Impoten Husband

Impoten Husband
Memulai penyergapan


__ADS_3

Malam ini Zhen sibuk di ruang kerjanya sedangkan Moa, ia masih mengurus baby Zoe di dalam kamar pria itu.


Kamar yang luas membuat siapapun tenang ada di dalamnya. Moa juga menyukai ranjang king size milik Zhen yang sangat empuk dan bisa membuatnya nyaman berbaring di atas benda itu sepanjang hari.


"Hey!" Seru Moa pada baby Zoe yang asik memainkan rambut panjang blonde Moa yang harum dan  sehat.


"Emm..apa kau tak merindukan ibumu?"


Baby Zoe mengerijab beberapa kali. Kepala Moa tepat ada di sela kedua pahanya yang duduk bersandar ke kepala ranjang sedangkan Moa berbaring.


Karena hanya mereka berdua disini, Moa tanpa malu hanya mengenakan hotpant dan kaos crop diatas pusat membuat penampilannya benar-benar hot.


"Singa!"


"Aku punya seorang putra. Kau ingin lihat?" Tawar Moa mengadah.


Baby Zoe mengangguk tapi kedua tangannya tak berhenti menyisir rambut Moa dengan jemari mungilnya lalu tak segan mencium puncak kepala wanita itu.


Sesekali Moa tersenyum melihat baby Zoe menyukai aroma rambutnya.


Moa membuka layar ponsel yang tadi di berikan Zhen lalu menunjukan foto Noah saat masih sehat dulu. Anak laki-laki berwajah tampan itu duduk di pangkuan Moa yang terlihat merayakan ulang tahun sang putra.


"Tampan-kan?"


"Em." Baby Zoe mengangguk seakan mengerti. Moa terus menunjukan foto-foto Noah dan baby Zoe juga tak bosan.


Kedua tangan mungilnya terangkat mengambil alih ponsel Moa dan menggulir sendiri foto-foto itu.


"Bagaimana? Kau menyukainya?"


"Singa!"


"Hm?" Moa beralih tengkurap dengan kepala terangkat melihat baby Zoe asik mengetuk-negetuk layar ponselnya.


"Zoe! Kelak, jika kau sudah besar dan tumbuh cantik. Apa kau mau merawatnya?"


"Ha?" Baby Zoe bingung tak mengerti. Moa tersenyum kecil mengusap kepala mungil putri kesayangan Zhen ini.


"Ntahlah, aku tak pernah tenang meninggalkan dia sendiri. Jika kau setuju, aku akan ajari kau beladiri dari kecil, bagaimana?"


"Daddy!" Gumam baby Zoe tiba-tiba ingin memanggil Zhen.


"Kau jangan bilang daddy-mu. Ini rahasia kita, ya?" Pinta Moa menunjukan jari kelingking.


Baby Zoe mengerijabkan matanya tak paham. Moa menarik tangan Zoe dan menautkan kelingking mereka berdua.


"Ini janji seorang wanita. Ingat! Jangan beritahu daddy-mu yang menyebalkan itu!"


"J..jan..ji?" Ejanya melihat gerak bibir Moa.


"Yah, J-A-N-J-I! Sebagai balasannya, aku akan menjagamu sampai kau bisa melindungi diri sendiri. Paham?"


Baby Zoe mengangguk. Moa mulai menyukai si kecil ini karena sangat penurut padanya. Belum lagi, tingkah baby Zoe begitu menggemaskan.


"Baiklah, ini sudah malam. Kau harus tidur!" Beralih duduk.


Baby Zoe menurut berbaring di tengah-tengah ranjang melihat Moa yang menggulung rambutnya ke atas.


"Mau minum susu?"


"Susu!"


"Tunggu disini. Jangan sampai jatuh!" Peringat Moa pada baby Zoe yang mengangguk.


Moa turun dari ranjang, memakai sendal rumahannya lalu keluar kamar. Ia tak peduli jika pakaian yang ia kenakan tak pantas di bawa keluar karena nyaris memperlihatkan selang**kangan mulus dan seksinya.


Mata indah namun liar itu memperhatikan setiap furniture di sepanjang jalan menuju dapur.


"Lukisan ini lalu..porselen juga dan.. Yahh, ini!!"


Moa mendekati ukiran keramik berharga fantastis yang menjadi pajangan di dekat meja dapur.


"Ini milikku. Jika di jual aku pasti akan sangat kaya."


Jiwa rakus dan matrialistis Moa seketika meruak. Ia menurunkan lukisan antik di dinding lalu mengumpulkan semuanya di atas meja di sudut ruangan.


"Emm..bungkus dengan rapi," Gumam Moa mengambil alas meja di sekitarnya sembarangan lalu membungkus porselen kecil dan ukiran keramik mahal tadi dalam satu tempat.


Setelah semuanya terkumpul, barulah Moa pergi ke dapur meninggalkan bungkusan barangnya di atas meja.


Selang beberapa lama kepergian Moa, Zhen sudah keluar dari ruang kerjanya dengan wajah cukup lelah dan memakai stelan jas lengkap bersama asisten Jio mendampingi.


"Urus beberapa klien yang tadi melakukan penawaran. Jika tak sesuai, langsung tolak saja!"

__ADS_1


"Saya mengerti, tuan!" Jawab asisten Jio selalu sigap.


Kursi roda Zhen bergerak ke arah dapur karena seperti biasa ia akan mengambil vodka.


"Tuan!" Seru asisten Jio menghentikan kursi roda Zhen yang tengah melonggarkan dasinya.


"Hm, ada apa?"


"Itu! Gulungan apa?" Tanya asisten Jio waspada.


Zhen menatap ke arah pandangan siaga asisten Jio hingga melihat gulungan alas meja seperti membungkus beberapa barang, belum lagi ada lukisan dinding yang biasa terpajang rapi sekarang sudah turun ke lantai.


"Tuan! Apa jangan-jangan itu siasat musuh? Bisa saja mereka sudah memasuki lantai apartemen tuan."


"Periksa!"


Asisten Jio berjalan perlahan seperti sangat waspada jika itu menyimpan bahan peledak.


"Tuan! Menjauh dari sini!" Penuh kegesitan.


Zhen hanya memperhatikan dari jauh. Asisten Jio perlahan membuka ikatan kain itu sampai sendal santai seseorang langsung terlempar keras ke tangannya.


"Kau.."


"Jangan sentuh barang-barangku!" Suara tegas Moa sudah berdiri di depan pintu dapur dengan wajah datar serius.


Asisten Jio bingung seraya memeggang tangannya karena terasa nyeri di lempar sendal santai Moa.


"Kau!! Barang apa maksudmu?"


"Menurutmu?" Moa menaikan satu alisnya sinis.


Asisten Jio sudah paham dan langsung menatap Zhen dengan pandangan seakan tak percaya ini.


"Tuan! Dia..dia itu.."


Zhen justru terpaku dengan tubuh Moa yang hanya memakai balutan seadanya. Terlintas amarah sekaligus kekesalan di sana.


"Vodka!!!"


Asisten Jio tak bisa berkata lain. Ia berjalan melewati Moa dengan tatapan saling berperang seraya masuk ke dapur.


"Cih," Decah Moa mendengus tapi matanya tertangkap dalam pandangan marah Zhen.


"Kenapa? Tak suka?"


Sempurna. Itu kata yang dapat di jabarkan dari wajahnya lalu, kembali memandang santai Zhen.


"Tak ada masalah."


"Ini bukan rumahmu. Dan kau tak bisa berkeliaran dengan pakaian seperti itu!" Tegas Zhen tanpa memandang Moa dan fokus lurus kedepan.


Moa menyeringai. Dengan sikap Zhen yang tak mudah di dekati dan terpancing pada keseksian wanita sungguh membuat Moa tertantang.


"Tuan Zhen yang tak terhormat. Apa yang salah dengan pakaianku? Katakan!"


"Kauu!!" Zhen benar-benar kehabisan kata-kata saat Moa justru membuka kaos crop yang ia pakai dan tersisa bra saja.


Penampilan ini benar-benar membuat jiwa lelaki Zhen memberontak tapi matanya tetap bertahan untuk tak memandang Moa yang semakin kepanasan.


"Lihat kesini dan jelaskan apa masalahnya!" Goda Moa berpose angkuh membuat Zhen berkeringat.


Walau ia impoten tapi bukan berarti tak merasakan apapun. Impoten adalah situasi dimana seorang pria tak bisa mempertahankan ereksi atau pembengkakannya dalam jangka waktu yang lama karena kelainan fungsi pada bagian vitalnya.


Tapi, bukan berarti Zhen tak bisa merespon. Tubuhnya normal dan merasa terpancing. Hanya saja, bagian vitalnya tak bisa mempertahankan ereksi yang lama.


"Ayolah! Jika tak kau lihat, bagaimana kau akan tahu dimana yang salah?!"


"Moaa!!" Geram Zhen beralih menatap tajam kedua mata Moa yang justru berjalan mendekatinya.


Moa benar-benar sangat nakal. Ia mampu membuat seorang tuan muda Ming menjadi panas dingin ketika berdekatan dengannya.


"Hm? Jelaskan padaku!" Pinta Moa sudah berdiri di depan Zhen dengan kaos masih ia peggang satu jari.


Porsi dada yang kencang dan berukuran menggoda serta lekukan tubuh nyaris membuat Zhen mimisan. Cellien benar-benar kalah telak dari belut betina ini.


Kedua kaki jenjang yang ramping tapi bokongnya sulit untuk di remehkan.


"K..kau.."


"Dimana salahku? Hm?"


Zhen terus mengalihkan pandangan dari Moa yang justru tak berhenti menggodanya. Kemana arah pandangan Zhen maka ia akan berdiri di sana sampai Zhen frustasi.

__ADS_1


"KAU MAU APA? HAA??"


Moa tertawa kecil puas sudah membuat wajah tampan mulus tanpa pori-pori Zhen menjadi merah padam.


"Babi jantan! Kau sangat menggemaskan."


Zhen syok kala Moa berani mencubit pipinya dan melenggang pergi seakan tak bersalah.


"D..dia.." Zhen tak bisa berkata-kata sampai wajahnya benar-benar merah.


"Tuan!" Asisten Jio baru datang membawa vodka yang ia sodorkan pada Zhen.


"Tuan! Wanita itu benar-benar sudah keterlaluan!"


Zhen tak menjawab. Ia buru-buru membuka kaleng vodka itu lalu meneguknya tandas bahkan, ia kembali mengambil nafas dalam-dalam seperti sangat tertekan.


"Isi lemari pakaiannya dengan baju-baju yang lengkap!"


"Baik," Jawab asisten Jio bingung sendiri tapi ia tetap menjalankan perintah Zhen.


Asisten Jio menepi segera menghubungi Mall terkenal di negara ini agar segera mengirim pakaian wanita ke apartemen mereka.


Sementara Zhen, ia melonggarkan dasinya nyaris lepas untuk menormalkan pernapasan namun..


"Babi!"


"Kauu!!" Zhen sampai terperanjat saat wajah Moa tiba-tiba sudah muncul di sampingnya.


Moa yang tengah membungkuk tersenyum puas telah merusak ketenangan pria ningrat ini.


"Sekali lagi kau seperti ini maka.."


"Husst!! Aku tak ingin berdebat," Sela Moa berdiri di samping Zhen yang benar-benar darah tinggi.


Asisten Jio yang melihat Moa sudah datang lagi, secepat mungkin berdiri di belakang kursi roda Zhen siaga.


Untungnya Moa sudah memakai kaos cropnya walau masih membuat mata pria ternoda.


"Rekanku menerima panggilan dari klien yang menyuruh kami membunuhmu!"


"Lalu?" Tanya Zhen sudah serius.


"Dia bertanya, kapan kau terbunuh dan beritanya menyebar?! Kau ingin aku jawab apa?" Tanya Moa memang baru saja mendapat pesan dari Ebner.


Ebner tak tahu konspirasi antara dirinya dan Zhen tapi, Moa akan secepat mungkin memberitahunya.


"Dia ingin bertemu?"


"Tidak, dia hanya bertanya tapi ada unsur ketidaksabaran." Moa acuh tak acuh.


Zhen terdiam sejenak. Ia yakin itu tuan Hunter tapi, untuk menangkap basah pria itu tak mudah.


Tuan Hupent sangat berhati-hati bahkan, ia tak akan ikut dalam rencana kotornya melainkan menyuruh orang asing.


"Kita akan buat rencana pelenyapanku!"


"Tuan!" Sangga asisten Jio justru cemas akan keputusan Zhen.


Ia masih belum percaya pada Moa yang tersenyum kecil saat Zhen berkata seperti itu.


"Tuan! Kau tak bisa menjadi umpan dalam kondisi seperti ini."


"Tak masalah. Jika aku mati, aku akan membawa wanita ini!" Jawab Zhen menatap Moa datar tapi Moa justru menganggap itu lelucon.


"Cih, percaya diri sekali."


"Besok pagi! Panggil rekanmu ke sini. Dia juga akan di perlukan!"


"Hm, selamat malam," Gumam Moa melenggang pergi begitu saja.


Asisten Jio tak bisa melarang Zhen yang tampak berpikir dengan tenang.


"Tuan! Moa itu tak bisa di percaya. Mungkin dia ingin merencanakan pembunuhan mu saja."


Zhen tak bicara. Matanya bungkusan barang di meja sana dengan teliti.


Dia wanita yang licik tapi juga cerdas. Mengkhianatiku itu sama saja mengundang karma buruk padanya apalagi, putranya masih butuh perawatan medis.


Pikir Zhen yakin Moa tak berbohong.


...


Vote and like sayang..

__ADS_1


Maaf ya baru up..tadi ada acara dadakan pulak say😭


Untuk kata BABI di luar negeri itu biasa ya.. Justru jadi Ikon imut😁 pa lagi di china. Jadi, jangan salah kaprah


__ADS_2