Impoten Husband

Impoten Husband
Aku bersedia menikah denganmu


__ADS_3

Langkah cepat dan penuh hentakan kekhawatiran itu terlihat jelas dari arah pintu masuk rumah sakit. Moa terburu-buru memasuki lift menuju lantai ruangan rawat putranya dengan wajah pucat pasih hampir tak bisa bernafas.


Lift itu terbuka. Moa memboyong kedua kakinya ke arah pintu kaca ruangan rawat intensif dimana ada Ebner yang menunggu dengan resah.


"Moa!"


"Apa yang terjadi? Bagaimana dengan Noah?" Tanya Moa melihat ke arah kaca pintu dimana dokter Corner dan para team medis lainnya tengah melakukan pompa jantung pada Noah.


"Noah mengalami henti jantung dan tubuhnya semakin tak bisa di atasi. Keadaanya sangat lemah sampai dokter Corner berulang kali melakukan pertolongan darurat."


"Noah!" Gumam Moa hanya bisa memeggang gagang pintu ruangan dengan dada dan jantung berkecamuk.


Ebner mengusap bahu Moa seakan memberikan kekuatan pada wanita itu. Kelemahan Moa sudah jelas tampak tapi wanita itu berusaha untuk tetap menunjukan ketangguhan.


"Apa donor jantungnya sudah di temukan?" Tanya Moa tanpa mengalihkan pandangan dari kaca pintu.


"Belum. Karena tubuh Noah begitu lemah dan setiap waktu terjadi penurunan, dokter jadi waspada untuk menanganinya."


"Apa yang harus-ku lakukan sekarang?!" Gumam Moa dengan kekhawatiran memuncak.


Setelah setengah jam menunggu, akhirnya dokter Corner keluar dari ruang rawat darurat Noah dengan wajah cukup berkeringat membuktikan betapa tegangnya suasana di dalam sana.


"Bagaimana keadaan putraku? Apa yang harus-ku lakukan untuknya?"


"Tenanglah dulu!" Pinta dokter Corner berusaha menenagkan Moa yang tentu sangat cemas pada Noah.


Setelah di rasa Moa cukup stabil mendengarkan penjelasannya, barulah dokter Corner memulai.


"Aku sudah mengadakan pertemuan dengan para spesialis jantung terbaik di negara ini. Keadaan Noah sudah sampai pada tahap darurat jantung karena bukan hanya organ jantung saja yang bermasalah tapi sistem kekebalan tubuh dan paru-prunya ikut terdampak karena hal tersebut."


"Lalu?" Tanya Moa tak bisa menahan suara bergetar.


"Dan aku hanya bisa mempertahankan Noah hanya dalam waktu satu bulan kedepan. Aku tak bisa melakukan operasi pembedahan besar-besaran karena khawatir akan memperparah organ lain."


Moa diam dan mendengarkan tanpa terputus. Walau sekujur tubuhnya lemas tapi harapan sekecil apapun akan ia ambil asal Noah bisa hidup.


"L..lalu apa yang bisa-ku lakukan?"


"Ada satu dokter yang dalam periode ini berhasil menyelesaikan operasi besar dengan kasus komplikasi seperti Noah."


Seakan mendapat air di tengah gurun pasir yang terik, mata Moa memancarkan binar harapan.


"Dokter?"


"Yah. Hanya saja.."


"Katakan! Apapun pasti akan-ku lakukan!" Sela Moa kala melihat raut berat dokter Corner.


"Dia sudah tak lagi berkecimpung di dunia medis karena suatu alasan yang kami juga tak tahu. Beberapa tahun belakangan ini dia benar-benar keluar dari profesinya."


"Dia siapa?" Tanya Moa dan Ebner penasaran.


"Lie Wenliang atau dokter Wen dari China."


Moa dan Ebner saling pandang lalu kembali fokus pada dokter Corner yang terlihat sendu saat menyebutkan nama itu.


"Hanya dia harapan satu-satunya Noah tapi, dia pria yang sulit di temui bahkan tak ada yang tahu keberadaanya selama ini."


"Dia menghilang?" Tanya Moa dan di jawab anggukan dokter Corner.

__ADS_1


"Yah. Rekan-rekanku juga tak tahu kemana pria itu selama ini."


Moa diam. Dokter Corner kembali masuk ke dalam ruangan rawat Noah yang masih di tangani team medis yang lain.


Di luar pintu sana. Moa masih menatap lurus ke arah ranjang rawat Noah dengan Ebner yang sedia di sampingnya.


"Satu bulan."


"Moa! Kau.."


"W..waktunya hanya s..satu bulan. Aku.."


Moa berpikir keras. Ia tak mungkin bisa menemukan orang seperti itu dalam jangka waktu 1 bulan. Mereka hanya bekerja berdua dan jaringan juga terbatas.


"Moa! Tenanglah. Aku akan bicara dengan teman-temanku yang ada di wilayah China."


Ebner mundur segera menghubungi beberapa temannya yang ada di kawasan China seraya menatap Moa yang masih ada di depan pintu.


Tak ada semangat dan kedua matanya terpancar kosong.


"Ebner! Ada apa?" Suara di seberang sana terdengar di telinga Ebner.


"Apa kau mengenal dokter bernama Lie Wenliang atau Wen?"


Pertanyaan Ebner membuat pria di seberang sana berpikir. Ia pernah mendengar nama itu tapi seperti sangat lama.


"Ntahlah. Aku kurang tahu."


"Apa tak ada teman-temanmu yang mengenalnya?" Tanya Ebner agak kecewa.


"Nanti akan-ku kabari."


"Moa!"


"Kau menemukannya?" Tanya Moa tapi Ebner menggeleng halus membuat Moa terdiam sendu.


Di tengah kekacauan benaknya sekarang, terlintas wajah menyebalkan Zhen yang tadi pagi menggelitik perutnya dengan ajakan menikah.


Seketika Moa membendung harapan pada pria itu.


"Ebner! Kau tolong jaga dulu putraku disini. Aku akan kembali sebentar lagi!" Berlari kecil masuk ke lift.


Ebner hanya bisa memandangi kepergian Moa. Rasanya ingin sekali menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri.


Di sebuah restoran Italia dengan suasana sunyi dimana ada 5 pengawal di depan pintu resto menjaga agar tak ada paparazi atau media yang mengintai dari segala penjuru.


Hal itu dilakukan agar Zhen yang tengah bertemu dengan klien bisnis tetap perusahaanya di Amerika bisa tenang melakukan pertemuan.


"Kau yakin ingin kembali ke negaramu?" Tanya Yoshep seorang pria tampan seumuran dengan Zhen.


Dia bukanlah sekedar rekan bisnis tapi bisa di katakan teman Zhen yang asli Amerika. Yoshep dan Zhen memang terlihat sebaya tapi, karakter mereka berbeda.


Zhen tipe pria yang serius dan tak suka main-main sedangkan Yoshep sebaliknya. Pria berkulit sawo matang dengan mata abu muda itu punya tatapan yang nakal dan liar tak terkendali.


"Aku ingin kau mengejar adikku."


"Maksudmu? Kau menyerahkan adikmu padaku?" Tanya Yoshep tersenyum mesum membuat wajah tampan dingin Zhen semakin membeku.


Asisten Jio yang berdiri di belakang kursi tuannya tak bicara apapun selain mewaspadai setiap gerakan Yoshep.

__ADS_1


"Ayolah. Dulu kau tak ingin aku mendekati adikmu tapi sekarang kau datang secara tiba-tiba. Sangat mengejutkan."


"Aku hanya ingin kau membawanya keluar dari pengaruh Hupent. Aku atau yang lain tak bisa melakukan itu karena dia membenci kami," Jelas Zhen tapi intonasi suaranya sama datar dengan wajah tampan mempesona itu.


"Lalu? Kenapa aku?"


"Menurutmu?" Zhen menaikan satu alisnya dengan raut memaksa membuat Yoshep terkekeh kecil menyesap cerutu yang ada di sela jarinya.


"Baiklah. Karena kau yang meminta aku bisa apa. Menolak-pun kau akan mencekik bisnis gelapku."


Yoshep tentu tak akan menolak Zhen karena walau Zhen tak punya bisnis kotor tapi ia punya jaringan gelap yang kapan saja bisa muncul. Pria ini lawan yang buruk jika di ajak bermusuhan.


Apalagi, dulu Yoshep sempat mendekati adik Zhen. Hanya saja, karena saat itu Zhen tak mengira akan seburuk ini jadilah ia melarang Yoshep mengusik adik perempuannya.


"Ganti pembahasan. Aku ingin tahu kabar ISTRIMU."


Zhen tak menjawab. Yoshep hanya memancing amarah Zhen tapi tampaknya Cellien benar-benar sudah membuat Zhen mati rasa.


"Cih. Sudah-ku katakan sebelumnya. Jangan terlalu serius dan setia. Jadilah sepertiku kau.."


"Diam!" Tegas Zhen kala ada panggilan masuk dari Moa.


Awalnya Zhen acuhkan tapi ada pesan dari Moa yang menanyakan keberadaanya.


"Bergeraklah lebih cepat. Saat aku kembali, pastikan dia tak ada di sekitar Hupent!" Tampak ingin pergi.


"Baiklah. Semoga kedua kakimu tak lumpuh permanen," Kelakar Yoshep menghembuskan cerutunya ke udara.


Yoshep belum tahu soal impoten yang di derita Zhen karena kabar itu sangat di jaga oleh nyonya Ming dan dirinya sendiri.


Namun, saat kursi roda Zhen bergerak ingin pergi ke arah pintu keluar resto tiba-tiba ada satu mobil yang melesat hampir menabrak pintu restoran namun berhenti secara menakutkan.


Para pengawal di luar cukup emosi namun saat melihat siapa yang keluar dari sana tiba-tiba saja nyali mereka agak ciut.


"Menyingkiir!!" Suara keras Moa kala para pengawal di depan termenung menyaksikannya masuk ke dalam resto dengan wajah cantik merah padam.


Yoshep diam dengan kedua mata nakal memindai Moa dengan pandangan mesum karena tubuh Moa yang memakai jeans itu terlihat sangat menggiurkan.


"Ku kira kau sudah mati!" Maki Moa saat sudah berhadapan dengan Zhen yang setia dengan raut wajah datar sejak pagi.


"Nona!" Sapa Yoshep tapi Moa hanya melirik acuh karena yang ia cari adalah Zhen.


"Aku ingin membuat kesepakatan!"


Wajah Zhen tak berubah sama sekali. Tampaknya ia masih marah dengan Moa dan hal itu membuat senyum puas di bibir asisten Jio terbirit.


"Aku ingin.."


Moa terkejut saat Zhen melewatinya begitu saja. Asisten Jio menyeringai tak kalah senang melihat Zhen mengacuhkan Moa yang sudah bertanduk iblis.


"BABI SIALAN!! AKU BERSEDIA MENIKAH DENGANMU!!"


Yoshep hampir saja tersedak oleh cerutunya sendiri dengan wajah kosong menatap kepergian Zhen lalu Moa yang tengah berasap.


"Menikah?"


....


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2