
Pagi ini Noah sudah sadar. Moa tak pernah beranjak sedikitpun dari ranjang rawat putranya bahkan, kala dokter Wen memeriksa bocah laki-laki itu Moa terus memperhatikan kondisi putranya.
"Nona! Semuanya berjalan baik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Dia hanya perlu menjalani pemulihan pasca operasi."
"Syukurlah," Lega Moa menggenggam jemari mungil Noah yang tampak ingin menangis mendengar pernyataan dokter Wen begitu juga Moa.
"M..Mom!"
"Hm? Mommy sangat-sangat senang kau kembali. Sungguh!" Ucap Moa mengecup punggung tangan Noah lama hingga Noah menangis.
"M..Mom! A..aku sembuh?"
"Yah. Noah sembuh. Noah akan terlepas dari semua ini, hm?!"
Moa memeluk Noah dengan hati-hati karena takut akan menyentuh alat-alat medis itu. Dokter Wen tersenyum hangat ikut bahagia melihat pemandangan ini.
"Jaga pola makannya. Jangan mengonsumsi makanan berlemak dulu. Usahakan istirahat yang cukup dan jangan kelelahan."
"Terimakasih. Aku akan menjaganya," Jawab Moa seraya mengecup lama kening Noah yang masih belum mau di lepas.
Alhasil, Moa memeluk bocah itu cukup lama sementara dokter Wen memilih keluar karena tak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
"Mom! Noah ingin selalu bersama, mommy!" Lirih Noah dengan suara parau dan masih lemah.
Moa tersenyum seraya mengusap kedua pipi Noah yang tak lagi memakai alat bantu nafas.
"Tentu. Kita akan selalu bersama dam mommy sudah janji akan membawa Noah berkeliling di luar sana. Kita akan melihat dunia bersama-sama, mau?"
"Mau! Noah sangat ingin, mom!" Jawab Noah kembali ingin di peluk.
Moa tak menolak. Ia juga sangat menyayangi bocah belia ini sampai lubuk hati terdalam.
"M..Mom!"
"Iya?" Tanya Moa mengusap kepala Noah lembut.
"Dimana uncle tampan?"
"Uncle Ebner bukannya masih di Amerika? Apa dia tak ikut kesini saat itu?" Tanya Moa menduga itu Ebner.
Noah menggeleng karena yang menemuinya saat itu bukanlah Ebner melainkan sosok pria berkursi roda dengan hawa yang mendominasi.
"Bukan, mom! Saat mommy pergi ada yang datang menemui-ku."
"Siapa?? Dia menyakitimu? Katakan padaku!! Akan-ku lenyapkan dia!!" Geram Moa berapi-api tapi Noah menggeleng lagi.
"Tidak. Saat itu dia bilang kalau Noah bisa sembuh kalau percaya pada mommy. Dia bilang, jangan mencemaskan mommy karena dia akan menjaganya."
Moa terdiam cukup lama. Benaknya menerka-nerka sosok yang di katakan Noah barusan.
"Apa dia menyebutkan namanya?"
Noah menggeleng lemah.
"Tidak, mom! Dia bilang, serahkan saja mommy-mu padaku."
"Dia mengatakan itu?"
Noah mengangguk. Moa mulai merinding. Apa jangan-jangan Marco yang menemui putranya? Tapi tidak, Marco kenal dengannya saat sudah di China sedangkan Noah saat itu masih di Amerika.
"Sudahlah. Mungkin itu hanya pengagum rahasia, mommy! Yang penting, kau sekarang benar-benar sembuh. Itu sudah lebih dari cukup."
Mendengar ucapan percaya diri Moa, seketika bibir Noah menipis pucat.
"Pengagum rahasia? Apa mommy punya?" Meragukan.
"Hey! Kau punya mommy yang seksi, cantik dan pandai menyimpan uang. Jangan meremehkan, mommy!!" Decah Moa berbangga diri.
Sedetik kemudian keduanya tertawa tapi Noah tak begitu bisa karena dadanya masih terasa sakit.
"Moa!" Suara nyonya Ming yang masuk keruangan dengan baby Zoe di gendongannya.
"Singaa!!" Pekik baby Zoe seketika ingin berhambur ke pelukan Moa yang berdiri segera mengambil alih si kecil itu.
Tangis mendramatisir baby Zoe melengking karena ia sangat merindukan Moa yang sudah tak ia temui sebulan yang lalu.
"S..singa, hiks! Singa!"
"Susst! Jangan menangis. Lihat calon suamimu?" Bujuk Moa mendekatkan wajah baby Zoe pada Noah yang mengerutkan dahi.
"Mom!"
"Ini calon istri-mu, sayang! Lihat, cantik kan?"
Nyonya Ming hanya menghela nafas melihat kelakuan belut betina Zhen itu. Nyonya Ming berjalan ke area samping ranjang rawat menatap Noah yang baru pertama kali ia lihat.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik, nyonya!" Jawab Noah yang memiliki sikap dewasa sedari dini.
__ADS_1
Nyonya Ming tersenyum. Zhen sering menceritakan soal Noah hingga ia tahu jika anak ini memang dewasa sebelum waktunya. Apalagi, Zhen juga bilang jika Noah bukanlah anak Moa tapi tak boleh dikatakan secara langsung agar tak menyinggung siapapun.
"Nyonya siapa?" Tanya Noah tak pernah bertemu nyonya Ming.
"Ibu mertua, mommy-mu!"
"M..mertua?" Gumam Noah tahu arti itu. Mata Noah beralih memandang ke arah Moa yang sedang menimang-nimang baby Zoe melepas rindu yang terpendam.
"Mommy-mu sudah menikah dengan putraku. Tapi, jangan cemas. Dia pria yang baik."
"Tidak. Mommy tak boleh menikah," Bantah Noah menatap tajam nyonya Ming yang terkejut.
"Kau.."
"Tak ada pria yang bisa mengurus mommy-ku! Hanya Uncle tampan yang bisa."
Nyonya Ming terdiam. Moa yang sadar dengan suara bantahan Noah segera menoleh.
"Ada apa? Noah!"
"Mom! A..apa kau sudah menikah?"
Degg..
Moa terkejut beralih menatap nyonya Ming yang menatap penuh sesal pada Moa yang diam sejenak.
"Mom! Jawab, aku! Apa mommy sudah menikah? Dengan siapa, Mom?
"A..itu.."
"Kenapa mommy tak bilang? Kenapa?" Tanya Noah dengan mata berkaca-kaca.
Moa seketika panik mendudukan baby Zoe ke atas ranjang lalu menggenggam tangan putranya.
"Noah! Mommy punya alasan. Noah paham-kan?"
"M..mom! Bagaimana jika dia jahat? Bagaimana jika dia tak bisa mengurus, mommy dengan baik?" Cecer Noah begitu posesif.
"Dia..dia lumayan. Lagi pula, jika Noah tak setuju mommy akan.."
"Akan apa?" Suara berat seseorang yang familiar di telinga Noah.
Moa menelan ludah kala merasa hawa disini terasa cukup mencegat kerongkongannya.
"Akan apa?" Ulang Zhen berdiri di depan pintu dengan stelan kerja yang membuat penampilannya bertambah sempurna.
"A..akan itu.. Emm.."
Zhen beralih memandang Noah yang terbengong menatap Zhen lekat seakan-akan memastikan sesuatu. Kedua kaki pria itu berdiri tegap kokoh dan tak ada yang cacat sama sekali tapi, kenapa semuanya sama persis?
"Kau sudah sadar? Boy!"
"U..Uncle!" Gumam Noah terperangah.
Moa masih gugup karena semalaman Zhen mendiaminya tanpa alasan. Jadi, jika sekarang Zhen ingin berubah pikiran menjadi musuhnya maka pasti bahaya.
"Z..Zhen! Maksudku, aku akan berjuang untuk kita. A..aku.."
"Kau diam!" Tegas Zhen menarik Moa kebelakang tubuh kekarnya.
Moa sangat cemas jika Zhen berubah menyakiti Noah karena menentang hubungan mereka.
"Zhen! Kau..kau mau apa? Noah hanya.."
"U..Uncle Tampan?"
"Apaa???" Pekik Moa sampai mengejutkan baby Zoe yang seketika menekuk wajah masam menatap Moa yang syok.
Zhen memberi senyum kecil di bibir sensualnya karena Noah masih mengingat kejadian masa lalu.
"U..Uncle yang pakai kursi roda itu?"
"Hm. Kau masih ingat?" Tanya Zhen dengan intonasi datar tapi hangat.
Noah tersenyum lebar karena ia memang menyukai Zhen.
"Tentu! Apa Uncle yang membawaku kesini?"
"Menurutmu?" Tanya Zhen membuat Noah semakin senang bukan main. Moa masih terbengong dengan interaksi dua pria berbeda usia itu.
"Uncle! Mommy-ku sudah menikah. Aku tak bisa mencegahnya," Ucap Noah penuh penyesalan.
Moa seketika paham dengan percakapan dua lelaki ini.
"Jadi, dia uncle tampan yang kau bilang itu?"
"Iya. Ceraikan saja pria itu, mom!"
Seketika Moa menyipitkan kedua matanya pada Zhen.
__ADS_1
"Baik. Aku akan BERCERAI dengan pria itu," Tekan Moa membuat eskpresi Zhen semakin beku.
"Coba saja!"
"Akan-ku coba. Kau pikir aku tak berani, haa??"
"Kauu.."
"Sudah!! Kalian ini selalu saja bertengkar," Decah nyonya Ming hingga Zhen membuang muka.
Moa-pun sama. Mereka menyambung kembali perang dingin tadi malam bahkan kali ini Zhen lebih parah lagi.
"Mom! Aku ada rapat penting hari ini dan mungkin akan lembur."
"L..lembur?" Gumam Moa tersentak karena Zhen tak akan pulang nanti.
"Jaga dirimu, boy!"
"Iya, uncle!" Jawab Noah menerima usapan lembut di kepalanya oleh Zhen lalu berlalu pergi tanpa memandang Moa yang gelisah namun egonya tinggi.
"Mom! Kau kenapa?"
"T..tidak ada," Gumam Moa merasa tak tenang. Baby Zoe asik memainkan pinggir selimut Noah yang masih belum mengerti siapa si kecil menggemaskan ini.
"Mom! Dia siapa?"
"Ini Zoe. Calon istrimu!"
"Mom!" Decah Noah tapi Moa tak fokus. Ia masih memikirkan Zhen dan agak tak rela melepas pria itu sampai seharian.
Tahu akan isi pikiran Moa, nyonya Ming segera mendekati wanita itu dan mengiringnya ke arah sofa sudut ruangan.
"Aku ingin bicara hal yang penting denganmu."
"Apa?" Tanya Moa duduk di samping nyonya Ming yang menghela nafas.
"Apa kau serius dengan putraku?"
Moa terdiam. Ia tak ragu dengan perasaanya pada Zhen karena Moa bisa tahu jika ia memang mulai mencintai babi jantan itu.
"Aku mohon. Jika kau tak serius dengan putraku maka jangan beri dia harapan. Katakan dengan jujur kalau kau ingin pergi dan menyelesaikan kesepakatan kalian."
"Aku.."
"Aku tak ingin putraku hancur untuk kedua kalinya. Dia tak pernah menyakitimu tapi jangan sakiti putraku," Pinta nyonya Ming tak berdaya jika Zhen terpuruk lagi.
Moa diam memikirkan semua perkataan nyonya Ming.
"Dia marah pada dirinya sendiri karena tak bisa memberi jantung untuk Noah dan Marco berkesempatan membuat tempat di hatimu. Dia takut kau akan mengagumi pria lain, Nak!"
"Yang benar saja aku mengagumi Marco!!" Decah Moa tak percaya dengan dugaan Zhen yang terlalu berlebihan.
"Dia itu kalau sudah cinta akan sangat posesif. Saat masih dengan Cellien, Zhen bahkan rela menentang ku hanya untuk menikah dengannya. Mungkin kau tak akan nyaman akan sikapnya nanti."
Moa menghela nafas. Terlepas dari apapun itu, Moa juga tahu bahwa Zhen memang sangat banyak membantunya.
"Tenang saja! Dia tak akan bisa marah lama-lama padaku," Ujar Moa sudah tahu apa yang akan ia lakukan jika sampai Zhen benar-benar lembur.
"Tolong jaga putraku. Aku menyerahkannya padamu sepenuhnya!"
"Soal lembur tadi, dia bercanda-kan?" Tanya Moa berharap.
"Sepertinya tidak. Selama sebulan ini dia fokus untuk kesembuhannya dan Noah. Tak ada waktu mengurus perusahaan yang kemaren-ku ambil alih."
"Jadi, dia benar-benar lembur. Kalau begitu aku titip putraku malam ini, ya? Aku ingin memberi Zhen hadiah," Lancang Moa tak ada rasa segan sama sekali bicara dengan ibu mertua.
Nyonya Ming tersenyum dan mengangguk. Ntahlah, Moa terlalu frontal tapi itulah yang orang suka dari sikapnya.
"Noah, sayaang! Mommy titip calon menantu mommy, ya?"
"Mom!" Decah Noah tapi tampaknya Moa tak bisa di ganggu gugat.
"Mommy tak akan membiarkan wanita di luar sana menjadi menantu mommy kecuali Zoe, titik! Jika kau tak mau, maka mommy akan.."
"Mom! Aku masih kecil!!" Pekik Noah setengah emosi meladeni Moa yang masa bodoh beralih mencium pipi Noah dan Zoe secara bergantian.
"Mom! Aku titip mereka, ya?!"
"Yah. Pergilah bermain!"
"Haiss..ibu mertuaku," Gumam Moa bersemangat pergi keluar ruangan.
Moa berencana pergi ke toko lingerie dan membayangkan bagaimana wajah Zhen jika saat rapat nanti ia datang dengan memakai lingerie?! Pasti sangat menggemaskan, pikir Moa absuard.
Padahal, sudah jelas jika itu terjadi Zhen akan mencongkel mata semua orang yang memandangnya.
...
Vote and like sayang
__ADS_1