
Seperti yang di rencanakan sebelumnya. Tadi malam mereka melakukan penerbangan menggunakan Jet pribadi milik Zhen yang tak ingin naik pesawat umum lagi.
Dan selama penerbangan Moa terkejut kala Zhen tiba-tiba mengalami demam tinggi sampai ketika sudah sampai ke bandara dan masuk ke apartemen di wilayah elite Shanghai China pria itu masih belum sadar di dalam kamarnya.
"Bagaimana? Dia baik-baik saja?" Tanya Moa pada dokter Petter yang baru keluar dari kamar Zhen.
"Tuan mengalami trauma akan penerbangan. Ini biasa terjadi karena dia pernah mengalami kecelakaan ganas sebelumnya. Jadi, biarkan tuan istirahat dulu dan tolong beri dia kenyamanan."
"Apa dia masih demam?" Tanya Moa terlihat khawatir.
"Demamnya tak setinggi tadi malam tapi, harus tetap di temani. Jika terjadi sesuatu, nona bisa panggil saya," Jawab dokter Petter dan pergi ke ruangan lain di apartemen ini.
Moa membuka pintu kamar Zhen hingga pandangan netra emerald indah itu tertuju pada ranjang king size yang menampung sosok pria gagah namun sekarang tengah di infus.
Moa berjalan mendekat karena cukup khawatir. Zhen berkeringat berlebihan dengan wajah pucat dan sekarang tampak lebih baik.
"Dimana Zoe?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Zhen tanpa membuka matanya.
"Dengan asisten Jio. Dia sempat menangis karena melihat kau tak sadarkan diri semalam."
Zhen membuka matanya. Sorot tenang tapi mengamcam itu beralih pada Moa yang telah menjaga Zoe dan dirinya semalam.
"Istirahatlah!" Terdengar datar dan cukup perhatian.
"Kau ingin makan?" Tawar Moa dengan suara agak ketus tapi ia hanya tak mau bermanis-manis.
"Aku tak lapar."
"Dokter bilang kau harus makan. Aku akan kupaskan buah untukmu sebagai tanda terimakasih," Ucap Moa segera mengambil buah jeruk di keranjang atas nakas lalu duduk di samping ranjang.
Moa fokus mengupas kulit jeruk itu tapi agak risih saat Zhen terus memandangi wajahnya. Apalagi, sekarang Moa memakai rok jeans diatas lutut dengan atasan kaos tanpa lengan membuat tampilannya jadi semakin seksi terkesan bebas.
"Kenapa dia terus memandangiku?! Aku tahu aku sangat cantik dan seksi," Batin Moa merutuki Zhen.
Bagaimana Zhen bisa menjaga pandangannya jika Moa terus memancing birahinya. Dengan rambut blonde di kuncir kuda dan rok mini kekurangan bahan ini benar-benar menguji iman dan kesabarannya.
"Kau suka sekali memakai baju setengah-setengah!" Sindir Zhen dengan intonasi dingin melihat kaos crop yang menunjukan separuh perut datar putih Moa.
"Haiss! Kau ini selalu saja mengurus pakaianku. Tak mungkin aku memakai jas hujan atau .."
"Baju anti peluru," Sambung Zhen hampir hafal dengan bantahan belut betina yang nakal ini.
Namun, nafas Moa tercekat saat satu tangan Zhen yang tak di infus mulai merayap ke bagian perutnya.
"K..kau mau apa?"
"Menikmati tontonan darimu!" Santai Zhen tapi kedua matanya mengobarkan kemarahan tersembunyi.
__ADS_1
Moa menelan ludah berat. Tangan Zhen mengusap perut datar Moa lalu menyelip diantara bra sport wanita itu hingga dengan cepat Moa tahan sebelum bermain lebih dalam.
Antara gugup dan cukup syok dengan keberanian Zhen yang biasa selalu menolaknya.
"K..kau jangan macam-macam."
"Bukankah ini yang kau mau dengan berpakaian seperti itu?" Suara Zhen mendingin dengan satu alis terangkat tajam.
Zhen benar-benar tak suka melihat wanita berpakaian seksi mengumbar tubuhnya di hadapan banyak orang. Apalagi, Moa istrinya walau pernikahan tak di dasari cinta tapi, tetap saja ia bertanggung jawab pada Moa.
"Kenapa kau sangat menyebalkan, ha?? Pakaianku seperti ini sudah biasa bahkan aku pernah bertela.."
Zhen sontak meremas satu gunung kembar Moa sampai sang empu tercekat dengan wajah memerah.
"K..kau..."
"Aku menikahimu dan ikut ATURAN-KU," Tekan Zhen segera menarik pinggang Moa hingga terjatuh di dada bidangnya.
Posisi Moa setengah duduk dengan gundukan kembar yang penuh kencang sempurna itu merapat erat ke dada bidang di baluti kaos milik Zhen.
Dari jarak sedekat ini Moa bisa melihat bagaimana ketampanan Zhen secara real dan nyata. Wajah mulus tanpa cacat dengan bentuk bibir sensual berwarna pink segar padahal dia laki-laki.
Apa karena Zhen menjaga gaya hidup dan tak merokok membuatnya jadi seperti pangeran yunani?
"Kau hanya boleh berpakaian seperti ini di depanku. Jika tidak, kau tak akan berpakaian sama sekali."
Merasa tak aman dengan posisi ini, Moa mulai ingin menarik diri tapi sayang satu lengan kekar Zhen yang membelit pinggangnya terlalu kuat seperti rantai besi.
"Lepaskan!"
Zhen diam. Ia menatap lekat wajah mempesona Moa sampai tertuju pada tai lalat yang ada di belakang telinga.
Itu sangat kecil dan tak akan terlihat jika di pandang dari jauh.
Merasa risih di pandangi sedalam itu Moa langsung menunjukan wajah galak tegas pembangkangnya.
"Kau jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, babii!!" Pekik Moa mengigit rahang Zhen tapi tersentak saat ikat rambutnya di lepas oleh tangan kekar itu.
Aroma mawar putih yang harum menguar di hidung Zhen. Rambut blonde panjang milik Moa tergerai indah sampai menutupi wajah tampan Zhen yang menyukai aroma itu.
Tenang dan damai. Itulah yang ia rasakan sampai menghirup dalam rambut Moa yang di buat semakin berdebar.
"S..sialan! Aku..aku kenapa?!" Batin Moa terus mengumpat tapi tak bisa menolak.
"Jangan ganti parfum dan shampo-mu!" Bisik Zhen membuat Moa meneggang.
Perlahan Moa memberanikan diri memandang wajah tampan dan kedua mata elang itu sampai pikirannya tiba-tiba jadi kacau.
__ADS_1
"K..kau.."
"Jika bersamaku kau tak di beri hak untuk berhubungan dengan pria lain," Tegas Zhen dengan jari merapikan rambut Moa ke belakang telinga dengan sengaja menyentuh bagian tai lalat yang tadi ia amati sampai Moa merasa geli dan meremang.
Sudut bibir Zhen tertarik licik saat tahu jika bagian itu adalah titik paling sensitif Moa. Terbukti dengan wajah lemas Moa kala Zhen mengusapnya sensual.
"Patuhi aturanku atau kau akan menyesal."
"Tak ada yang bisa mengaturku," Desis Moa sesekali mengigit bibir bawahnya kegelian dengan jari Zhen yang ada di lehernya.
Justru hal itu tampak sangat menggoda. Zhen benar-benar tak menyangka jika semua yang Moa lakukan akan membangkitkan birahinya.
"Jangan memancing. Kau tak akan sanggup menerima hukuman dariku!" Tegas Zhen lalu mendorong bahu Moa sampai wanita itu terjerap ke lantai.
Momen romantis dan sedikit erotis tadi seketika berganti dengan kemarahan Moa. Ia berdiri dan dengan wajah cantik merah padam menatap Zhen yang santai dengan wajah menyebalkannya.
"Kau memang babi sialan!! Kau pikir aku akan patuh padamu?! Tak ada yang bisa mengaturkuu!!" Maki Moa melempar kulit jeruk yang tadi ia kupas ke arah Zhen lalu bergegas pergi membanting pintu dengan keras.
Zhen terdiam tapi wajahnya sangat puas bisa mengerjai Moa yang pasti bertambah kesal padanya.
Namun, ekspresi itu hanya tahan beberapa detik karena Zhen tengah memikirkan respon tuan Hupent kala tahu ia sudah di China.
"Tak akan-ku biarkan kau menyentuh orang-orangku lagi," Geram Zhen meremas kulit jeruk yang tadi Moa lempar padanya.
Drett..
Ponsel Zhen menyala di atas nakas. Zhen mengambil benda itu dan melihat nama Yoshep di sana.
"Katakan!" Titah Zhen ingin tahu laporan apa yang ia dapat.
"Aku sudah tiga hari di China. Adikmu ternyata sangat seksi dan menggoda tapi, tak semenarik wanita yang mengamuk padamu itu!" Goda Yoshep tapi Zhen tak menggubris hal itu.
"Jika tak ada yang penting jangan hubungi aku."
"Shitt, sialan! Kau memang sangat serius," Umpatan Yoshep yang tadi sudah berusaha memancing amarah Zhen tapi nyatanya gagal.
"Adikmu akan datang ke perusahaan besok untuk menggantikan rapat dengan klien penting kalian. Jika kau tak datang, maka siap-siaplah namamu keluar dari peringat CEO tampan nomor satu di China!"
Zhen terdiam. Berarti tuan Hupent benar-benar nekat memasukan adik perempuannya ke ranah bisnis padahal Zhen tahu adiknya tak punya bakat di bidang itu.
"Kenapa? Kau merasa terhina?" Pancing Yoshep menertawakan Zhen.
"Kau harus tetap awasi dia dan jangan berbuat macam-macam padanya!" Tekan Zhen penuh ancaman lalu mematikan secara sepihak.
Aku tak punya waktu lagi. Membiarkan Hupent memprofokasi kariawan dan para kelien penting bisa membuat perusahaan dalam bahaya.
....
__ADS_1
Vote and like sayang