka di kasihani."


"Hm. Dari tatapan dan auranya, mommy cukup yakin dia wanita yang sulit di taklukan," Gumam nyonya Ming mengakui tempramen Moa.


Mendengar itu Zhen mematung. Ia membiarkan baby Zoe memainkan jemari besarnya dengan pikiran melayang ke momen-momen bersama Moa yang cukup membekas.


Ukiran kepala babi di nampan dan tingkah konyolnya saat membuat alasan agar tak ketahuan benar-benar masih terasa segar di benak Zhen yang di buat tersenyum pelit.


"Cih, belut," Gumam Zhen tapi tersentak saat nyonya Ming ternyata menyadari itu.


"Zhen! Ada apa dengan senyummu?" Nyonya Ming curiga.


"A..apa?!" Gugup Zhen dengan kilat menunjukan wajah serius.


"Apa yang membuat putraku sampai senyam-senyum tak jelas begini? Coba katakan!"


"Lihat Zoe, dia sangat menggemaskan," Jawab Zhen menjadikan baby Zoe alasan.


Nyonya Ming diam tapi ia sangat penasaran. Apa karena Moa atau ada sesuatu yang sudah berhasil menyita perhatian putranya?!


"Singa!!" Panggil baby Zoe saat melihat Moa sudah datang membawa botol susu.


Zhen menatap Moa dalam tapi Moa tak begitu peduli padanya.


"Ini! Minum sendiri!" Moa memberikan botol susu ke kedua tangan baby Zoe lalu berdiri stabil.


"Aku ada urusan. Jika tak ada yang di lakukan, aku akan pergi!"


"Kemana?" Tanya Zhen tak bisa menahan pertanyaan itu tapi intonasinya acuh tak acuh.


"Yang jelas, masih di sekitar bumi," Jawab Moa malas meladeni Zhen lalu pergi dengan sesuka hati.


Nyonya Ming agak syok akan interaksi Zhen dan Moa tapi, ia tak bisa menahan untuk tak tersenyum melihat wajah beku putranya.


"Wanita ini sangat menarik, Zhen!"


"Cih, tak ada yang menarik sama sekali," Acuh Zhen masih kesal pada Moa.


Namun, nyonya Ming terlihat berbeda. Moa pandai merawat baby Zoe dan tampak perkasa serta mandiri.


"Emm..Zhen."


"Hm?" Gumam Zhen tapi tak mengalihkan pandangan dari baby Zoe.


"Moa juga tak buruk."


"Maksudnya?" Tanya Zhen menoleh.


"Mungkin, kalian bisa..menikah?"


Degg...

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2