
Acara pesta ulang tahun baby Zoe telah berakhir sampai tengah malam. Berbagai rentetan acara berlangsung termasuk pesta balon dan berbagai hiburan yang di sajikan untuk para tamu.
Bungkusan kado ulang tahun juga sudah memenuhi separuh dari lantai ruang utama. Ratusan tamu yang hadir memberikan berbagai jenis hadiah sampai para pelayan kewalahan mengatur kotak-kotak itu.
"Saya ucapkan selamat sekali lagi, Presdir!"
"Terimakasih," Jawab Zhen sekedar basa basi bersalaman dengan para klien bisnisnya seraya mengantar mereka ke atas landangan helikopter.
Satu persatu tamu di bawa pergi. Nyonya Syui dan Wenxi yang ada di belakang sana terperangkap.
Tadinya mereka ingin segera pergi tapi sayang, bawahan Zhen tak memperbolehkan siapapun keluar sebelum acara selesai. Jadilah mereka tertahan disini.
"Mom! Bagaimana cara kita menghentikan suruhan yang sudah dalam perjalanan kesini?" Cemas Wenxi pucat.
"Bagaimana-pun caranya kita harus pergi dari sini sebelum mereka sadar apa yang akan terjadi."
Nyonya Syui buru-buru menarik lengan Winxi mendekati satu helikopter yang menjemput para tamu lain.
"Aku sedang ada urusan penting. Biarkan aku naik lebih dulu!"
"Tidak bisa. Sesuai aturan dari presdir Zhen sebelumnya tamu yang datang duluan harus pulang lebih dulu," Tegas salah satu bawahan Zhen yang membantu tamu lain masuk ke helikopter.
Nyonya Syui mengepal. Ia berbalik menatap ke arah Zhen yang berdiri di depan pintu masuk kapal dengan tatapan datar dan kedua tangan di dalam saku celananya.
"Wenxi! Ini kesempatanmu. Wanita itu tak ada di sampingnya!"
"Mom! Kau yakin?" Ragu Wenxi tapi tangan nyonya Syui segera menarik lengan putrinya mendekati Zhen yang tadi mengacuhkan mereka.
"Presdir!" Sapa nyonya Syui tapi Zhen menyorotnya dengan dingin.
Yoshep yang ada di belakang Zhen hanya diam tapi ada senyum nakal terlempar ke arah Wenxi.
"Presdir! Selamat untuk ulang tahun putri anda. Wenxi, ayo beri selamat pada presdir!" Mendorong sedikit kasar punggung Wenxi hingga terjungkal kedepan tapi Zhen mengelak hingga Wenxi terjerumus ke lantai.
"Gadis cantik. Kenapa berlutut padaku? Kau salah apa?" Syok Yoshep sekiranya berdrama menolong Wenxi tapi gadis itu menyentak kasar lengannya.
"Jangan menyentuhku!" Terkesan jijik.
"Ouh, santai saja."
Yoshep masih sedia dengan wajah mesumnya tapi Zhen tidak. Ia memastikan sendiri jika tamu-tamunya sudah pergi dengan selamat lalu menyerahkan tugas selanjutnya pada bawahan.
Melihat Zhen ingin pergi, nyonya Syui segera bergegas mencegahnya.
"Presdir! Tunggu sebentar!"
Zhen berhenti. Lirikan matanya semakin tak bersahabat membuat Wenxi menunduk tak berani.
"Presdir! Putriku ini gadis yang baik. Belakangan ini ia kesulitan mencari pria yang baik seperti anda. Jadi.."
"Aku tak berminat mempromosikan putrimu!" Tegas Zhen bermakna pedas langsung meninggalkan mereka dalam rasa malu karena bawahan Zhen masih ada disini.
Yoshep menahan tawa kecilnya. Siapa suruh mengganggu pria paling setia di negara ini?!
"Apa yang kau tertawakaan??" Ketus Wenxi tak tahu siapa Yoshep karena dimatanya hanyalah Zhen yang paling terbaik.
"Kau masih bertanya? Tapi, aku pikir kau tahu apa yang ku tertawakan," Desis Yoshep mengedipkan satu matanya santai.
Nyonya Syui benar-benar marah di permalukan seperti ini. Ia segera memberi pesan pada suruhannya agar lebih cepat datang kesini tak peduli atau lebih tepatnya mencari mati.
"Wenxi! Ayo pergi!" Menarik lengan putrinya menuju helikopter.
Namun, kala mereka ingin naik ke atas benda itu tiba-tiba saja ada 5 helikopter asing yang melesat diatas sana menghujani mereka dengan peluru.
"Moomm!!" Pekikan Wenxi keras karena lengannya tertembak.
Para bawahan Zhen sontak menutup pintu masuk kapal dengan lampu sorot mengarah pada 5 helikopter di atas sana.
__ADS_1
"Amankan kapal!!" Seru Yoshep yang tak masuk dan segera mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
Serbuan peluru yang di dapat di balas setimpal oleh bawahan Zhen yang berlindung di balik beberapa besi besar di pinggir kapal.
"M..mom! Kenapa mereka m..menembakku?" Desis Wenxi menahan sakit di dalam helikopter.
Wajah panik nyonya Syui tak terbendung. Dilihat dari penyerangan yang membabi-buta ini, tampaknya mereka bukan suruhannya.
"Kita selamatkan diri kita lebih dulu. Jangan pedulikan mereka."
"M..mom!"
Nyonya Syui masuk ke dalam helikopter. Ada satu anggota yang mengemudikan benda ini namun dia tak mau bergerak.
"Jalan!!"
Pria itu mengabaikan nyonya Syui dan memilih keluar dari helikopter.
"Sialan!! Kemudikan benda ini!!"
Tak ada yang memperdulikannya. Baku tembak antara 5 helikopter dan para bawahan Zhen masih berlangsung menegangkan..
Melihat keadaan sudah tak kondusif. Nyonga Syui membawa Wenxi berlindung di area paling sudut tersembunyi oleh beberapa pelampung.
Mereka semua memakai masker hitam dengan senjata laras panjang terulur ganas membidik dari atas.
"Siall!! Kenapa mereka bisa sampai kesini?!" Umpat Yoshep segera menghubungi Marco yang sudah lebih dulu pergi mengurus suruhan nyonya Syui tapi kenapa bisa sampai kesini.
"Ada apa?" Suara dingin Marco terdengar diantara keributan di sana.
"Kau menahan mereka?"
"Yah. Semuanya selesai. Tak ada yang lolos," Jawab Marco terdengar agak heran.
"Ada yang menyerang area kapal. Sepertinya bukan bagian dari orang yang sedang kau bantai sekarang," Jelas Yoshep sesekali melepaskan tembakan ke arah kaca helikopter diatas sana sampai pecah melubangi pengendalinya.
"Mungkin itulah yang Zhen maksud tadi siang. Coba kau bicara padanya! Aku sedang sibuk!"
Tapi, ternyata pria itu juga baru saja turun dari tangga ditemani Moa yang risih mendengar suara keributan di luar.
"Zhen!"
"Aku tahu," Jawab Zhen sudah menduga hal ini sebelumnya.
Moa yang belum paham apa yang di maksud Zhen tentu saja segera mendekati jendela kapal dan melihat jika ada penyerang dari atas sana. Hanya tersisa dua karena tiga dari mereka sudah tercebur ke lautan.
"Ini dari siapa?"
"Belum pasti. Kau pergilah ke kamar anak-anak!" Pinta Zhen menarik lengan Moa lembut menjauh dari jendela.
"Baiklah. Jangan biarkan aku melihat luka di tubuhmu!" Tegas Moa kembali menaiki tangga menuju kamar Noah sekaligus baby Zoe.
Zhen memandangi Moa sampai wanita itu hilang dari pelupuk matanya dan barulah ia fokus pada masalah ini.
"Zhen! Suruhan dari dua wanita bodoh itu sudah di selesaikan Marco. Bagaimana dengan yang ini?"
"Aku sudah menduga jika mereka akan muncul. Lima helikopter yang datang seharusnya hanya ucapan selamat datang untuk kita!" Jelas Zhen mengeluarkan pistol di balik jasnya.
Zhen mendekati jendela kapal dan melihat jika adegan baku tembak itu masih terjadi.
"Apa maksudmu?"
"Bawahan yang ada di Jet sky. Perintahkan mereka untuk menyelam!" Titah Zhen mengamati situasi kapal yang berlayar stabil tapi tak tahu apa yang terjadi di bawah sana.
Yoshep bergegas menghubungi kepala penanggung jawab di bawah sana. Zhen pergi ke arah pintu kapal tapi tak membukanya secara gegabah.
"Kapal ini luas. Mustahil mereka akan menghancurkan hanya dengan mengirim 5 helikopter!" Gumam Zhen mendengarkan dengan jelas arah tembakan itu kemana.
__ADS_1
Saat dirasa keadaan di luar cukup tenang, Zhen membuka pintu dan melihat hanya satu helikopter yang tersisa sedangkan yang lainnya sudah berhasil di lumpuhkan.
"Ada yang terluka?" Tanya Zhen pada para bawahannya yang keluar dari balik besi pinggiran kapal.
"Hanya ada beberapa, tuan!"
"Bawa ke dalam. Petter akan menanganinya!" Titah Zhen berjalan mendekat ke tepi kapal menatap satu helikopter yang masih terbang walau tak stabil karena bagian ekornya sudah tertembak.
"Tuan! Kami akan menyelesaikannya!"
"Jangan buang-buang tenaga!" Tegas Zhen lebih mengutamakan para bawahannya yang sebagian terluka.
Akhirnya setelah melihat reaksi Zhen, mereka masuk ke dalam. Alhasil hanya Zhen yang berhadapan dengan satu helikopter yang tersisa.
"Jangan halangi kami!!!" Teriak pria di atas sana mengarahkan senapan laras panjangnya ke arah kening Zhen yang sangat santai.
"Pimpinanmu ingin apa?"
"Serahkan anak laki-laki itu pada kami. Jika tidak, kapal ini akan meledak!!"
Zhen diam dengan mata beralih menyapu permukaan laut yang bergelombang halus. Jadi benar dugaannya, mereka telah menyerang di bawah air sedangkan 5 helikopter ini hanya sekedar pancingan.
"Aku akan menyerahkannya. Tapi, bukan pada bawahan seperti kalian!"
"Jangan bicara omong kosong!! Serahkan saja anak itu pada kami!!" Bantah mereka mengarahkan laser senapan itu ke dada Zhen.
Beberapa detik kemudian munculah beberapa orang dari permukaan air. Mereka ada di setiap penjuru kapal di permukaan laut dengan senjata yang siap meledak.
"Menyerah Lah!! Kapal ini sudah kami pasang peledak!"
Zhen masih diam. Matanya memindai satu persatu musuh di air yang sepertinya menuruti perintah seorang pria di atas helikopter sana.
"Turunlah! Ayo berunding!"
"Jangan pikir kami bodoh!!" Maki pria itu melepas tembakan ke arah dinding kapal tepat di sebelah kanan lengan Zhen dengan niat membunuh.
Zhen masih tenang. Tatapannya beralih pada pria itu sampai kemudian ia mulai menyeringai.
"Memang kalian bodoh!" Ucap Zhen dengan kecepatan tak terduga menembak baling-baling helikopter itu hingga oleng tak stabil.
"Dia.."
"Kita akan jatuh!" Panik pria yang mengendalikan helikopter itu.
Zhen memutar tubuhnya signifikan melesatkan peluru ke beberapa penjuru arah mengenai beberapa orang yang sudah ia targetkan memeggang pengendali peledak di bawah kapal.
"Yosheeep!!!" Panggil Zhen dengan tembakan tiga kali melesat ke arah helikopter yang jatuh ke permukaan laut diiringi munculnya bawahan Zhen yang tadi menyelam.
Pria yang tadi melakukan interaksi dengan Zhen terkejut melihat satu persatu rekannya di tarik tenggelam di dalam air yang langsung bergemuruh.
Yoshep memimpin mereka untuk menembak serentak di dalam air hingga gelembung air bercampur darah itu naik ke permukaan.
"Siall!!" Umpatnya bercampur panik.
Semua rekan-rekannya sudah tak bisa diandalkan lagi. Ia mulai menyalakan alat komunikasi di telinganya tapi nihil, alat itu sudah tak terhubung lagi.
"Kau di buang?" Tanya Yoshep muncul tepat di depannya.
"K..kau.."
Tanpa menunggu jawaban, Yoshep segera menarik leher pria itu dan menyeretnya ke dalam kapal untuk di interogasi.
"Tuaan!!" Suara salah satu bawahan Zhen yang tadi menyelam mengalihkan perhatian semua orang.
Zhen melihat bawahannya membawa tubuh seorang pria yang tampak tak sadarkan diri dalam keadaan basah total.
"Tuan! Saya menemukan asisten Jio tenggelam di air!"
__ADS_1
....
Vote and like sayang