Impoten Husband

Impoten Husband
Aku akan berduel dengannya!


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Semenjak penculikan asisten Jio, rentetan penyerangan terus terjadi. Asisten Jio juga tak pernah kembali lagi walau-pun bawahan Zhen mencari keberadaan pria itu tetap saja hasilnya nihil.


Tapi, Zhen tak mau hal itu mempengaruhi kehidupan keluarga kecilnya. Ia sudah memasukan Noah ke sekolah dasar seusianya walau sebelumnya Moa menentang itu, tapi akhirnya luluh kala Zhen memberinya banyak pengertian dan nasehat.


"Bekalnya sudah?" Tanya Moa keluar dari dapur segera mendekati meja makan.


Disana sudah ada tiga manusia paling spesial di hidupnya bahkan, rutinitas Moa setiap pagi adalah memasak.


Zhen melarang takut Moa kelelahan namun belut betinanya itu selalu punya rayuan mematikan membuatnya tak berkutik.


"Daddy! Wortel Zoe mana?" Bertanya dengan suara cadel.


"Tidak tahu. Mungkin kakak yang makan!" Tuduh Zhen padahal ia yang mengambil sayuran di kotak makan baby Zoe.


"Kakak makan wortel Zoe?" Terlihat senang.


"Yah," Singkat Noah memberi seulas senyum tak mau Zhen dan Zoe bertengkar lagi.


Moa hanya tersenyum lepas melihat Noah yang begitu dewasa bahkan mengalahkan Zhen. Pria tampan itu sangat kekanak-kanakan semasanya hamil.


"Mau wortel Zoe lagi?" Tawarnya membuka bekal sukarela.


"Giliran daddy yang minta tak mau di kasih," Gerutu Zhen tapi baby Zoe acuh.


"Sudahlah. Zoe tutup bekalnya lagi dan masukan ke dalam tas! Noah dan daddy juga sama!"


Mereka menurut begitu patuh pada Moa yang beralih mengambil paper-bag untuk bekal makan siang Zhen yang satu bulan ini hanya ingin makan masakan Moa saja.


"Ini, babi!" Pelannya menyebut kata di ujung takut di turuti anak-anak.


"Istirahat! Jangan masak-masak terus. Nanti kau kelelahan!" Berdiri dan mengecup kilas bibir manis Moa yang membuatnya candu.


Dua pelayan yang ada di depan sana hanya diam. Mereka sudah biasa melihat kehangatan keluarga kecil itu bahkan sangat iri dengan Moa yang mendapat anak-anak dan suami yang begitu mencintainya.


"Aku antar sampai ke bawah!"


"Tidak usah. Kau tidur lagi sana!" Pinta Zhen lebih dulu memboyong Noah dan baby Zoe yang akan bersekolah.


Baby Zoe menggandeng tangan Noah yang dulu tak rela ia biarkan sekolah hingga Moa menyiasati dengan memasukan baby Zoe ke taman kanak-kanak.


"Nyonya! Biarkan kami yang membersihkannya!"


"Yah. Hati-hati," Pinta Moa berjalan menyusul Zhen yang sudah keluar dari pintu.


Disana ada Elio pengawal Noah dan baby Zoe yang bertugas mengantar dua majikan kecilnya itu sementara Bastian menggantikan posisi asisten Jio beberapa minggu ini.


"Sebenarnya Jio kemana?" Gumam Moa merasa selalu penasaran tapi Zhen tak pernah mau membicarakan soal masalah Jio padanya setelah penculikan malam itu.


Zhen-pun tak ada niat merekrut orang karena ia susah untuk beradaptasi apalagi posisi asisten adalah hal yang labil bagi orang baru.


Selepas kepergian mereka, Moa mendudukan diri di sofa. Agak lelah memang tapi ia senang.


"Nyonyaa!!" Suara salah satu pelayan itu keluar dari area dapur.


"Yah?"


"Ponsel nyonya berbunyi!" Memberikan benda itu pada Moa karena tadi tertinggal di meja makan.


"Terimakasih."


"Sama-sama, nyonya!" Kembali pergi ke dapur.


Dahi mulus Moa mengernyit melihat ada nomor asing yang masuk. Agak ragu tapi ia tetap mengangkatnya.


"Siapa?" Datar dan tak berminat.


"Kau tak mengenaliku lagi?"


Moa terdiam sejenak mencerna suara familiar ini hingga matanya langsung melebar.


"K..kau Ebner?"


"Yah. Ku kira kau sudah lupa padaku? Moa!" Suara yang tak suka tapi penuh kerinduan.


Moa diam sejenak. Ebner menghilang beberapa bulan yang lalu tanpa kabar apapun. Kenapa baru sekarang Ebner menelponnya dengan nomor baru?!


"Kau kemana saja?"


"Aku akan jelaskan ketika sudah bertemu."


"Aku tak di Amerika! Aku ikut suamiku!"

__ADS_1


Ucapan Moa barusan tak mendapat balasan apapun dari Ebner. Ntah apa yang pria itu pikirkan Moa kurang tahu.


"Kau baik-baik saja?" Memastikan.


"Aku sudah di China. Ayo bertemu di restoran Shanghai!" Ajak Ebner dengan suara lembut tak ada unsur paksaan.


"Baiklah. Aku akan kesana!"


"Aku jemput. Siap-siap saja!"


"Tidak perlu. Aku datang sendiri," Tukas Moa lalu mematikan panggilan.


Ia terdiam cukup lama memikirkan semua ini lalu segera menghubungi Zhen. Tak butuh waktu lama pria itu langsung mengangkat panggilannya.


"Ada masalah? Sayang!"


"Ebner tadi menelfonku."


Tak ada sahutan langsung dari Zhen sampai suara pria itu sedikit berhawa dingin.


"Untuk?"


"Dia mengajakku bertemu. Boleh?" Tanya Moa tak mau Zhen salah paham.


"Tunggu aku pulang."


"Zhen! Kau ada meeting penting pagi ini. Tak perlu pulang."


"Kau lebih penting."


"Tapi, aku baik-baik saja. Aku bisa jaga diri!" Tolak Moa memang tak habis pikir dengan pria manja ini.


"Tidak ya tidak. Biarkan dia datang menemuiku jika ingin bicara!" Tegas Zhen tak dapat di bantah Moa yang paham sekarang Zhen tengah menjelma menjadi dirinya.


"Menyesal?" Terdengar sinis.


"Tidak. Tapi, dia sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang penting."


"Suruh dia menemuiku. Pergilah istirahat. Saat aku pulang, jangan sampai melihat kau beraktifitas di luar kamar lagi! Tidur yang nyenyak, sayang!"


Sambungan itu terputus. Moa menghela nafas. Zhen memang sangat overprotektif mengingat sekarang ia sedang hamil 1 bulan lebih.


....


"Hubungi sekretaris Xiho! Tunda pertemuan ini sampai 30 menit kedepan!"


"Baik, tuan!" Jawab Bastian menjalankan perintah.


Ekspresi Zhen datar dan beku tak sama saat ia ada di apartemen tadi. Tak butuh waktu lama mereka sampai di restoran yang tadi Gregor kirimkan alamatnya.


Tempat itu sepi dan sunyi seakan-akan Ebner memang ingin menyambut dan sudah tahu jika yang akan datang tak mungkin Moa.


"Kau sama sekali tak bisa melepaskannya sedetik saja rupanya," Suara sindiran dari arah pintu masuk resto dimana Ebner berdiri dengan tampilan agak berbeda.


Dia lebih terlihat misterius dengan rambut gondrong dan jambang agak tebal menunjukan kedewasaan pria.


Zhen keluar dari mobil. Tubuh tegapnya berbalut stelan jas rapi itu tak pernah berubah sejak dulu. Masih tampan dan berkharisma.


"Bicaralah! Aku akan menyampaikannya pada istriku jika senggang."


Ebner tersenyum kecut masuk ke dalam restoran. Zhen ikut masuk sementara Bastian berjalan di belakangnya.


Dimeja paling sudut jauh dari jangkauan mata. Zhen benar-benar merasa kesal. Jika sampai Moa datang tadi, pasti keduanya akan berduaan di tempat sepi dan tersudut seperti ini.


"Aku hanya ingin bertemu Moa. Bukan pria malang yang menjebaknya untuk menikah."


"Aku tak mengenal pria yang kau katakan," Santai Zhen tenang duduk di kursi itu dengan satu kaki bertopang tindih begitu cool.


"Aku suaminya. Tak perlu basa-basi lagi!" Imbuhnya tegas.


Ebner duduk berhadapan dengan Zhen tapi Bastian tahu dia pria ini tengah berperang dingin sekarang.


"Kau sudah sembuh. Serahkan Moa padaku!"


"Atas dasar apa kau meminta MILIKKU?" Tanya Zhen dengan satu alis terangkat tajam.


Ebner diam. Sorot matanya menyimpan kemarahan tapi ia berusaha untuk tak agresif.


"Kau menikahi Moa hanya untuk melindungimu dimasa lumpuh. Aku lihat kedua kakimu sudah sehat. Kau harus mengakhiri ini!"


"Dia istriku dan aku tak akan melepaskannya."

__ADS_1


Brakk...


Ebner menggebrak meja keras karena tak tahan dengan pengakuan Zhen pada Moa. Cukup lama ia bersabar dan menunggu tapi ternyata Zhen tak berniat melepaskan Moa.


"Aku lebih dulu mengenalnya dibandingkan KAU!"


"Tapi, dia mencintaimu dulu dan sekarang!" Tantang Zhen membuat darah Ebner semakin mendidih hebat.


Ebner kembali tenang. Zhen membaca setiap gerakan dan perilaku tempramental Ebner yang buruk. Menurut laporan bawahannya yang mengawasi Ebner. Pria ini membantai hidupnya dengan minum, judi dan dunia gelap.


"Bebaskan Moa maka akan-ku lakukan apapun yang kau mau!" Lebih stabil dari tadi.


"Yang-ku mau adalah Moa!"


"Kauu.."


"Aku tak MEMBUTUHKAN apapun darimu," Tegas Zhen menekankan haknya atas Moa.


Keduanya saling pandang dengan sorot membunuh. Sedetik kemudian Ebner bangkit dari duduknya.


"Kita lihat saja. Moa sangat percaya padaku sedari dulu. Jika aku tak bisa mendapatkannya maka kau juga TIDAK AKAN BISA."


Melenggang pergi keluar resto setelah mengibarkan bendera perang dengan Zhen.


"Selidiki dia! Cari tahu apa dia ada hubungannya dengan ayah kandung Noah atau tidak?!"


"Baik, tuan!" Jawab Bastian mengerahkan bawahan mereka untuk menyelidiki lebih jauh soal Ebner.


Zhen sebenarnya sudah tahu kabar jika Ebner datang ke China dari laporan bawahannya. Tapi, tak ia sangka Ebner nekat menelfon Moa seperti itu.


....


Sudah satu bulan lamanya ia di dalam resort ini. Kondisinya sudah pulih tapi asisten Jio tak mau pergi dengan gegabah. Ia ingin lihat sejauh mana wanita itu akan mempermainkannya.


"Kau tak bosan berdiri di situ terus?" Tanya wanita yang kemaren menyekapnya disini.


Sosok itu mendekat dan memeluk asisten Jio dari belakang. Lirikan mata asisten Jio menajam ke arah dua lengan mulus yang melingkar di perutnya.


"Kau dari mana?" Tanya asisten Jio dengan suara yang tak bersahabat tapi wanita itu tersenyum santai.


"Bekerja. Apalagi?"


"Apa pekerjaanmu?" Masih tak menolak pelukan wanita itu walau ia sendiri jijik.


"Mencari benih para pria perjaka."


Sontak saja asisten Jio melepas kasar pelukan wanita itu lalu memandang dengan sorot mata membunuh.


"Aku tak sedang main-main denganmu."


"Aku tahu. Kau serius dan aku juga," Ucapnya tanpa malu mencuri kecupan di bibir asisten Jio yang memebelalak akan keberanian wanita ini.


Ia teringat akan Moa yang sangat nakal, tegas, keras kepala dan angkuh.


"Moa bahkan lebih baik darimu!!"


Wajah cantik wanita itu berubah dingin. Tak ada senyum atau tatapan santai lagi di mata hitamnya.


"Moa siapa?"


"Dia kekasihku. Kenapa? Kau tak tahu?" Tantang asisten Jio membuat kepalan wanita itu menguat.


Ia langsung mencengkram rahang asisten Jio walau pria itu lebih tinggi darinya.


"Kau milikku. Jika aku sudah suka, kau tak bisa menolak!"


"Cih! Kau bahkan tak ada bandingan dengan debu yang ada di sepatu Moa-ku!"


Asisten Jio sengaja mengatakan itu dengan harapan jika wanita ini akan menyerah padanya. Tapi, sedetik kemudian senyum iblis wanita itu muncul.


"Moa, hm?"


"Kau.."


"Aku akan mengajaknya berduel jika kau mau, sayang!" Melepas cengkraman dark dagu asisten Jio lalu pergi dengan marah.


Asisten Jio sungguh heran dengan apa yang wanita itu lakukan. Dia sangat gilaa!!


...


Vote and like sayang.

__ADS_1


__ADS_2