
Setelah memenangkan tantangan tiga menit tadi, Moa benar-benar menagih janji Zhen. Peningkatan pesat terjadi pada senjata perkasa Zhen yang bisa bertahan 3 menit padahal dulu hanya bisa 40 detik saja.
Tentu Zhen senang bukan main karena ia merasa akan sembuh cepat jika terus membiarkan Moa memanjakan anak konda keperkasaannya itu.
Namun, terlepas dari segalanya Zhen mau tak mau harus membiarkan Moa pergi ke sebuah pulau tempat organisasi yang ia sebutkan tadi siang.
"Kau yakin? Ini sudah malam. Kau bisa pergi besok," Bujuk Zhen masih di dalam mobil yang menepi di dekat sebuah pantai.
"Yah. Aku tak bisa menunggu sampai besok. Lebih-baik ku lihat sendiri keadaan di sana," Jawab Moa memasang jaket ke tubuhnya.
Para bawahan Zhen sudah memastikan jika hanya tempat inilah area yang aman untuk memulai perjalanan dan Moa sudah siap dalam segi apapun.
"Tunggu sampai aku bisa berjalan. Hanya beberapa hari lagi aku akan menemanimu!"
"Ayolah, jangan manja!" Goda Moa membuat Zhen terdiam tapi tak bisa menyembunyikan jika ia malu sekarang.
Zhen sudah berusaha tak peduli tapi, membayangkan bagaimana bahayanya di pulau itu apalagi banyak hal yang tak terduga bisa terjadi membuat Zhen tak tenang.
"Aku tak manja. Jika kau tewas di sana aku akan kerepotan mengurus putramu!"
"Ouhh, ternyata kau memang sangat baik. Jika itu terjadi, aku bisa pergi dengan tenang," Kelakar Moa seraya memasang topi.
"Moaa!!"
"Jaga diri baik-baik. Jangan lupa minum obatmu agar cepat bisa membobol ku!" Goda Moa mengedipkan sebelah matanya sukses membuat Zhen kehabisan kata-kata.
"Tuan!" Asisten Jio mengetuk kaca jendela di dekat Moa yang mengerti.
"Aku akan sangat merindukan calon menantuku," Gumam Moa keluar dari mobil.
Zhen juga ikut turun dengan berpeggangan ke pintu mobil ia berdiri tanpa bantuan kursi roda.
Moa yang melihat itu hanya mengulum senyum menerima pistol dari salah satu bawahan Zhen.
"Pistol itu ada sistem ledak. Jika kau aktifkan tombol merah di ujungnya maka dia akan jadi senjata mematikan dalam beberapa detik!" Jelas Zhen sengaja menyiapkan benda yang punya banyak keunggulan.
"Lensa mata?" Heran saat bawahan Zhen memberikan lensa kontak mata.
"Itu di desain detail sebagai kamera. Dia bisa menyampaikan apapun yang kau lihat ketika kau memakainya ke program yang ada di komputer ku!"
"Woww!! Pasti mahal," Gumam Moa menyeringai rakus.
Wajah Zhen berubah dingin hingga Moa mengurungkan niatnya untuk berniaga. Alhasil, Moa memakai lensa kontak berwarna coklat menutupi netra emerald miliknya.
"Coba periksa!" Pinta Zhen pada asisten Jio yang mengambil laptop di dalam mobil.
Semuanya berjalan lancar. Lensa kontak itu berfungsi dengan baik.
__ADS_1
"Semuanya aktif, tuan!"
Zhen beralih pada Moa. Wanita itu tampak bersemangat melihat-lihat pistol laras pendek di tangannya karena selama bekerja Moa tak pernah memakai alat secanggih ini.
"Satu lagi!"
"Apa? Sepatu terbang?" Ledek Moa tapi kali ini Zhen tak menghiraukannya.
"Cepat katakan! Aku sudah harus pergi."
"Pastikan selama disana ponselmu menyala. Aku akan mudah memantaunya," Tegas Zhen benar-benar membuat Moa kewalahan.
"Baiklah. Aku pergi!"
Menyimpan pistolnya di balik jaket lalu berjalan ke area Jet sky yang sudah di siapkan di tepi pantai.
"Tunggu!!"
Moa dengan kesal berbalik dan menaikan satu alisnya seraya bersidekap dada.
"Hm? Apa lagi?"
Zhen mengambil nafas dalam segera berjalan mendekati Moa dengan kedua kaki masih kaku. Hal itu membuat asisten Jio terkejut dan begitu juga bawahannya.
"T..tuan!"
"Jangan di paksakan. Kau masih harus banyak berlatih!"
"Zoe akan mencarimu. Pastikan memberi pesan setiap satu jam sekali!" Ucap Zhen mengatas namakan Zoe padahal ia yang tak tenang melepas Moa.
Mendengar itu Moa tersenyum tipis membantu Zhen berdiri dengan stabil hingga ternyata Moa baru sadar jika Zhen memang setinggi ini.
"Aku tak janji. Mungkin akan sibuk."
"Sesibuk apapun kau seharusnya memberi kabar pada putriku. Bagaimana kalau dia demam karena tak bertemu denganmu dan apa yang harus-ku jawab jika dia bertanya tentangmu? Kau..
Cup..
Moa langsung membungkam amarah Zhen dengan ciuman darinya. Awalnya tak bergerak tapi tiba-tiba Zhen me******* bibir Moa dengan kedua tangan melingkar ke pinggang wanita itu posesif.
"Mulai lagi. Sebenarnya tuan ini kenapa?!" Batin asisten Jio membuang pandangan kesal sedangkan para anggota berbalik memunggungi.
Keduanya berciuman lantang di bawah sinaran rembulan dan angin pantai yang menjadi saksi bisu.
Merasa ciuman Zhen semakin menuntut akhirnya Moa melepas paksa tautan itu dengan nafas sedikit menggebu.
"Aku akan mengabari-mu dan aku titip putraku. Selalu pantau situasinya!" Pinta Moa lalu berbalik pergi menaiki Jet sky nya.
__ADS_1
Zhen memandang tak rela sekaligus merasa muak dengan kondisinya saat ini.
Jika saja aku sembuh lebih cepat, tak akan-ku biarkan kau ke sana sendiri.
Batin Zhen hanya bisa mengepalkan tangannya dan melihat Moa yang mulai menyalakan Jet sky.
"Aku pergi! Jaga calon menantuku dan aku akan cari ayah baru untuknya!" Goda Moa tapi Zhen tak bisa menyela karena Moa sudah melajukan Jet skynya menjauh dari bibir pantai.
Rutenya sudah di siapkan Zhen hingga Moa berada di jalur yang aman.
Lama Zhen memandangi bayangan wanita itu sampai menghilang. Ada rasa tak rela tapi Zhen masih mempertahankan wajah dinginnya.
"Tuan! Ayo kembali!"
Zhen tak peduli. Ia mengambil laptop di tangan asisten Jio lalu melihat rute perjalanan Moa yang perlahan-lahan menjauh dan semakin jauh.
"Gila! Dia membawa Jet sky sampai secepat ini. Apa dia masih perempuan?" Gumam asisten Jio melihat data kecepatan Jet sky itu benar-benar full kilat.
"Tetap pantau dia dari jauh. Jika di rasa akan ada bahaya, langsung bawa dia kembali dengan cara apapun!" Titah Zhen pada para bawahannya yang mengangguk.
Pandangan Zhen sejenak kembali pada hamparan laut itu lalu berbalik berjalan pelan menuju mobil. Sesekali ingin jatuh tapi Zhen menolak di bantu.
"Tuan! Yoshep sudah di apartemen. Dia menunggu kedatangan, tuan!"
"Hm."
Zhen masuk ke mobil dan kembali duduk di posisi awal. Asisten Jio menutup pintu mobil lalu duduk di kursi kemudi.
"Tuan! Apa ada yang ingin tuan i.."
"Langsung kembali!" Sela Zhen bersandar ke kursi mobil seraya memijat pangkalan hidung mancungnya.
Asisten Jio mengerti segera melajukan mobil keluar dari area pantai dan Zhen memandang ke luar jendela seperti ada yang hilang dari sisinya.
Pandangan Zhen beralih ke samping tempat duduk Moa tadi. Kosong dan sunyi. Biasanya Moa akan selalu mengajaknya bertengkar atau sekedar menggodanya nakal.
"Tidak. Aku tak boleh memikirkannya. Dia belum tentu memikirkan aku," Batin Zhen gengsi sendiri.
Zhen memejamkan mata berusaha untuk melupakan momen-momen familiar itu sampai ia frustasi sendiri.
"Shitt! Jangan lagi memikirkannya. Jangan berpikir," Batin Zhen menekan sekuat tenaga rasa kosong disisinya.
Asisten Jio yang melihat dari arah spion seketika merasa tuannya mulai menunjukan gelagat mengerikan. Terkadang ia memukul kepalanya kecil dengan eskpresi jengkel lalu berusaha mencari posisi duduk yang nyaman.
"Sepertinya tuan terjangkit virus mematikan dari wanita itu," Batin asisten Jio ngeri.
...
__ADS_1
Vote and like sayang