
Setelah bertengkar di restoran tadi Moa sama sekali tak menampakan batang hidungnya lagi di hadapan Zhen. Bahkan, tak ada kabar apapun dari wanita itu seakan ia lenyap bagai di telan bumi.
Zhen-pun tak begitu memusingkan. Tapi, lebih tepatnya tak ingin tampak peduli walau jelas ia sedari tadi bimbang ingin menghubungi Moa atau sekedar mengajak wanita itu bertengkar lewat pesan.
"Sorry! Agak terlambat!" Yoshep yang baru datang menemui Zhen di apartemen pria itu.
Mereka duduk di ruang santai tepat di sebuah pagar pembatas area samping terhubung langsung dengan alam luar.
"Bagaimana dengan Yue?"
"Begitulah. Dia masuk rumah sakit dan aku baru saja dari sana," Jawab Yoshep mengeluarkan cerutu dan mulai merokok.
Tapi, Yoshep belum tahu penyebab Ming Yue masuk rumah sakit bahkan, luka di wajah gadis itu cukup mengerikan.
"Kau tak mungkin memukuli adik sendiri, bukan?" Selidik Yoshep memicingkan mata abunya.
"Bukan aku." Dingin Zhen seakan kejadian itu benar-benar membekas di kepalanya.
"Lalu?"
Zhen diam beralih meneguk satu kaleng vodka yang menjadi kegemarannya. Tanpa Zhen menjawab, Yoshep langsung mengingat wajah cantik garang Moa hingga wajahnya kian bersemangat.
"Wanita liar ituu?"
"Dia bukan wanita liar!" Bantah Zhen dengan tatapan tak suka akan julukan yang Yoshep katakan untuk Moa.
Seketika tawa Yoshep pecah bahkan ia sampai tak bisa berkata-kata.
"Sungguh, Zhen! Dia itu benar-benar menggemaskan. Aku sangat ingin mencium bi.."
Zhen melempar kaleng vodkanya ke wajah Yoshep hingga pria itu tersentak namun sudah sangat paham dengan mood buruk pria tampan ini.
"Santai, kawan! Jangan terlalu terbawa perasaan."
"Kau bertemu Hupent?" Tanya Zhen mengalihkan pembicaraan. Ntahlah, ia merasa tak suka saat Yoshep membahas Moa apalagi kalimatnya begitu cabul.
"Tidak. Saat itu Yue menyuruhku cepat pergi karena Hupent akan datang ke ruang rawatnya."
"Dia akan menghabisimu," Ucap Zhen datar dan tenang membuat Yoshep menyeringai tetap melanjutkan merokok dengan kaleng vodka di tangan kiri.
"Aku tunggu. Ntah siapa yang akan mati di tahun baru ini?!"
"Jangan terlalu meremehkannya. Dia punya banyak sekutu," Peringat Zhen serius.
Yoshep mengangguk paham. Ia juga sangat mewaspadai tuan Hupent karena pria itu cukup licik dan sangat berambisi.
"Dia bisa membuatmu sampai seperti ini. Aku salut!"
"Hm. Buat dulu Yue tergila-gila padamu lalu bawa dia pergi dari sisi Hupent!" Titah Zhen yang selama ini selalu memikirkan soal adiknya.
Walau Ming Yue tak pernah peduli pada Zhen tapi, Zhen seakan punya tanggung jawab bahkan ia bisa mengorbankan diri sendiri hanya untuk saudari kecilnya itu.
Yoshep juga paham kondisi Zhen. Saat kecil dulu sebelum tuan Hupent tahu Zhen tak bisa ia atur, Zhen-lah yang selalu merawat Yue sejak bayi sampai umurnya 2 tahun.
Tetapi, karena pertengkaran nyonya Ming dan Tuan Hupent terus berlanjut akhirnya Yue pindah ke tangan Hupent.
"Dia masih muda dan punya masa depan. Aku tak ingin Hupent menghancurkan hidupnya dengan memupuk dendam pada keluarga kami."
"Menurutku, Yue sudah tak bisa di selamatkan," Ucap Yoshep yang selama ini melihat Yue sangat membenci Zhen dan nyonya Ming.
Zhen hanya bisa menghela nafas. Sekuat tenaga ia tak ingin berurusan dengan Yue tapi tuan Hupent si brengsek itu menjadikan adiknya tameng.
"Oh iya, dimana Moa?"
__ADS_1
"Dari mana kau tahu namanya?" Tanya Zhen dengan intonasi sangat menohok.
Yoshep tersenyum licik. Ia tak mengerti kenapa Zhen begitu posesif pada wanita itu padahal mereka sering bertengkar.
"Ayolah, jangan bilang kau suka dengan Moa?"
"Omong kosong," Ketus Zhen membuang pandangan ke arah luar.
Pertanyaan Yoshep benar-benar membuatnya terus kepikiran dengan wanita itu bahkan, sekarang kepalanya di penuhi ingatan tentang Moa.
Melihat Zhen yang melamun, timbul ide licik di kepala Yoshep yang langsung menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Aku ingin menikahi Moa."
"Kau kalah cepat," Gumam Zhen beralih memandang Yoshep yang terkejut.
Ia tak tahu menahu soal pernikahan Zhen dan Moa.
"Jangan bilang kau sudah lebih dulu menikahi wanita kesukaanku?"
"Hm."
"Shitt. Kau memang penjahat kelamin. Jangan pura-pura polos lagi, kawan! Kau selalu saja memiliki barang bagus," Decah Yoshep patah hati.
Tapi, Zhen hanya menunjukan wajah bangga akan itu. Beruntung ia lebih dulu menikahi Moa jika tidak, casanova seperti Yoshep akan menikung di pertengahan jalan.
"Jangan mengusiknya jika dompetmu tipis," Sarkas Zhen dengan senyum penuh kemenagan.
"Jangan meremehkan aku. Mulai sekarang, aku akan mengejar istrimu," Seringai Yoshep buru-buru lari dari hadapan Zhen yang bersiap ingin membalikan meja santai di depannya ke wajah Yoshep.
Melihat kepergian Yoshep, emosi Zhen tiba-tiba meluap. Kepalanya sedang pusing memikirkan Moa di tambah pengumuman lancang itu.
"Tuan!"
Asisten Jio datang setelah membereskan anak buah Hupent yang ada disekelilingnya. Eskpresi wajah Zhen mendingin seperti dalam suasana hati yang buruk.
"Hm. Dimana wanita itu?" Tanya Zhen tak bisa menahan diri lagi.
Walau intonasinya acuh tak acuh tapi Zhen hanya berusaha terlihat tak peduli.
"Setelah keluar dari restoran tadi, dia langsung pergi ke sebuah Club agak jauh dari kota."
"Club??" Sentak Zhen dengan sorot mata tak bersahabat. Asisten Jio mengangguk membenarkan.
"Aku sudah menyuruhmu untuk memantaunya! Jika dia ke sana maka.."
"Anak buah kita di pukul habis olehnya. Tuan! Dia mengamuk sampai menolak untuk di awasi!" Jelas asisten Jio yang pusing jika membahas Moa.
Wanita itu terlalu sulit di kendalikan bahkan berbuat sesuka hati.
"Tuan tahu sendiri jika dia tak mau di atur-atur. Bahkan, tiga bawahan kita masuk rumah sakit karenanya."
"Kesana sekarang!" Titah Zhen sudah mendidih. Beraninya Moa mengacuhkan perintahnya bahkan wanita itu tak menelfon sama sekali.
.....
Dentuman musik yang hebat dan suasana meriah dari pengunjung club membuat Moa terhibur.
Lampu-lampu berkelip menyilaukan tapi tak ada yang peduli itu. Menghentakkan tubuh sesuai irama musik dan beradu dengan lawan jenis sudah biasa disini.
"Yeaah!! Cium lebih dalam, sayang!" Ucap Moa menekan tengkuk seorang pria yang sedang berciuman di dekat panggung dengan penari erotis disini.
Moa berjalan agak sempoyongan seraya membawa botol bir berjoget ria dengan beberapa wanita penghibur yang berpenampilan panas malam ini.
__ADS_1
Sesekali Moa ikut bersorak karena lantunan lagu yang di mainkan lalu mengatur beberapa pasangan yang sedang berhubungan badan di sofa.
"Goyangkan pinggulmu lebih keras! Dia tak akan puas dengan gerakan kakumu itu!" Seru Moa menepuk pantat seorang wanita yang sedang memuaskan tamunya.
Yah, Moa tadi sangat marah dengan sikap Zhen padanya sampai melampiaskannya ke sini. Seperti biasa ia akan mabuk tapi menikmati kebebasan yang ada.
Meski-pun begitu, Moa tak pernah setuju jika tubuhnya di sentuh. Para pria yang melihatnya hanya bisa meneguk ludah karena Moa melepas jaket dan hanya memakai bra merah dengan celana jeans panjang yang seksi.
Bayangkan saja tubuh Moa yang super sempurna itu melewati para pria mata keranjang yang ingin mengulur tangan tapi di tepis kasar oleh Moa.
"Jangan sentuh jika ingin berakhir disini," Desis Moa menunjukan ketidaksukaan hingga tak ada yang berani mendekatinya.
Karena bosan bergabung dengan para penari itu akhirnya Moa memilih duduk di meja bar. Ia mengacuhkan seorang pria yang sedari tadi memandangnya intens penuh minat.
"Siapa namamu?" Tanya pria itu duduk di sebelah Moa.
Jangankan menjawab, melirik saja Moa enggan seakan pria itu tak ada sama sekali.
Sikap Moa yang sangat misterius membuat pria bermata sipit dengan kedua mata hitam mistis itu tertarik. Senyum di bibir tipisnya terangkat ringan hingga lesung pipi naik memikat.
"Ingin menari denganku?" Tawarnya lagi tak menyerah.
Namun, Moa tetap cuek bebek lebih fokus melihat adegan-adegan erotis di hadapannya.
"Kau ingin seperti itu? Aku siap melayanimu!"
"Kau punya uang?" Tanya Moa karena cukup risih segera menoleh.
Tatapan datar netra emerald Moa sangat dingin tak tersentuh. Meski pria ini tergolong tampan tapi bagi Moa tak lebih mempesona dari babi jantan yang sudah membuat emosinya naik turun.
"Berapa yang kau mau?"
"Semuanya!" Jawab Moa frontal tanpa basa-basi.
Melihat pria itu terdiam dengan senyum yang sedikit menurun tentu saja senyum Moa mekar memanah jantung sosok itu.
"Sudah-ku duga! Kau dan mereka semua tak lebih kaya dari babi jantan peliharaanku. Jadi,.."
Moa menjeda kalimatnya lalu berdiri tepat di hadapan pria itu bahkan wajahnya berhadapan dengan dada penuh Moa yang seksi.
"Jangan bicara denganku jika dompetmu tak sanggup, hm?!" Desis Moa menyusupkan tangannya ke jaket pria itu dengan wajah cantik penuh pesona menghanyutkan targetnya.
Saat bibir mereka akan bertemu, pria itu tersentak saat Moa mendorongnya keras membentur meja bar.
"Dia yang bayaar!!" Teriak Moa mengambil jaketnya dan melenggang pergi.
Bartender yang melihat itu terkejut sekaligus pucat. Moa benar-benar berani bersikap kasar pada pemilik Club ini bahkan termasuk pria yang di takuti.
"W...wanita gila!" Gumam Bartender itu sangat gemetar kala sosok yang tadi Moa permainkan sudah berdiri.
...
Sementara di luar club sana. Moa melempar botol di tangannya asal tak peduli akan mengenai siapapun di sini.
Ia mengeluarkan dompet yang tadi ia ambil dari pria itu dan seringai tipis mekar dengan puas.
"Ternyata dia tak begitu miskin," Gumam Moa melihat banyak kartu disini sama halnya seperti milik Zhen.
Tiba-tiba jiwa rakus Moa jadi berkembang biak ingin punya banyak cabang.
"Boleh juga. Dia bisa jadi Bank kedua-ku."
Moa terus melihat-lihat dompet itu sampai terkejut kala tiba-tiba ada yang menarik lenganya paksa masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
.....
Vote and like sayang