
Kedua kaki dan tangan Moa terikat di atas kursi yang ada di dalam kamar Zhen. Pria tampan berjuta pesona itu duduk berhadapan dengan Moa yang tadi terus memberontak namun karena Zhen tak menggubris perlawanannya jadilah Moa diam.
"Apa maumu?" Tanya Moa dengan pandangan menghunus datar.
"Menurutmu?"
"Aku tak ingin bermain-main. Katakan atau kau tak mendapatkan keuntungan apapun," Desis Moa membuat asisten Jio yang berdiri di samping Zhen jadi bergidik.
Sosok yang sekarang mereka ikat bahkan lebih berbahaya dari Cellien. Tatapannya terlalu buas dan cukup mengkhawatirkan.
Namun, Zhen tahu apa dan bagaimana ia harus bertindak.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Aku tak tahu," Tegas Moa dan selalu dengan jawaban yang sama.
Zhen tak marah atau emosi. Di kamar ini hanya ada mereka tanpa pengawal yang berjaga di depan. Baby Zoe juga sudah di amankan.
"Satu lagi kesempatan untukmu. Siapa yang MENYURUHMU?"
"AKU TAK TAHU," Tekan Moa merapatkan giginya erat.
Zhen mengetuk lengan kursi rodanya tenang hingga asisten Jio segera mengambil Tab di atas ranjang dan menunjukan sesuatu ke hadapan Moa.
Degg..
Jantung Moa seakan terhenti berdetak saat melihat foto-foto Noah yang terbaring di ranjang rawat rumah sakit dengan keadaan menyedihkan.
"K..kau.."
Kedua mata Moa mengigil marah pada Zhen yang sudah tahu soal Moa termasuk putranya mengidap sakit jantung kronis.
"Putramu?"
"JIKA SAMPAI KAU MENYENTUHNYA, AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU!!" Geram Moa tak bisa tenang jika putranya di bawa-bawa.
Zhen diam. Ia tak tahu suami Moa di mana karena tak ada riwayat hidup Moa secara pasti. Tapi, yang jelas Moa sangat menyayangi anak itu.
"Aku tak akan mengusiknya jika kau mau bekerja sama denganku."
"Cih, kau memang babi sialan!!" Maki Moa tapi Zhen tersenyum santai tapi tak berlebihan.
"Terserah padamu. Tapi, pertimbangkan ucapanku barusan dan jika tidak.."
Ekspresi Zhen sontak berubah dingin dan serius.
"Aku tak segan melenyapkannya!"
Moa mengepal. Kedua matanya yang mengigil tampak sangat emosi kala Zhen bicara soal kematian putranya.
"3 detik dari sekarang!" Imbuh Zhen benar-benar kejam menekan Moa.
"Satu.."
Asisten Jio tetap menunjukan layar Tabnya hingga Moa benar-benar tak bisa berpikir lagi. Melihat wajah pucat Noah dan ia hidup sampai sekarang hanya untuk anak itu seketika ego Moa jatuh.
"Dua.."
Kedua matanya terpejam dengan nafas menghela berat.
__ADS_1
"Tiga. Kau.."
"Aku benar-benar tak tahu," Lirih Moa membuka matanya dengan pandangan sedikit lebih membaik.
Zhen melihat Moa benar-benar tak berbohong. Lirikan netra indah tapi kacau itu pada layar Tab asisten Jio bercampur kemalut cemas.
"Mereka memang menghubungi kami tapi, tak menyebutkan nama sama sekali."
"Kau tak takut di tipu?" Tanya Zhen menaikan satu alis penuh selidik.
"Aku tak peduli. Yang jelas, dia mengirim uang yang bisa menambah umur putraku!"
Jawaban Moa sukses membuat dada mereka terusik terutama Zhen. Ia ingat saat Zoe mengalami hal buruk pasti perasaan sangat takut, cemas dan tak terkendalikan itu menjalar di tubuhnya.
"Aku tak tahu siapa mereka dan tujuannya merekrut kami untuk membunuhmu."
"Kenapa kau tak menyelidikinya?! Aku rasa itu mudah bagimu."
Pertanyaan Zhen membuat Moa menghela nafas.
"Kami punya privasi dan begitu juga mereka. Tak ada yang tahu identitas masing-masing pihak karena itu perjanjiannya. Kami menjalankan misi lalu menerima uang dan begitu seterusnya," Jelas Moa tak berbohong.
"Hm, sekarang kau harus bekerjasama denganku!"
"Cih," Decih Moa merotasikan matanya malas. Tapi, ia tak bisa menolak.
"Kau harus menjadi mata-mataku. Selidiki orang yang menyuruhmu lalu kau juga bertanggung jawab menghabisi mereka!"
"Ingin menyewaku?" Tanya Moa tak ingin rugi.
Zhen tersenyum remeh. Otak wanita ini memang tak jauh-jauh dari yang namanya uang.
"Presdir Zhen yang tak terhormat!" Seru Moa membuat asisten Jio mendengus karena kalimatnya barusan.
"Jangan terlalu mengakrabkan diri denganku atau, hartamu akan terkuras habis."
"Silahkan, jika kau bisa," Jawab Zhen tak kalah santai.
Jawaban Zhen benar-benar menghibur Moa. Bersama dengan pria ini dalam beberapa hari, Moa merasa harta Zhen sangat banyak. Pengaruhnya juga luas dan tak rugi jika bekerjasama walau terpaksa.
"Berapa kau berani membayarku?" Tanya Moa sudah memperhitungkan masalah uang.
"Kau sangat tak sabaran rupanya."
"Jelas, berbisnis harus sangat teliti apalagi dengan pria sepertimu," Jawab Moa tak mau di tipu lagi.
Zhen menghela nafas. Ia tak ragu dengan kinerja Moa tapi, di lihat dari segi kesetiaan Moa tak bisa di percaya.
Hanya karena uang kau bisa mengkhianati rekanmu dan bagaimana jika ada yang menawarkan lebih, apa kau juga akan berkhianat padaku?! Pikir Zhen sangat berhati-hati dengan Moa.
"Aku akan membayar mu jika pekerjaan selesai."
"Kau bercanda?!" Pekik Moa kasar.
"Tidak. Misi selesai dan uang meluncur ke rekeningmu!"
Moa mendengus. Jika begitu, bagaimana ia akan membayar perawatan putranya?! Cih, babi jantan ini sangat perhitungan.
"Baik, tapi aku punya satu syarat!"
__ADS_1
"Hm, katakan!" Tegas Zhen menunggu.
"Milikmu adalah milikku!"
Asisten Jio tersentak. Permintaan Moa sudah tak masuk akal.
"Tuan! Dia.."
"Aku setuju." Sambar Zhen mengejutkan asisten Jio tapi membuat senyum Moa melebar.
"Yeah, kali ini aku suka," Decah Moa memanas-manasi asisten Jio yang menatapnya kesal.
Moa bersiul santai mengedipkan satu matanya pada Zhen yang segera memalingkan wajah.
Shitt, dia terlihat sangat aneh.
Pikir Zhen merasa pesona Moa menjadi lebih agresif kali ini.
"Lepaskan tali ini. Aku ingin ke kamar mandi!"
Zhen melirik asisten Jio yang mau tak mau dan suka tak suka segera meletakan Tab di tangannya ke atas ranjang lalu melepaskan ikatan tali di kedua tangan dan kaki Moa.
"Satu lagi! Jangan mencoba mengaturku karena aku tahu apa yang harus-ku lakukan."
"Hm," Gumam Zhen acuh.
"Dan.."
"Sudah cukup," Tegas Zhen tak mau mendengar ocehan Moa lagi.
Moa berdiri di hadapan Zhen seraya melenturkan pergelangan kaki dan tangannya. Ia mengurungkan niatnya untuk bicara tapi kedua mata cantik itu menyipit.
"Kau melupakan sesuatu!"
Dahi Zhen mengernyit kala Moa membungkuk dengan kedua tangan memeggang lengan kursi Zhen yang memundurkan kepala.
"Lupa?"
"Singkirkan kamera di kamarku atau.."
Moa menjeda kalimatnya dengan wajah semakin dekat dengan pahatan tampan Zhen yang menelan ludah.
"Kau mungkin memang suka mengintip wanita SEKSI," Imbuh Moa meniup sensual bibir Zhen yang terkejut meneggang di tempat sementara Moa berlalu ke kamar mandi.
"Uhukk!" Zhen terbatuk kecil hingga asisten Jio yang tadi mematung segera menepuk-nepuk punggung kekar Zhen.
"Tuan! Kau baik-baik saja."
"Hm, lepas kamera di kamar mandinya!" Titah Zhen mengusap keringat di pelipis dan lehernya.
Asisten Jio tak membantah. Ia segera pergi meninggalkan Zhen di tengah gejolak tubuh pria itu.
Zhen meraba bibirnya dengan wajah bodoh. Sensasi nafas hangat Moa terasa menjalar sensual bahkan, ia jadi gugup.
"Wanita ini sangat berbahaya," Gumam Zhen sampai berkeringat dingin tak tahan dengan aura menggoda dari Moa yang mendominasi.
....
Vote and like sayang
__ADS_1